Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Badai yang Mendekat
Suara lonceng kematian itu berhenti mendadak, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Di depan gerbang kediaman Jian Wuyou, kabut hitam mulai merayap dari celah-celah bebatuan, menelan jalanan desa yang tadinya cerah. Dari balik kabut tersebut, muncul dua belas sosok mengenakan jubah abu-abu kelam dengan wajah tertutup topeng perak.
Mereka adalah Dua Belas Algojo Bayangan, unit pembunuh elit dari Sekte Awan Hitam. Masing-masing dari mereka berada di ranah Penyatuan Roh Level 4 hingga 6. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut yang diikat tinggi menggunakan tulang manusia. Matanya memancarkan cahaya hijau yang redup.
"Siapa yang berani melukai saudaraku dan menghina Sekte Awan Hitam?" suara pria itu bergema, mengandung tekanan Qi yang cukup kuat untuk membuat kaca-kaca jendela di sekitar desa retak. Ia adalah Han Zo, Wakil Ketua Sekte sekaligus kakak dari Tetua Han.
Di dalam aula utama yang tertutup rapat, Li Hua duduk dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan getaran dari tanah setiap kali Han Zo berbicara. Di depannya, Mei Lian sedang menenangkan bayi Jian Han yang mulai merengek.
"Kenapa dia... kenapa dia melakukan semua ini demi aku?" tanya Li Hua lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia orang kaya, dia punya segalanya. Kenapa dia harus mempertaruhkan nyawanya melawan monster-monster itu?"
Mei Lian menatap Li Hua dengan tatapan penuh simpati. Ia meletakkan tangannya di bahu Li Hua. "Nona Li Hua, bagi Tuan Wuyou, kau bukan sekadar 'penjual kue beras'. Kau adalah satu-satunya alasan mengapa dia masih ingin menjadi manusia di dunia yang kejam ini."
Li Hua menatap Mei Lian dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Tuan Wuyou telah menempuh perjalanan yang sangat jauh... jauh lebih jauh dari yang bisa kau bayangkan," lanjut Mei Lian dengan suara lembut. "Dia telah kehilangan banyak hal, termasuk seseorang yang sangat mirip denganmu. Kali ini, dia bersumpah pada jiwanya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Baginya, melindungimu adalah cara dia menebus dosanya di masa lalu."
Li Hua terdiam. Meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti tentang "masa lalu" yang dimaksud, ia bisa merasakan beban berat yang selama ini dipikul oleh Jian Wuyou. Setiap kali pria itu menatapnya, ada kerinduan yang sangat dalam, seolah-olah ia sedang melihat seseorang yang sudah lama hilang.
Di luar, Jian Wuyou berdiri tenang di depan gerbang kayu besarnya. Ia tidak membawa pedang—karena Yue Sha telah hancur—namun ia hanya memegang sebatang ranting pohon yang ia ambil dari tanah.
"Hanya sebatang ranting?" Han Zo tertawa mengejek. "Kau benar-benar sombong, bocah! Dua Belas Algojo, cabut anggota tubuhnya, tapi biarkan dia tetap bernapas. Aku ingin dia melihat desanya terbakar!"
Seketika, kedua belas algojo itu melesat. Mereka bergerak seperti bayangan, menyerang dari segala arah secara bersamaan dengan belati-belati beracun.
Jian Wuyou menutup matanya sejenak. Meskipun kekuatannya saat ini hanya di Penyatuan Roh Level 10, pemahamannya tentang teknik bertarung adalah warisan dari Dewa Pedang. Baginya, gerakan para algojo ini terlihat sangat lambat.
Srett!
Jian Wuyou mengayunkan ranting pohonnya. Gerakannya sangat sederhana, namun memancarkan garis energi ungu yang tajam.
Cring! Cring! Cring!
Belati-belati perak itu patah berkeping-keping saat bersentuhan dengan ranting kayu yang telah dilapisi Qi murni tersebut. Jian Wuyou melangkah maju, tubuhnya berputar seperti gasing. Setiap kali ranting itu menyentuh tubuh algojo, terdengar suara tulang yang patah.
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, enam algojo sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan dengan meridian yang hancur.
"Apa?!" Han Zo terbelalak. "Bagaimana mungkin sebatang ranting..."
"Bukan senjatanya yang mematikan," ucap Jian Wuyou dingin sambil menunjuk ke arah Han Zo dengan ranting tersebut. "Tapi siapa yang memegangnya. Sekte Awan Hitam-mu menganggap dunia ini adalah taman bermain kalian. Hari ini, aku akan menunjukkan bahwa ada langit di atas langit."
Jian Wuyou menghentakkan kakinya. Tanah di bawahnya retak membentuk pola naga. Ia melepaskan aura nya yang meskipun belum sempurna, sudah cukup untuk membuat para algojo yang tersisa berlutut karena tekanan mental yang luar biasa.
"Han Zo, bersiaplah. Karena setelah ini, aku tidak akan hanya menggunakan ranting kayu."
Aura ungu membumbung tinggi dari tubuh Jian Wuyou, membelah awan hitam yang dibawa oleh Sekte Awan Hitam, memberikan secercah cahaya harapan di tengah kegelapan yang mengepung Desa Bambu.