NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Tawaran yang Menarik untuk Yuda

Sorak sorai arena perlahan mereda.

Para penonton terlihat mulai bubar, sebagian masih membicarakan pertarungan barusan, sebagian lagi kembali pada urusan mereka masing-masing, seperti perjudian, minuman keras, dan transaksi gelap yang selalu hidup di sekitar arena seperti ini.

Yuda akhirnya turun dari arena dengan langkah berat.

Tubuhnya dipenuhi rasa nyeri yang menumpuk, bukan satu luka besar, melainkan puluhan rasa sakit kecil yang saling bertabrakan.

Bahunya pun terasa panas, dadanya sesak, dan telapak tangannya masih bergetar akibat sisa aliran tenaga dalam yang belum sepenuhnya tenang.

Tara meloncat ke bangku kayu saat Yuda telah duduk.

“Kalau kau bertarung satu kali lagi hari ini, aku akan menggigit betismu,” kata Tara dingin, namun di balik itu terdapat sebuah kekhawatiran di hatinya.

Meskipun belum terlalu lama mereka saling mengenal, tapi kebersamaannya setiap hari telah menumbuhkan ikatan yang kuat.

“Aku juga tidak berniat naik lagi,” jawab Yuda singkat sambil mengatur napas.

“Meow-... Sepertinya masalahnya bukan pada niatmu, tapi masalahnya itu adalah arena yang tidak peduli.” kata Tara sembari mendengus.

Yuda pun hanya terdiam.

Ia tahu maksud perkataan dari kucingnya tersebut.

Arena semacam ini tidak pernah membiarkan petarung yang ‘menarik’ pergi begitu saja.

Dan benar saja.

Belum juga lima belas napas berlalu, dua pria bersenjata tombak pendek mulai mendekat kearahnya.

Pakaian mereka rapi, jauh berbeda dari penjaga arena biasa.

“Yuda,” kata salah satu dari mereka. “Ikut kami.”

“Bagimana, kalau aku menolak?” jawab Yuda acuh.

“Lebih baik jangan menolak.” jawab pria lain.

Nada suaranya tenang, tapi posisi tombaknya jelas siap bergerak.

Tara yang melihat itu hanya mendengus kecil.

“Cepat sekali,” gumam Tara lirih.

Yuda pun akhirnya berdiri perlahan dan menjawab mereka

“Baiklah, Tapi aku tidak suka jika dipaksa.” jawab Yuda dengan tegas.

“Kami tidak akan memaksamu,” jawab pria itu singkat.

Akhirnya Yuda pergi mengikuti kedua pria yang mengajaknya.

Sedangkan Tara, ia saat ini duduk di bahu Yuda seperti sebuah aksesoris.

Mereka dibawa berjalan melewati lorong belakang arena.

Lorong itu sempit, lembap, dan gelap, hanya diterangi sebuah obor yang dipasang dengan jarang-jarang.

Ada bau darah yang lebih kuat di sini, bercampur dengan bau besi dan keringat lama.

Tara akhirnya melompat dan berjalan di samping kaki Yuda, matanya sangat was-was menatap ke segala arah.

“Ini sepertinya wilayah orang berjubah biru itu,” bisik Tara yang kembali melompat ke bahu Yuda.

“Apa kau mengenalnya?” jawab Yuda dengan berbisik juga.

“Tidak secara langsung, aku hanya menandainya ketika mereka kemarin menghampiri kita, ini sepertinya berbahaya, jadi kita harus tetap waspada” jawab Tara menjelaskan.

Lorong akhirnya berakhir di sebuah ruangan yang luas dengan lantai batu yang terlihat cukup bersih.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja yang berdiri dengan rendah.

Dan di balik meja itu, sosok pria berjubah biru telah menunggu.

“Silakan duduk,” katanya setelah melihat kedatangan Yuda.

Suaranya terdengar datar, bahkan nyaris tanpa emosi.

Namun mendengar itu, Yuda malah tidak langsung duduk.

“Apa kau yang menyuruh mereka menjemputku?” tanya Yuda memastikan.

“Ya.” jawab pria berjubah biru dengan tersenyum tipis.

“Kenapa?” tanya Yuda langsung dengan cepat.

“Karena aku tidak ingin orang lain mengambilmu lebih dulu.” jawab pria berjubah biru masih stabil dengan ekspresi wajahnya yang tenang.

Kalimat itu seketika membuat Tara mengangkat kepalanya dan menatap pria berjubah biru dengan tajam.

