NovelToon NovelToon
Mengasuh Putra Pewaris Sang CEO

Mengasuh Putra Pewaris Sang CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Dua minggu yang lalu, Rumi Nayara baru saja kehilangan bayi laki-lakinya setelah melahirkan. Lalu, seminggu kemudian suaminya meninggal karena kecelakaan. Musibah itu menjadi pukulan berat bagi Rumi. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan bayi laki-laki yang alergi susu botol di rumah sakit, dan butuh ASI. Rumi pun menawarkan diri, dan entah mengapa ia langsung jatuh cinta dengan bayi itu, begitu juga dengan bayi yang bernama Kenzo itu, terlihat nyaman dengan ibu susunya.

Tapi, sayangnya, Rumi harus menghadapi Julian Aryasatya, Papa-nya baby Kenzo, yang begitu banyak aturan padanya dalam mengurus baby Kenzo. Apalagi rupanya Julian adalah CEO tempat almarhum suaminya bekerja. Dan ternyata selama ini almarhum suaminya telah korupsi, akhirnya Rumi kena dampaknya. Belum lagi, ketika Tisya— istri Julian siuman dari koma. Hari-hari Rumi semakin penuh masalah.

“Berani kamu keluar dari mansion, jangan salahkan aku mengurungmu! Ingat! Kenzo itu adalah anak—?”

Siapakah baby Kenzo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Menyita Asset

Rumi menggenggam tangan ibunya erat. “Aku masih kangen ….”

Air mata sempat menggantung di pelupuknya, tapi ia buru-buru menyapunya dengan senyum.

Bu Ita menatap dalam mata putrinya, lalu menghela napas panjang. “Nak, dengar baik-baik. Kamu sekarang hidup di rumah orang lain. Jaga diri baik-baik. Jangan lengah. Jangan gampang percaya, dan jangan sampai kamu membuat masalah.”

Rumi mengangguk cepat. “Iya, Bu.”

“Dan satu lagi,” lanjut Bu Ita, nadanya lebih serius. “Ingat, Tuan Julian itu masih punya istri. Kamu jangan pernah tergoda. Jangan sampai ada yang bilang kamu merebut suami orang, meski pun mungkin tidak ada apa-apa antara kalian. Dunia luar bisa saja jahat menilaimu.”

Rumi terdiam. Kata-kata itu menusuk, karena jujur saja, bayangan Julian beberapa kali mengusik hatinya sejak tadi. Ia menunduk. “Iya, Bu. Aku mengerti.”

“Bagus.” Bu Ita mengusap punggung tangan anaknya. “Kalau kangen sama Bapak atau adikmu, titip salam saja lewat Ibu. Jangan terlalu memikirkan rumah kamu, itu sudah bukan rezeki kamu lagi. Dan satu hal lagi, jangan ada niatan membalas dendam pada almarhum suamimu atau ibu mertuamu. Biarlah Allah yang balas. Tugasmu sekarang cuma jaga diri dan jaga nama baikmu.”

Rumi menelan ludah, dadanya terasa berat. “Baik, Bu. Tolong sampaikan salamku ke Bapak dan adik. Kalau nanti aku sudah sehat, dan ada waktu, aku akan datang.”

“InsyaAllah.” Bu Ita mengangguk. Ia menatap wajah putrinya lama, seakan ingin menyimpan bayangan itu dalam-dalam sebelum berpisah.

Nia yang sedari tadi mengayun Kenzo ikut menimpali, “Tenang aja, Bu. Saya bakal bantu jagain Mbak Rumi dan adek kecil ini. Tuan juga tegas banget soal itu, kok.”

Bu Ita mengangguk tipis, lalu berdiri. “Kalau begitu, Ibu pamit. Jaga dirimu, Nak.”

Rumi memeluk ibunya erat. Ada kehangatan yang sulit dilepaskan. Setelah beberapa menit, Bu Ita pun pergi, diantar maid keluar.

Rumi kembali duduk, hatinya sesak oleh pesan-pesan ibunya. Kata-kata itu seakan menjadi pengingat keras agar ia tidak salah langkah di rumah besar ini.

***

Sementara itu, di sudut kota lain, suasana jauh berbeda. Rumah yang dulu ditempati Rumi bersama almarhum Bisma kini menjadi arena kekacauan. Di depan gerbang besi, dua mobil hitam berhenti. Dari dalam turun beberapa pria berjas hitam, membawa map tebal dan dokumen resmi. Mereka adalah tim legal dari Grup Sentosa.

