Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Tidak Tahu Malu
Ben yang sudah mendapatkan obat yang dibutuhkan oleh Ratih datang ke rumah Ratih.
Rumah itu masih sama, masih sama seperti ketika Ben di usir pergi terakhir kali oleh Fandi. Dan Ratih hanya diam saja, bahkan meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
Fandi bermaksud untuk membuat Ben menjauh dari Ratih. Awalnya Ben pikir, hal itu bisa terjadi. Karena Ratih memang sangat bucin pada Ben. Tapi, belakangan dia cukup terkejut. Ratih, seolah menjadi seseorang yang berbeda. Bahkan terkesan tak perduli pada suaminya. Dan racun itu, sebenarnya Ratih berikan pada siapa? kenapa harus di sakiti secara perlahan? banyak hal yang langsung terlintas di kepala Ben, begitu dia menginjakkan kaki di pekarangan rumah Ratih itu.
Rumah yang bahkan Ben-lah yang mengurus pembeliannya. Sampai bisa langsung di tempati oleh Ratih dan suaminya.
Bibi Erma yang mendengar suara mobil, segera mendekat ke arah pintu. Dari jendela, dia melihat Ben keluar dari dalam mobil. Wanita paruh baya itu pun segera bergegas memanggil Fandi.
Bibi Erma tentu tidak akan membiarkan Ratih dan orang kepercayaan ayahnya Ratih itu bertemu dan bicara. Bisa bahaya, Ratih bisa lebih jauh dari mereka dan tidak mau mendengarkan mereka nantinya.
Fandi yang mendengar, Ben datang ke rumah. Segera berjalan dengan cepat ke arah pintu. Ben baru akan menekan bel pintu yang ada di samping pintu utama rumah Ratih.
Baru juga dia menempelkan jari telunjuknya, belum memberikan dorongan. Pintu besar itu sudah terbuka.
Ceklek
Ben tentu saja segera menarik tangannya kembali.
"Mau apa kamu datang kemari?"
Itu sebenarnya bukan pertanyaan, itu seperti sebuah peringatan dari Fandi pada Ben.
"Nyonya menyuruhku datang!" jawab Ben singkat tanpa berniat adu debat dengan Fandi.
"Ratih tidak akan bertemu denganmu!" tegas Fandi.
Ben menghela nafas panjang.
"Aku datang karena nyonya menyuruhku datang, bagaimana mungkin dia tidak akan menemui ku?" hanya Ben.
"Aku suaminya! kalau aku bilang dia tidak akan bertemu denganmu. Maka dia tidak akan bertemu denganmu. Jadi orang tahu malu sedikit lah! sudah di usir kan dari sini? sudah aku katakan juga kamu tidak boleh masuk kantor lagi, tapi kamu masih tidak tahu malu, dan terus datang ke kantor. Dimana harga dirimu yang biasa kamu junjung tinggi itu?" sindir Fandi.
Wajah Ben masih tidak berubah. Sejak dulu, dia memang tidak pernah mendengarkan Fandi. Yang dia dengarkan dan turuti adalah perintah satu Ratih.
"Aku akan tunggu nyonya disini...!"
Fandi merasa kesal. Sudah di usir dan di hina seperti itu. Masih juga Ben bersikeras ingin menemui Ratih.
Bugh
Fandi yang kesal memukul wajah Ben, hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang dengan sudut bibir yang sepertinya robek. Karena ada cairan merah keluar dari sana dan mengalir sedikit ke bawah sudut bibir Ben.
Ben yang terhuyung sampai kepalanya secara reflek menoleh ke arah kanan. Menyeka cairan merah yang ada di sudut bibirnya.
"Brengsekk! kamu tulii ya? aku bilang pergi! maka kamu harus pergi!" pekik Fandi lagi.
Selain wajah tampannya itu, mulut manisnya saat merayu Ratih. Dan emosinya yang suka meluap-luap, sebenarnya Fandi tidak memiliki hal baik di dalam dirinya. Ben yang melihat Fandi, yang masih juga membelalakkan matanya melotot padanya itu mendengus kesal. Rasanya dia ingin memukul wajah tidak tahu malu itu. Tapi, dia menahannya, berusaha untuk menahannya karena dia tahu, Ratih sangat mencintai suaminya yang brengsekk itu.
