Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: REBOOT, KONEKSI YANG LEMAH, DAN PESAN YANG TERKIRIM TERTUNDA
Disclaimer: Bab ini mengandung fase "reboot" yang membingungkan, sinyal yang hilang dan ditemukan kembali, serta keberanian untuk mengirim pesan yang seharusnya sudah dikirim lama.
Dua bulan pasca-"sunset" Dadu Champ.
Kehidupan Ardi dan Kinan memasuki zona "liminal space" masa transisi yang terasa datar dan tanpa arah. Tanpa proyek besar yang menyatukan mereka, tanpa musuh bersama untuk dilawan, mereka harus menemukan kembali ritme "bersama" yang murni berasal dari keinginan, bukan kebutuhan.
Project newsletter "Grounding Cables" berjalan stabil dengan 500 subscriber setia. Tapi itu adalah pekerjaan individual: Kinan menulis minggu ini, Ardi menyusun minggu depan. Mereka seperti dua kereta yang berjalan di jalur paralel, aman, tapi sejajar tanpa persimpangan.
Mereka masih bertemu setiap Selasa dan Kamis untuk ko-working. Tapi obrolan mulai didominasi oleh hal-hal fungsional.
"Laporan TA gue hampir selesai."
"Brand kolaborasi itu minta revisi moodboard ketiga kalinya."
"Wifi di sini lemot banget hari ini."
Kata-kata yang dalam, yang jujur, yang rentan seperti yang dulu mengalir di warung kopi atau di rekaman privat seakan menguap. Rasanya seperti hubungan mereka sedang menjalankan process di background, namun antarmuka penggunanya sedang freeze.
Suatu Kamis, Kinan membatalkan pertemuan last minute. "Maaf, Ard. Gue harus nemenin adik gue ke dokter gigi. Lain kali ya?"
Ardi membalas: "Oke, semoga lancar."
Dia duduk sendirian di perpustakaan, menyadari bahwa inilah pertama kalinya dalam berbulan-bulan mereka membatalkan ko working. Dan dia merasa... lepas. Lalu seketika merasa bersalah karena merasa lepas.
Tanpa Disengaja Kinan pun merasakan hal serupa. Dia sedang sibuk mengurasi portofolio untuk magang di studio desain etis, sementara Ardi tenggelam dalam pengerjaan TA dan komposisi musik instrumental baru untuk proyek indie game temannya.
Mereka saling mengirim pesan, tapi seperti ada delay. Balasan datang berjam-jam kemudian, singkat, dan sering diakhiri dengan "gue sibuk dulu ya".
Ini bukan kesalahan seseorang. Ini adalah dua orang yang secara tidak sadar masuk ke "airplane mode" fokus pada tujuan individual masing-masing, sementara koneksi antara mereka ditaruh di prioritas kedua.
Peringatan itu datang dari pihak luar. Bowo, si ahli IT, yang jadi langganan newsletter mereka, mengirim pesan ke Ardi.
Bowo: "Bro, baca essay Kinan minggu ini. Tajem banget. Judulnya 'On Drifting Apart Without Moving An Inch'. Lo baca belum?"
Ardi membuka newsletter itu. Kinan menulis tentang rasa sepi yang muncul justru ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana, tentang bagaimana dua orbit bisa tetap stabil namun semakin jarang bersinggungan, dan tentang ketakutan untuk mengakui bahwa mungkin kamu sedang merindukan konflik hanya karena konflik itu membuatmu merasa hidup.
Dia membaca esai itu tiga kali. Setiap kata seperti mencerminkan apa yang tak terucap di antara mereka. Tapi kenapa Kinan tidak mengatakannya langsung padanya? Kenapa harus lewat tulisan untuk 500 orang asing?
Ardi mencoba menginisiasi "reboot". Dia mengajak Kinan mengulang date pertama mereka: ke warung kopi Klotok, lalu jalan-jalan tanpa tujuan.
Tapi suasana berbeda. Kinan terlalu sering mengecek ponselnya karena menunggu konfirmasi magang. Ardi kepalanya penuh dengan chord progression yang mentok.
"Kinan," ujar Ardi di tengah hening. "Kita... baik-baik aja, kan?"
"Ya, kenapa?" jawab Kinan, menatapnya. "Kamu baik-baik aja nggak?"
"Iya. Cuma... rasanya kayak kita lagi di loading screen. Nggak ada yang error, tapi nggak ada yang ke load juga."
