Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA DARI NAMA YANG MULAI DIKENAL
Liang Chen baru benar-benar beristirahat menjelang fajar.
Pertarungan dengan Han Rui meninggalkan dua luka yang lebih dalam dari yang ia akui pada dirinya sendiri. Yang di rusuk masih bisa ditahan dengan balutan ketat, tetapi yang di lengan kirinya mulai terasa kaku. Ia membersihkan keduanya menggunakan air dari aliran kecil tak jauh dari hutan bambu, menggertakkan gigi ketika kain basah menyentuh daging terbuka.
Ia tidak mengeluh.
Rasa sakit adalah pengingat bahwa ia masih hidup.
Ketika matahari muncul sebagai garis tipis keemasan di ufuk timur, Liang Chen sudah bergerak lagi. Ia tidak mengambil jalur lurus ke utara seperti rencana semula. Ia memutar ke arah barat laut, menuju perbukitan berbatu yang jarang dipilih pedagang.
Jika struktur di balik semua ini benar-benar berlapis, maka pergerakannya semalam pasti sudah dilaporkan.
Han Rui bukan orang yang bertindak tanpa alasan.
Angin pagi terasa kering. Burung-burung beterbangan rendah di antara semak. Di kejauhan, tebing batu kapur berdiri pucat, retak-retak seperti tulang tua.
Menjelang siang, Liang Chen mencapai celah sempit di antara dua dinding batu. Jalur itu cukup untuk satu orang lewat, dengan permukaan tanah yang tidak rata dan dipenuhi kerikil tajam.
Tempat yang baik untuk penyergapan.
Ia memperlambat langkah.
Tidak ada suara.
Namun kesunyian terlalu utuh.
Ia melangkah masuk.
Tiga langkah.
Lima langkah.
Sepuluh—
Batu kecil jatuh dari atas.
Refleks membuatnya mundur setengah tapak. Sebuah tombak pendek meluncur turun dari tebing, menancap di tanah tepat di tempat ia berdiri sesaat sebelumnya.
Bayangan bergerak dari atas.
Dua orang melompat turun dari dinding batu kiri, satu lagi dari kanan. Di belakangnya, sosok keempat muncul menutup jalan keluar.
Rapi. Terlatih.
Liang Chen menghela napas perlahan.
“Kalian datang lebih cepat dari perkiraanku,” ujarnya.
Seorang pria berjanggut tipis di depannya tersenyum miring. “Kabar tentangmu menyebar semalam.”
“Cepat sekali.”
“Darah selalu mempercepat kabar.”
Liang Chen menilai jarak. Ruang sempit membatasi gerak pedang lebar. Lawan-lawan ini tampak lebih siap daripada kelompok pasar kemarin.
“Han Rui gagal?” tanyanya.
Pria berjanggut itu mengangkat alis. “Ia tidak gagal. Ia melapor.”
Jadi benar.
Pertarungan tadi bukan akhir, melainkan seleksi.
“Serahkan barang itu,” lanjut pria tersebut, “dan kami akan memastikan kau bisa meninggalkan tempat ini dengan dua kaki.”
Liang Chen tersenyum tipis. “Kalimat itu terdengar seperti janji yang sering berubah.”
“Pilihanmu terbatas.”
Salah satu dari mereka sudah bergerak lebih dulu.
Serangan datang rendah, mengarah pada lututnya, mencoba melumpuhkan sebelum duel panjang terjadi.
Liang Chen meloncat ke samping, kakinya mendarat di batu miring. Ia memanfaatkan permukaan itu untuk memutar tubuh, pedangnya menyapu mendatar memaksa penyerang mundur.
Namun dua lainnya sudah menyusul.
Yang di kanan menggunakan pedang pendek, yang kiri membawa kapak kecil.
Serangan mereka tidak terburu-buru. Mereka bergantian, menjaga tekanan konstan.
Liang Chen dipaksa mundur selangkah demi selangkah.
Luka di rusuknya mulai terasa ketika ia memutar tubuh terlalu cepat.
Kapak kecil mengayun ke bahunya.
Ia menangkis, tetapi benturan berat membuat lengannya bergetar. Pedang pendek dari sisi lain hampir menyentuh perutnya. Ia memiringkan tubuh, merasakan ujung baja menggores kain tanpa menembus kulit.
Pria berjanggut itu belum bergerak. Ia mengamati.
Menilai.
Liang Chen sadar, jika ia terus bertahan seperti ini, tenaganya akan habis lebih dulu.
Ia mengubah ritme.
Ketika kapak kembali terangkat, ia tidak menahannya secara langsung. Ia melangkah masuk, mendekat ke jarak yang terlalu sempit untuk ayunan penuh. Bahunya menghantam dada lawan, membuat kapak kehilangan ruang gerak.
Siku Liang Chen menghantam rahang pria itu.
Bunyi tulang beradu terdengar jelas.
