"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pulau Manjalika telah menjadi dunia yang mengerut bagi Kirana. Seminggu berlalu sejak ia dibawa paksa ke pulau ini, dan setiap detiknya terasa seperti tetesan air yang perlahan melubangi batu karang jiwanya. Arka memperlakukannya bukan seperti tawanan, melainkan seperti permaisuri dalam sebuah kerajaan yang hilang.
Setiap pagi, di atas meja rias marmernya, selalu ada kotak beludru baru, kalung berlian, anting zamrud, hingga gelang emas murni yang nilainya cukup untuk membeli kembali separuh saham Nirmala yang hilang. Namun bagi Kirana, benda-benda itu tak lebih dari rantai yang berkilau.
Arka tidak pernah lagi membahas tentang pengkhianatan di ruang rapat. Ia tidak pernah menyebut nama Roy, tidak pernah membahas rekaman pembunuhan ayahnya, dan sama sekali tidak menyentuh urusan bisnis. Seolah-olah dunia luar telah lenyap dan yang tersisa hanyalah mereka berdua di tengah samudera.
Malam itu, meja makan di balkon vila telah disulap menjadi panggung romansa yang megah. Cahaya lilin menari-nari di atas piring perak berisi lobster thermidor dan vintage champagne. Arka duduk di hadapannya, mengenakan kemeja linen putih yang santai, namun matanya tetaplah mata seorang predator yang waspada.
"Makanlah, Ra," ujar Arka lembut. Suaranya rendah, berusaha menembus tembok keheningan yang dibangun Kirana. Ia menyodorkan sesendok kecil makanan ke arah bibir Kirana.
Kirana tidak bergerak. Ia tidak menoleh, tidak pula menghindar. Ia hanya duduk mematung, menatap kosong ke arah kegelapan laut lepas yang ombaknya menghantam tebing di bawah mereka. Sejak tiga hari lalu, Kirana berhenti bicara. Air matanya sudah kering, digantikan oleh kekosongan yang jauh lebih menakutkan daripada amarah.
Arka perlahan menurunkan sendoknya. Ia merasakan kepanikan yang mulai merayap di balik dada bidangnya. Ia menyadari satu hal yang fatal, dengan merampas Nirmala Capital, ia tidak hanya merampas harta Kirana, ia telah merampas alasan wanita itu untuk bernapas. Bagi Kirana, Nirmala adalah sisa kehormatan ayahnya yang terakhir. Tanpa itu, ia hanyalah raga tanpa nyawa.
Melihat Kirana yang semakin layu, Arka berdiri. Ia tidak memaksa Kirana makan. Sebaliknya, ia melingkarkan tangannya di bawah lutut dan punggung Kirana, mengangkat tubuh kurus itu dengan mudah. Kirana tidak melawan, ia terkulai lemas seperti boneka kain di pelukan Arka.
Arka membawanya ke taman atap, di mana terdapat kolam air panas yang menghadap langsung ke arah bintang. Tiba-tiba, Arka menekan sebuah tombol di panel dinding. Gemericik air mulai jatuh dari langit-langit sistem irigasi, menciptakan hujan buatan yang lembut dan hangat di tengah malam yang sunyi.
Arka duduk di tepi kolam, masih mendekap Kirana. Air hangat membasahi pakaian mereka berdua, menempelkan kain tipis ke kulit.
"Dulu kau pernah bilang, kau paling suka bau hujan karena itu satu-satunya saat di mana kau merasa bisa menangis tanpa ada yang tahu," bisik Arka di telinga Kirana. Ia mengambil sepotong es batu dari gelas minuman di dekatnya, lalu dengan gerakan perlahan yang sangat dingin namun intim, ia mengusapkan es itu ke sepanjang garis rahang Kirana yang tegang.
Sensasi dingin yang kontras dengan air hangat membuat Kirana sedikit tersentak. Pupil matanya bergetar. Arka terus mengusapkan es itu ke leher, lalu ke nadi pergelangan tangan Kirana. Ini adalah permainan sensorik yang brutal sekaligus romantis, sebuah upaya Arka untuk memaksa saraf Kirana kembali merasakan sesuatu, apa pun itu, selain kesedihan.
"Bicaralah padaku, Kirana. Maki aku, tampar aku, atau bunuh aku jika itu bisa membuat matamu kembali hidup," rintih Arka. Ia menempelkan dahinya ke dahi Kirana, membiarkan aliran air hujan buatan itu menyatukan mereka. "Jangan menjadi mayat di depanku. Aku tidak menculikmu untuk melihatmu mati perlahan."
Setelah terapi air yang menyesakkan itu, Arka membawa Kirana kembali ke dalam. Namun, ia tidak membawanya ke kamar tidur. Arka menekan kode rahasia di balik rak buku di ruang kerjanya. Sebuah lift kecil terbuka, membawa mereka turun ke lantai basement yang tidak pernah diketahui Kirana sebelumnya.
