Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PRIA BERNAMA RANGGA
Apartemen Rangga, SCBD — 23:45 WIB
Rangga tertawa kecil, suaranya rendah dan menggoda, seperti getar bass yang menyentuh langsung tulang punggung. “Keep dreaming?” ulangnya dengan nada mengejek yang begitu seksi, mata hitamnya menyipit penuh tantangan. “Kamu pikir kamu masih punya pilihan, Liang?”
Ia menarik Livia lebih rapat hingga gadis itu hampir duduk di pangkuannya. Satu tangannya tetap melingkar kuat di pinggang, yang lain naik ke tengkuk Livia—jari-jarinya menyusup pelan ke rambut panjang yang masih sedikit lembab oleh keringat ketegangan tadi. “Kamu sudah masuk kandang singa, Liv. Dan singa Jawa tidak pernah melepaskan mangsa yang sudah dia tandai.”
Livia mencoba menahan napas, tapi sia-sia belaka. Aroma cendana Rangga terlalu kuat, bercampur wangi maskulin yang selalu membuat lututnya lemas tanpa ampun. “Kamu terlalu percaya diri, Adiwinata,” bisiknya, berusaha tegas tapi suaranya malah keluar serak dan menggoda. “Aku Chindo. Kami tidak nurut begitu saja.”
Rangga menunduk lagi, bibirnya menyapu telinga Livia pelan—bukan ciuman langsung, tapi ancaman sensual yang jauh lebih berbahaya. Napas hangatnya menggelitik kulit. “Justru itu yang bikin aku gila sama kamu. Kamu nggak nurut. Kamu melawan. Kamu bikin aku harus kerja keras untuk menjinakkanmu. Dan aku suka kerja keras, Liv. Apalagi kalau hadiahnya kamu.”
Livia merasakan jantungnya hampir copot. Ia tahu ini bahaya murni. Rangga bukan Mateo yang memberi gairah instan lalu menghilang. Rangga memberi janji abadi—dan janji itu terasa seperti rantai emas: indah, berat, sekaligus mencekik. Ia ingin mundur, tapi tubuhnya justru berkhianat: tangannya naik ke dada Rangga, merasakan detak jantung pria itu yang sama gilanya dengan miliknya.
“Kamu bilang kamu tunggu sampai halal,” desis Livia, mencoba merebut kembali kendali. “Tapi kok tanganmu kayak nggak mau nunggu?”
Rangga tersenyum gelap, jarinya kini menyusuri garis leher hoodie Livia—gerakan ringan tapi penuh maksud, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri semua. “Aku tunggu yang itu, Liv. Tapi aku nggak janji nggak akan bikin kamu ingat setiap hari siapa yang bakal punya kamu sepenuhnya nanti.”
Sebelum Livia sempat balas dengan kata-kata pedas khasnya, ponsel Rangga berdering keras di meja kaca. Nada gamelan halus—nada khusus untuk Mama Ratna.
Rangga menghela napas panjang, melepaskan Livia dengan enggan, lalu angkat telepon. “Halo, Bu? Ya, semuanya sudah selesai. Mateo sudah pergi.”
Hening sejenak. Wajah Rangga yang tadi membara mendadak memucat. Livia langsung tegang, mendekat tanpa sadar.
“Apa?! Besok pagi harus ke Solo lebih awal? Kenapa tiba-tiba… Oh. Keluarga Liang sudah di sana duluan?”
Rangga menatap Livia, matanya penuh pertanda buruk. “Iya, Bu. Kami berangkat subuh. Aku pastikan Livia siap untuk… semua ritualnya.”
Telepon ditutup. Rangga menatap Livia lama, lalu berdiri dan menarik tangan gadis itu hingga berdiri juga.
“Besok subuh kita berangkat ke Solo,” katanya datar. “Mama aku bilang keluarga kamu—Papi, Mami, Vania, Sherly—sudah sampai villa kraton malam ini. Mereka minta prosesi nontoni dipercepat. Katanya… ada ‘hal penting’ yang harus dibahas sebelum siraman.”
Livia mengerutkan kening. “Hal penting apa?”
Rangga menggeleng pelan. “Mama nggak bilang detail. Cuma bilang ini menyangkut ‘kehormatan dua keluarga’ dan ‘masa depan anak-anak kita’.”
Livia merasakan perutnya mual. Keluarga Chindo yang pragmatis bertemu keluarga Jawa priyayi yang penuh simbol—itu resep bencana sempurna.
Ponsel Livia bergetar di saku jaket Rangga. Ia ambil, buka pesan dari grup Liang Empire.
Vania: LIV!!! Kami sudah di Solo. Villa Adiwinata gede banget, kayak masuk museum hidup! Tapi… Mami lagi ribut sama Mama Ratna di ruang tamu. Soal mahar. Soal saham. Soal “kontrak pernikahan” yang katanya harus ditandatangani sebelum siraman.
