NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 : Wilayah Timur

Wilayah timur Zenobia dikenal sebagai tanah yang makmur.

Ladang gandum membentang luas, sungai besar mengalir tenang membelah kota-kota kecil, dan tambang besi di perbukitan menjadi sumber kekuatan militer Zenobia selama bertahun-tahun.

Sekarang semuanya berada di bawah pengawasan Asterism. Atau setidaknya… terlihat begitu.

Angin sore berembus lembut di atas atap-atap rumah batu. Di pasar utama, manusia dan beastman berjalan berdampingan—namun jarak di antara mereka tak pernah benar-benar hilang.

Tatapan dingin.

Bisikan pelan.

Langkah yang sedikit menjauh.

Kesetaraan di atas kertas.

Kecurigaan di dalam hati.

Dan di atas salah satu menara batu tua—seorang gadis bergaun putih duduk dengan tenang.

Rambut peraknya berkibar halus diterpa angin. Mata biru cerahnya memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat.

Eliza.

Ia mengayunkan kakinya santai di tepi menara, seolah hanya menikmati pemandangan.

“Hmm… jadi ini sarangnya,” gumamnya pelan.

Tak ada aura yang ia pancarkan. Tak ada jejak keberadaan yang mudah ditangkap. Setengah roh membuatnya menyatu dengan bayangan dan udara.

Di bawah sana, aktivitas berjalan normal.

Terlalu normal.

Matanya menyipit tipis.

Beberapa pria berseragam wilayah timur terlihat mondar-mandir di sekitar gudang lama. Tidak mengenakan lambang militer resmi Asterism.

Penjagaan tambahan?

Atau sesuatu yang disembunyikan?

Eliza memiringkan kepala.

“Kalau cuma menyembunyikan gandum sih… rasanya tidak perlu dijaga seketat itu.”

Ia berdiri.

Tubuhnya perlahan memudar, menyatu dengan bayangan menara.

Dalam satu hembusan angin. Ia sudah berada di belakang gudang batu besar itu.

Tak ada suara langkah.

Tak ada jejak.

Hanya keheningan.

...----------------...

Di sisi lain wilayah timur.

Duke Albrecht berdiri di ruang kerjanya.

Seorang pelayan berlutut di hadapannya.

“Lapor, Duke. Keributan kecil kemarin berhasil mereda. Tapi… beberapa warga masih menyebarkan isu bahwa distribusi pangan tidak adil.”

Albrecht tersenyum tipis.

“Bagus.”

Pelayan itu terdiam, bingung.

“Maksudku,” lanjut Albrecht halus, “pastikan isu itu tidak terdengar seperti berasal dari kita.”

Ia melangkah mendekati jendela.

“Biarkan mereka percaya bahwa Asterism-lah yang mulai membedakan perlakuan.”

“Tapi Duke… bukankah distribusi itu memang kita yang atur ulang?”

Albrecht menoleh pelan.

Tatapannya dingin.

“Dan itulah mengapa tidak boleh ada yang tahu.”

Pelayan itu langsung menunduk dalam.

Albrecht kembali menatap kota.

“Buat manusia merasa dirugikan,” gumamnya.

“Buat beastman merasa diincar.”

Ia tersenyum samar.

“Ketika keduanya saling menyalahkan… Asterism akan terlihat gagal menjaga ketertiban.”

Ia tidak membutuhkan perang.

Ia hanya butuh kecurigaan.

...----------------...

Sementara itu—

Di dalam gudang tua, Eliza berdiri di antara peti-peti kayu besar.

Ia menyentuh salah satunya.

Bukan gandum.

Bukan besi.

Bau minyak.

Dan…

Bubuk hitam halus.

Mata birunya sedikit membesar.

“Ah…”

Ia membuka peti lain.

Sama.

Lalu satu lagi.

Sama.

Bahan peledak.

Jumlahnya tidak sedikit.

Eliza tersenyum kecil.

“Ini bukan untuk pesta panen…”

Tiba-tiba—

Sebuah suara langkah terdengar di luar.

Eliza menghilang seketika, tubuhnya memudar menjadi partikel cahaya samar.

