akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 – Misi Pertama Unit Khusus
Sirene panjang menggema di seluruh kota.
Langit sore yang kelabu berubah semakin gelap ketika awan hitam berputar di atas gedung-gedung tinggi. Di layar besar pusat komando pemerintah, peta digital menampilkan satu titik merah yang berkedip di distrik timur.
[PERINGATAN: ANOMALI MONSTER TIPE BARU TERDETEKSI]
Rey berdiri di depan layar, bersama Sila, Leoni, dan Boy. Ini adalah pertama kalinya mereka dipanggil sebagai Unit Khusus Independen.
“Target muncul di kawasan permukiman padat,” lapor seorang operator.
“Regu resmi sedang dalam perjalanan, tapi kalian yang paling dekat.”
Boy mengencangkan sarung tangan tempurnya. Api kecil menyala di telapak tangannya.
“Jadi… ini misi pertama kita sebagai tim.”
Leoni menyeringai tipis.
“Akhirnya. Daripada cuma latihan aku sudah tidak sabar.”
Sila menarik napas dalam. Listrik tipis berderak di ujung rambutnya.
“Kak… rumah-rumah di sana masih banyak orang, kan?”
Rey mengangguk.
“Itulah kenapa kita harus lebih cepat dari monster.”
Mereka tiba di distrik timur dengan kendaraan lapis baja. Jalanan kacau. Mobil-mobil ditinggalkan, pintu rumah terbuka, dan suara tangisan bercampur teriakan terdengar dari kejauhan.
Di antara gedung-gedung rusak, sesuatu bergerak.
Tubuh hitam mengkilap setinggi dua lantai merayap di dinding apartemen. Enam kaki panjang mencengkeram beton, dan di bagian punggungnya terdapat mata merah berpendar.
Monster itu mengeluarkan suara melengking, seperti gesekan logam.
“Bukan laba-laba…” gumam Leoni.
“Lebih mirip… kelabang raksasa.”
“Target visual terkonfirmasi,” kata operator di alat komunikasi Rey.
“Monster tipe serang cepat.”
Rey mengangkat tangan.
“Formasi.”
Boy langsung maju setengah langkah.
“Aku depan. Ganggu gerakannya.”
“Leoni, jarak jauh.”
“Siap.”
“Sila, tunggu celah.”
Sila mengangguk.
Rey membuka tamengnya.
Cahaya biru transparan membentuk kubah setinggi dua meter di depan mereka.
“Gerak.”
Boy melompat keluar dari balik tameng, api menyelimuti kedua tinjunya.
“HEY, SERANGGA JELEK!”
Ia menghantam kaki monster dengan tinju berapi.
DUAARR!
Kaki itu hangus, namun monster justru menjerit dan memutar tubuhnya dengan cepat. Sebuah ekor tajam menyapu ke arah Boy.
Rey memperluas tamengnya.
BRAAANG!
Ekor itu menghantam tameng dan memantul.
“Leoni!” teriak Rey.
Peluru energi melesat dari senapan Leoni.
DOR! DOR!
Dua mata merah monster pecah.
Monster mengamuk, merayap ke arah bangunan tempat warga bersembunyi.
“Tidak boleh ke sana!” teriak Sila.
Petir menyambar dari tangannya.
KRAAAK!
Arus listrik melilit tubuh monster, membuatnya kaku sesaat.
Rey berlari maju, menempelkan telapak tangan ke tanah.
Tamengnya melebar ke atas, membentuk dinding raksasa di depan rumah warga.
Monster menghantam dinding energi itu dengan tubuhnya sendiri.
BOOM!
“Sekarang!” teriak Rey.
Boy melompat tinggi, tubuhnya diselimuti api.
“TINJU API—!”
BUUUMM!
Pukulan itu menghantam kepala monster yang tersisa.
Tubuh makhluk itu terhempas ke jalan dan tidak bergerak lagi.
Asap hitam naik ke udara.
Hening.
Napas mereka tersengal.
“…selesai?” tanya Leoni.
Monster itu bergetar sebentar, lalu berhenti sepenuhnya.
Sila menurunkan tangannya.
“Kita… berhasil.”
Rey menghela napas panjang.
“Misi pertama… selesai.”
Sorak kecil terdengar dari balik rumah-rumah. Beberapa warga keluar dengan wajah pucat namun penuh syukur.
“Terima kasih…”
“Kalian menyelamatkan kami…”
Seorang anak kecil menatap Sila dengan mata berbinar.
“Pahlawan listrik…”
Sila terdiam sejenak, lalu tersenyum kikuk.
Boy tertawa kecil.
“Kita mulai dikenal, ya.”
Namun di kejauhan, kendaraan militer regu resmi baru tiba.
Kapten regu resmi turun dari kendaraan, menatap sisa-sisa bangkai monster dan tim Rey.
“Kalian lebih cepat dari kami,” katanya dingin.
Rey menatap balik.
“Yang penting monster mati dan warga selamat.”
Kapten itu mendengus.
“Jangan sok pahlawan. Kalian tetap di bawah pengawasan.”
Leoni berbisik,
“Wah, bau iri.”
Boy menyeringai.
“padahal kita sudah mengalahkan monster itu tapi tidak berterimakasih.”
Malam itu, mereka kembali ke markas kecil yang diberikan pemerintah untuk Unit Khusus.
Rey duduk di kursi, menatap telapak tangannya.
Tamengnya terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Tring…
Layar status muncul di depannya.
[Kekuatan Pertahanan: +3]
[Daya Tahan: +2]
Rey terdiam.
“Kak?” tanya Sila.
“Kekuatanku naik… setelah bertarung.”
Leoni mengangkat alis.
“Jadi bukan cuma latihan?”
“Sepertinya… monster itu seperti sumber pengalaman.”
Boy tertawa kecil.
“Kekuatanku juga bertambah.”
Rey berdiri.
“Artinya… kita harus terus bertarung.”
Ia menatap mereka bertiga.
“Tapi jangan ceroboh.
Kita bukan senjata pemerintah.
Kita perisai manusia.”
Mereka saling mengangguk.
Namun di layar pusat komando pemerintah, data baru muncul.
[ANOMALI BARU TERDETEKSI]
[JUMLAH MONSTER MENINGKAT]
Seorang analis bergumam pelan,
“Gelombang berikutnya… bukan satu atau dua lagi.”
Di luar, angin malam membawa bau aneh dari arah laut.
Rey berdiri di jendela, menatap langit gelap.
"Yang berikutnya datang dari laut"
"Maksudnya?" Leoni memandang Rey curiga.
Rey hanya diam.
Ini baru permulaan…
Dan jauh di balik awan, sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak menuju daratan.