Sherly: Dan Papi kamu lagi diam aja di pojok sambil pegang map tebal. Kayaknya ada dokumen baru. Cepat datang ya, Dek. Ini bukan cuma nikahan lagi. Ini perang dinasti.
Livia menatap Rangga, mata gadis itu kini penuh tuduhan. “Kamu bilang kamu nggak peduli saham lagi?”
Rangga menarik napas dalam, tangannya kembali meraih pinggang Livia—kali ini lebih keras, lebih posesif, jari-jarinya seperti membakar kulit melalui kain. “Aku nggak bohong, Liv. Aku nggak peduli saham. Tapi keluarga aku… mereka main di level lain. Dan sekarang, kamu harus pilih: percaya sama aku, atau lari lagi seperti dulu sama Mateo.”
Livia menatap mata pria yang semakin terasa seperti pemiliknya itu. Di luar jendela, Jakarta masih berkilau. Di dalam hati Livia, badai baru saja dimulai.
***
Tol Trans-Jawa — 04:30 WIB
Livia menyandarkan kepalanya di jok kulit empuk, matanya menatap kosong ke deretan lampu jalan yang melesat lewat. Ia masih mengenakan hoodie kebesaran milik Rangga dari semalam, aromanya masih menempel, memberi sedikit rasa aman semu di tengah badai yang siap menerjang.
“Tidur, Liv,” suara Rangga memecah keheningan “Masih ada tiga jam lagi sebelum kita sampai Boyolali.”
“Gimana aku bisa tidur kalau Mami dan Mama kamu lagi ‘perang’ soal kontrak pernikahan di Solo?” Livia menoleh, menatap profil samping Rangga yang tegas di bawah cahaya lampu dasbor biru. “Rangga, jujur sama aku. Apa dokumen baru yang dipegang Papi semalam?”
Rangga terdiam sejenak. “Papi kamu tahu soal ancaman Mateo, Liv. Tapi alih-alih panik, dia justru gunakan itu untuk negosiasi ulang posisi keluarga Liang di proyek pelabuhan. Dia minta jaminan kalau pernikahan ini benar-benar terjadi, saham tetap di tangan Liang sepenuhnya. Dan keluarga aku...nggak mau kalah. Sorry tadi aku keras tetai aku harus ngelakuin untukkamu.”
Livia menarik napas tajam. “Maksudnya aku nggak boleh lagi jadi ‘Livia Liang’ yang aku mau? Aku harus jadi boneka kehormatan keluarga Adiwinata?”
“Maksudnya kamu bakal jadi Livia Adiwinata,” jawab Rangga jujur “Segala gerak-gerikmu, pernyataan mediamu, bahkan jadwal tandingmu... semuanya harus melewati approval Mama. Itu harga yang mereka minta sebagai imbalan pembersihan skandalmu tadi malam—dan jaminan kalau kamu nggak bakal ‘liar’ lagi.”
Livia tertawa sumbang, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi yang memuncak. “Jadi aku benar-benar cuma aset, ya? Di keluarga Liang aku jadi jaminan saham, di keluarga Adiwinata aku jadi pajangan kehormatan.”
Tiba-tiba, Rangga menginjak rem sedikit lebih keras dan menepikan mobil di bahu jalan tol yang sepi. Ia mematikan mesin, membuat kesunyian mendadak terasa mencekam. Rangga melepas sabuk pengamannya, lalu berputar menghadap Livia sepenuhnya.
“Aku peduli,” desis Rangga, matanya menatap tajam ke dalam mata Livia. “Aku peduli sama setiap tetes keringatmu di lapangan. Aku peduli gimana kamu nangis diam-diam di kamar ganti pas kalah semifinal tahun lalu—aku lihat sendiri dari luar jendela. Kamu pikir aku mau lihat kamu dikendalikan kayak boneka?”
“Tapi kamu diam saja, Rangga! Kamu nurut sama Mama kamu!”
“Aku nurut supaya aku bisa dapat akses untuk jagain kamu!” Rangga menarik Livia ke dalam dekapannya, kali ini dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. “Di Solo nanti, kamu bakal lihat banyak wajah palsu. Mami kamu, Papi kamu, bahkan Mama aku bakal senyum seolah ini pernikahan paling bahagia abad ini. Tapi aku akan selalu berada di belakangmu, Liv.”
Rangga mencium kening Livia. “Biarkan mereka berdebat soal saham dan kontrak. Aku yang bakal tanda tangan itu semua, tapi aku janji... aku yang bakal robek kontrak itu kalau mereka mulai menyakitimu.”
Livia memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke kemeja Rangga. “Janji?”
“Janji seorang pria bernama Rangga,” bisiknya, memberikan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan.