"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Narti Hilang ...
Setelah memastikan Sastro ditangani dengan baik, ustadz Firman pun menoleh kearah lain dimana sosok arwah Padmi dan Oji berada. Untuk sejenak sang ustadz menatap keduanya lalu perlahan menghampiri mereka.
Dari jarak dekat itu lah ustadz Firman baru menyadari ada sesuatu yang lain di belakang Padmi dan Oji.
Sesuatu itu ternyata berwujud siluet hitam besar mirip raksasa, sedang berdiri membungkuk seolah memeluk Padmi dan Oji dari belakang.
Tapi saat diamati dengan seksama, ustadz Firman terkejut mengetahui sosok siluet mirip raksasa itu bukan memeluk tapi membenamkan kuku panjangnya ke leher belakang Padmi dan Oji. Itu sebabnya Padmi dan Oji tak bisa bergerak dan tak bisa kemana-mana.
Ustadz Firman mencoba berkomunikasi dengan sosok siluet hitam yang diketahui sebagai khodam peliharaan suami Padmi itu. Sayangnya khodam itu enggan menanggapi. Ustadz Firman tahu, satu-satunya cara berkomunikasi dengan khodam itu hanya melalui suami Padmi. Sayangnya pria itu tak bisa ditemui dan pergi entah kemana.
Karena belum bisa membantu Padmi dan Oji, ustadz Firman mencoba menenangkan keduanya.
"Maafkan saya. Saya belum bisa membantu kalian sekarang karena pemilik khodam yang menguasai kalian belum datang. In syaa Allah, saya akan cari cara untuk bicara dengannya nanti. Karena ga ada lagi yang bisa dilakukan di sini, kalian boleh pergi sekarang. Tapi tolong jangan mengganggu siapa pun di luar sana ya. Kalo kalian melanggar, saya tarik janji saya tadi ...," bisik ustadz Firman sambil menatap sosok Padmi dan Oji bergantian.
Seolah mengerti, sosok Padmi dan Oji beserta siluet hitam yang mencengkram mereka melesat cepat meninggalkan pekarangan rumah ustadz Firman.
Setelah kepergian Padmi dan Oji, ustadz Firman beralih kepada Burhan dan Narti. Dengan langkah cepat dia menghampiri keduanya.
Tiba di hadapan Burhan dan Narti, ustadz Firman segera mengecek wajah keduanya. Dia mengerutkan kening saat tak melihat luka apa pun di wajah mereka.
"Wajah Burhan dan Narti masih utuh seperti semula. Terus kenapa jeritan mereka seolah wajah mereka hancur lebur tadi. Aneh ...," batin ustadz Firman.
"Gimana Ustadz. Apa luka di wajah saya bisa sembuh?" tanya Burhan.
"Ehm, maaf Burhan. Tapi wajahmu baik-baik aja kok. Jangankan luka, tergores aja ga," sahut ustadz Firman sambil menatap Burhan dan Narti bergantian.
"Masa sih. Tapi saya merasa sakit banget di wajah saya tadi. Saking sakitnya saya kira malah wajah saya hancur atau meleleh Ustadz," kata Burhan cemas.
Narti yang berada di samping Burhan nampak mengangguk mengiyakan ucapan kekasih gelapnya itu.
"Tapi saat ini saya ga liat ada yang aneh di wajah kalian. Kalo kalian ga percaya, kalian bisa tanya sama yang lain," sahut ustadz Firman.
"Ga perlu, saya percaya kok sama Ustadz. Kalo gitu, apa saya dan Narti boleh pergi sekarang?" tanya Burhan penuh harap.
"Tentu, tapi kamu sendiri aja ya. Biar Narti diantar Rama atau Danu nanti," sahut ustadz Firman.
"Kok gitu Ustadz. Biar saya aja yang ... " ucapan Burhan terputus karena ustadz Firman memotong cepat.
"Ga usah membantah. Ini demi kebaikanmu dan Narti. Pikirkan apa yang bakal terjadi kalo warga melihat kalian bersama. Andai itu terjadi, saya ga akan membantu lagi. Bukan karena saya ga mampu, tapi saya terlalu tua untuk menghadapi amukan warga," kata ustadz Firman sambil menatap Burhan dengan tatapan marah.
Burhan tersentak kemudian menatap Narti sejenak. Yakin sang kekasih akan baik-baik saja, Burhan mengangguk lalu bergegas meninggalkan rumah ustadz Firman. Rasa takut masih jelas membayang di wajahnya. Saking takutnya dia tak sadar telah memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan tanpa menoleh lagi.
Setelah kepergian Burhan, ustadz Firman meminta Rama mengantar Narti pulang.
"Pastikan dia turun di depan pintu rumahnya dan jangan di tempat lain," pesan ustadz Firman sebelum Rama melajukan motornya.
"Baik Ustadz," sahut Rama.
Dengan kecepatan sedang Rama melaju di atas jalan desa. Tak ada percakapan yang terjadi antara Rama dan Narti selama di perjalanan. Keduanya sama-sama membisu seolah sibuk dengan pikiran masing-masing.
