Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANA..
...****************...
Aku duduk di tepi kasur kamar kos.
Sepatu sudah kulepas, tapi tubuhku belum benar-benar sampai. Pikiranku masih tertinggal di mana-mana.
Besok kerja.
Kalimat itu muter terus di kepala. Bukan karena aku malas kerja. Tapi karena aku tahu… besok aku harus bertemu seseorang yang ingin kuhindari.
Linda.
Bukan lagi soal cinta.
Bukan juga soal marah.
Aku hanya lelah.
Lelah bersikap biasa pada sesuatu yang sudah tidak biasa. Lelah menata wajah agar terlihat profesional, padahal isi kepala berantakan.
Aku merebahkan diri, menatap atap yang sama setiap malam. Tidak ada yang berubah di kamar ini.
Yang berubah hanya aku.
Aku bertanya pada diri sendiri apa aku harus kuat,
atau aku hanya memaksa diri agar terlihat kuat?
Entah. Yang jelas, rasanya malas. Bukan malas bekerja. Tapi malas berpura-pura.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Seperti mencoba mengeluarkan sesuatu yang menyesakkan dada.
Aku tahu besok aku akan tetap datang.
Tetap duduk di ruang live. Tetap bicara seperlunya.
Bukan karena aku baik-baik saja. Tapi karena hidup tidak pernah menunggu seseorang benar-benar siap. Aku memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan siapa yang akan kupilih. Aku hanya berharap besok bisa kulewati tanpa harus runtuh di depan siapa pun.
Baru saja aku memejamkan mata.
Ponselku bergetar di samping bantal.
Hana calling.
Aku menghela napas kecil, lalu mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Ka…”
Suaranya pelan. Lebih pelan dari biasanya.
“Iya, Han? Waalaikumsalam.”
“Udah tidur?”
Aku tersenyum tipis dalam gelap.
“Kalau udah tidur, aku nggak bisa angkat telepon,” candaku ringan.
Ia tertawa kecil.
“Hahaha… ya takutnya tadi udah hampir pulas terus aku telepon, terus kamu kebangun gitu maksudnya.”
“Iya, bener sih. Tadi emang udah siap-siap merem,” jawabku.
“Tapi kamu telepon nggak ada alasan buat nggak angkat, Han.”
Hening sebentar.
Di seberang sana, hanya terdengar napasnya.
“Hmm… aku nggak bisa tidur.”
Nada suaranya berubah. Tidak manja. Tidak dibuat-buat. Lebih seperti seseorang yang sedang sendirian terlalu lama.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
“Nggak tahu,” jawabnya lirih.
“Rumah udah sepi. Anak-anak udah tidur. Tapi kepala rasanya rame.”
Aku menatap langit-langit kamar kos ku yang gelap.
“Kamu capek,” kataku.
“Mungkin,” ia menarik napas.
“Atau mungkin… kebanyakan mikir.”
Tentang apa, Han?
Pertanyaan itu ingin keluar, tapi ku tahan.
Aku memilih diam.
Memberinya ruang.
Sunyi lagi.
Bukan sunyi canggung.
Sunyi yang terasa saling mengerti.
“Aku tadi lihat kamu kayak capek banget,” katanya pelan.
“Walau kamu senyum.”
Aku tersenyum tipis dalam gelap.
“Kamu terlalu peka, Han.”
“Enggak,” jawabnya cepat.
“Aku cuma… perhatiin.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi hangat.
Di kamar yang gelap itu, aku sadar ada seseorang yang tidak bertanya banyak, tidak menuntut apa-apa, tapi cukup hadir.
“Aku temenin kamu sampai ngantuk,” kataku akhirnya.
“Kamu nggak capek?” tanyanya.
“Capek,” jawabku jujur.
“Tapi nggak apa-apa.”
Di seberang sana ia tersenyum, aku bisa merasakannya. Dan malam itu,
untuk pertama kalinya setelah semuanya retak aku tidak merasa sendirian dalam gelap.
Hana menghela napas pelan.
“Tau nggak, Han…” suaranya terdengar ragu.
“Tadi ada laki-laki datang ke rumah.”
Aku terdiam.
“Dia bawa banyak barang. Buat anak-anak. Terus transfer uang jajan juga katanya.”
Dadaku terasa sedikit menegang, tapi aku menahan diri.
“Oh ya?” jawabku datar, berusaha terdengar biasa.
“Iya,” lanjutnya.
“Aku masih ada pegangan uang asuransi dari kematian suamiku kemarin. Tapi buat biaya hidup tiga anak… nggak kerasa, Ka. Uangnya udah mulai menipis menurutku.. Karna aku harus memikirkan biaya pendidikannya kan?.”
Aku menatap gelap kamar.
Tanganku tanpa sadar mengepal ringan.
Hana terdiam beberapa detik.
“Laki-laki itu bilang…” suaranya makin pelan,
“mau nggak aku jadi istrinya.”
