Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GODAAN SANG DEWA YUNANI
Jaydane tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang tulus. Ia menggendong Flaire dan merebahkannya di ranjang besar mereka. "Kau benar. Dia hanya debu yang perlu dibersihkan. Tapi malam ini... aku ingin kau fokus hanya padaku. Biarkan aku membuktikan padamu bahwa hanya ada satu nama yang terukir di jiwaku."
Namun, di luar mansion, Seraphina yang melihat pesannya diblokir berteriak histeris di dalam mobilnya. "Kau pikir kau sudah menang, Flaire? Jika foto tidak bisa menghancurkanmu, maka peluru akan melakukannya!"
Suasana kamar yang remang-remang mendadak terasa begitu panas. Jaydane, dengan tatapan predator yang lapar, mulai menurunkan kecupannya dari leher jenjang Flaire menuju tulang selangka. Tangannya yang besar dan kasar mulai merayap turun, menyusuri lekuk tubuh hourglass Flaire yang sempurna, hingga jemarinya mencapai area sensitif di balik kain sutra tipis itu.
Flaire tersentak. Sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya, namun akal sehatnya berteriak kencang. Ia segera menahan tangan "gatal" Jaydane dengan kedua tangan mungilnya.
"Ermm... Jay, tunggu. Aku... aku belum siap," bisik Flaire dengan napas yang mulai memburu.
Aslinya, Flaire bukan sekadar belum siap secara mental. Ia sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. Matanya sempat melirik ke arah "aset" Jaydane yang menonjol di balik celana kainnya.
Flaire menelan ludah dengan susah payah. Ia teringat kembali betapa mengerikannya ukuran "piton jumbo" milik suaminya itu urat-urat yang menonjol, ukuran yang melampaui nalar, seolah-olah itu adalah gabungan dari tiga mug raksasa.
Tuhan, kalau itu masuk, apa aku masih bisa jalan besok pagi? batin Flaire menjerit panik.
Jaydane, yang sudah dikuasai gairah, hanya menyeringai tipis melihat rona merah dan ketakutan di mata Flaire. Ia tidak berhenti. Malah, Jaydane tetaplah Jaydane sosok Mafia yang tidak mengenal kata 'tidak' jika sudah menginginkan sesuatu.
"Belum siap, atau kau hanya takut dengan suamimu sendiri, Little Bird?" bisik Jaydane serak, suaranya bergetar tepat di telinga Flaire.
Jaydane menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci Flaire di bawahnya, membuat Flaire bisa merasakan dengan jelas betapa keras dan masifnya "senjata" yang sedang ia takutkan itu menekan paha dalamnya.
"Jay, itu... itu terlalu besar," gumam Flaire tanpa sadar, wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus.
Jaydane terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan sangat seksi. Ia menarik tangan Flaire yang menahannya, lalu membawa tangan mungil itu untuk menyentuh langsung miliknya yang sudah menegang sempurna di balik kain.
"Kau yang memancing naga ini keluar dari tidurnya sejak kau menginjakkan kaki di pesta itu, Flaire," desis Jaydane. Ia mulai membuka kancing celananya satu per satu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya kembali menjelajahi tubuh Flaire, memberikan rangsangan yang membuat pertahanan wanita itu meleleh.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan... tapi aku tidak akan berhenti sampai kau memohon namaku berkali-kali malam ini."
Flaire hanya bisa memejamkan mata, pasrah saat Jaydane mulai menyingkirkan hambatan terakhir di antara mereka. Ketakutannya pada ukuran raksasa itu perlahan terkalahkan oleh gelombang gairah yang dialirkan Jaydane ke setiap syarafnya.
Sementara di dalam mansion sedang berlangsung gairah yang membara, di luar gerbang utama, sebuah mobil hitam terparkir dalam kegelapan. Seraphina memegang sebuah detonator di tangannya, matanya menatap tajam ke arah jendela kamar utama yang masih menyala.
"Nikmatilah malam terakhirmu, Flaire," gumam Seraphina dengan senyum iblis. "Karena besok pagi, kau tidak akan bangun sebagai permaisuri, melainkan sebagai abu."