NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Keguguran Terungkap

Malam telah larut di mansion Gemilar, namun udara di sekitarnya terasa lebih berat daripada biasanya. Galen sedang berada di luar kota untuk urusan darurat. Mungkin sebuah "perang" bisnis yang ia klaim sebagai pembersihan sisa-sisa pengaruh Elfahreza kembali terjadi. Kepergiannya adalah celah yang selama ini ditunggu oleh Shabiya. Dengan topeng amnesia yang masih terpasang sempurna di wajahnya, Shabiya telah berhasil meyakinkan Arsen untuk membiarkannya "berjalan-jalan" di sayap timur gedung, area yang biasanya terlarang.

Langkah kaki Shabiya tidak terdengar di atas karpet Persia yang tebal. Ia memegang kartu akses perak yang ia curi dari laci meja rias Galen saat pria itu sedang mandi dua hari lalu. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia menempelkan kartu itu pada pemindai elektronik di pintu ruang kerja pribadi Galen, ruang suci tempat segala rahasia gelap sang penguasa tersimpan.

Klik.

Pintu terbuka dengan desisan halus. Shabiya menyelinap masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan dari jendela besar. Bau cerutu mahal dan kayu ek kuno menyapa indra penciumannya. Ruangan ini adalah otak dari segala kekuasaan Galen, tempat pria itu merancang nasib orang-orang di bawah kuasanya.

Shabiya tidak membuang waktu. Ia melewati rak-rak buku yang menjulang tinggi dan menuju meja kerja jati raksasa milik Galen. Ia mulai menggeledah satu per satu laci, tangannya bergerak cepat namun hati-hati agar tidak meninggalkan jejak. Ia menemukan laporan keuangan, sertifikat tanah, bahkan foto-foto lama Thana yang sengaja disembunyikan Galen dari pandangannya.

Namun bukan itu yang ia cari.

Meski insting kuat seorang calon ibu dirasakan olehnya, Shabiya juga butuh bukti fisik yang menjelaskan jika calon anaknya memang sudah tidak ada

Matanya tertuju pada sebuah brankas kecil yang tertanam di dinding di belakang lukisan abstrak. Shabiya teringat kode yang pernah ia intip melalui celah pintu berminggu-minggu lalu. Dengan tangan gemetar, ia menekan angka-angka itu. 24-05-19. Tanggal kematian Thana. Ironi yang memuakkan. Galen menggunakan kematian wanita itu sebagai kunci untuk menyimpan rahasia-rahasianya.

Brankas itu terbuka dengan suara mekanis yang pelan. Di dalamnya, terdapat sebuah map kulit berwarna biru tua dengan logo rumah sakit internasional tempat ia dirawat. Di sampulnya tertera label. PASIEN NO. 0909 - SHABIYA SENA CANTARA (CONFIDENTIAL).

Shabiya menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia membuka map itu.

Halaman pertama berisi riwayat kecelakaannya. Deskripsi tentang pendarahan hebat, trauma tumpul pada abdomen, dan operasi darurat. Namun, saat ia membalik ke halaman ketiga, dunianya seolah runtuh menjadi debu.

Di sana, terlampir sebuah dokumen dengan judul, 'POST-OPERATIVE REPORT: FETAL DEATH CERTIFICATE'.

Mata Shabiya terpaku pada kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam dingin di atas kertas putih itu, "Janin laki-laki, usia gestasi 18 minggu, dinyatakan meninggal pada pukul 21:14 akibat solusio plasenta total dan juga akibat benturan yang hebat. Tindakan kuretase dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu."

Ada sebuah foto yang dilampirkan di baliknya, sebuah gambar ultrasonografi terakhir yang menunjukkan sosok kecil yang tak lagi bergerak. Di bawahnya, terdapat catatan tangan Galen yang sangat rapi namun terlihat mengerikan. "Jangan beritahukan Shabiya. Buat skenario inkubator isolasi. Dia harus percaya bayi itu hidup agar proses pemulihannya menjadi 'Thana' tidak terganggu."

Shabiya merasa seolah paru-parunya ditarik keluar dari tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan bukan lagi sekadar kesedihan, melainkan sebuah kehancuran total. Ia mencengkeram pinggiran meja hingga kuku-kukunya memutih. Galen telah membiarkannya hidup dalam harapan palsu selama berminggu-minggu. Pria itu membiarkannya berdoa untuk bayi yang sebenarnya sudah menjadi abu di krematorium rumah sakit.

Setiap ciuman lembut di keningnya, setiap botol susu yang Galen katakan telah "dikirim ke rumah sakit", dan setiap kebohongan tentang kondisi bayi yang "mulai stabil", semuanya adalah bagian dari rencana kegilaan Galen.

Kenapa dia harus kembali terjebak dalam tipuan suaminya lagi, bahkan disaat dia baru sadar dari koma nya?

Shabiya tidak berteriak. Ia tidak menangis dengan suara keras. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, memeluk map itu erat-erat ke dadanya. Air mata mulai mengalir, namun matanya memancarkan api yang sanggup menghanguskan seluruh bangunan mansion ini.

