NovelToon NovelToon
SAUH (HTS Kandung)

SAUH (HTS Kandung)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asry Ulfa

Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
​Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
​Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
​"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Pangeran Berwajah Korea

Sabtu pagi di kota ini biasanya terasa santai, tapi bagi Kenan, udara pagi itu rasanya seperti mengandung cabai rawit. Pedas dan bikin gerah. Kenan sudah rapi, memakai kaos hitam barunya yang XL—yang untungnya tidak terlalu menonjolkan perut karena dia memakai jaket denim luaran. Rambut ikalnya sudah dia beri sedikit gel, jerawatnya dia tutupi sedikit dengan concealer dan bedak emaknya supaya tidak terlalu merah membara.

​"Kau mau ke mana gaya betul, Nan? Mau melamar kerja atau mau ikut pemilihan Bujang Dara?" tanya Jovan yang sudah nangkring di atas motornya di depan rumah Kenan.

​"Aku mau ke pusat kota, Van. Kala bilang hari ini dia mau jalan sama si Revan itu ke taman kota. Aku cuma mau memastikan... seberapa jauh jarak ketampanan kami," jawab Kenan sambil memakai helm.

​"Halah, cari penyakit kau! Nanti kalau kau tengok mereka lagi suap-suapan siomay, yang ada kau pingsan di tempat," ledek Jovan. Tapi sebagai sahabat yang baik (dan kepo), Jovan tetap mengikuti Kenan.

*******

​Sesampainya di taman kota yang ramai dengan pedagang kaki lima, mata Kenan yang tajam seperti elang—atau lebih tepatnya seperti detektif yang gagal—langsung memindai kerumunan. Tak butuh waktu lama untuk menemukan Kala. Dia berdiri di dekat air mancur, memakai gamis warna pastel yang membuatnya terlihat sangat anggun.

​Di sampingnya, berdiri seorang cowok.

​Kenan mendadak lemas. Jovan yang ada di sebelahnya pun sampai melongo. "Gila, Nan... itu Revan? Kenapa dia mirip betul sama artis Korea si Song Woo Bin itu? Hidungnya... tajam betul macam mau mengiris bawang."

​Revan memang tampan. Tubuhnya kurus tinggi, kulitnya bersih, dan gayanya sangat stylish dengan kemeja flanel yang lengannya digulung. Kenan melihat ke arah motornya sendiri, lalu melihat ke arah dirinya di kaca spion. Rasanya seperti membandingkan antara smartphone terbaru dengan HP polifonik zaman dulu.

​"Dah lah, Van. Kita balik saja. Aku rasa aku sudah kalah telak sebelum bertanding," gumam Kenan lesu.

​"Ehh, tunggu dulu! Tengok itu," Jovan menunjuk ke arah gerobak es jeruk yang didekati Kala dan Revan.

​Kenan dan Jovan mengendap-endap mendekat, bersembunyi di balik gerobak penjual balon agar bisa mendengar percakapan mereka.

​"Revan, haus nih. Beli es jeruk yuk?" ajak Kala sambil mengusap peluh di dahinya.

​Revan menatap gerobak es jeruk itu dengan dahi berkerut. "Eh... Yang, aduh, aku baru ingat. Tadi pas di jalan aku buru-buru, dompetku ketinggalan di jok motor temenku di kota sebelah. Kamu ada uang kecil nggak? Pakai uang kamu dulu ya, nanti aku ganti."

​Kala tersenyum maklum, seolah hal itu sudah biasa terjadi. "Oh, ya sudah, nggak apa-apa. Biar aku yang bayar."

​Kenan dan Jovan saling pandang.

​"Dompet ketinggalan? Klasik betul alasan budak itu," bisik Jovan sinis. "Jarak dari kota dia ke sini itu satu jam lebih, masa dia tak sadar dompetnya tak ada? Mau isi bensin pakai apa? Pakai senyum?"

​Tak berhenti di situ. Saat mereka duduk di bangku taman, Revan terus-terusan mengobrol dengan gaya yang sangat tinggi. Dia bercerita tentang betapa pintarnya dia di sekolah teknik, tentang betapa banyaknya cewek yang mengejarnya, dan tentang betapa sibuknya dia nanti kalau sudah kerja.

​"Nanti kalau aku sudah sukses, kamu mau apa saja aku belikan, Kal. Tapi ya sekarang kita harus hemat dulu. Kamu bawa bekal kan dari rumah?" tanya Revan tanpa rasa bersalah.

​Kala mengangguk, lalu mengeluarkan kotak makan berisi nasi goreng buatannya. Revan makan dengan lahapnya, bahkan hampir menghabiskan jatah Kala, sementara dia tidak memberikan apa pun selain kata-kata manis dan rayuan gombal yang menurut Kenan sangat "enek" didengar.

