Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masak Bersama
*****
Ariana berdiri di hadapan Marvin, jantungnya berdebar kencang seakan hendak melonjak keluar dari dada. Tangannya yang dingin bermain-main dengan ujung jari-jarinya, sebuah gerakan yang mengungkapkan kegelisahannya.
" Kenapa kamu nggak beritahu saya soal pembatalan ini?" Tanya Marvin.
" Maaf kan saya, pak. Saya nggak bermaksud merahasiakan kan nya dari bapak. Saya juga dapat telepon nya saat acara hari jadi perusahaan. Maksud nya saya mau memberitahu bapak selesai acara. Tapi... Tapi saya ... Saya malah...."
" Malah mabuk?" Sambung Marvin.
" Maaf kan saya, pak. Saya sudah meninggalkan bapak kemaren malam." Ucap Ariana gugup.
Marvin terkekeh menatap Ariana. Merasa lucu melihat wajah Ariana yang seperti ketakutan barusan.
" Jangan minta maaf dengan saya. Saya nggak papa. Tapi lain kali tolong beritahu saja jika kamu mau meninggalkan saya, supaya saya tidak menunggu kamu lagi. Ini sudah yang kedua kali nya kamu melakukan nya."
Ariana mengangguk pelan.
" Maaf kan saya, pak." Ucap nya lagi.
" Malah minta maaf lagi." Ucap Marvin kembali terkekeh.
" Jangan minta maaf lagi. Belum lebaran. Nanti saja , simpan kata maaf kamu untuk lebaran."
Ariana pun akhir nya bisa tersenyum saat Marvin tersenyum lebar pada nya. Tak ada lagi rasa takut dan rasa tertekan berada di depan bos nya itu.
" Oh ya Ariana. Kamu ingat nggak waktu kita makan di restoran desa itu?" Tanya Marvin.
Ariana mengangguk.
" Iya, pak. Saya ingat. Memang nya kenapa pak?" Jawab Ariana tersenyum kala mengingat cita rasa yang melekat di lidah.
" Kemarin saya ketemu sama pelayan nya di jalan. Dia bilang kenapa kita tidak lagi mampir makan ke sana. Dia pikir kita sudah menemukan restoran yang lain."
" Hhmm... sudah lama juga ya terakhir kita makan di sana, pak. Saya jadi pengen makan di sana lagi." Gumam Ariana.
Marvin menoleh menatap Ariana.
" Kamu mau kalau saya ajak kesana lagi?"
" Ya mau lah, pak. Secara gitu masakan nya enak - enak semua."
" Ya sudah kalau begitu, nanti kalau jadwal kita kosong kita makan siang di sana ya." Ajak Marvin.
" Baik, pak." Jawab Ariana.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu ruangan Marvin terdengar di ketul. Tapi belum sempat Marvin meminta masuk, seseorang sudah masuk terlebih dahulu. Siapa lagi kalau bukan bos perusahaan. Yang sebenar nya bisa saja sih dia masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Marvin." Panggil Rocky.
" Ya pak." Jawab Marvin berdiri dari duduk nya.
Rocky sempat melirik Ariana yang masih berdiri di sana.
" Meeting nya di tunda saja ya. Saya ada urusan ke kantor pusat." Perintah Rocky.
" Iya, Pak." Jawab Marvin.
Setelah mengatakan itu, Rocky langsung keluar dari ruangan Marvin. Lalu di susul oleh Ariana.
*
*
*
Pagi - pagi sekali Rocky sudah berada di depan rumah Ariana. Dengan pakaian yang lebih santai, dia memegang dua bungkusan plastik di tangan nya.
Ceklek
" Rocky? Ngapain pagi - pagi kesini?" Tanya Ariana heran saat dia membuka kan pintu.
" Nih..." Rocky mengangkat bungkusan yang dia bawa.
" Aku sudah belanja. Kita masak ya. Aku lagi pengen makan masakan kamu nih." Ajak Rocky.
Ariana hanya tersenyum seraya menggeleng. Begitu di luar nalar nya ketika sang kekasih merindukan masakan nya yang biasa saja.
Cahaya matahari yang hangat menyinari dapur sederhana milik Ariana, memberikan suasana yang cerah dan hangat saat Rocky memasuki rumah tersebut. Tidak ada keraguan di wajahnya, hanya sebuah senyum lebar yang tergambar saat ia melihat Ariana sudah menunggu di dapur.
"Kita akan masak apa hari ini?" Tanya Rocky dengan antusias, matanya berbinar.
"Ini, sesuai permintaanmu. Cah kangkung sama ayam saus tiram terus udang chrispy. Aku harap kamu suka." Jawab Ariana menunjukkan bahan yang sudah dia siapkan.