“Mengambil?” gumam Yuda, namun sangat terdengar jelas diruangan itu.

Pria berjubah biru hanya melirik Tara sekilas, lalu kembali pada Yuda.

“Tubuhmu itu unik, kau bisa menerima tenaga dari berbagai jalur tanpa merusak dirimu sendiri.” ucap pria berjubah biru dengan tatapan yang masih tenang.

Mendengar itu, Yuda hanya mampu mengepalkan tangannya.

“Aku tidak mengerti.” tanya Yuda.

“Kau hanya belum mengerti, tapi kau akan segera mengerti.” jawab pria berjubah dengan senyuman tipis

Ia akhirnya memperkenalkan dirinya sebagai dengan nama Ragha Biruna.

Seorang pengamat, perekrut, dan penghubung, namun tidak disebutkan untuk siapa.

“Aku menawarkan kesempatan kepadamu," ucap Ragha.

"Kau bisa keluar dari arena, keluar dari kejaran klan, dan mendapatkan sebuah pelatihan yang layak.” lanjutnya sedikit memberikan pernyataan.

“Dengan harga apa?” tanya Yuda cepat.

“Hanya sebuah kesetiaan yang sementara.” jawab Ragha juga dengan cepat.

Tara di samping yang mendengar itu hanya terkekeh kecil.

“Manusia selalu bilang sementara,” ujarnya sinis.

Ragha yang ternyata mampu mendengar perkataan Tara layaknya manusia, hanya tersenyum dan terlihat sedikit tersinggung oleh sindiran Tara.

“Kalianlah para siluman yang memang tidak suka dengan janji, karena kalian hidup cukup lama untuk melihat kebohongan.” jawab Ragha tak mau kalah.

Tara pun hanya menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Ragha.

Sedangkan Yuda, ia menatap meja batu di depannya.

Ia tahu, untuk menolak ini bukanlah pilihan yang mudah.

Menolak berarti kembali ke arena, kembali diburu klan, dan kembali sendirian.

Jika menerima tawaran ini berarti masuk ke permainan yang aturannya belum ia pahami, bahkan belum ia ketahui.

“Apa yang terjadi jik aku menolak?” tanya Yuda dengan pintar.

Tanpa berpikir, Ragha hanya menjawab tanpa ragu.

“Umm... Jika kau menolak, kau akan tetap hidup, tapi mungkin hanya untuk sementara.” jawabnya dengan senyuman tipis di mulutnya.

Jawabannya itu terlihat cukup jelas, yang mana jika Yuda menolak, maka ia akan segera di bunuh.

Yuda pun mengangkat kepalanya kembali dan menatap ke arah Ragha.

“Baiklah, aku akan ikut, tapi ingat, aku tidak akan pernah menjual diriku.” ucap Yuda dengan tatapan yang cukup yakin.

Ragha akhirnya tersenyum sedikit lebih lebar.

“Bagus, bagus... Hahaha... Itu adalah jawaban yang tepat.” jawabnya dengan senang dan ikuti oleh tawa.

Tara di samping hanya mampu mendesah pelan setelah mendengar perkataan dari Yuda.

“Kau benar-benar suka masalah, bocah.” gumam Tara dengan kesal kepada Yuda.

“Hehehe.. Seperti itu sudah terjadi sejak aku lahir,” jawab Yuda terkekeh.

Di luar ruangan, dunia selalu terus bergerak.

Nama Yuda akhirnya mulai beredar dan menyebar di berbagai kalangan tertentu.

Bukan lagi sebagai petarung arena biasa, melainkan sebagai calon bidak atau calon pemain yang akan menghadapi berbagai ancaman.

Saat ini, ia benar-benar masuk ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

Nyawanya akan mulai di pertaruhkan.

Di pikirannya terselip sebuah pemikiran, bahwa ini juga akan menjadi sebuah latihan untuk dirinya.

"Semakin dalam aku melalui masalah, maka semakin dalam juga ilmu pengetahuan yang akan ku dapat." gumamnya dalam hati sembari menatap kearah matahari yang mulai terbenam.

Mereka berdua sudah keluar dari ruangan Ragha, dan saat ini sedang berada di depan pintu lorong tempat sebelumnya mereka masuk.

Tara yang ada di sampingnya saat ini hanya terdiam setelah menatap sebentar ke arah lorong yang ada di belakangnya.

"Sebaiknya kita segera beristirahat." gumam Yuda pelan lalu pergi yang di ikuti dengan lompatan Tara pada bahunya.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!