Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13:Pertarungan Awal Di Benteng Gelap
Pintu besar benteng itu terbuka perlahan dengan suara berdecit yang menusuk telinga, seolah-olah menolak kehadiran siapa pun yang berani melangkah masuk. Kaelen dan Lira berdiri di ambang pintu, napas mereka tertahan. Aura gelap yang menyambar dari dalam begitu pekat dan menyesakkan, membuat kulit mereka merinding dan jantung berdegup lebih kencang. Namun, mereka tidak mundur. Dengan tekad yang membara, mereka melangkah masuk ke dalam benteng Malakar.
Suasana di dalam benteng itu sangat berbeda dengan apa yang mereka bayangkan. Mereka berharap akan menemukan lorong-lorong gelap dan lembap seperti di gua, tapi kenyataannya, mereka berada di sebuah aula utama yang sangat luas dan megah, namun juga sangat suram dan mengerikan. Langit-langit aula itu sangat tinggi, ditopang oleh pilar-pilar batu raksasa yang diukir dengan motif tengkorak dan makhluk-makhluk iblis. Di dinding-dinding aula, terdapat obor-obor besar yang menyala dengan api berwarna hijau kehitaman, memberikan cahaya yang redup dan menyeramkan ke seluruh ruangan.
Di ujung aula itu, terdapat sebuah singgasana besar yang terbuat dari batu hitam dan tulang-belulang. Namun, singgasana itu kosong. Malakar tidak ada di sana.
"Dia tidak di sini," bisik Lira, suaranya sedikit gemetar sambil memindai sekelilingnya dengan waspada. "Ke mana dia pergi, Yang Mulia?"
Kaelen mengerutkan kening, merasakan aura gelap yang berputar-putar di sekitar mereka. "Dia pasti ada di sini, Lira. Saya bisa merasakan kehadirannya. Dia mungkin sedang bersembunyi, atau mungkin dia sedang menunggu kita di tempat lain di dalam benteng ini. Kita harus tetap waspada. Dia tidak akan membiarkan kita masuk ke sini begitu saja tanpa perlawanan."
Baru saja kata-kata Kaelen selesai diucapkan, tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar. Dari lantai aula yang terbuat dari batu hitam, muncul puluhan makhluk yang mengerikan. Makhluk-makhluk itu adalah Shadow Warriors—prajurit bayangan yang terbuat dari asap hitam dan energi gelap, dengan mata yang bersinar merah menyala dan senjata yang terbuat dari energi gelap yang tajam.
Shadow Warriors itu mengelilingi Kaelen dan Lira, membentuk sebuah lingkaran yang rapat. Mereka mengangkat senjata mereka dengan siap, siap untuk menyerang kapan saja.
"Jadi, ini adalah sambutan yang dia berikan kepada kita," geram Kaelen, segera mengeluarkan pedang esnya. "Baiklah, mari kita tunjukkan pada mereka apa yang bisa kita lakukan."
Lira juga segera mengeluarkan pedang esnya, dan dia bisa merasakan kekuatan es dan cahaya emas di dalam dirinya mulai berkumpul, siap untuk digunakan. "Saya siap, Yang Mulia. Mari kita bertarung."
Tiba-tiba, salah satu Shadow Warriors itu berteriak, dan semua Shadow Warriors lainnya segera menyerang Kaelen dan Lira dengan ganas. Pertarungan pun dimulai.
Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Kaelen mengayunkan pedang esnya dengan cepat dan kuat, memotong tubuh Shadow Warriors yang menghampirinya. Setiap kali pedangnya menyentuh tubuh musuh, terdengar suara desisan seperti air yang menyentuh api yang panas, dan Shadow Warriors itu hancur menjadi asap hitam. Namun, jumlah Shadow Warriors itu sangat banyak. Mereka terus datang tanpa henti, seolah-olah tidak ada habisnya.
Lira juga bertarung dengan berani. Dia menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan musuh-musuhnya, dan dia menggunakan kekuatan es dan cahaya emasnya untuk menyerang mereka. Setiap kali dia melemparkan bola energi atau mengayunkan pedangnya dengan kekuatan cahaya emas, Shadow Warriors yang terkena serangannya menjerit kesakitan dan hancur seketika. Cahaya emas itu tampaknya sangat efektif melawan makhluk-makhluk bayangan ini, yang tidak tahan dengan cahaya yang murni dan suci.
Namun, meskipun Kaelen dan Lira bertarung dengan sangat baik, mereka mulai terdesak. Shadow Warriors itu terlalu banyak, dan mereka terlalu gesit. Mereka menyerang dari segala arah, membuat Kaelen dan Lira sulit untuk melindungi diri mereka sepenuhnya.
