Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Dua Dunia
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat di lantai paling atas gedung pencakar langit bank pusat.
Di ruangan yang biasanya penuh dengan bualan tentang angka dan ekspansi, kini hanya terdengar deru napas tertahan dari para penguasa finansial Kota Gemerlap. Para direktur itu membeku, tubuh mereka kaku di balik kursi kulit mahal. Mereka menyadari satu kenyataan pahit: Arlan Bramantyo bukanlah sekadar kepala cabang yang bisa mereka buang begitu saja untuk menyelamatkan diri.
Sebelum menduduki posisinya sekarang, Arlan adalah analis data terbaik yang pernah mereka miliki. Selama bertahun-tahun, ia adalah pemain di balik layar yang merapikan angka-angka. Ia tahu setiap celah, setiap transaksi gelap, dan setiap "sampah" yang mereka sembunyikan dengan rapi di bawah karpet kemewahan bank ini.
“Apa maumu?” tanya direktur utama dengan suara serak, hampir pecah.
Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam hitungan menit. Di kepalanya, berkecamuk bayangan nasib investor yang akan lari, harga saham yang terjun bebas, dan yang paling menakutkan, wajah istrinya. Sang istri berasal dari keluarga berpengaruh yang menjunjung tinggi kehormatan, dan mereka tidak akan pernah memaafkan skandal suap atau pencucian uang yang mencoreng nama besar keluarga.
“Bersihkan namaku dalam satu jam ke depan,” tuntut Arlan, suaranya tenang namun tajam seperti sembilu.
“Terbitkan pernyataan resmi bahwa tuduhan terhadapku adalah kesalahan teknis sistem dan upaya sabotase pihak luar. Dan yang paling penting... bekukan seluruh aset milik Aldi Sanjaya di bank ini dengan alasan investigasi internal pencucian uang.”
“Kau gila? Itu sama saja dengan menyatakan perang secara terbuka pada keluarga Sanjaya!” bentak salah satu direktur senior.
“Aku tahu. Mereka pasti akan tahu siapa yang ada di balik ini,” sahut Arlan tegas sembari berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
“Kalian hanya perlu menjalankan peran sebagai institusi yang 'bersih'. Sisanya, biarkan menjadi urusanku dengan mereka.”
Para direktur saling menatap, berkomunikasi lewat sandi mata yang penuh keputusasaan. Pilihan yang diberikan Arlan bukanlah sesuatu yang gampang, namun demi mengamankan kursi dan kebebasan mereka dari jeruji besi, mereka akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju sambil menelan kepahitan di kerongkongan.
Di luar gedung, udara malam Kota Gemerlap terasa dingin dan tajam. Rey sudah menunggu di dalam mobil, jemarinya mengetuk-ngetuk dasbor dengan gelisah. Begitu Arlan masuk, Rey segera menoleh.
“Mereka setuju?” tanya Rey.
Ada secercah kemenangan di matanya, namun kegelisahan belum sepenuhnya hilang.
“Ya. Bagaimana bagianmu?” tanya Arlan sembari melonggarkan dasinya, membiarkan oksigen masuk ke dadanya yang sesak.
“Jurnalis investigasi sudah siap. Tapi ada yang lebih menarik. Vincent baru saja mengirimkan rekaman suara Jatmiko saat menerima instruksi langsung dari Aldi Sanjaya, untuk menghancurkan Om Arman. Itu adalah bukti konspirasi kriminal dan percobaan pembunuhan yang tidak bisa dibantah,” jelas Rey.
Arlan menatap lurus ke depan, ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.
“Jangan hanya rilis ke media. Kirimkan salinannya ke ayahnya, Tuan Kedua Sanjaya. Biarkan dia tahu bahwa anaknya telah menjadi ceroboh dan membawa nama keluarga Sanjaya ke ambang kehancuran. Kita hancurkan mereka dari dalam.” Rey mengangguk dengan senyuman.
Malam itu, Kota Gemerlap menjadi saksi bagaimana seorang laki-laki yang selama ini hidup “lurus” mulai berani menginjakkan kakinya di zona abu-abu.
Arlan memutuskan untuk mencari tempat menginap bersama Rey. Ia memilih untuk tidak menemui Gisel saat ini, karena ia yakin setiap geraknya sedang diawasi oleh kaki tangan Aldi. Arlan tidak ingin menciptakan celah sekecil apa pun yang bisa membahayakan istri dan anaknya.
Di belahan kota lain, tepatnya di Kota Flora, kegelapan malam terasa jauh lebih menyesakkan bagi Gisel. Di rumah persembunyian milik Vincent, Gisel tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya melayang pada Arlan yang sedang bertarung sendirian. Gelisah, ia turun ke dapur untuk mengambil segelas air, mencoba mendinginkan kepalanya yang terus berdenyut.
