Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Nissa mengangguk kemudian tersenyum hangat, permasalahan perasaan anaknya kepada Wina sudah terselesaikan dan mendapatkan kesepakatan antara mereka berdua itu sebabnya dia hanya menunggu aksi sang anak tanpa mau ikut campur.
"Baiklah nak, kalian bisa memanggil bibi dengan sebutan bunda karena bibi sduah menganggap kalian seperti anak bibi sendiri".
Mereka semua mengangguk menyetujui apa yang dikatakan sang bibi, mereka lebih suka panggilan itu.
"Apa kalian sudah menemukan orang-orang yang melakukan ini kepada kalian? ". Tanya Nissa dengan penuh perhatian.
"Alex sudah mendapatkan nya bunda, seperti yang bunda dengar dari percakapan aku dengan Taici kemaren, biarkan dia yang mengurus mereka". Ucap Alex dengan serius.
Wina menyunggingkan senyum tipis tanpa ada yang tahu, dia sudah lebih dulu bergerak dan mungkin saja orangnya akan bertemu dengan orang-orang suruhan Taici saat melakukan aksi mereka pada keluarga Hutama.
"Baguslah kalau seperti itu, bunda lega mendengar nya, kalian tidak usah kemana-mana dulu, biarkan masalah ini reda baru kalian keluar dari sini". Ucap sang bunda memperingatkan mereka semua.
" Oh iya dimana nona Winda, kenapa kalian semua ada disini sedangkan dirinya tidak ada? ". Tanya Nissa yang kebingungan.
" Dia dirumah orangtuanya bunda, dia sedang mengandung anak pertama jadi tidak ikut kami naik pesawat dan itu lebih baik karena rentan dan sangat bahaya untuknya". Beni menjawab pelan agar sang bunda mengerti.
Nissa mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya pada Wina dengan tatapan lembut, anaknya benar selain untuk menjaga Wina dan membalas budi, anaknya juga mencintai ornag yang tepat menurutnya, perempuan tangguh dengan banyaknya masalah yang mendera bahkan sanggup bertahan seorang diri walau masih dikelilingi orang yang melindunginya.
Melihat tatapan Nissa kepadanya yang tak biasa, Wina mengkerut kan keningnya seolah bertanya-tanya dalam hati.
"Ada yang salah kah, kenapa bunda memandangku seperti itu? ". Monolognya.
"Nak Wina, apakah kamu punya rencana untuk menikah kembali? ". Tanyanya pelan.
Suasana yang tadinya hangat langsung berubah tegang, Alex langsung melotot kepada snag bunda untuk memperingatkan sedangkan Wina menatapnya dengan kebingungan sedangkan yang lainnya dengan tatapan penasarannya.
"Kenapa bunda bertanya seperti itu? ". Jawabnya tanpa menjawab pertanyaan dari Nissa.
"Bunda hanya ingin bertanya nak, bukankah perceraian kamu dengan nak Reno sudah lumayan lama?, apalagi masa iddah dan yang lainnya sudah selesai, tidak kah kamu berpikir untuk kembali menikah? ". Nissa ingin mendengar jawaban sang calon mantu sekaligus untuk memberitahu sang anak langkah selanjutnya.
Wina menghela nafas pelan, sejujurnya dia sedikit tidak nyaman membahas tentang hal ini dihadapan semua ornag tetapi dia harus menjawabnya untuk menghormati sang bibi.
"Entahlah bunda, sejujurnya aku trauma menikah, aku belum tahu kedepannya karena itu takdir Allah untuk setiap hambanya, jadi aku hanya memasrahkan segalanya kepadanya, lagian sekarang sedang banyak masalah yang datang, jadi sebaiknya aku membereskan semua itu terlebih dahulu agar tidak menjadi masalah kedepannya ". Jawabnya dengan senyum kikuk.
Nissa mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya kepada sang putra seakan memberitahu anaknya.
"Kamu benar nak, fokuslah terlebih dahulu dengan semua ini, baru pikirkan hal itu tetapi jika ada lelaki baik dan mencintaimu sebaiknya kamu menerimanya karena tidak semua lelaki sama dengan mantan suami kamu, kamu bisa melihat contohnya Ben dan juga nak Leo". Ucapnya memandang Wina dengan tatapan penuh arti
Wina mengangguk. " Iya bunda, aku sedang fokus dengan semua ini dan seperti yang bunda katakan, aku berharap bisa bertemu dengan ornag seperti yang bunda katakan itu selain untuk diriku, dia juga harus mencintai anak-anakku".
