Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan
Karina yang masih berada di tempat tidurnya merasa terganggu dengan suara bel pintu rumahnya. Bukan hanya tiu saja, sejak tadi pintunya juga di ketuk tanpa henti oleh orang tersebut.
Dengan berat hati, Karina menyeret tubuhnya untuk bangun dan melihat siapa yang datang sepagi ini.
"Om?!" pekik Karina ketika melihat Adrian yang sudah berada di depan pintu rumahnya pagi-pagi seperti ini.
Tapi, ketika sadar dengan penampilannya membuat Karina langsung berlari kembali ke kamarnya.
Sedangkan Adrian yang melihat itu merasa heran. "Karina, kamu kenapa?" tanya Adrian panik dari depan pintu kamar Karina yang tertutup.
"Bisa diem gak om?" pekik Karina dari dalam kamarnya.
"Karina, kamu baik-baik saja? Ada apa? Jangan membuat saya khawatir Karina." ucap Adrian lagi.
Sedangkan Karina di dalam kamarnya terus saja menggerutu karena tidak sadar dengan penampilannya tadi. "Semoga aja om Adrian gak liat choco chips gue anjir!" gumamnya ketika memakai pakaian dalam miliknya. Karena setiap malam, Karina adalah tipe wanita yang tidak memakai bra saat tidur dan semoga saja dia selamat.
"Karina, kamu baik-baik saja kan? Karina, ayo buka pintunya. Saya takut kamu kenapa-kenapa, hey."
"Apaan sih om, pagi-pagi udah berisik aja di rumah orang.." Karina menggerutu di depan Adrian dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil susu di dalam kulkas mungil miliknya.
Sementara Adrian jga mengikuti Karina dari belakang hingga membuat gadis itu hampir saja menabrak dada bidang duda 41 tahun itu.
"Om, ih! Munduran dikit kenapa sih?" gerutunya lagi saat Adrian berada tepat di belakangnya.
"Bilang dulu kamu kenapa Karina. Saya benar-benar khawatir dengan kamu. Kenapa tadi malam tidak balas pesan saya?" tanya Adrian lagi.
"Ini kamu kan?" dia menunjukan foto Karina yang sedang menghias cake di toko miliknya.
"Loh, kok om ada foto aku sih? Om ngintip aku ya?" tuduhnya pada Adrian.
"Saya tidak perlu mengintip kamu untuk mendapatkan foto kamu Karina." jawab Adrian dengan jujur.
"Lah, terus itu foto dari mana?"
"Dari calon ibu mertua kamu." jawaba Adrian dengan begitu santai membuat Karina hampir saja menyemburkan susu dari dalam mulutnya jika dia tidak cepat-cepat pergi ke wastafel.
"Karina, kamu kenapa?" tanya Adrian yang kembali panik.
"Jelasin gak sama aku apa maksudnya om tadi bilang foto dari calon ibu mertua aku?" kali ini Karina bertanya dengan penasaran.
"Oh, itu. Memang iya, kalau itu foto dari calon ibu mertua kamu yang berarti ibu saya. Kemarin ibu datang ke toko kue kamu dan berencana menjodohkan kamu dengan saya. Ibu saya memaksa saya untuk mendekati perempuan idamannya untuk menjadi istri saya Karina. Awalnya saya menolak dan saya marah. Saya tidak suka di jodohkan, tapi saat ibu mengatakan gadis pemilik toko kue dan menunjukkan foto gadis cantik yang telah mencuri hati saya, saya semakin yakin kalau kita ini berjodoh." jelas Adrian panjang lebar.
Dalam hari Karina, dia tidak percaya dengan semua ini. Yang benar saja, Adrian ini.
"Karina, kamu kenapa? kenapa diam saja?" tanya Adrian lagi melihat Karina diam.
"Mending pulang deh om. Tiba-tiba kenapa aku sakit." jawaban Karina membuat Adrian salah paham dan kembali ingin membawa Karina ke rumah sakit.
"Om, akh sakit kenapa gak perlu ke rumah sakit. Minum Panadol juga langsung oke. Masalahnya sekarang yang buat aku pusing itu om. Pake acara calon istri calon ibu mertua dan gak tau deh aku. Pusing om!"
"Tidak perlu pusing Karina. Saya kesini bukan mengajak kamu menikah besok, walau 90% saya yakin saya mampu dan bisa melakukannya. Tapi saya tidak ingin memberatkan kamu. Jadi, bisa kita memulainya lebih dulu? Saya kasih kamu waktu untuk kita saling mengenal dulu. Tapi tolong, jangan terlalu lama. Karena saya tidak ingin kamu di ambil orang."
"Jambu lali ah di ambil orang!" balas Karina.
"Karina, saya serius. Saya tidak ingin kamu di ambil orang. Jadi ayo kita saling mengenal lebih jauh lagi. Saya rasa satu bulan lebih dari cukup."
"Hah, sebulan? yang bener aja dong om! Maksa banget sih jadi om-om!" ucap Karina dengan sinis menatap Adrian.
"Kalau saya maksa, saya bisa nikahi kamu saat ini juga. Apa mau mencobanya?" tanya Adrian mendekati Karina dan mengunci pergerakan gadis cantik yang sudah mencuri hatinya itu hingga tidak bisa bergerak kemana-mana.
"Om, jangan macam-macam ya! Aku bisa teriak kalau om berani macam-macam!" ucap Karina mengancam Adrian
Namun, yang di ancam hanya tersenyum saja menanggapinya. "Silahkan saja. Jika kamu berteriak, saya pastikan jika kamu akan menjadi istri saya hari ini juga!" jawab Adrian tersenyum membuat Karina semakin kesal di buatnya.
"Ih, dasar nyebelin tau gak!" umpat Karina mendorong Adrian hingga laki-laki itu mundur selangkah dari posisinya tadi.
***
belajar memangil mas jan om