Ini adalah puncaknya. Kebenciannya pada Galen kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih murni. Ia menyadari bahwa Galen tidak pernah mencintainya, tidak pernah peduli padanya, bahkan tidak pernah menganggap bayinya sebagai manusia. Baginya, bayi itu hanyalah alat untuk memperbaiki "kerusakan" pada diri Shabiya agar ia bisa menjadi replika Thana yang sempurna.

"Kau membunuhnya dua kali, Galen," bisik Shabiya, suaranya terdengar seperti desisan ular di kegelapan malam. "Sekali dengan ambisimu, dan sekali lagi dengan kebohonganmu."

Ia menutup map itu dengan gerakan yang sangat tenang, ketenangan yang lebih terlihat menakutkan. Ia mengembalikan map itu ke dalam brankas, menutupnya kembali, dan memastikan lukisan itu terpasang sempurna. Tidak ada yang boleh tahu bahwa ia telah menemukan kebenaran ini. Belum saatnya.

Shabiya berdiri, merapikan gaun tidurnya. Ia menyeka air matanya dengan kasar. Di dalam kepalanya, rencana pelarian yang tadinya sederhana kini berubah menjadi rencana penghancuran total. Ia tidak ingin sekadar lar, tapi ia juga ingin melihat Galen kehilangan segalanya, baik itu hartanya, kekuasaannya, ataupun kewarasannya.

Shabiya keluar dari ruang kerja tepat saat ia melihat Arsen berjalan di ujung koridor. Ia segera memasang wajah mengantuk yang bingung, mulai bergerak akting seolah amnesianya kembali dalam sekejap.

"Arsen?" panggilnya lembut.

Arsen berhenti, tampak terkejut melihat Shabiya berkeliaran. "Nyonya? Kenapa Anda belum tidur?"

"Aku... aku terbangun dan merasa haus. Tapi aku tersesat lagi. Rumah ini terasa seperti labirin malam ini," Shabiya tersenyum lemah, memberikan kesan wanita rapuh yang tersesat dalam memorinya sendiri.

Arsen menatapnya dengan rasa iba yang mendalam. "Mari saya antar kembali ke kamar, Nyonya."

Sembari berjalan di samping Arsen, Shabiya menatap punggung pengawal itu. Ia tahu Arsen juga terlibat dalam kebohongan ini. Namun, ia tidak akan memusuhi Arsen sekarang. Arsen adalah kunci. Arsen adalah pion yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan sang Raja.

Begitu sampai di kamar, Shabiya mengunci pintu. Ia berdiri di balkon, menatap kegelapan hutan yang mengelilingi rumah itu. Di tangannya, ia masih merasakan dinginnya kertas laporan medis tadi.

"Tidurlah yang nyenyak di luar sana, Galen," bisiknya pada angin malam. "Nikmati kemenangan sementaramu. Karena saat kau pulang nanti, kau tidak akan menemukan seorang istri yang amnesia. Kau akan menemukan neraka yang telah kau bangun sendiri, dan aku akan menjadi orang yang menutup pintunya dari luar."

Malam itu, Shabiya kembali tidak tidur. Ia duduk di lantai di balik pintu, menggambar sebuah peta di dalam benaknya. Bukan peta jalan keluar, tapi peta kehancuran kekuasaan Gemilar. Detak jantungnya kini berirama sama dengan dendamnya. Kuat, dingin, dan mematikan.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mita Paramita
semangat shabiya 🔥🔥🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mita Paramita
lanjut Thor jangan kelamaan 🤨 makin seru mau liat kehancuran galen🤣🤣🤣
TRI FAA
wow..seru thorr
Kustri
☕dulu shabiya biar inget siapa kamu
takut kekawatiranqu terjadi😤
Kustri
karya yg luar biasa
Kustri
lanjuuutkan!
Kustri
stlh 2 peristiwa kehilangan, apa kau akan berubah, menyadari klu kau sakit?
Kustri
takut'a klu shabiya sadar lupa pd diri sendiri, saat itu galen menang byk deh
Kustri
kata'a mo jd rayap, skrg mo jd monster.. kpn??? ayo wujudkan
Kustri
ternyata oh ternyata

ayo cepatlah berpikir u lepas dr galen
Kustri
dasar odgj🤭
semangat shabiya💪
Kustri
oowh apa galen tau klu rigel mencintai thana, ky'a g tau
lanjuuut thor
Kustri
ya gitu shabira!
jdlah dirimu sendiri, kau bodoh klu mencintai galen, buat dia jatuh cinta pd shabira
Kustri
menanti bucin'a galen pd shabiya bukan thana
Kustri
kasian, cinta bertepuk sblh tangan
berharap setinggi langit kenyataan menjatuhkan ampe didasar jurang😭
Kustri
lha kan bener...itu penyakit
💪ya thor, karyamu bagus, smoga byk yg mampir
Kustri
poor shabiya😭
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!