Belum sempat lawan jatuh, pedang pendek dari kanan menusuk cepat ke punggungnya.
Liang Chen berputar separuh, membiarkan bilah itu menyayat sisi punggungnya. Rasa panas menyambar, tetapi ia sudah berada di dalam jarak aman.
Pedangnya bergerak naik dari bawah, menebas lengan penyerang hingga darah memancar deras.
Teriakan menggema di antara tebing.
Pria ketiga, yang sebelumnya menutup jalan belakang, kini maju dengan tombak baru di tangannya. Ujungnya mengarah lurus ke dada Liang Chen.
Ruang sempit membuat tombak itu lebih menguntungkan.
Tusukan pertama hampir mengenai bahunya. Liang Chen memiringkan tubuh, merasakan angin tajam lewat di samping lehernya.
Tusukan kedua lebih cepat.
Ia menangkis dengan sisi pedangnya, menggeser ujung tombak ke dinding batu. Percikan kecil muncul ketika logam beradu batu.
Saat tombak terseret, Liang Chen menarik pedangnya ke bawah, memotong batang kayu dekat mata tombak.
Separuh ujungnya patah.
Namun pria berjanggut akhirnya bergerak.
Gerakannya jauh lebih tenang.
Ia melangkah maju tanpa tergesa, pedangnya terhunus dalam posisi rendah. Tatapannya tidak lagi sekadar mengamati—ia sudah memutuskan.
“Kau bertahan lebih lama dari yang kupikir,” katanya.
Liang Chen tidak menjawab.
Serangan pria itu datang tanpa aba-aba.
Tebasan horizontal cepat, diikuti tusukan balik yang nyaris tak terlihat transisinya. Tekniknya halus, efisien, tanpa tenaga terbuang.
Liang Chen menahan yang pertama, tetapi tusukan kedua menembus pertahanannya, menggores dalam di atas tulang rusuk yang sudah terluka.
Darah mengalir lebih deras.
Napas Liang Chen terputus sesaat.
Pria berjanggut itu menekan maju, memanfaatkan momentum. Setiap benturan logam memaksa Liang Chen mundur setapak.
Kerikil di bawah kakinya bergeser.
Ia hampir kehilangan keseimbangan.
Saat itulah ia melihat celah kecil—bukan pada tubuh lawan, tetapi pada langkahnya.
Pria berjanggut itu terlalu percaya pada pijakan datar di tengah celah. Ia tidak memperhitungkan batu lepas di sisi kanan.
Liang Chen sengaja mundur ke arah itu, memancingnya maju satu langkah lebih jauh.
Dan ketika kaki lawan menginjak kerikil yang tidak stabil, pusat gravitasinya bergeser.
Cukup.
Liang Chen menghentakkan pedangnya ke bawah, bukan ke tubuh, melainkan ke pergelangan tangan yang memegang pedang.
Benturan keras membuat genggaman itu terbuka sepersekian detik.
Liang Chen tidak menyia-nyiakan momen.
Ia memutar pedangnya dan menebas diagonal dari bahu ke dada.
Bilahnya menembus pakaian dan daging.
Darah memercik ke dinding batu.
Pria berjanggut itu terhuyung, lututnya menyentuh tanah.
Tiga lainnya yang masih sanggup berdiri mundur otomatis.
Liang Chen berdiri terengah, darahnya sendiri menetes membasahi sisi tubuh dan punggungnya.
Ia tidak mengejar.
“Ambil dia dan pergi,” katanya pelan, suaranya berat.
Tak ada yang membantah.
Mereka mengangkat pria berjanggut yang kini pucat dan berdarah, lalu mundur tanpa ancaman lanjutan.
Celah batu kembali sunyi.
Liang Chen bersandar pada dinding tebing, menutup mata sejenak.
Luka di tubuhnya kini lebih dari yang bisa ia abaikan. Setiap napas terasa seperti pisau kecil menekan dari dalam.
Namun satu hal menjadi semakin jelas.
Struktur itu nyata.
Lapisan pertama menguji sikapnya.
Lapisan kedua menguji kemampuannya.
Dan kini lapisan ketiga mulai mencoba mengakhiri perjalanannya.
Liang Chen membuka mata dan menatap langit biru sempit di atas celah batu.
Namanya sudah beredar.
Dan setiap langkah berikutnya akan semakin mahal harganya.
Ia mendorong tubuhnya berdiri kembali.
Belum waktunya jatuh.
Selama ia masih mampu menggenggam pedang, ia akan terus berjalan.
Karena menyerah sekarang berarti membenarkan semua orang yang menganggapnya sekadar pembawa masalah.
Dan Liang Chen menolak menjadi bayangan yang dikendalikan ketakutan orang lain.
Dengan langkah tertatih namun mantap, ia keluar dari celah batu menuju perbukitan di depannya—menuju babak berikutnya yang pasti lebih kejam dari hari ini.