Saat pintu lift terbuka, Kirana tertegun. Kekosongan di matanya sedikit memudar, digantikan oleh keterkejutan yang nyata.
Ruangan bawah tanah itu bukan penjara. Itu adalah sebuah arsip raksasa. Di dinding-dindingnya, terdapat ratusan bingkai foto. Kirana melangkah turun dari pelukan Arka, kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang hangat.
Ia mendekat ke salah satu bingkai. Itu adalah foto masa kecilnya, saat ia berusia lima tahun, sedang duduk di pangkuan ibunya. Namun yang membuatnya gemetar adalah sosok pria yang berdiri di samping ayahnya dalam foto itu. Itu adalah Surya Mahendra, ayah Arka. Mereka berdua sedang tersenyum, memegang piala golf.
"Mereka dulu adalah sahabat terbaik, Ra," suara Arka terdengar dari belakang, memberikan jarak agar Kirana bisa menjelajah. "Ruangan ini adalah alasan kenapa aku begitu terobsesi padamu sejak awal. Ayahku meninggalkan surat sebelum dia meninggal. Dia tidak membunuh ayahmu karena bisnis. Dia melakukannya karena terpaksa oleh seseorang yang jauh lebih berkuasa di atas mereka berdua."
Kirana menyentuh kaca bingkai itu. Di sudut ruangan, ada sebuah proyektor tua yang menyala otomatis. Gambar bergerak mulai muncul di dinding, sebuah rekaman video ulang tahun Kirana yang ke-tujuh. Di video itu, Arka kecil (yang tampak berusia sekitar 12 tahun) terlihat sedang memberikan sebuah kado kecil kepada Kirana kecil yang sedang tertawa.
Kirana menutup mulutnya. Ia tidak ingat kejadian itu. Memorinya seolah sengaja menghapus keberadaan Arka di masa kecilnya.
"Kau adalah satu-satunya janji yang belum sempat Ayah tepati," Arka mendekat, berdiri di bawah cahaya proyektor yang membuat bayangannya jatuh menimpa video masa lalu mereka. "Dia ingin aku menjagamu. Tapi jalanku salah. Aku terlalu sombong dengan berpikir bahwa dengan menguasai Nirmala, aku bisa menjagamu di bawah ketiakku."
Di tengah momen emosional itu, ponsel kecil yang disembunyikan Kirana di balik lipatan pakaiannya bergetar di saku jubah mandinya. Arka, dengan insting serigalanya, menyadari gerakan kecil di saku Kirana.
Arka tidak langsung merampasnya. Ia hanya menatap saku itu, lalu kembali menatap mata Kirana yang kini mulai berkaca-kaca. Ketegangan psikologis di antara mereka mencapai puncaknya. Jika Arka mengambil ponsel itu, sisa kepercayaan Kirana akan hancur. Jika ia membiarkannya, Kirana mungkin akan lari menuju bahu Roy yang penuh jebakan.
"Dion memberi tahu aku ada tikus di pulau ini," ujar Arka tenang, suaranya mengandung ancaman yang dingin. Ia melangkah maju, memerangkap Kirana di antara tubuhnya dan dinding yang menampilkan video masa kecil mereka. "Jika kau ingin lari, lari padaku, Kirana. Jangan lari pada orang yang mengirim rekaman suara itu padamu. Karena orang yang mengirim rekaman itu... adalah orang yang sama yang menarik pelatuk di malam ayahmu tewas."
Kirana tersentak. "Apa?"
"Roy tidak menemukan rekaman itu, Ra. Dia hanya boneka. Rekaman itu dikirim oleh paman kandungku, Baskara, untuk membuatmu membenciku dan lari ke pelukannya. Dia ingin 'mahakaryanya' kembali," Arka mencengkeram bahu Kirana, wajahnya hanya berjarak satu inci. "Ponsel di sakumu itu... itu adalah alat pelacak. Jika kau menyalakannya, pulau ini akan dihujani peluru dalam sepuluh menit."
Kirana mematung. Jemarinya yang tadi hendak meraih ponsel di saku kini membeku. Ia menatap Arka, mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah ketakutan yang tulus akan keselamatan nyawanya.
Arka perlahan merogoh saku Kirana, mengambil ponsel kecil itu, lalu menghancurkannya dengan tangan kosong hingga remuk berkeping-keping.
"Jangan pernah mencoba lari dariku, Kirana. Karena di dunia yang penuh serigala ini, hanya serigala yang paling mencintaimu yang bisa mencegahmu menjadi santapan," bisik Arka.
Arka kemudian menarik Kirana masuk ke dalam pelukan yang sangat posesif di tengah ruangan rahasia itu. Di bawah sorotan video masa kecil mereka yang terus berputar, mereka berdiri diam, dua jiwa yang terikat oleh dosa masa lalu, terjebak dalam sangkar emas yang kini terasa semakin sempit karena kebenaran yang mulai terungkap.
...----------------...
Next Episode....