Dua pria masuk ke gudang.

“Pastikan semuanya siap. Besok malam,” ujar salah satunya pelan.

“Lokasinya sudah ditentukan?”

“Pasar pusat.”

Eliza yang bersembunyi di balik bayangan tiang kayu memicingkan mata.

Pasar pusat.

Tempat manusia dan beastman berbaur.

Jika ledakan terjadi di sana—

Tidak perlu banyak dorongan untuk membuat mereka saling menuduh.

Eliza menghela napas pelan.

“Ah… jadi ini rencananya.”

Namun saat ia hendak menghilang sepenuhnya—

Salah satu pria itu tiba-tiba berhenti.

“Apa kau merasakannya?”

“Merasa apa?”

“Barusan… seperti ada sesuatu.”

Eliza membeku dalam diam.

Udara di sekitarnya sedikit bergetar.

Oh?

Menarik.

Seseorang di wilayah ini… cukup sensitif terhadap energi roh.

Lonceng malam berdentang pelan.

Di dalam gudang yang temaram itu, dua pria tadi saling berpandangan.

“Apa kau merasakannya?”

Salah satunya menegang. Tangannya refleks menyentuh pedang di pinggang.

Hening.

Lalu—

Dari sudut paling gelap gudang, sebuah suara terdengar.

“Tidak perlu mencari.”

Tenang. Datar. Tidak terburu-buru.

Kedua pria itu tersentak dan berbalik.

Seseorang berdiri di atas salah satu peti kayu.

Tinggi. Ramping. Gerakannya begitu ringan hingga seolah ia tak pernah menyentuh lantai.

Rambutnya hitam legam, jatuh berantakan namun rapi sampai menyentuh bahu. Kulitnya pucat dengan garis telinga yang sedikit memanjang.

Dark elf.

Mata emasnya bersinar redup di bawah cahaya lampu minyak.

Tatapannya tajam. Menghitung. Mengukur.

Pakainya seperti seorang assassin—balutan hitam pekat yang pas di tubuh, ringan namun fungsional. Di belakang pinggangnya terselip sepasang belati melengkung, gagangnya terlihat dari balik kain.

Namun—

Ada satu hal yang jauh lebih mencolok daripada semua itu.

Sebuah kerah logam melingkar di lehernya.

Kerah budak.

Permukaannya berkilau samar dengan ukiran rune tipis—pengikat sihir.

Salah satu pria itu menelan ludah.

“Ka–kau… sejak kapan di sana?!”

Dark elf itu tidak menjawab.

Matanya sedikit bergeser.

Ia tidak sedang menatap mereka.

Ia menatap… bayangan di sisi tiang kayu.

Tempat Eliza bersembunyi.

“Keluar,” ucapnya pelan.

Bukan perintah keras.

Bukan teriakan.

Namun udara terasa menegang.

Eliza, yang masih menyatu dengan bayangan, memiringkan kepala kecil.

Oh?

Menarik sekali.

Ia perlahan memadatkan wujudnya.

Tubuhnya muncul perlahan dari kegelapan, partikel cahaya halus berpendar sebelum membentuk sosok gadis berambut perak dengan gaun putihnya.

Kedua pria itu langsung mundur beberapa langkah.

“Roh?!”

Dark elf itu tidak terkejut.

Mata emasnya bertemu dengan mata biru cerah Eliza.

Untuk beberapa detik—

Tak ada suara.

Hanya dua makhluk yang sama-sama tidak biasa saling menilai.

“Setengah roh,” gumamnya pelan. “Bukan entitas penuh.”

Eliza tersenyum tipis.

“Dan kamu bukan Dark Elf biasa.”

Tatapan Eliza turun ke lehernya.

Ke kerah logam itu.

Alisnya sedikit terangkat.

“Punya kemampuan… tapi memakai kerah budak?”

Suara Eliza tidak mengejek.

Lebih seperti… penasaran.

Pria itu menyentuh kerahnya sekilas. Gerakan kecil. Hampir tak terlihat.

“Status tidak selalu mencerminkan kemampuan.”

Jawaban yang tenang. Tanpa emosi.

