𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 22 - DI BALIK KABUT AVERMONT
Bus akhirnya melambat. Getaran mesin yang sejak tadi konstan mulai mereda, berubah menjadi dengungan pelan sebelum benar-benar berhenti. Suara pintu terbuka terdengar, diikuti udara dingin yang langsung menyelinap masuk ke dalam kabin. Kabut tipis menyelimuti terminal kecil itu.
Rizuki menoleh perlahan. Vhiena masih tertidur. Kepalanya bersandar di bahunya, rambut coklatnya jatuh menutupi sebagian wajah. Napasnya teratur, tenang—seolah dunia luar tidak ada.
Namun ada satu hal yang membuat Rizuki menegang pelan. Tangan Vhiena…
melingkar ringan di pinggangnya. Tidak erat. Tidak sengaja. Namun cukup untuk membuat Rizuki berhenti bergerak.
Ia menelan ludah. Beberapa detik ia hanya diam, memastikan bus benar-benar berhenti, memastikan tidak ada penumpang lain yang memperhatikan.
Lalu ia berbicara sangat pelan. “Vhin…” Tidak ada respons. Ia menarik napas, lalu menyentuh punggung tangannya sendiri ke bangku—gerakan kecil agar Vhiena bergeser.
Kelopak mata Vhiena berkedip. “Mm…” Ia terbangun.
KESADARAN YANG MEMBUAT GUGUP
Vhiena mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya redup dan udara dingin. Pandangannya masih buram. “Ki…?” Lalu— ia merasakan sesuatu. Tangannya… berada di pinggang Rizuki. Matanya membesar.
Ia menarik tangan itu seketika, tubuhnya menjauh cepat.
“A—aku—maaf!” ucapnya gugup, wajahnya langsung memerah.
Rizuki menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” Nada suaranya tetap tenang, meski detak jantungnya belum sepenuhnya normal.
Vhiena menunduk, jari-jarinya saling menggenggam. “Aku… tertidur.”
“Aku tahu.” jawab rizuki dengan tersenyum. Hening sebentar.
Bus mulai kosong. Sopir turun membawa tas kecil.
“Sudah sampai?” tanya Vhiena pelan.
Rizuki mengangguk.
“Selamat datang di Avermont.”
KOTA KECIL DI ATAS PEGUNUNGAN
Begitu mereka turun, udara dingin langsung menyambut.
Avermont tidak ramai. Bangunan-bangunan rendah berjajar rapi, sebagian besar dari kayu dan batu alam. Lampu jalan kecil menyala temaram, memantulkan cahaya ke kabut pagi. Di kejauhan, hutan pinus membentang, diam dan hijau tua.
Vhiena menarik napas panjang.
“Dingin… tapi enak.”
Rizuki tersenyum kecil.
“Itu alasanku memilih tempat ini.”
Mereka berjalan menyusuri jalan berbatu menuju kendaraan kecil yang sudah menunggu—antar-jemput hotel.
Vhiena baru menyadari sesuatu saat mobil mulai bergerak.
“Kita… ke hotel?”
“Iya.” rizuki mengangguk kecil.
“Hotel apa?” tanya vhiena lagi.
Rizuki tidak langsung menjawab.
HOTEL DI TENGAH KABUT
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah.
Tidak mencolok dengan warna mencolok, namun elegan. Fasad batu alam, jendela besar, dan pintu kayu tinggi. Lampu gantung klasik menyala hangat di balik kaca.
Di atas pintu utama, tertera nama:
Avermont Pinecrest Resort.
Vhiena menatapnya, lalu menoleh ke Rizuki.
“…ini hotel?”
Rizuki mengangguk.
Vhiena menelan ludah.
“Ini… kelihatannya mahal.”
Rizuki turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya.
“Kita hanya tamu,” katanya ringan.
Begitu mereka melangkah masuk, aroma kayu pinus dan teh hangat menyambut. Lobi luas. Langit-langit tinggi. Karpet tebal berwarna netral. Perapian batu menyala pelan di sudut ruangan. Beberapa tamu duduk tenang, berbicara dengan suara rendah.
Vhiena berhenti melangkah. Matanya membesar. “Ki…" - “…ini bintang lima, ya?”
Rizuki mengangguk pelan.
KECANGGUNGAN DAN KEJUJURAN
Di meja resepsionis, staf hotel tersenyum ramah.
“Selamat datang, Tuan Rizuki.”