Seorang pria berkacamata, tampak sebagai pimpinan, mengetuk keras pintu pagar. “Kami dari Grup Sentosa. Sesuai keputusan hukum, rumah ini resmi disita. Silakan keluar dengan baik-baik.”

Namun, bukannya tenang, dari dalam rumah terdengar jeritan nyaring. Lia berlari ke arah pintu dengan rambut acak-acakan, wajah kusut, dan pakaian yang berantakan.

“Tidak! Kalian tidak bisa lakukan ini! Ini rumahku! Aku ini istrinya almarhum Bisma!” teriaknya histeris, tangannya mencakar-cakar pintu.

Tim legal tetap tenang karena sudah koordinasi dengan pengacara Julian. “Bu, mohon kerja sama. Semua aset ini hasil korupsi, dan sesuai hukum harus dikembalikan. Kami sudah mengirim surat pemberitahuan seminggu yang lalu kepada Ibu Rumi sebagai istri sah Bisma!”

“Bohong! Itu fitnah! Mas Bisma tidak mungkin korupsi! Semua ini kerja kerasnya!” Lia berteriak lagi, matanya melotot liar. Ia mencoba mendorong tubuh salah satu petugas, tapi dengan mudah ditahan. Padahal Lia sudah tahu saat Rumi diusir oleh Bu Rissa dan dirinya.

Para tetangga sudah mulai berkerumun di luar pagar. Mereka hanya berbisik-bisik, sebagian menggelengkan kepala, sebagian lagi berbisik penuh gosip. Namun tak ada satu pun yang berani mendekat atau membantu.

“Kasihan, ya. Tapi ... siapa wanita itu? Bukannya seharusnya Mbak Rumi yang tinggal di sana?” celetuk seorang ibu tetangga dengan nada penasaran.

Di dalam, Lia semakin kalap. Ketika beberapa petugas mulai masuk dan memasang segel di pintu, ia menjerit lebih kencang. “Tidak! Jangan sentuh rumah ini! Jangan!”

Ia berlari ke garasi, mencoba membuka mobil mewah yang diparkir di sana. Namun, dua petugas sudah menempelkan stiker segel besar di kaca depan.

Lia meraung, memukul-mukul kap mobil. “Mobil ini milikku! Aku yang merawatnya! Kalian tidak punya hak!”

Salah satu petugas menatapnya dingin. “Semua aset sudah terdata, Bu. Mohon mundur.”

Namun Lia justru jatuh terduduk di lantai garasi, menangis meraung seperti orang gila. “Mas Bisma … kenapa kamu tega meninggalkan aku begini? Mereka rampas semua yang kita punya! Semua karena perempuan itu! Rumi! Aku tahu ini semua ulahmu! Dia pasti iri denganku karena memiliki hartamu, Mas!”

Tangisannya berubah jadi sumpah serapah. Tubuhnya bergetar, tangannya meraih apa saja—bahkan sandal yang tergeletak—dan melemparkannya ke arah petugas. Tapi tentu saja, itu tak berarti apa-apa.

Rumah itu pun akhirnya resmi disegel. Pintu diberi tanda besar: “DALAM SENGKETA – ASSET SITAAN”. Petugas legal menutup berkas mereka, lalu pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Lia yang masih meraung histeris.

Para tetangga hanya memandang, lalu satu per satu beranjak, seolah drama itu hanyalah tontonan siang hari.

***

Hari sudah sore, cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi mansion Julian, menciptakan bayangan keemasan di lantai marmer yang berkilau. Udara di dalam rumah terasa lebih hangat, bukan hanya karena sinar mentari yang perlahan merambat masuk, tetapi juga karena suasana yang berbeda sejak kehadiran Rumi di rumah besar itu.

Di lantai atas, kamar bayi tenang. Kenzo yang sejak siang tadi agak rewel, kini justru anteng di strollernya. Nia menurunkannya ke dapur kering agar lebih mudah dipantau, sementara tangannya sibuk membereskan wadah makanan dari kamar.

“Dede kayaknya betah di sini, ya,” gumam Nia sambil melirik bayi itu. Baby Kenzo hanya menatap langit-langit, tangannya sesekali bergerak seperti sedang bermain dengan udara.