Saat berjalan kembali melalui ruang tamu yang remang, bulu kuduknya berdiri. Ia merasakan kehadiran seseorang. Di sudut ruangan, ada sofa besar yang tersembunyi dalam bayangan, sesosok pria duduk dengan tenang. Gisel mengira itu adalah Jack, maka ia mencoba mengabaikannya. Rumah ini adalah wilayah kekuasaan Jack dan atasannya; ia hanyalah tamu yang berlindung.
“Kamu belum tidur?” tanya sebuah suara berat yang penuh intimidasi, menghampiri dari arah belakang.
Gisel membeku. Itu bukan suara Jack yang akrab. Refleks yang dilatih oleh Om Arman di Jalan Bunga selama bertahun-tahun seketika mengambil alih kesadarannya.
Saat tangan asing itu hendak mendarat di pundaknya, Gisel berputar secepat kilat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memuntirnya, dan melakukan kuncian yang menyakitkan hanya dalam satu gerakan halus.
“Menarik!” pria itu menyeringai.
Ia sama sekali tidak terlihat kesakitan meskipun posisinya terkunci rapat.
Klik. Lampu ruang tamu menyala tiba-tiba. Jack muncul dengan wajah pucat, mematung melihat pemandangan di hadapannya: bos besarnya sedang ditawan oleh seorang gadis kecil yang terlihat rapuh.
“Bos?” panggil Jack dengan nada ragu dan ngeri.
“Bos?” Gisel terkejut dan segera melepaskan kunciannya.
Wajahnya memerah karena malu dan takut secara bersamaan.
Pria itu berdiri tegak, merapikan kemeja mahalnya dengan santai. Dia adalah Vincent, sang penguasa bayangan Kota Flora.
“Halo, Gisel. Gerakan yang bagus. Refleksmu jauh lebih hidup daripada Arlan yang membosankan itu.”
“Ma-maafkan aku... aku tidak tahu...” Gisel menunduk, tidak berani menatap mata Vincent yang tajam.
Vincent tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam namun memiliki karisma yang mematikan. Ia kembali duduk dan meminta teh. Gisel, untuk menebus kesalahannya, segera membuatkan teh hangat. Saat menyerahkan gelas itu, Vincent menatapnya dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
“Pantas saja bajingan seperti Aldi Sanjaya begitu menginginkanmu. Kamu punya api di dalam dirimu. Bahkan aku mulai menyukaimu,” ucap Vincent.
Gisel dan Jack terkesiap.
“Bagaimana jika kamu tinggalkan Arlan yang kaku itu dan tinggallah di sisiku? Aku bisa memberimu perlindungan yang jauh lebih nyata daripada yang bisa diberikan seorang bankir,” lanjut Vincent, nadanya separuh menggoda namun separuh menguji.
“Maaf, Om... aku tidak bisa,” jawab Gisel dengan nada waspada.
“Om? Apa aku terlihat setua itu?” Vincent menatap Bang Jack, yang seketika menggelengkan kepalanya.
“Anda... Anda adalah teman Om Arlan.” Tawa Vincent pecah, memenuhi seisi ruangan.
“Om Arlan! Luar biasa! Panggil saja dia begitu, dia memang pantas mendapatkannya. Tapi untukku, jangan panggil Om. Panggil aku Kakak, atau Abang, sama seperti Jack.”
“Bang, mereka mulai bergerak,” potong Jack, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai melantur.
“Sudah kamu pindahkan?” tanya Vincent, raut wajahnya kembali serius.
“Sudah.”
“Bagus, biarkan saja mereka menyergap kamar kosong!” Jack mengangguk dengan senyum sinis.
Jack kemudian menjelaskan kepada Gisel bahwa mereka telah memindahkan Om Arman ke Kota Flora secara diam-diam. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyergapan Jatmiko di rumah sakit sebelumnya. Gisel bisa menemui mereka besok pagi.
Vincent memperhatikan percakapan keduanya dalam diam. Matanya menangkap sesuatu yang istimewa. Gisel memang layak menjadi mawar di jalan yang dipenuhi bunga layu. Tidak hanya jiwanya yang bersih, tetapi sikapnya tidak menunjukkan sedikit pun tabiat buruk Jalan Bunga. Keberaniannya saat mengunci tangannya tadi benar-benar membekas di benak Vincent.
Tiba-tiba, terbesit sebuah ide konyol namun brilian di otak penguasa Flora tersebut. Sebuah ide yang mungkin akan membuat Arlan Bramantyo terkena serangan jantung.
“Gisel,” panggil Vincent, membuat Gisel menoleh ragu.
“Bagaimana jika kamu menjadi adikku? Menjadi adik angkat dari seorang Vincent bukan hanya soal perlindungan, tapi soal kekuasaan yang tidak akan berani disentuh bahkan oleh keluarga Sanjaya sekalipun.”
Gisel tertegun. Tawaran itu bukan sekadar perlindungan, melainkan sebuah posisi di puncak rantai makanan Kota Flora.
Di sisi lain, Jack menatap bosnya dengan mulut terbuka seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Ia menyadari bahwa permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