NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Hati Tidak Bisa Berbohong

Pagi itu terasa lebih hening dari biasanya.

Bukan karena Gang Mawar sepi—suara aktivitas tetap terdengar seperti hari-hari sebelumnya—namun karena sesuatu yang hilang dari rutinitas Rania.

Tidak ada suara motor.

Tidak ada suara mobil.

Tidak ada Arga.

Tidak ada Damar.

Rania berdiri di depan jendela ruang tamu, memandang ke arah jalan kecil di depan rumahnya.

Biasanya, di jam seperti ini…

Salah satu dari mereka sudah datang.

Atau bahkan keduanya.

Namun hari ini…

Tidak ada siapa pun.

Ia menarik napas pelan.

“Kenapa rasanya… aneh…” gumamnya.

Padahal ini adalah kehidupan yang dulu biasa ia jalani.

Tenang.

Sepi.

Sendiri.

Namun sekarang…

Kesunyian itu terasa berbeda.

Lebih kosong.

“Bunda…”

Rafa keluar dari kamar sambil mengucek matanya.

“Iya, Nak?”

“Arga belum datang?”

Pertanyaan itu langsung menusuk hati Rania.

Ia mencoba tersenyum.

“Mungkin dia sibuk.”

“Kalau Om Damar?”

Rania terdiam sejenak.

“Juga.”

Rafa terlihat sedikit kecewa.

“Oh…”

Rania mengusap kepala anaknya.

“Mereka tidak bisa datang setiap hari, kan?”

Rafa mengangguk pelan.

Namun wajahnya masih terlihat murung.

Melihat itu, hati Rania terasa perih.

Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri sekarang.

Tapi juga Rafa.

Setelah Rafa berangkat sekolah, Rania kembali duduk di ruang tamu.

Rumah itu terasa terlalu sunyi.

Ia mencoba menyibukkan diri.

Menyapu.

Mencuci.

Memasak.

Namun tidak ada satu pun yang bisa benar-benar mengalihkan pikirannya.

Setiap sudut rumah itu…

Mengingatkannya pada mereka.

Kursi tempat Arga sering duduk sambil bercanda.

Pagar tempat Damar biasa bersandar dengan tenang.

Semua terasa begitu dekat.

Dan sekarang…

Begitu jauh.

Rania duduk di sofa dan menatap kosong ke depan.

“Kenapa aku jadi seperti ini…” bisiknya pelan.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Hatinya terasa berat.

Sangat berat.

Siang hari, seorang tetangga datang.

“Rania, kamu tidak kedatangan tamu hari ini?”

Rania sedikit terkejut.

“Tidak.”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Biasanya kan selalu ramai.”

Rania hanya tersenyum tipis.

“Tidak selalu.”

Tetangga itu mengangguk.

“Ya juga sih. Mereka pasti punya kesibukan.”

Setelah itu, ia pergi.

Namun kata-katanya terus terngiang di kepala Rania.

Tidak selalu.

Benar.

Tidak selalu.

Dan mungkin…

Memang tidak seharusnya selalu.

Sore hari, Rania duduk di teras sambil menunggu Rafa pulang sekolah.

Angin sore berhembus pelan.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga.

Biasanya, di waktu seperti ini…

Arga akan bermain dengan Rafa.

Atau Damar berdiri di dekat pagar.

Namun hari ini…

Kosong.

Beberapa menit kemudian, Rafa datang.

“Bunda!”

Rania tersenyum dan membuka tangan.

Rafa langsung memeluknya.

Namun setelah itu ia langsung bertanya.

“Mereka belum datang?”

Rania menggeleng.

“Belum.”

Rafa terlihat sedih.

“Rafa kangen…”

Kalimat itu membuat hati Rania terasa sesak.

Ia memeluk anaknya lebih erat.

“Iya…”

Karena ternyata…

Bukan hanya Rafa yang merasa seperti itu.

Malam hari, rumah itu kembali sunyi.

Setelah Rafa tertidur, Rania duduk sendirian di teras.

Lampu kecil menerangi wajahnya yang terlihat lelah.

Hari ini terasa sangat panjang.

Dan sangat sepi.

Ia menatap jalan di depan rumah.

Berharap…

Mungkin salah satu dari mereka akan datang.

Namun waktu terus berjalan.

Dan tidak ada siapa pun.

Rania menunduk.

Air mata perlahan jatuh tanpa ia sadari.

“Aku… merindukan mereka…” bisiknya.

Kalimat itu akhirnya keluar.

Jujur.

Tanpa penyangkalan.

Untuk pertama kalinya…

Rania mengakui perasaannya sendiri.

Ia tidak hanya terbiasa dengan kehadiran mereka.

Ia tidak hanya merasa nyaman.

Ia benar-benar…

Merindukan mereka.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di depan rumah.

Rania langsung mengangkat kepala.

Jantungnya berdetak cepat.

Siluet seseorang terlihat di bawah cahaya lampu jalan.

Dan kemudian…

“Maaf aku terlambat.”

Suara itu.

Arga.

Rania langsung berdiri.

“Kamu…”

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara lain terdengar dari arah berbeda.

“Aku juga.”

Damar.

Keduanya berdiri di depan rumah.

Seperti biasa.

Namun kali ini…

Suasana terasa berbeda.

Tidak ada canda.

Tidak ada santai.

Hanya keseriusan.

Arga melangkah sedikit lebih dekat.

“Aku sengaja tidak datang hari ini.”

Rania terkejut.

“Kenapa?”

Arga menatapnya dalam.

“Aku ingin tahu… apakah kamu akan mencariku.”

Jantung Rania berdegup kencang.

Damar juga berkata pelan.

“Aku juga.”

Rania menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca.

“Kalian…”

Suaranya sedikit bergetar.

“Aku…”

Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya.

“Aku merindukan kalian…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Jujur.

Tanpa ditahan.

Arga tersenyum pelan.

Damar menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya…

Tidak ada yang disembunyikan lagi.

Malam itu, di bawah langit yang gelap…

Rania akhirnya menyadari satu hal yang tidak bisa ia hindari lagi.

Hatinya…

Sudah benar-benar terlibat.

Bukan sekadar goyah.

Bukan sekadar bingung.

Tapi sudah memilih untuk merasakan.

Namun masalahnya…

Ia tidak hanya merasakan untuk satu orang.

Dan itulah yang membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Karena ketika hati tidak bisa berbohong…

Keputusan yang harus diambil akan terasa jauh lebih menyakitkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!