" Tapi aku sudah berubah pikiran, sayang. Hari ini kamu duduk saja. Biar aku yang masak. Walau pun ini makanan kesukaan aku, aku akan masak makanan spesial buat wanita yang paling spesial buat aku." Kata Rocky.
Dengan cekatan, Rocky mulai mengambil alih dapur. Ia mengeluarkan bumbu dan peralatan masak sambil sesekali memberikan instruksi kepada Ariana yang tampak takjub melihat kelincahan Rocky.
" Memang bisa? Sudah nggak usah, aku saja yang masak." Cegah Ariana merasa ragu.
" Jangan meragukan aku, sayang. Aku sudah terbiasa hidup mandiri di luar negeri. Jadi kalau soal masak gini... kecil. Gampang buat aku." Puji Rocky pada diri nya sendiri.
Ariana tersenyum.
" Kalau nanti rasa nya nggak enak bagaimana?"
" Tidak akan mengecewakan mu tuan puteri. Kamu bantuin aku bersihkan bahan nya aja ya."
" Iya, iya... master chef..."
Suara tawa dan canda mereka berdua mengisi dapur, membuat suasana menjadi lebih hangat.
Setelah semua hidangan selesai, mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Rocky mengambil inisiatif untuk mencicipi masakan pertama, dan wajahnya langsung berseri-seri.
"Ini enak sekali, Ariana! Kamu pasti juga akan suka," Ucapnya sambil menyodorkan suapan ke arah Ariana.
Ariana, dengan perasaan yang bercampur antara gugup dan bahagia, mencicipi masakan tersebut. Rasa haru dan kegembiraan terpancar dari matanya saat ia menemukan bahwa masakan itu memang lezat.
" Kok bisa enak gini sih? Belajar masak dari mana sih kamu?" Balas Ariana kemudian mengisi nasi ke dalam piring nya.
" Dari mama dong. Dari siapa lagi?"
" Hhmmm.. udang nya juga kriuk nya pas. Bener - bener master chef deh kamu." Ucap Ariana ketika dia memasukkan udang chrispy nya ke mulut.
" Sayur nya juga makan dong. Pasti kamu juga suka. Nggak terlalu layu, sesuai selera kamu. " Rocky mengambil satu suapan dan memasukkan nya ke mulut Ariana.
Ariana terdiam. Dia mengunyah suapan itu dan mengangguk - angguk.
" Hehem.. enak Rocky. Amelia kalau tahu kamu nih yang masak, bisa heboh tuh anak. Karna kalau aku yang masak, ada aja protes nya kurang ini lah, kurang itu lah. Tapi kalau di suruh dia yang masak. Hhmmm... ada aja alasan nya."
Mereka berdua lalu makan bersama, diiringi obrolan dan tawa, merayakan kebersamaan yang telah lama mereka rindukan.
Hari itu, dapur Ariana bukan hanya penuh dengan aroma masakan yang menggugah selera, tapi juga penuh dengan kehangatan dan cinta yang telah lama mereka impikan.
" Terima kasih ya, Ari. Sudah mau menerima aku kembali. Masih menyisakan sedikit cinta untuk ku." Ucap Rocky setelah piring mereka sudah kosong.
" Bukan hanya sedikit, tapi seluruh cinta yang aku punya setengah nya untuk kamu."
" Kok setengah? Setengah nya lagi buat siapa?" Tanya Rocky dengan wajah cemberut nya.
" Untuk Amelia... kenapa? Keberatan?" Jawab Ariana.
" Ya nggak bisa keberatan juga sih. Kalau bilang keberatan, malah nggak dapat restu nanti nya."
Ariana tersenyum, ini lah saat - saat yang dia impikan selama ini. Bisa berdua dengan Rocky tanpa ada keraguan dan kebimbangan akan hal yang belum tentu terjadi.
" Lalu bagaimana dengan Nelly?"
" Aku akan bicara kan soal ini dengan dia. Dia orang yang baik, walau pun sedikit keras kepala. Tapi, dia pasti ngerti dengan keputusan aku."
" Lalu orang tua kamu? Status kita jauh berbeda Rocky, seperti langit dan bumi. Di luar sana pasti banyak wanita yang bermimpi untuk mendampingi kamu. Tapi kamu..."
" Ari..." Potong Rocky menyentuh lembut tangan Ariana.
" Jangan pernah bahas soal ini di hadapan aku. Kalau aku mempermasalahkan status kita, mungkin dulu kita tidak pernah bersama. Kamu, nggak bisa di bandingkan dengan apa yang aku punya. Lagian semua kekayaan itu milik orang tua ku. Aku akan belajar, memulai hidup aku yang baru, dengan kemampuan dan keringatku sendiri demi kita." Sambung Rocky lagi.
" Demi kita?"
" Iya, demi kita." Rocky tersenyum dan mengecup tangan Ariana. Menunjukkan ketulusan nya ingin keluar dari bayang - bayang orang tua.