Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Kegelapan
Malam telah sepenuhnya menyelimuti Akademi Arclight. Lampu-lampu sihir yang terpasang di sepanjang koridor dan taman akademi memancarkan cahaya lembut berwarna biru, menciptakan suasana yang tenang setelah hari panjang penuh pertandingan.
Sebagian besar siswa sudah kembali ke asrama mereka. Namun di beberapa tempat, kelompok kecil masih terlihat berbicara tentang pertandingan hari ini. Nama Ren Valen semakin sering terdengar dalam percakapan mereka.
Di asrama laki-laki, Ren sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya. Pikiran tentang percakapan dengan Selene terus berputar di kepalanya.
“Masa lalu yang disembunyikan…” gumamnya pelan.
Ia mencoba mengingat sesuatu sebelum usia sepuluh tahun, tetapi seperti biasa, yang muncul hanya bayangan samar. Tidak ada kenangan jelas. Hanya potongan-potongan yang terasa seperti mimpi.
Kadang ia melihat kilatan cahaya.
Kadang suara seseorang yang memanggil namanya.
Namun semuanya selalu menghilang sebelum ia bisa memahaminya.
Ren menghela napas panjang.
“Kalau benar ada sesuatu yang disembunyikan…”
Ia mengepalkan tangannya sedikit.
“…aku akan menemukannya.”
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras.
Mira masuk tanpa mengetuk seperti biasa.
“REN!”
Ren menoleh.
“Kamu tidak pernah belajar mengetuk pintu, ya?”
Mira mengangkat bahu santai.
“Tidak penting.”
Ia langsung duduk di kursi dekat meja Ren.
“Kamu dengar kabar terbaru?”
Ren mengerutkan kening.
“Kabar apa lagi?”
Mira terlihat sedikit lebih serius dari biasanya.
“Turnamen besok.”
Ren mengangkat alis.
“Kenapa?”
Mira menyilangkan tangan.
“Tim kita kemungkinan besar akan melawan tim Lilia.”
Ren langsung menghela napas.
“Secepat itu?”
Mira mengangguk.
“Bracket turnamen sudah hampir selesai.”
Ren berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan ke meja, mengambil sebotol air.
“Berarti kita harus melawan Lilia… Nyra… dan Selene.”
Mira menyeringai.
“Tim monster.”
Ren tertawa kecil.
“Itu cara yang cukup akurat untuk menggambarkannya.”
Mira kemudian menatap Ren dengan ekspresi sedikit penasaran.
“Ngomong-ngomong… tadi aku lihat kamu bicara dengan Selene.”
Ren berhenti sebentar.
“Iya.”
Mira langsung condong ke depan.
“Apa yang dia katakan?”
Ren berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Hal-hal aneh.”
Mira mengerutkan kening.
“Seperti?”
Ren mengangkat bahu.
“Tentang masa laluku.”
Mira terlihat sedikit terkejut.
“Serius?”
Ren mengangguk pelan.
Namun sebelum Mira sempat bertanya lebih banyak, suara lonceng besar tiba-tiba terdengar di seluruh akademi.
DONG.
DONG.
DONG.
Ren dan Mira langsung saling menatap.
“Itu bukan lonceng biasa,” kata Mira.
Ren juga menyadarinya.
Lonceng itu biasanya hanya dibunyikan dalam keadaan darurat.
Suara langkah kaki mulai terdengar di koridor luar. Banyak siswa keluar dari kamar mereka dengan wajah bingung.
Ren membuka pintu kamar.
Koridor asrama penuh dengan siswa yang bertanya-tanya apa yang terjadi.
Tiba-tiba salah satu instruktur berlari melewati lorong sambil berteriak.
“SEMUA SISWA KEMBALI KE KAMAR!”
Ren langsung mengernyit.
“Pasti ada sesuatu yang serius.”
Mira mengangguk.
“Ya.”
Namun sebelum mereka sempat kembali ke dalam kamar, sebuah ledakan besar terdengar dari arah hutan di belakang akademi.
BOOOOOOM.
Seluruh bangunan terasa bergetar.
Beberapa siswa langsung panik.
“Apa itu?!”
Ren berlari ke jendela koridor.
Dari sana ia bisa melihat cahaya merah besar muncul dari arah hutan gelap.
Energi sihir yang sangat kuat terasa bahkan sampai ke dalam akademi.
Mira juga melihatnya.
“Energi itu… bukan dari akademi.”
Ren mengangguk.
Di menara utama akademi, Gareth dan beberapa instruktur elit sudah berkumpul.
Wajah mereka terlihat sangat serius.
Salah satu instruktur berkata dengan suara tegang.
“Penghalang sihir luar… rusak.”
Gareth menatap hutan gelap dengan ekspresi tajam.
“Siapa pun yang melakukan ini… bukan penyusup biasa.”
Di dalam akademi, Ren masih melihat cahaya merah itu.
Entah kenapa… energi itu terasa sangat familiar.
Ia mengerutkan kening.
“Aku pernah merasakan energi seperti ini…”
Mira menoleh.
“Kapan?”
Ren mengingat kembali perasaan aneh yang muncul setiap kali kekuatannya bangkit.
“Itu mirip dengan… energiku sendiri.”
Mira terlihat kaget.
“Serius?”
Ren belum sempat menjawab ketika suara langkah kaki cepat terdengar dari belakang mereka.
Selene muncul di ujung koridor.
Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
Ia berjalan langsung ke arah Ren.
“Kita harus pergi ke sana.”
Ren mengangkat alis.
“Ke hutan?”
Selene mengangguk.
“Ya.”
Mira terlihat tidak percaya.
“Kamu gila? Para instruktur saja belum bergerak!”
Selene menatap mereka dengan mata tajam.
“Kalau kita menunggu terlalu lama…”
Ia menoleh ke arah cahaya merah di hutan.
“…akan terlambat.”
Ren merasa ada sesuatu dalam nada suara Selene yang berbeda.
Bukan hanya khawatir.
Tapi juga… mengenal.
Ren menatapnya.
“Kamu tahu siapa yang melakukan ini?”
Selene terdiam beberapa detik.
Kemudian ia berkata pelan.
“Mungkin.”
Mira mengerutkan kening.
“Mungkin?”
Selene menatap Ren.
“Orang yang datang… mungkin sedang mencarimu.”
Koridor langsung menjadi sunyi.
Ren menatapnya serius.
“Mencariku?”
Selene mengangguk.
“Ya.”
Mira terlihat bingung.
“Kenapa ada orang yang menyerang akademi hanya untuk mencari Ren?”
Selene menjawab dengan suara rendah.
“Karena kekuatan yang ada di dalam dirinya.”
Ren mengepalkan tangannya sedikit.
Ledakan lain terdengar dari hutan.
BOOOM.
Cahaya merah semakin besar.
Selene menatap Ren sekali lagi.
“Jika aku benar…”
suaranya menjadi lebih pelan.
“…maka orang yang datang malam ini bukan hanya musuh akademi.”
Ia menatap langsung ke mata Ren.
“Dia adalah seseorang dari masa lalumu.”
Angin malam bertiup lebih kencang melalui jendela koridor.
Ren melihat cahaya merah itu sekali lagi.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tanpa ia sadari…
Cerita yang selama ini hanya tentang turnamen akademi…
Kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.