NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anyaman yang Terkoyak

"Gak mungkin... Kakak mati lima belas tahun lalu... dalam tragedi itu..." suara Kiara bergetar, jiwanya seolah ditarik kembali ke malam kelam yang ingin ia lupakan.

Sosok yang menyerupai Ken itu tersenyum, namun sudut bibirnya robek, mengeluarkan benang-benang merah yang mulai menganyam udara secara gila-gilaan. "Aku... bukan kakakmu. Aku adalah Penenun... yang mengambil sisa jiwanya untuk menjadi wadah."

"CUKUP! JANGAN PERMAINKAN AKU!" teriak Kiara.

Amarahnya memicu api biru yang kini membentuk bilah tajam di tangannya. Dengan satu gerakan pasti, ia memotong jalinan benang merah yang melilit udara. Cring! Dunia sejenak hening dan gelap. Saat cahaya kembali, sosok Ken terjatuh ke lantai. Tak ada lagi asap hitam, tak ada lagi kehidupan.

Reyhan yang baru saja tersadar segera memeriksa denyut nadinya. "Dia... benar-benar sudah pergi, Ra."

Takdir yang Tersembunyi

Di bawah temaram lampu gudang yang berkedip, Kiara menatap Reyhan. Ia melihat sesuatu yang berbeda di tangan pria itu. Kenapa Reyhan pingsan hanya karena menyentuh darah hitam itu? batinnya. Di mata Kiara, ada aura aneh yang menyelimuti Reyhan—sesuatu yang tampak seperti 'penghapus' takdir, namun masih terbungkus rapat.

"Rey... ada sesuatu yang berbeda darimu," bisik Kiara saat Reyhan mendekat.

"Apa maksudmu?" tanya Reyhan curiga, sambil menyeka noda hitam yang masih membekas di telapak tangannya.

Sebelum Kiara menjawab, raungan sirene memecah malam. Polisi mengepung gudang. Reyhan segera menunjukkan ID kepolisiannya, mengambil alih situasi. Namun, fokus Kiara teralihkan oleh sesuatu di luar jendela.

Jejak di Distrik Lama

"Rey, ini belum selesai," bisik Kiara tajam. "Aku melihat benang merah lain. Masih segar... dan baunya lebih amis dari ini."

Tanpa memedulikan prosedur interogasi, mereka bergerak menuju Distrik Lama—wilayah kumuh penuh bangunan tua yang menjadi saksi bisu banyak kasus lama si Penenun. Di sana, di sebuah gang sempit yang hanya diterangi lampu jalan yang sekarat, garis polisi sudah terpasang.

Sesosok mayat wanita ditemukan dengan posisi mengerikan; benang merah melilit lehernya hingga hampir putus, menyambung ke sebuah simbol di dinding.

"Darah kental... ini baru saja terjadi," ucap Kiara sambil menunjuk simbol anyaman benang di dinding yang seolah-olah sedang mengawasi mereka.

Reyhan mengamati simbol itu dengan rahang mengeras. "Ini bukan sekadar pembunuhan. Ini adalah undangan."

Kiara melangkah mendekat. Jemarinya bergetar saat ia mengarahkan senter ke arah simbol anyaman benang yang terlukis dengan darah hitam yang masih basah. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desis halus—seperti ribuan jarum yang sedang menusuk kain dengan cepat. Srek... srek... srek...

"Rey..." suara Kiara tercekat.

Di bawah cahaya senter yang berkedip, simbol di dinding itu seolah-olah hidup. Benang-benang merah yang terlukis di sana mulai merambat keluar dari pori-pori tembok, menjalar di atas lantai kayu yang lapuk menuju kaki mereka berdua.

"Darah ini... bukan berasal dari mayat wanita itu," bisik Kiara dengan mata membelalak horor. Ia melihat benang merah di leher korban mendadak berdenyut, memompa cairan hitam langsung ke arah simbol di dinding. "Ini adalah jantung dari anyamannya. Dia sedang menghisap kita masuk, Rey!"

Reyhan segera menarik senjatanya, namun tangannya yang tadi terkena darah hitam mendadak berdenyut panas luar biasa. Sebuah garis putih tipis mulai muncul di permukaan kulitnya, bersinar redup seolah menolak kegelapan yang mendekat.

"Argh!" Reyhan mengerang, menjatuhkan senjatanya.

Dari kegelapan di sudut ruangan, sebuah suara tawa yang sangat halus dan melengking terdengar. Bukan dari mulut manusia, melainkan suara yang muncul dari gesekan benang-benang gaib. "Benang... takdir... tidak bisa... lari..."

Kiara menatap ke arah bayangan di balik mayat. Di sana, ribuan benang merah menggantung dari langit-langit, membentuk tirai darah yang mulai menutup jalan keluar mereka. Pintu distrik lama telah terkunci.

"Rey, jangan pingsan sekarang!" teriak Kiara, api biru di matanya menyambar hebat, membakar udara yang semakin bau amis. "Karena kalau kamu tumbang, takdir kita berdua akan selesai di sini!"

Lampu jalan di luar distrik lama tiba-tiba pecah secara bersamaan. Kegelapan total menelan mereka, menyisakan hanya kilatan api biru Kiara dan denyut putih di tangan Reyhan yang kian menyakitkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!