NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Es Abadi Antartika

​Kapal tempur berbentuk pari itu membelah ombak Samudra Pasifik bagian selatan dengan kecepatan yang melampaui segala teknologi aeronautika modern. Di dalamnya, Zian Arkana terus memantau indikator vital Elara yang terpampang pada layar holografik kapal. Elara masih tak sadarkan diri, namun tubuhnya memancarkan suhu panas yang tidak wajar, kontras dengan udara luar yang mulai membeku saat mereka mendekati garis lingkaran Antartika.

​"Aegis, apa yang terjadi padanya?" suara Zian parau, matanya merah karena kurang tidur. "Suhunya mencapai 42 derajat, tapi dia tidak berkeringat. Dan pola emas di bahunya... itu menyebar ke tulang selangkangnya."

​"Integrasi seluler, Zian," sahut Aegis. Suara AI itu kini terdengar lebih berwibawa, seolah-olah penggabungannya dengan server Mariana telah meningkatkan kapasitas intelektualnya. "Saat Elara menghubungkan dirinya dengan konsol gerbang, dia menyerap residu energi kuantum dari pilar cahaya tersebut. DNA-nya sedang melakukan 'remodeling'. Dia bukan lagi sekadar subjek nol. Dia sedang bertransisi menjadi sesuatu yang oleh teks kuno disebut sebagai The Herald."

​"Aku tidak peduli dia itu Herald atau apa, aku hanya ingin dia bangun!" Zian memukul konsol kapal dengan frustrasi.

​Tiba-tiba, mata Elara terbuka. Namun, tidak ada pupil atau iris yang terlihat—hanya cahaya emas murni yang berpendar. Dia bangkit dengan gerakan yang sangat halus, hampir seperti melayang.

​"Elara?" Zian mencoba mendekat, namun sebuah medan energi tipis menolaknya dengan lembut.

​"Zian..." Suara Elara terdengar berlapis, seolah-olah ada ribuan suara yang berbisik di belakang vokalnya sendiri. "Aku bisa merasakan... jantung Antartika berdenyut. Dia merespons apa yang kulakukan di Mariana. Dia merasa... lapar."

​"Siapa yang lapar?" tanya Zian bingung.

​"Yang Ketiga. Sang Pemakan Bintang," jawab Elara pelan. Cahaya di matanya perlahan memudar, kembali menjadi mata hitamnya yang tajam namun kini tampak jauh lebih dalam. Dia tersentak, jatuh ke pelukan Zian saat kesadarannya sebagai manusia kembali pulih. "Zian... kita harus segera sampai di sana. Jika dua yang pertama adalah pejuang dan penguasa, yang ketiga ini adalah senjata pemusnah massal."

​Di atas hamparan es abadi Antartika, badai salju abadi menyembunyikan sebuah struktur yang baru saja muncul dari dalam gletser. Sebuah menara hitam berbentuk obelisk setinggi satu kilometer menjulang ke langit, membelah awan badai dengan ujungnya yang tajam. Inilah 'The Frozen Citadel'.

​Kapal pari mereka mendarat di kaki obelisk tersebut. Begitu pintu terbuka, udara dingin yang menusuk tulang menyambut mereka, namun Elara melangkah keluar hanya dengan setelan taktis tipisnya. Dia tidak tampak kedinginan. Sebaliknya, es di sekitar kakinya mencair saat dia berjalan.

​"Kael, kau bisa mendengar kami?" Elara menyentuh komunikatornya.

​"Sangat keras dan jelas, Mayor!" sahut Kael. "Unit Phoenix telah mengepung koordinat kalian dengan skuadron drone. Tapi ada masalah... radar kami mendeteksi ribuan tanda kehidupan muncul dari bawah es di sekeliling menara itu. Bukan manusia, bukan pula robot. Mereka adalah Bio-Constructs—tentara es yang diciptakan dari materi genetik beku."

​Benar saja, dari balik bukit salju, makhluk-makhluk putih pucat dengan mata biru es mulai merangkak keluar. Mereka membawa busur energi dan pedang yang terbuat dari es padat yang tak bisa hancur.

​"Zian, kau tahan mereka di luar," perintah Elara. "Aku harus masuk ke dalam. Aegis bilang kuncinya ada di inti obelisk."

​"Aku ikut denganmu!" protes Zian.

​"Tidak, Zian. Jika makhluk-makhluk itu menembus garis pertahanan ini, mereka akan memanggil sisa-sisa Council yang masih bersembunyi. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa kupercayai untuk menjaga punggungku dari luar." Elara menatap Zian, sebuah tatapan yang penuh dengan emosi manusia yang tersisa. "Gunakan senjata sonik. Itu satu-satunya kelemahan struktur es mereka."

​Zian mengangguk berat. Dia mengeluarkan senapan Pulse-Sonic terbarunya. "Jangan lama-lama di dalam, Mayor. Aku benci kedinginan."

​Elara memasuki obelisk melalui celah yang terbuka secara otomatis saat dia mendekat. Di dalam, menara itu bukan terbuat dari logam, melainkan dari semacam kristal organik yang berdenyut dengan energi ungu tua. Berbeda dengan pangkalan sebelumnya yang steril, tempat ini terasa... organik. Seperti berada di dalam tenggorokan makhluk raksasa.

​"Aegis, pandu aku," bisik Elara.

​"Kau sedang berada di dalam 'Memory Bank' dari peradaban mereka, Elara," jelas Aegis. "Setiap kristal di sini menyimpan memori dari jutaan tahun lalu. Mereka sedang memutar ulang sejarah mereka untukmu. Hati-hati, paparan jangka panjang dapat menghapus ingatan manusiamu."