Saat melintasi daerah persawahan warga yang terkenal angker, tak sengaja Narti melihat sebuah saung berdiri di tengah sawah. Dia ingat saung itu tak ada di sana sebelumnya.
Narti mencoba mengabaikan apa yang dilihatnya dan yakin yang dilihatnya hanya halusinasi. Tapi sesaat kemudian dia mendengar suara Burhan memanggil namanya. Narti sontak menoleh kearah saung dan terkejut mendapati Burhan berdiri di sana.
Untuk sejenak keraguan kembali menyelimuti Narti. Tapi saat melihat motor yang biasa Burhan gunakan untuk mengantar dan menjemputnya terparkir di samping saung, Narti mulai bimbang. Apalagi saat Burhan tersenyum sambil melambaikan tangan, Narti pun yakin saung itu dan pria di dalamnya adalah nyata.
"Berhenti sebentar Mas," pinta Narti tiba-tiba.
"Ada apa Bu, kenapa mendadak minta berhenti di sini?" tanya Rama sambil terus melaju.
"Saya ada perlu sebentar," sahut Narti.
"Maaf Bu Narti, saya ga bisa nurutin permintaan Ibu. Ustadz Firman pesen supaya saya ... " ucapan Rama terputus.
"Iya saya tau. Tapi saya udah kebelet Mas. Emangnya Mas Rama mau saya pipis di atas jok motor ini?" tanya Narti.
Jawaban Narti membuat Rama terkejut. Dia bergegas mengerem motornya karena khawatir Narti mengotori motornya. Saat motor baru saja berhenti, Narti langsung melompat turun lalu berlari kecil menuju saung yang ada di tengah sawah.
Rama tak sempat mencegah dan hanya bisa menahan nafas melihat Narti berlari ke tengah sawah. Rama mengira Narti malu padanya dan memilih melepaskan hajatnya agak jauh ke tengah sawah.
Rama pun menunggu di atas motor sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat itu lah dia baru menyadari tempatnya berhenti adalah salah satu tempat yang terkenal angker di desa itu.
"Astaghfirullah aladziim, kenapa bisa lupa gini sih. Gara-gara bu Narti mendadak kebelet, kita jadi berhenti di sini deh. Tapi kalo dipikir-pikir Bu Narti berani juga pipis di tempat gini ya," gumam Rama sambil meringis.
Rama pun berusaha tenang. Untuk mengalihkan rasa takutnya dia mengeluarkan ponselnya dari saku baju dan mulai menscroll pesan yang masuk.
Tapi setelah sepuluh menit berlalu tak ada tanda-tanda Narti akan kembali, Rama mulai panik. Dia mengingatkan Narti agar segera kembali.
"Bu Narti, masih lama ga?. Kalo udah, ayo saya anter pulang. Soalnya saya kan harus balik lagi ke rumah ustadz Firman. Bu Narti denger saya kan. Bu Narti ...!" panggil Rama lantang.
Sunyi tak ada jawaban. Rama bertambah gelisah. Entah mengapa saat teringat pesan ustadz Firman tadi, tiba-tiba bulu kuduknya meremang.
Karena merasa bertanggung jawab dengan amanah yang diembannya dan khawatir dimarahi sang guru, Rama pun turun dari motor untuk menyusul Narti.
Dengan hati-hati Rama berjalan menyusuri pematang sawah hingga tiba di tempat dimana dia melihat Narti menghilang tadi.
Betapa terkejutnya Rama saat tak mendapati Narti atau apa pun di sana. Hanya hamparan sawah luas yang terbentang di sekelilingnya. Terasa sunyi dan dingin. Bahkan siluet saung yang sempat dilihatnya tadi pun lenyap tanpa bekas.
"Eh, sebentar. Di sini kan emang ga ada saung. Terus saung yang aku liat tadi apaan dong?" gumam Rama.
Karena khawatir terjadi sesuatu pada Narti, Rama memutuskan kembali ke tepi sawah dimana motornya berada. Setelahnya dia segera memacu motornya meninggalkan tempat itu.
Samar-samar Rama mendengar suara Narti yang memanggil dan meminta tolong. Tapi karena takut, Rama mengabaikan panggilan itu.
Tak lama kemudian Rama tiba di kediaman ustadz Firman. Mengetahui muridnya kembali dalam kondisi tak biasa, ustadz Firman yakin telah terjadi sesuatu di jalan tadi.
Belum sempat ustadz Firman bertanya, Rama lebih dulu memberitahu.
"Bu Narti hilang Ustadz!" kata Rama lantang.
"Hilang, kok bisa?" tanya ustadz Firman.
"Iya," sahut Rama gusar.
Kemudian Rama menceritakan apa yang terjadi tadi, lengkap tanpa ada satu pun yang terlewat. Ustadz Firman nampak mendengarkan sambil sesekali menyisir janggutnya.
Entah mengapa, melihat gerak-gerik ustadz Firman membuat Rama yakin sang guru telah mengetahui sesuatu.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya