Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Mommy, kita nda calapan dulu? Pelut Zay lapal lho" rengek Zayyan sambil memegangi perutnya yang berbunyi.
Kiandra menghela nafas panjang, dia dan putranya tidak sempat sarapan, Kiandra buru-buru mengajak putranya berangkat sekolah sebelum Adam bangun.
"Pak, kita berhenti di warung bubur depan" ucap Kiandra pada sang sopir. Mereka masih memiliki banyak waktu, sebelum mengantar Zayyan sekolah.
Sopir pun mengangguk, dia akhirnya menghentikan mobilnya di tepi jalan, tepat di dekat penjual bubur ayam.
"Kita makan di cini mommy?" tanya Zayyan mengerutkan keningnya, maklum saja bocah kecil itu belum pernah makan di tenda pinggir jalan.
"Iya, lama nunggunya kalau harus makan di restoran" ucap Kiandra.
"Ya cudah deh, dalipada nda makan" pasrah Zayyan.
Begitu mobil berhenti sempurna, Kiandra langsung turun lebih dulu sambil menggenggam tangan Zayyan. Anak itu masih celingukan, matanya sibuk memperhatikan sekitar, dari asap tipis yang mengepul dari panci bubur sampai suara sendok beradu dengan mangkuk.
Zayyan melangkah pelan, agak ragu, sepatunya yang kinclong kontras banget sama lantai trotoar yang tidak terlalu bersih. Dia sedikit mendekat ke tubub mommy nya, seolah butuh pegangan ekstra.
“Mommy, ini tempatnya lamai ya,” gumamnya pelan.
Kiandra tersenyum kecil. “Iya, tapi buburnya enak. Mommy dulu sering makan di sini.”
Penjual bubur yang sudah agak berumur langsung menyambut dengan ramah.
“Silakan, Bu. Mau berapa porsi?”
“Tiga ya, Pak. Satu jangan pedes, yang satunya lagi antar ke mobil" jawab Kiandra sambil melirik Zayyan.
Zayyan cepat-cepat mengangguk. “Zay nda cuka cabe, nanti pelutnya cakit.”
Penjual itu terkekeh kecil. “Siap, jagoan.”
Mereka duduk di bangku plastik yang sedikit goyang. Kiandra merapikan rok yang dia kenakan sementara Zayyan naik ke bangku dengan susah payah, kakinya masih menggantung karena belum nyampe ke tanah.
Zayyan menatap sekeliling dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Ada bapak-bapak pakai jaket ojek online, ada ibu-ibu yang kelihatan buru-buru, semua makan dengan tenang seolah ini rutinitas pagi yang biasa banget.
“Mommy,” panggil Zayyan sambil mencondongkan badan.
“Hmm?”
“Kata daddy, makan di lual itu nda cehat.”
Kiandra terdiam sesaat, jari-jarinya refleks meremas tas kecilnya. Nama Adam selalu berhasil bikin dadanya terasa agak sesak, apalagi di pagi yang harusnya tenang.
“Sesekali tidak apa-apa, yang penting tidak terlalu sering” jawabnya akhirnya, suaranya dibuat setenang mungkin.
Zayyan mengangguk, walau kelihatan masih mikir.
“Coalnya Zay lapal banget.”
Tak lama, dua mangkuk bubur datang. Asapnya masih mengepul, aroma kaldu ayam langsung bikin perut keroncongan. Kiandra mengaduk buburnya pelan, memastikan nggak terlalu panas buat Zayyan.
“Nih, ditiup dulu,” katanya sambil mendorong mangkuk kecil ke arah anaknya.
Zayyan meniup-niup dengan serius, pipinya sampai mengembung. Setelah itu dia memasukkan bubur itu kedalam mulutnya pelan, lalu matanya langsung membesar.
“Enak, Mommy! Lebih enak dari bubul di hotel.” serunya dengan wajah berbinar.
Kiandra tertawa kecil, tawa yang jarang keluar belakangan ini. Melihat putranya makan dengan lahap membuat hatinya sedikit menghangat, walau di sudut pikirannya masih ada rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan.
Dia ikut menyuapkan buburnya sendiri kedalam mulutnya. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa membuat dia nyaman. Tidak melihat Adam, yang mengingatkan dirinya akan penghianatan yang suaminya lakukan.
“Mommy,” Zayyan bersuara lagi, kali ini sambil mengunyah.
“Kenapa, sayang?”