​Elara berjalan melewati lorong yang dipenuhi dengan proyeksi cahaya. Dia melihat kehancuran planet asal mereka, pelarian mereka ke Bumi, dan bagaimana mereka memilih untuk tidur di bawah es sampai Bumi siap untuk 'dibersihkan'.

​Di pusat obelisk, Elara menemukan sebuah ruangan melingkar. Di tengahnya, terdapat sebuah jantung mekanis raksasa yang dibungkus oleh es hitam. Di dalam es itu, sesosok makhluk kecil, jauh lebih kecil dari The First, tampak meringkuk dalam posisi janin. Namun, energi yang dipancarkannya jauh lebih mengerikan.

​"Itu bukan dewa," gumam Elara. "Itu adalah pemicu ledakan. Dia adalah bom genetika hidup."

​"Benar, Elara Vanya."

​Suara itu datang dari bayangan. Seseorang keluar dengan kursi roda berteknologi tinggi. Wajahnya hancur, sebagian tertutup prostetik kasar.

​"Vektor?" Elara terkejut. "Kau selamat dari Leviathan?"

​"Hampir tidak," desis Vektor dengan suara yang dihasilkan oleh synthesizer. "Tapi Council tidak membiarkanku mati begitu saja. Mereka membutuhkanku untuk satu tugas terakhir: Memastikan Sang Pemakan Bintang bangun dan melepaskan virus kepunahan yang akan menyapu bersih semua kehidupan lemah di planet ini, menyisakan hanya mereka yang memiliki DNA murni."

​Vektor menekan tombol di lengannya, dan es hitam yang membungkus makhluk itu mulai retak. "Kau terlambat, Elara. Darahmu di Mariana telah mengaktifkan urutan akhir. Sekarang, jadilah saksi bagi akhir dari umat manusia."

​Tiba-tiba, obelisk itu berguncang hebat. Dari luar, suara ledakan sonik Zian bersahutan dengan raungan tentara es.

​"Aegis, sabotase sistemnya!" teriak Elara sambil menerjang Vektor.

​"Aku tidak bisa, Elara! Sistem ini berbasis biokimia, bukan digital!" Aegis berteriak balik. "Kau harus menghentikannya dengan energu yang ada di dalam dirimu! Gunakan frekuensi emas itu!"

​Elara mencengkeram jantung mekanis tersebut. Dia merasakan energi dingin yang luar biasa mencoba membekukan jiwanya. Di saat yang sama, Vektor menembakkan laser dari kursi rodanya, mengenai bahu Elara. Elara berteriak kesakitan, namun dia tidak melepaskan jantung itu.

​"Jika aku adalah The Herald," Elara berkata dengan mata yang mulai kembali bersinar emas, "maka aku adalah pembawa kabar buruk bagi kalian!"

​Cahaya emas meledak dari tubuh Elara, bertabrakan dengan energi ungu dari obelisk. Pertarungan energi itu menciptakan pusaran badai di dalam ruangan tersebut. Vektor terlempar dari kursi rodanya, berteriak saat tubuhnya yang rapuh mulai hancur oleh radiasi kuantum.

​Di luar, Zian melihat menara obelisk itu mulai berubah warna dari hitam menjadi emas murni. "Elara... apa yang kau lakukan?"

​Tiba-tiba, seluruh menara itu meledak dalam gelombang cahaya putih yang membutakan. Gelombang itu menyapu seluruh benua Antartika, menghancurkan tentara es menjadi debu dan menguapkan sisa-sisa markas Council di sana.

​Saat cahaya itu meredup, obelisk itu hilang. Yang tersisa hanyalah kawah raksasa di tengah es. Zian berlari menuju pusat kawah, jantungnya berdegup kencang. Di sana, di tengah-tengah es yang mencair, Elara terbaring lemas. Rambutnya kini memiliki helai-helai perak, dan tanda di bahunya telah berubah menjadi simbol sayap emas yang permanen.

​Zian mengangkat tubuhnya. "Elara! Bangun!"

​Elara membuka matanya. Cahaya emasnya telah hilang, menyisakan mata hitam yang kini tampak sangat lelah namun damai. "Zian... sudah selesai. Bomnya... aku mengubah frekuensinya menjadi gelombang penyembuh. Virus itu tidak akan pernah aktif."

​"Kau gila," bisik Zian, mencium keningnya. "Kau benar-benar gila."

​"Unit Phoenix, ini Kael!" suara di radio terdengar sangat gembira. "Dunia baru saja dilalui oleh gelombang energi aneh. Laporan masuk dari seluruh dunia... sisa-sisa virus Chimera di atmosfer hilang total. Kalian berhasil! Kalian benar-benar berhasil!"

​Namun, saat mereka bersiap untuk dievakuasi, Aegis memberikan peringatan terakhir yang membuat senyum Elara menghilang.

​"Elara, ada satu hal yang harus kau ketahui. Gelombang energi yang kau lepaskan tadi... itu bukan hanya menyembuhkan dunia. Itu juga mengirimkan sinyal ke luar angkasa. Sesuatu di luar sana sekarang tahu bahwa 'Penjaga' di Bumi telah bangun. Dan mereka sedang menuju ke sini."

​Elara menatap langit Antartika yang kini cerah, namun dia tahu bahwa ini bukanlah akhir dari perang. Ini hanyalah awal dari babak baru di mana musuh mereka bukan lagi berasal dari Bumi.

​"Biarkan mereka datang," kata Elara pelan, menggenggam tangan Zian erat. "Kita akan siap."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!