Salah satu Shadow Warriors yang besar dan kuat melompat ke arah Lira dari belakang, mengangkat pedang energinya yang tajam untuk menyerangnya. Lira tidak menyadarinya, karena dia sedang sibuk melawan musuh-musuh di depannya.
"Lira! Di belakangmu!" teriak Kaelen, melihat bahaya yang mengancam Lira.
Kaelen segera melompat ke arah Lira, mendorongnya ke samping untuk menghindari serangan itu. Serangan Shadow Warriors itu menghantam tempat di mana Lira berdiri sebelumnya, membuat lubang yang besar di lantai batu.
"Apakah kamu baik-baik saja, Lira?" tanya Kaelen, berdiri di samping Lira dengan napas yang terengah-engah.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia," jawab Lira, merasa bersyukur karena Kaelen menyelamatkannya. "Terima kasih."
"Jangan terpisah dari saya," kata Kaelen. "Kita harus bertarung berdampingan. Jika kita terpisah, kita akan lebih mudah dikalahkan."
"Baiklah, Yang Mulia," jawab Lira.
Mereka pun berdiri berdampingan, punggung mereka saling menempel, sehingga mereka bisa melindungi satu sama lain dari serangan musuh-musuh yang datang dari segala arah. Dengan cara ini, mereka menjadi jauh lebih kuat dan lebih sulit untuk dikalahkan.
Kaelen menggunakan kekuatannya untuk menciptakan badai es yang berputar di sekitar mereka, menghantam musuh-musuh yang mendekat. Sementara itu, Lira menggunakan kekuatan cahaya emasnya untuk menciptakan sebuah perisai cahaya yang melindungi tubuh mereka dari serangan musuh-musuh. Bersama-sama, mereka membentuk sebuah pertahanan yang kuat dan tak tertembus.
Shadow Warriors itu terus menyerang, tapi mereka tidak bisa menembus pertahanan Kaelen dan Lira. Setiap kali mereka mencoba untuk mendekat, mereka terkena badai es atau terkena cahaya emas yang menyakitkan mereka.
Akhirnya, setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan, Shadow Warriors yang terakhir pun hancur menjadi asap hitam. Aula itu kembali sepi, hanya menyisakan suara napas Kaelen dan Lira yang terengah-engah dan suara angin yang berhembus melalui celah-celah benteng.
Kaelen dan Lira menurunkan senjata mereka, dan mereka saling menatap dengan senyum yang lelah namun bahagia. Mereka berhasil mengalahkan pasukan Shadow Warriors itu. Mereka berhasil melewati ujian pertama di benteng Malakar.
"Kamu hebat, Lira," kata Kaelen, tersenyum bangga sambil mengusap keringat di dahinya. "Tanpa kamu, saya tidak akan bisa mengalahkan mereka semua sendirian. Kita adalah tim yang sangat hebat."
Lira tersenyum, wajahnya memerah karena pujian Kaelen. "Anda juga hebat, Yang Mulia. Dan seperti yang Anda katakan, kita melakukannya bersama-sama."
Mereka beristirahat sejenak di tengah aula itu, memulihkan tenaga mereka dan merawat luka-luka kecil yang mereka dapatkan selama pertarungan. Meskipun mereka lelah, semangat mereka tidak menipis. Justru, mereka merasa lebih yakin dan lebih berani. Mereka telah membuktikan bahwa mereka bisa mengalahkan pasukan Malakar, dan itu memberikan mereka kepercayaan diri yang besar.
"Kita harus terus maju," kata Kaelen, setelah merasa cukup pulih. "Malakar pasti ada di suatu tempat di dalam benteng ini. Kita harus menemukannya dan mengakhiri semua ini."
Lira mengangguk dengan tegas. "Ya, Yang Mulia. Mari kita pergi."
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, berjalan melewati aula utama dan masuk ke dalam lorong-lorong yang ada di dalam benteng itu. Lorong-lorong itu gelap dan menakutkan, dengan dinding-dinding yang terbuat dari batu hitam dan obor-obor yang menyala dengan api hijau kehitaman. Mereka berjalan dengan hati-hati, tetap waspada terhadap apa pun yang mungkin mengintai mereka di dalam kegelapan.
Mereka tahu bahwa perjalanan mereka di dalam benteng ini masih panjang dan penuh dengan bahaya. Mereka tahu bahwa Malakar adalah musuh yang jauh lebih kuat dan lebih berbahaya daripada pasukan-pasukan yang sudah mereka kalahkan.