Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku belum siap
Satu minggu berlalu ...
"Dik, apa kabar?" Pesan dari Oto yang tiap beberapa bulan sekali menyapa Pie.
"Pie, bantu Mama di dapur dulu."
"Iya, Ma." Pie belum sempat membalas, ia meletakkan ponselnya di atas nakas kamar tidurnya.
Mama sedang memotong sayuran untuk dimasak siang itu. Pie datang menghampiri memilih merajang bawang merah dan putih yang sudah di sediakan.
"Kau sudah punya pacar?"
"Belum, Ma."
"Kalau kau punya, cepat dibawa ke rumah. Jangan pacaran di luar. Mama tidak mau mendengar kabar anak Mama keluyuran tidak jelas."
"Iya, Ma."
"Si Oto ada menghubungimu?"
"Ada, tapi jarang sekali. Hanya menyapa."
"Jangan kau beri harapan apa-apa, Pie."
Pie mengangguk pelan. Di dalam kepalanya sedang memikirkan Tirta yang akhir-akhir ini sedang dekat dengannya. Pria itu sudah kembali ke kotanya dan belum tahu kapan mereka akan bertemu lagi.
"Pie, apa kue pesanan Bu Mega sudah matang?" Rum masuk ke dapur untuk mengambil kue-kue yang sudah matang agar cepat dia dinginkan dan dikemas.
"Itu baru beberapa yang matang, Rum."
"Oke, ini sudah lumayan." Rum menghitung jumlah kue yang sudah setengah pesanan.
"Putu ayu pesanan Pak Adi, Pie?" Rum menghampiri Rum yang sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan kecil yang ada di panci kukusan.
"Iya, Rum. Aku baru dapat lima belas kue."
Rum mengangguk pelan. Ia segera membawa kue-kue pesanan Bu Mega ke ruang tengah.
"Aku bawa ini dulu ke depan."
"Oke."
"Jem, kau beli camilan apa?"
"Aku akan beli es boba sebelum pulang, Pie."
Pie dan Jemmy janjian untuk membeli jajan saat pulang bekerja nanti, kini Jemmy menempeli Pie karena Rum setelah waktu kerja habis perempuan muda itu akan sibuk bermesraan dengan suaminya kala menjemput.
Jemmy membelokkan motornya ke stand warna biru yang menjual beberapa macam minuman boba, Pie mengikuti dari belakang.
"Kau mau ini, Pie?" Jemmy menunjuk menu es boba pada Pie yang datang dari belakang.
Pie membaca dengan seksama, ia tidak terlalu suka minuman jenis ini namun beberapa nama membuatnya tertarik.
"Sepertinya aku tidak beli ini. Aku akan beli makanannya saja, Jem."
"Oke."
Pie memesan beberapa jenis jajanan, sedangkan Jemmy memesan minuman yang disukainya.
"Pie ayo kita ke minimarket dulu sembari menunggu pesanan kita selesai." Jemmy menunjuk minimarket yang tak jauh dari lokasi stand.
"Ayo, sepertinya aku ada yang harus dibeli." Pie mengangguk dan ikut berdiri.
"Kak, kami tinggal dulu." Jemmy mengatakan pada penjaga stand.
"Iya, kak."
Jemmy menggandeng Pie berjalan menuju minimarket yang cukup ramai sore itu.
Mereka masuk dan mulai mengitari beberapa rak. Jemmy sepertinya hanya cuci mata, sudah beberapa menit perempuan itu hanya memegang dan mengatakan lucu pada barang-barang yang berkarakter.
"Pie, mau ke mana?" Jemmy yang ingin mengendus beberapa parfum menoleh Pie yang seperti ingin beranjak.
"Aku ke rak pembalut dulu, Jem."
Jemmy hanya mengangguk, perhatiannya kembali ke botol parfum berwarna kuning.
Pie segera mencari pembalut yang biasa ia pakai, lalu kembali ke pada Jemmy ketika sudah mendapatkan yang ia perlukan.
"Jem, kau akan membeli itu?" Jemmy sedang membaca kotak lampu.
"Huh? Tidak tahu, aku bingung ingin membeli apa."
"Kau kemari hanya ingin melihat-lihat saja, kan?"
Jemmy meringis ketika Pie menyadari tujuannya. Ia bosan jika harus menunggu di stand.
"Kau sudah mendapatkan barangmu?"
Pie mengangguk.
"Ayo bayar, kita keluar. Mungkin pesanan kita sudah selesai."