“Habis ini kita langcung cekolah kan?”
“Iya.”
“Mommy nanti jemput Zay?”
Kiandra menatap wajah kecil itu, senyumnya lembut tapi matanya sedikit redup.
“Iya, Mommy jemput.”
Zayyan tersenyum puas dan kembali fokus ke buburnya.
Sementara Kiandra menarik napas pelan, mencoba menguatkan diri. Pagi ini sederhana, hanya sarapan bubur di pinggir jalan, tapi rasanya jauh lebih berarti dari sarapan mewah di rumah yang terasa menyakitkan.
*****
Adam tiba di kantornya dengan langkah yang terasa berat. Biasanya dia selalu datang dengan aura percaya diri, wajah tenang, dan sorot mata tajam yang siap menaklukkan rapat demi rapat. Tapi pagi ini berbeda. Wajahnya tampak lesu, matanya sedikit sayu, dasi di lehernya pun terpasang asal-asalan. Sejak turun dari mobil, pikirannya sudah ke mana-mana, bayangan masalah di rumah terus berputar tanpa mau berhenti.
Begitu masuk ke ruangannya, Adam langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja. Dia menyandarkan punggung, menatap langit-langit sebentar, lalu menghela napas panjang. Meja kerjanya rapi seperti biasa, tumpukan berkas sudah menunggu untuk ditandatangani, tapi sama sekali tak ada minat di wajahnya untuk menyentuh semua itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Pandu masuk dengan langkah tenang sambil membawa secangkir kopi panas. Aroma kopi langsung memenuhi ruangan, biasanya aroma itu cukup untuk mengembalikan semangat Adam, tapi kali ini reaksinya hanya sekilas lirikan.
“Ini tuan, kopinya,” ucap Pandu sopan sambil meletakkan cangkir itu di atas meja Adam, tepat di samping laptop yang masih tertutup.
Adam melirik kopinya sebentar lalu mengangguk kecil. “Terima kasih,” ucapnya pelan, suaranya terdengar agak berat. Dia mengambil cangkir itu, menyeruput sedikit, tapi ekspresinya tetap datar.
Beberapa detik hening berlalu. Pandu masih berdiri di sana, menunggu perintah selanjutnya. Adam menaruh kembali cangkir kopinya, lalu menatap Pandu dengan wajah serius.
“Pan, tolong kamu urus pergantian nomor teleponku. Aku mau ganti nomor.” ucapnya.
Pandu terkejut, alisnya langsung terangkat. “Anda yakin, tuan?” Nomor itu sudah anda pakai selama bertahun-tahun. Semua klien, relasi, bahkan pihak bank pakai nomor itu. Kalau diganti, pasti akan mempengaruhi semuanya.” tanya Pandu memastikan.
Adam menghela napas kasar. Dia tahu betul apa yang Pandu maksud. Sebagai pebisnis, nomor ponsel bukan cuma alat komunikasi, tapi juga urat nadi bisnisnya. Salah sedikit saja, bisa membuat semua urusannya menjadi kacau.
Namun raut wajah Adam sama sekali tak berubah. Tatapannya justru semakin dingin. “Sudah, lakukan aja, Pan,” ucapnya singkat. “Aku tidak mau ribet. Untuk urusan yang lain, kamu yang urus.”
Nada bicaranya jelas menunjukkan dia tak ingin dibantah. Keputusan itu sudah bulat, meski risikonya besar. Pandu hanya bisa terdiam sejenak, mencoba memahami keadaan tuannya yang jelas sedang tidak baik-baik saja.
“Baik, tuan, saya akan urus semuanya.” jawab Pandu akhirnya.
Adam mengangguk pelan, lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari ruangan itu.
Sementara Pandu melangkah keluar dengan perasaan campur aduk, menyadari satu hal. Yang di lakukan Adam pasti ada kaitannya dengan Nayla.
"Mungkin tuan Adam sudah tidak ingin berhubungan dengan wanita itu lagi. Tapi baguslah, nyonya Kiandra sudah paling sempurna untuk di jadikan istri, tidak pantas untuk di khianati. Apalagi dengan wanita seperti Nayla" ucap Pandu yang juga sadar. Dia dulu telah khilaf membantu perselingkuhan Adam dan Nayla, tapi sekarang dia tidak mau lagi menjadi bagian dari mereka.
kejam ya tapi si nayla nya aja nggak niat berubah
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??