Vhiena menoleh cepat.
"Tuan Rizuki.. " Vhiena bertanya-tanya dalam hatinya.
Rizuki hanya mengangguk singkat.
“Check-in.”
Resepsionis mengetik cepat.
“Reservasi sudah kami siapkan. Semua transaksi telah terselesaikan.”
Vhiena spontan mendekat ke Rizuki, suaranya ditahan. “Ki… aku nggak yakin aku sanggup bayar hotel seperti ini.”
Rizuki menoleh padanya. “Kamu tidak perlu.”
“Tapi—” ucap vhiena namun di potong oleh rizuki. “Aku yang mengajak.”
Vhiena menggeleng pelan. “Aku tidak mau merepotkan.”
Rizuki menatapnya serius, namun lembut. “Ini bukan merepotkan.”
Rizuki berhenti sejenak, lalu berkata jujur: “Aku ingin kamu merasa tenang dan nyaman disini.”
Vhiena terdiam.
Resepsionis kembali berbicara. “Kami sudah menyiapkan dua kamar, sesuai permintaan awal.”
Vhiena refleks menggeleng dan mengangkat telunjuk jari nya. “Tidak,” katanya cepat. “Satu kamar saja.”
Rizuki menoleh, terkejut. “Kamu yakin?”
Vhiena menarik napas dalam. “Aku… lebih nyaman kalau tidak terpisah.” Bukan karena hal lain. Tapi karena kota ini asing. Dan Rizuki—adalah satu-satunya wajah yang ia kenal di sini.
Rizuki berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Satu kamar. Dua tempat tidur.”
Resepsionis tersenyum profesional. “Baik.”
SEMUA SUDAH TERBAYAR
Saat kartu kunci diberikan, Vhiena masih terlihat cemas. “Ki…” “Ini semua sudah dibayar?”
Rizuki mengangguk dan tersenyum. “Sudah , jangan terlalu cemas.”
Vhiena terdiam. Ia tidak bertanya lebih jauh. Namun dalam hatinya, kekaguman mulai tumbuh—bukan pada kemewahan, tapi pada ketenangan Rizuki menghadapi semua ini.
FASILITAS YANG MEMBUAT TAKJUB
Mereka menaiki lift kayu klasik yang bergerak halus. Koridor lantai kamar dipenuhi jendela besar menghadap hutan pinus. Kabut tampak seperti lautan putih di bawah sana.
Begitu pintu kamar dibuka— Vhiena terpaku.
Kamar luas. Dua tempat tidur besar terpisah rapi. Jendela panoramik menghadap pegunungan. Sofa empuk. Meja kayu elegan. Kamar mandi dengan bathtub besar.
“Ini…” vhiena tercengang “…seperti mimpi.”
Rizuki meletakkan tasnya. “Kamu suka?”
Vhiena mengangguk cepat. “Banget.”
Ia berjalan ke jendela, menempelkan telapak tangannya ke kaca. “Lihat pemandangannya…”
Kabut bergerak perlahan di antara pohon pinus. Vhiena tertawa kecil—tawa murni, tanpa beban. Ia mengambil ponselnya. “Boleh foto?”
“Silakan.” jawab rizuki sambil merapikan barang bawaan nya.
KEGEMBIRAAN YANG SEDERHANA
Vhiena mulai berkeliling kamar. Foto di depan jendela. Foto di dekat sofa. Foto pantulan di cermin besar.
“Ki, sini!” - “Aku mau foto kita.” ucap vhiena dengan perasaan bahagia namun sedikit gugup.
Rizuki mendekat, berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
Klik.
Vhiena melihat hasilnya. “Kamu kelihatan tenang banget. Senyum sedikit donk.* vhiena tertawa kecil.
Rizuki melirik layar. “Kamu kelihatan bahagia.”
Vhiena tersenyum. “Aku memang bahagia.”
MENUJU MALAM PERTAMA
Mereka duduk di sofa, memesan makanan ringan dari layanan kamar. Teh hangat. Sup krim. Roti panggang. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya suara perapian. Dan kabut di luar jendela.
“Terima kasih sudah mengajakku,” kata Vhiena pelan.
Rizuki menatap ke luar jendela. “Aku juga berterima kasih… karena kamu mau.”
Malam pertama di Avermont pun dimulai— tanpa rahasia terbuka, tanpa janji besar, namun penuh rasa aman.
Seolah Hujan waktu itu telah membawa mereka Sejauh ini.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/