​"Kenan, tengok itu! Cowok ganteng tapi pelitnya minta ampun. Masa jalan sama cewek tak modal seperser pun? Beli minum pun minta bayarin," Jovan makin sewot.

​Kenan yang tadinya merasa minder, mendadak merasa kesal. "Kala itu tulus betul ya, Van. Dia rela dibohongi cuma karena dia sayang. Aku saja yang cuma teman, kalau dia haus, rela aku jual helm ini buat belikan dia es jeruk paling mahal."

​Tiba-tiba, saat Revan sedang asyik bercermin di layar HP-nya yang mahal (tapi mungkin pulsanya habis), dia melihat bayangan Kenan dan Jovan di belakang.

​"Kal, itu siapa? Kayak orang sekolah kamu ya? Kok ngikutin kita terus?" tanya Revan dengan nada ketus.

​Kala menoleh dan terkejut melihat Kenan. "Eh? Kenan? Jovan? Kalian di sini juga?"

​Kenan terjebak. Dia tidak bisa lari. Dengan sisa-sisa keberaniannya, dia berjalan mendekat.

"Eh, iya Kal. Tadi lewat saja, mau cari inspirasi buat lagu... eh, buat pr ekonomi."

​Revan berdiri, menatap Kenan dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan. "Ooh, ini yang namanya Kenan? Yang katanya vokalis band sekolah itu?"

​Kenan mengangguk. "Iya, aku Kenan."

​Revan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merendahkan. "Oh, kirain vokalisnya kayak gimana. Ternyata... ya, unik ya gayanya. Kal, teman kamu yang ini lucu juga ya, badannya subur betul. Pasti di kantin jadi pelanggan tetap."

​Kala tampak tidak enak hati. "Revan, jangan gitu. Kenan itu baik banget, dia sering bantuin aku."

​"Iya, iya, aku tahu. Teman itu emang gunanya buat bantuin, kan?" Revan merangkul bahu Kala dengan posesif, seolah ingin menunjukkan bahwa Kala adalah miliknya dan Kenan tidak punya peluang sama sekali. "Sudah ya, kami mau lanjut jalan. Ayo Yang, katanya mau ke toko buku? Tapi pakai motor kamu ya, motorku lagi masuk bengkel."

​Kenan hanya bisa diam melihat mereka berdua pergi. Revan membonceng Kala menggunakan motor milik Kala sendiri. Benar-benar tipe cowok yang hanya modal tampang dan mulut manis.

​"Nan, kau dengar tak tadi dia bilang apa? 'Unik'? Dia menghina kau itu!" Jovan sudah mengepalkan tangan.

​Kenan menarik napas panjang, menatap debu yang ditinggalkan motor Kala. "Biarkan saja, Van. Sekarang aku tahu siapa lawanku. Dia memang ganteng, dia memang pintar bicara. Tapi dia tidak menghargai Kala."

​"Terus kau mau gimana?"

​Kenan mengepalkan tangannya. "Aku mau berubah. Bukan cuma buat Kala, tapi buat diriku sendiri. Aku tidak mau dibilang 'unik' lagi dengan nada ejekan. Dan satu hal, Van... aku akan tetap ada di sini saat nanti Kala sadar kalau pangerannya itu cuma cowok manipulatif yang dompetnya selalu ketinggalan."

​"Mantap! Itu baru Kenan yang aku kenal!" Jovan menepuk punggung Kenan.

*******

​Malam itu, di kamarnya, Kenan memutar lagu dari Vierra, tapi kali ini judulnya "Perih". Dia meresapi liriknya sambil menahan rasa sakit hati atas ejekan Revan.

"Aku kan bertahan

Meski takkan mungkin

Menerjang kisahnya

Walau perih walau perih"

​Kenan berjanji dalam hati, dia tidak akan menyerah. Jika Revan memberikan Kala air mata lewat kepelitannya dan egonya, maka Kenan akan memberikan Kala melodi yang menenangkan lewat suaranya. Perjalanan menuju magang tinggal beberapa bulan lagi, dan Kenan bertekad, saat magang nanti, Kala akan melihat Kenan yang berbeda. Kenan yang lebih percaya diri, Kenan yang lebih glow up, dan Kenan yang siap menjaga hatinya.

1
Erni Fitriana
mampirrrr...mampirrrr
Jumi Saddah
moga cerita ini banyak peminat nya,,seperti nya kisah ini asyik deh,,
Riry AU: aamiin, terimakasih sudah mampir kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!