Salah satu pria di gudang mulai panik.

“Apa yang kalian lakukan?! Jangan buat masalah! Kita hanya diperintahkan menjaga—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Sreet—

Dalam satu kedipan mata, dark elf itu sudah berada di belakangnya.

Belati terhunus tanpa suara.

Ujungnya berhenti tepat di leher pria itu.

Gerakannya begitu cepat hingga Eliza sendiri mengangkat alis tipis.

“Hei, hei~” Eliza mengangkat tangan santai. “Aku tidak datang untuk bertarung.”

Dark elf itu tidak langsung menyerang.

Ia hanya berbisik pelan di telinga pria yang gemetar itu.

“Kalian tidak melihat apa pun malam ini.”

Pria itu mengangguk panik.

Belati ditarik.

Dalam satu gerakan, dark elf itu kembali berdiri beberapa meter dari Eliza.

Seolah tak pernah bergerak.

Mata emasnya kembali menatap Eliza.

“Kau bukan warga wilayah timur.”

Eliza tersenyum manis.

“Dan kau bukan penjaga gudang biasa.”

Hening.

Angin malam masuk lewat celah pintu kayu.

Eliza melangkah satu langkah maju.

“Bahan peledak. Pasar pusat. Besok malam.”

Tatapan birunya menajam.

“Ini perintah siapa?”

Untuk pertama kalinya—

Ada sedikit perubahan pada ekspresi dark elf itu.

Bukan takut.

Bukan marah.

Tapi… waspada.

Kerah di lehernya berpendar samar.

Rune-rune tipis menyala.

Eliza langsung berhenti.

Ah.

Kontrak paksa.

Seseorang menanamkan sihir pembatas padanya.

Dark elf itu berbicara pelan.

“Aku tidak bisa menjawab.”

“Tidak bisa… atau tidak diizinkan?” tanya Eliza lembut.

Mata emas itu menatapnya dalam.

“Keduanya.”

Suasana menjadi lebih berat.

Di kejauhan, lonceng malam berdentang lagi.

Eliza memiringkan kepala.

“Kalau begitu… kau berpihak pada siapa?”

Untuk beberapa detik, dark elf itu tidak menjawab.

Lalu—

“Aku berpihak pada yang memberiku kebebasan.”

Jawaban yang sederhana.

Namun dingin.

Eliza tersenyum tipis.

“Berarti… belum tentu Duke.”

Mata emas itu sedikit menyipit.

Di luar gudang, langkah kaki terdengar semakin banyak.

Patroli tambahan.

Dark elf itu melirik ke arah suara tersebut.

“Kau harus pergi.”

“Perhatian sekali,” balas Eliza ringan.

“Aku tidak peduli padamu.”

“Mm~?”

Eliza terkekeh pelan.

Namun sebelum ia menghilang—

Dark elf itu berbicara lagi.

“Jika kau ikut campur terlalu jauh… kerah ini akan memaksaku membunuhmu.”

Nada suaranya tetap datar.

Bukan ancaman emosional.

Hanya fakta.

Eliza tersenyum lebih lebar.

“Kalau begitu… jangan sampai kita bertemu sebagai musuh ya?”

Tubuhnya perlahan memudar menjadi cahaya.

Sebelum benar-benar menghilang, ia berbisik—

“Salam kenal, assassin tanpa nama.”

Dan ia lenyap.

Gudang kembali sunyi.

Dark elf itu berdiri diam beberapa saat.

Mata emasnya menatap ruang kosong tempat Eliza tadi berdiri.

Lalu ia menyentuh kerah di lehernya lagi.

Rune itu redup perlahan.

“Ferisu.”

Ia mengucapkan nama itu pelan.

Seolah menguji sesuatu.

Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit getaran dalam suara tenangnya.

Di menara istana yang jauh dari sana—Ferisu yang sedang menatap peta wilayah timur tiba-tiba berhenti.

Tangannya mengepal pelan.

Ia merasakan sesuatu.

Seseorang yang tidak biasa… telah muncul di papan permainan.

Dan di wilayah timur Zenobia—bukan hanya Duke Albrecht yang menyimpan bidak tersembunyi.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!