Sunyi.
Tidak ada suara apa pun selain napas kami masing-masing.
Hatiku seperti tersentak kecil Bukan marah.
Bukan cemburu yang jelas. Lebih seperti rasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki.
“Kamu jawab apa?” tanyaku akhirnya.
“Aku nggak jawab,” katanya cepat.
“Aku cuma bilang… aku belum kepikiran ke sana.”
Aku menghembuskan napas perlahan.
“Han…”
“Iya?”
“Kamu nggak harus cerita ini ke aku kalau bikin kamu nggak nyaman.”
“Aku tahu,” jawabnya lembut.
“Aku cerita karena… aku bingung.”
Bingung.
Bukan karena cinta.
Bukan karena tertarik.
Tapi karena hidup tidak selalu memberi pilihan yang ideal.
“Dia baik,” lanjutnya.
“Mapan juga. Katanya siap tanggung anak-anakku.”
Aku memejamkan mata.
Logikanya jelas. Seorang janda dengan tiga anak.
Biaya hidup. Masa depan.
Tawaran seperti itu bukan hal kecil.
Aku menghela napas perlahan.
“Kamu jawab apa?” tanyaku.
“Aku bilang aku belum kepikiran,” jawabnya.
“Aku menikah sama suamiku dulu karena yakin,” lanjutnya.
“Dan aku nggak pernah menyesal jadi istrinya. Nggak pernah.”
Dadaku terasa hangat mendengarnya.
“Aku cuma… belum siap membuka hidupku lagi,” katanya pelan.
“Belum siap ada laki-laki lain masuk ke rumah ini, ke kehidupan anak-anakku.”
Aku mengangguk, meski ia tak bisa melihat
.
“Itu wajar, Han,” kataku.
“Kamu nggak salah menunda.”
Ia terdiam sebentar.
Dan malam ini, aku semakin yakin Hana bukan perempuan yang goyah oleh masa lalu.
Ia hanya perempuan yang setia pada kenangan,
dan hati-hati pada masa depan.
Di seberang sana, napas Hana terdengar tidak teratur.
“Sebenarnya uang asuransi cukup buat bertahan satu tahun,” katanya pelan.
“Sebenarnya aku pengin pakai uangnya buat bisnis… biar ada pegangan jangka panjang.”
Ia berhenti sebentar.
“Cuma aku masih takut melangkah.”
Sunyi.
“Biasanya aku selalu didukung dan disupport suamiku,” lanjutnya.
“Kalau ada apa-apa, aku tinggal cerita. Tinggal nanya. Sekarang…” suaranya mulai pecah,
“aku harus mutusin semuanya sendiri.”
Aku tidak memotong.
“Serius, Ka… aku nggak biasa banget begini,” katanya lirih.
“Aku takut banget malam ini. Pikiranku kacau.”
Dan akhirnya terdengar isaknya. Pelan. Ditahan. Tapi pecah juga.
Dadaku terasa sesak.
“Han…” panggilku pelan.
Ia menangis tanpa suara beberapa detik.
“Kamu nggak lemah,” kataku tenang.
“Kamu cuma lagi di fase yang belum pernah kamu jalani sebelumnya.”
Ia mencoba mengatur napasnya.
“Takut itu wajar,” lanjut ku.
“Karena kamu nggak cuma mikirin diri sendiri. Kamu mikirin tiga anak.”
Isaknya mereda sedikit.
“Kamu tahu apa yang bikin kamu sebenarnya kuat?” tanyaku.
“Apa…” suaranya kecil.
“Kamu tetap mikirin masa depan. Walau kamu takut.”
Sunyi lagi.
“Bisnis itu bisa dipikir pelan-pelan,” kataku lembut.
“Nggak harus besok. Nggak harus langsung besar. Bisa mulai kecil. Uji dulu. Lihat arusnya.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku cuma takut gagal, Ka…”
“Kalau gagal?” tanyaku pelan.
“Masih ada satu tahun pegangan. Masih ada waktu evaluasi. Kamu nggak sedang di tepi jurang.”
Tangisnya mulai berubah jadi napas berat yang lebih tenang.
“Dan kamu nggak sendirian, Han,” kataku tanpa berpikir panjang.
Kalimat itu menggantung.
Aku sadar apa yang baru saja kukatakan.
Di seberang sana, ia terdiam.
“Nggak sendirian gimana?” tanyanya pelan.
Aku menatap gelap kamar kos ku.
“Maksudku… kalau kamu butuh teman mikir, teman diskusi… aku ada.”
Sunyi beberapa detik.
“Ka…” suaranya lembut sekali sekarang.
“Terima kasih.”
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada janji.
Hanya dua orang di ujung telepon, sama-sama lelah, sama-sama mencoba kuat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya aku tidak merasa menjadi penyelamat. Aku hanya menjadi tempat seseorang bersandar sebentar.
Dan anehnya…itu terasa cukup.