"Iya."
Jemmy ikut mengantre di belakang Pie. Sesekali mereka bercanda untuk menunggu antrean.
Mereka kembali ke stand dimana mereka memesan jajanan.
Di sana ada beberapa orang yang mengantre di depan stand, Jemmy menghampiri si penjual
"Kak, pesanan kami sudah selesai?"
"Oh, sudah Kak. Ini."
Jemmy membayar semua pesanan miliknya dan Pie. Lalu menghampiri Pie yang menunggu di atas motornya yang sedang terparkir.
"Berapa milikku, Jem?" Pie menerima pesanannya dari tangan Jemmy.
"Ini, lihat saja di struk. Aku malas menghitungnya."
Pie membaca dengan teliti lalu membayar pesanan miliknya sesuai harga yang tertera di struk pembayaran.
"Kau akan pulang, Pie?"
"Ya. Kenapa?"
Jemmy mengerucutkan bibirnya.
"Aku sedang malas pulang. Bisa kau temani aku sebentar lagi, Pie?"
Pie melirik jam tangannya, ia masih punya waktu satu jam sebelum pulang.
"Ayo, aku temani. Kita habiskan jajanan ini."
Jemmy bersorak riang. Ia mengendarai motornya menuju tempat bersantai untuk mereka.
Pie mengikuti dari belakang.
"Aku sedang dekat dengan laki-laki."
Jemmy yang tiba-tiba bersuara saat mereka asyik memakan jajanan.
Pie menatap Jemmy yang menerawang jauh.
"Bagaimana dia?"
"Kurasa aku menyukainya, Pie. Dia baik, penyayang."
Pie terkekeh pelan. Itu membuat Jemmy mengernyitkan keningnya.
"Kenapa kau tertawa?"
Pie menggeleng pelan.
"Akhirnya aku melihat seorang Jemmy yang tomboy jatuh cinta."
Mereka tertawa bersama.
"Pie aku harus bagaimana?" Pesan dari Jemmy saat tengah malam.
Pie yang belum tidur menatap heran pesan Jemmy. Tidak biasanya Jemmy curhat padanya.
"Bagaimana apanya, Jem?"
"Dia akan melamarku dalam waktu dekat!"
"Itu bagus! Kenapa kau seperti bingung?"
"Aku belum siap menikah!"
"Kau sudah mengatakan padanya?"
"Belum. Aku harus bagaimana?"
"Katakan padanya, Jem. Agar dia tahu keinginanmu."
"Tapi aku takut dia akan meninggalkanku, Pie."
"Maka itu sebuah resiko, Jem. Dia menginginkan kebersamaan yang pasti, tapi kau belum siap menuju ke jenjang itu. Lalu, kau ingin bagaimana? Jangan memaksakan dirimu jika belum siap."
"Oke, akan aku pikirkan. Terima kasih, Pie."
"Pintar sekali kau memberi nasehat. Hubunganmu saja terombang ambing." Gumam Pie pelan.
Tria sudah dua minggu tak menghubunginya, Pie tak terlalu ambil pusing, dia berpikir Tria tak serius padanya, ucapan pria itu tak bisa sepenuhnya dipegang.
"Kenapa Kim tak membalas pesanku? Bagaimana nasib fotoku di antara foto-foto dirinya?"
Pie tidak ingin fotonya bisa memicu kecemburuan andai kata Kim memiliki kekasih. Pie merasa percaya diri bahwa dirinya bisa menjadi suatu masalah percintaan.
"Tapi apa mungkin Kim akan membiarkan fotoku di sana jika dia memiliki kekasih? Jika itu aku, maka akan ku amuk Kim."
Pie kembali membuka album foto di akun facebook Kim. Ia menatap malang fotonya yang berada di sana. Menyempil seorang diri.
Setiap hari libur, Pie akan pergi ke perpustakaan. Ia sangat suka membaca novel-novel yang ada di sana. Setiap minggu pasti akan ada novel baru.
Seperti hari itu, Pie sudah berada di ruang baca. Di sana ada dua orang yang sudah menghuni ruangan dingin itu, Pie segera ke rak novel yang biasa ia datangi, memilah novel yang menarik hatinya.
Ia menjatuhkan pilihan novel remaja yang bersampul warna pink, ia menuju sofa besar yang kosong dan mulai membaca.
Pie hanyut dalam cerita yang ia baca sehingga tak menyadari sosok yang duduk di deretan meja di sisi suhu pendingin sedang menatapnya.