Ratih yang mendengar keributan, segera keluar dari dalam kamar. Namun sebelum Ratih keluar, bibi Erma menahan Ratih.
"Nyonya, nyonya itu tuan bertengkar dengan tuan Ben. Sepertinya tuan Ben melakukan sesuatu yang membuat tuan tidak senang!"
Ratih hanya menoleh sekilas ke arah bibi Erma.
'Memangnya kenapa Ben harus melakukan sesuatu yang membuat Fandi senang?' batin Ratih.
Ratih tidak menjawab, tapi langsung meraih gagang pintu dan membukanya.
Ceklek
"Nyonya"
Ben yang melihat Ratih, segera menyapa. Sedangkan Fandi yang langsung menoleh juga mendekati Ratih dengan cepat.
"Sayang, usir dia dari sini!"
Ratih melirik tajam ke arah Fandi.
"Kenapa? aku yang memanggilnya untuk datang, kenapa aku harus mengusirnya?" tanya Ratih.
Rahang Fandi terlihat mengeras. Garis rahang pria itu tampak begitu jelas.
"Sayang, dia..."
Sebelum Fandi selesai bicara. Ratih melihat darahh di sudut bibir Ben.
"Kamu kenapa? apa tidak ada yang memberitahumu kalau ada yang memukulmu seharusnya kamu membalas?" tanya Ratih pada Ben.
"Tidak masalah nyonya, aku datang untuk..."
"Ikut aku!" perintah Ratih yang segera berjalan ke arah mobil Ben.
Fandi membulatkan matanya lagi, dia terkejut karena Ratih lagi-lagi tidak mengindahkan apa yang dia katakan.
"Ratih!"
Ratih menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya yang di ikuti oleh Ben.
"Aku ada perlu dengan Ben, mas. Kamu sendiri kenapa tidak pergi ke kantor?" ujar Ratih yang langsung masuk ke dalam mobil Ben.
Fandi mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya Ratih berkata seperti itu di depan Ben. Harga dirinya sebagai seorang suami mau diletakkan dimana? disuruh pergi ke kantor seperti itu?
Karena kesal, Fandi memilih masuk ke dalam rumah.
"Siall!" pekiknya.
"Kenapa kamu tidak hentikan nyonya..."
"Bibi tidak lihat apa yang terjadi? Ratih mengabaikan aku!" pekik Fandi kesal menyela ucapan bibi Erma.
"Fandi, kalau kamu seperti ini terus. Bisa-bisa nyonya tidak percaya lagi padamu. Kamu harus bisa membujuknya, kenapa malah pergi? kan kamu jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan!"
"Hah, masa bodohh. Kalau bibi mau tahu, bibi saja yang dengarkan! semua ini kan rencana bibi juga. Aku muak dengan wanita itu sejak awal, bibi tidak tahu kan bagaimana keadaannya saat aku menemukannya, entah seperti apa pria yang menidurinya itu. Dia benar-benar tampak menjijikkan, seluruh tubuhnya dipenuhi tanda pria itu!" kesal Fandi.
"Fandi, kamu juga tidak perlu menyentuhnya. Cukup lakukan saja seperti dulu. Berikan dia bunga, tulis kata-kata romantis dan manis di sebuah surat dan berikan padanya. Dia pasti luluh seperti dulu!"
Fandi mengacak rambutnya. Dia masih kesal. Sebenarnya menikah tanpa menyentuh juga membuatnya merasa tidak senang. Tapi setiap kali melihat Ratih. Fandi terus ingat pada malam dimana dia menemukan Ratih di sebuah rumah kosong di tepi jurang. Dia benar-benar membuat Fandi tidak senang.
"Aku akan pikirkan nanti..."
"Jangan nanti-nanti, Fandi. Kamu tahu kan Sarah sudah mulai frustasi, dia ingin bertemu Rafa. Maka yang bisa membujuk Ratih untuk memperbolehkan Rafa kita bawa ke Sarah, hanya kamu! Demi Sarah, Fandi. Demi masa depan kalian!" kata bibi Erma yang berusaha membujuk Fandi.
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..