Alex terdiam pelan, kini dia mengerti mengapa bundanya bertanya seperti itu pada Wina, dia yakin jika itu dilakukan untuk memberitahu dirinya apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk bisa mendapatkan hati Wina nanti.
Drt.. drt.. Suara deringan ponsel menghentikan percakapan mereka.
Wina mengangkat telponnya kemudian menaruhnya ke telinganya kemudian menjawabnya.
"Hallo nyonya, saya ingin mengabarkan jika tuan Erlangga sudah sadar dan menanyakan keberadaan anda dan juga anak-anak". Ucap seorang dari sebrang.
"Alhamdulillah, katakan padanya kami baik, kami belum bisa ke sana, suruh dia fokus pada kesehatannya terlebih dahulu, jika sudah aman kami akan kesana melihatnya".
"Baik nyonya, saya sedang berada di ruangannya, katanya dia ingin berbicara dengan anda dan melihat anak-anaknya, apakah bisa? ". Tanyanya dengan hati-hati.
Wina menghela nafas, dia tidak mungkin memberitahu Erlangga tentang keadaan kedua anaknya yang masih dalam perawatan intensif bahkan dirinya saja belum bertemu dengan anaknya pagi ini.
"Berikan telponnya kepadanya, saya akan bicara dengannya".
"Baik nyonya, tuan ini nyonya katanya akan bicara dengan anda". Ucapnya masih terdengar oleh Wina.
Wina mengeraskan volume suara handphonenya agar sahabat-sahabatnya mendengarkan percakapan mereka karena sejak tadi mereka langsung menatapnya begitu tahu jika Erlangga sudah sadar.
Sedangkan Alex mengepalkan tangannya diam-diam, dia sangat tahu siapa Erlangga itu, saingan terberatnya kini akan hadir dan mungkin akan menghalangi rencananya. Rasa cemburu menjalar ke seluruh tubuhnya tapi dia tetap diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Hallo Wina, kamu apa kabar? ". Tanyanya dengan lembut dan masih terbata-bata.
Dia baru sadar dua jam lalu dan masih sulit untuk bergerak apalagi berbicara seperti biasa.
"Aku baik Erlangga, bagaimana keadaanmu sekarang, sudah mendingan? ". Tanyanya Wina dengan penuh perhatian.
"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik, gimana kabar anak-anak dan juga sahabat-sahabat kamu, mereka baik-baik saja? ".
"Iya mereka semua baik-baik saja, hanya saja kami belum bisa kesana untuk menjenguk mungkin dna juga Reno, kami sedang dalam masalah sekarang, nanti setelah reda kami akan kesana". Jawabnya apa adanya.
Walau dia tidak menyebutkan masalah apa yang mereka hadapi dan keadaan kedua anaknya, dia tahu Erlangga pasti mengerti maksudnya.
"Dalam masalah apa Win?, bukankah keluarga Wicaksana dan Pratama sudah di eksekusi terus bagaimana bisa terjadi? ". Tanyanya dengan nada sedikit meninggi tanpa sadar.
Dia langsung khawatir dengan keadaan mereka semua terutama Wina dan juga kedua anaknya. Walau Wina menolaknya waktu itu rasa cintanya kepadanya tidak pernah berhenti malah semakin besar hanya saja dia tidak ingin gegabah.
"Mereka masih berhubungan kekerabatan dengan keluarga Pratama dan juga Wicaksana, kamu tak usah pikirkan kami, fokus saja pada kesehatan mu, ingat kamu baru sembuh". Ucaonya penuh perhatian.
"Baiklah aku akan mengikuti apa katamu, terus dimana Ben, Alex dna juga Ratna? serta kedua anakku? ". Tanyanya karena sejak tadi hanya suara Wina yang terdengar.
"Kami disini Er, kami semua baik-baik saja, senang mendengar kamu sudah sadar". Jawab Leo dengan pelan.
Dia menjawab karena Wina memberikan kode kepadanya untuk menjawab Erlangga agar dia tidak menanyakan anaknya.
"Terus kalian semua dimana? ".