Rumi yang seharusnya beristirahat sesuai anjuran dokter, justru berdiri di depan meja dapur. Lengan bajunya ia gulung sampai siku, apron sederhana terikat di pinggang. Di depannya sudah terletak potongan ayam yang siap dimasak. Aroma bumbu yang baru saja ia ulek—cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, dan sedikit terasi bakar—mulai memenuhi udara.

“Rumi, kamu yakin mau masak sendiri?” Suara Mama Liora terdengar dari arah pintu. Wanita paruh baya itu masuk dengan senyum lembut, membawa nampan berisi botol kecil dan beberapa bahan jamu tradisional. “Kamu tuh baru keluar dari rumah sakit, Rum. Seharusnya masih banyak istirahat.”

Rumi menoleh, tersenyum kikuk. “Iya, Bu. Saya cuma ingin masak yang sederhana saja. Ayam bumbu rujak sama sayur bening. Rasanya kangen masak sendiri. Lagi pula, saya nggak enak terus-terusan merepotkan para maid.”

Mama Liora tertawa kecil, menaruh nampan di meja dapur. “Merepotkan apanya? Mereka memang sudah tugasnya membantu. Tapi … entah kenapa Ibu senang lihat kamu begini. Dulu, Tisya, istrinya Julian, boro-boro mau turun ke dapur. Katanya, sudah ada maid, buat apa capek-capek masak.”

Bersambung .... ✍️

1
mimief
lah... emangnya juga punya mu😜🤣🤣
mimief
jadi mom...
anknya tisya itu bukan anknya Julian?
tapi anak selingkuhan nya
mimief
waduh...ayo istrinya bangun
ati ati Arum,ntar disangkanya pelakor lagi 🥹
mimief
aku...udah hampir baca semua karya Aisyah 😍
Nur Syamsi
Kenzonya kangen akan sosok ayahnya,
Nur Syamsi
Siapapun pasti bersikap sprti Rumi yg dilanda musibah berkali kali kemudian muncul masalah dan kenyataan yg sangat dan sangat menyakitkan sebagai manusia
Nur Syamsi
Ya biarkan Rumi pulang dulu sekaligus menenangkan dirinya, nti selesai cerainya barulah dolar Ruminya
Nur Syamsi
😭😭😭😭😭
Nur Syamsi
Sabar Bu Liona Julian sudah memproses perceraiannya, Tysa sudah kelewat batas perbuatannya....
mimief
sebenarnya kalau baby kenzo itu emang anaknya pasti ya ..karena ternyata anaknya Julian yg asli udah meninggal
tapi pertanyaannya kenapa kok Kenzo mirip sama Julian juga..
apakah ada sesuatu?
hingga kadang Julian membaui rumi dengan bau yg familiar.
hayoooo..... ada apakah ini🫣😜🤣🤣
Nur Syamsi
Tysa Tdk pekah dasar, dinginnya suamimu kpdamu maka introfeksi dirilah kenapa dan apakah ....dasar wanita jalan, menjebak sendiri suaminya ...
mimief
wkwkwkwk
sesama perempuan ada feeling kalau liat ulet Keket ke anaknya😜🫣🤣🤣
Nur Syamsi
Sabar Rumi kebenaran akan terungkap
Nur Syamsi
Selesaikan dulu rumah tanggamu Julian....dg Tysa, supaya Rumi Tdk dianggap pelakor
Nur Syamsi
Kamu itu tdk sopan Aulia, di rumah Tdk menghormati orang yg lebih tua ada mama Liora kamunya menunjuk nunjuk Kakak iparnu, kamu introfeksi diri kamu tuduh Rumi tp kamu jg ingin mengambil Julian dr kakakmu....dasar ulat Tdk pandang bulu
Nur Syamsi
Sekuat kuatnya manusia ada waktunya rapuh klaw menghadapi masalah yg sangat prinsipil bsik itu laki" ataupun pempuan
mimief
mommy aku dataaaang
baru liat karya mu yg ini😜😍😍.
lanjut mom
Nur Syamsi
Ayo Julian beri tau semua rahasia ke mama Liona, spya Tdk kaget nantinya....
Nur Syamsi
Ayo suster temui Rumi, Julian dan Tysa kemudian beri tahu mrk yg sebenarnya ...
Nur Syamsi
Seharusnya Julian langsung saja kerumah sakit Krn Istrinya sudah sadar dr koma dan Rumi diantar sopir aja spya Tdk menimbulkan kesalah fahaman ma kel Tysa....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!