Mereka tertawa, tapi tawa yang kosong. Mereka menyadari masalahnya, tapi seperti kehabisan energi untuk memperbaikinya. Mungkin inilah yang disebut "burnout relational" lelah karena terus-menerus harus secara sadar "membangun" hubungan, padahal dulu semua terasa mengalir.
Krisis kecil terjadi saat Kinan akhirnya diterima magang. Dia akan magang penuh waktu selama sebulan di Bandung.
"Ini kesempatan bagus," katanya, wajah bersinar campur cemas. "Tapi... kita nggak bakal ketemu sebulan."
"Kita bisa video call," usul Ardi, mencoba positif.
"Tapi lo tahu sendiri, kita akhir-akhir ini aja di satu kota kayak... jarang nyambung."
Keberangkatan Kinan ke Bandung terasa seperti deadline untuk sebuah masalah yang belum terselesaikan. Mereka menghabiskan tiga hari terakhir dengan keheningan yang canggung, seperti dua orang yang tahu mereka harus bicara, tapi takut kata-kata itu justru akan menjadi palu yang memecahkan kaca yang sudah retak.
Di peron Stasiun Gambir, sambil menunggu kereta Kinan berangkat, akhirnya mereka bicara.
"Ini nggak bekerja, ya?" kata Kinan tiba-tiba, matanya menatap rel.
"Apa?"
"Kita. Sistem kita. Beta version-nya."
Ardi diam. "Kita lagi... lagi butuh update besar. Bukan minor patch."
"Gue setuju. Dan gue pikir... mungkin kita butuh waktu sendiri buat nge update diri masing-masing dulu. Baru nanti, kalau sistem kita kompatibel lagi, kita coba koneksi ulang."
Ini bukan putus. Ini "pause for mandatory individual system upgrade". Sebuah keputusan yang sangat teknis, sangat Gen Z, dan sangat menyakitkan karena logisnya.
Kereta akan berangkat. Kinan memeluk Ardi cepat. "Gue bakal kangen sama lo yang bawa martabak waktu minyak goreng habis," bisiknya.
"Gue juga bakal kangen sama lo yang nulis 'aku takut' di tanah," balas Ardi, suara serak.
Kinan naik kereta. Ardi berdiri di peron, merasa seluruh tubuhnya hampa. Dia pulang ke kosan, melihat kamarnya yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sangat sunyi.
Malam itu, dia tidak bisa tidur. Dia membuka laptop, membuka folder "REAL" miliknya. Di dalamnya ada screenshot, voice note, dan file audio "UNSAID.WAV" yang masih dipassword.
Dia mengetik password: 140923.
Dia mendengarkan suara Kinan lagi."...gue pelan-pelan jatuh cinta sama proses mengenal lo."
Dengan jantung berdebar, Ardi membuka aplikasi perekam. Dia menekan tombol rekam, dan mengucapkan segala yang selama ini tertahan tentang ketakutannya, tentang kerinduannya justru pada hal-hal biasa, tentang bagaimana dia menyadari bahwa "bersama" bukan tentang selalu punya hal seru untuk dikerjakan, tetapi tentang keberanian untuk menjalani fase membosankan bersama.
Dia menyimpan file itu: "MYTURN.WAV". Dia tidak mengirimnya. Belum. Ini adalah pesan yang dikirim tertunda. Untuk dikirim nanti, ketika waktunya tepat, ketika sistem mereka sudah di upgrade, dan sinyalnya kuat.
Dia menulis di notes: "To be sent when the connection is stable. Not out of loneliness. Out of clarity."
LAST LINE: Di kereta yang melaju ke Bandung, Kinan memandang keluar jendela, kota Jakarta yang menjauh terlihat seperti papan sirkuit raksasa yang penuh dengan cahaya dan koneksi. Dia membuka ponselnya, mengetik pesan panjang untuk Ardi. Tapi di menit terakhir, dia menghapusnya semua, dan hanya mengirim satu tautan: link lagu instrumental Ardi yang berjudul "Splitter". Captionnya: "Listening to this. Remembering what silence together sounds like." Mungkin, untuk saat ini, itu saja yang perlu dikomunikasikan. Mungkin, hubungan era baru juga harus belajar untuk menghargai ruang hening di antara kata-kata, dan mempercayai bahwa di balik status "koneksi lemah", proses sync yang penting sedang berjalan di latar belakang pelan, tak terlihat, namun menentukan.