Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 – Melodi yang Terlalu Rapi
Musim dingin datang tanpa suara peringatan.
Ia tidak mengetuk jendela atau mengirim angin yang meraung. Ia tidak berisik, tidak menuntut perhatian. Ia hanya hadir, pelan dan pasti, menyusup ke sela-sela jaket yang mulai terasa tipis, ke napas yang memendek setiap kali dihela terlalu dalam, ke nada-nada latihan yang terdengar lebih kaku dari biasanya.
Studio musik kampus Aozora tetap hangat. Lampu-lampu putih menggantung rendah, peredam suara menutup rapat dinding-dindingnya, membuat dunia luar terasa jauh. Namun ada sesuatu yang tidak bisa dihangatkan oleh lampu atau ruangan tertutup. Perasaan.
Airi berdiri di depan mikrofon, kedua tangannya menggenggam stand dengan erat. Jemarinya putih, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, tubuhnya akan kehilangan penopang. Lagu yang mereka latih hari itu bukan lagu baru. Bahkan sudah terlalu sering mereka mainkan. Setiap nada seharusnya sudah akrab, setiap jeda seharusnya terasa alami.
Namun hari ini, setiap nada terasa seperti berjalan di atas garis tipis yang digambar ulang. Garis yang rapi, lurus, tapi tidak memberinya ruang untuk melangkah terlalu jauh.
“Tarik napas di sini.”
Suara Takahashi masuk lewat speaker kecil di sudut ruangan. Tenang. Jelas. Terlalu jelas. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda seolah ia sudah tahu persis apa yang harus dilakukan Airi bahkan sebelum Airi sendiri menyadarinya.
“Jangan terburu-buru masuk ke reff. Biarkan emosinya tumbuh. Ingat, Airi, pendengar perlu dituntun.”
Airi mengangguk tanpa berpikir panjang.
Ia selalu mengangguk akhir-akhir ini.
Sejak Takahashi kembali hadir lebih sering dalam proses latihan mereka, sejak ia menawarkan diri menjadi pembimbing yang “lebih terlibat”, Airi merasa seperti murid yang akhirnya menemukan pegangan. Ada rasa aman dalam instruksi yang pasti. Dalam kalimat-kalimat yang terdengar seolah ditujukan hanya untuknya, seolah Takahashi adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami potensi suaranya.
Ia menyanyi lagi.
Suaranya indah. Bersih. Hampir sempurna.
Dan justru di situlah masalahnya.
Mei berdiri di depan keyboard, jemarinya diam menggantung di atas tuts. Layar kecil di depannya masih menyala, menampilkan pengaturan suara yang belum berubah sejak beberapa menit lalu. Ia tidak menekan apa pun. Matanya tertuju pada Airi, lalu perlahan bergeser ke arah Takahashi yang berdiri bersandar di dinding kaca ruang kontrol.
Ia tidak terlihat seperti dosen yang sekadar mengamati latihan mahasiswa.
Lebih seperti konduktor yang mengatur orkestra dari balik tirai, memastikan setiap instrumen patuh pada arahannya.
“Stop,” kata Takahashi lagi. “Bagus. Tapi ulangi bagian kedua. Lebih lembut. Kurangi vibrato. Jangan terlalu jujur di sana.”
Mei mengernyit tanpa sadar.
Ia bukan vokalis. Tapi ia mengenal musik. Dan lebih dari itu, ia mengenal Airi.
Sejak awal band ini terbentuk, suara Airi selalu punya satu ciri yang tidak pernah bisa diajarkan di ruang kelas atau buku teori: kejujuran yang bocor tanpa izin. Kadang suaranya sedikit pecah, kadang terlalu emosional, kadang melenceng dari teknik yang sempurna. Tapi selalu hidup. Selalu terasa seperti seseorang yang benar-benar sedang bernapas di balik nada-nada itu.
Sekarang, suara itu terdengar… disisir.
Rapi. Halus. Tidak ada yang salah. Tapi juga tidak ada yang tersisa.
“Airi,” Mei akhirnya bicara, suaranya pelan tapi cukup untuk memotong udara di ruangan itu. “Kamu enggak capek?”
Airi menoleh, sedikit tersentak, seolah baru sadar dirinya dipanggil. “Enggak kok.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu otomatis.
Takahashi tersenyum tipis. Senyum yang tenang, penuh pengertian. “Dia baik-baik saja, Mei. Kadang penyanyi perlu diarahkan agar tidak tenggelam dalam perasaannya sendiri.”
Kata diarahkan itu jatuh dengan lembut, hampir seperti pujian.
Namun di telinga Mei, kata itu berbunyi seperti not yang fals.
Ia menoleh ke Ren yang terdiam dengan gitar di depan, tatapannya kosong menatap senar. Ke Haruto yang masih memegang gitar bassnya, bahunya sedikit tegang. Keduanya diam. Yukito di balik drum hanya memutar stiknya perlahan, rahangnya mengeras, tapi tidak mengeluarkan suara.
Ada kesepakatan sunyi di antara mereka berlima.
Sesuatu sedang tidak beres.
Latihan berlanjut. Semakin rapi. Semakin terkendali. Setiap kali Airi sedikit keluar jalur, Takahashi segera masuk dengan koreksi. Nada ditahan. Tempo disesuaikan. Emosi dipoles hingga tidak lagi tajam.
Sampai akhirnya lagu selesai tanpa cela.
Terlalu tanpa cela.
“Bagus,” kata Takahashi. “Ini versi terbaik yang pernah kalian mainkan.”
Yang aneh, tidak ada yang tersenyum.
Setelah latihan dibubarkan, Airi duduk di lantai studio, punggungnya bersandar pada dinding. Jaketnya masih terpakai, seolah ia belum siap benar-benar kembali ke dunia luar. Napasnya pelan, seperti seseorang yang habis berlari jauh, padahal tubuhnya hampir tidak bergerak.
Takahashi menghampirinya, lalu berjongkok agar sejajar dengan pandangannya.
“Kamu berkembang pesat,” katanya lembut. “Aku bangga.”
Kata-kata itu seperti selimut.
Airi mengangguk. Matanya sedikit berkaca. Ia tidak sadar bahwa setiap kali Takahashi mengatakan hal seperti itu, dadanya menghangat sekaligus menyempit. Ada rasa ingin dipercaya. Ada rasa ingin dianggap benar. Ada bagian dari dirinya yang haus akan pengakuan itu.
“Aku cuma ingin kamu tidak menyakiti dirimu sendiri lewat musik,” lanjut Takahashi. “Kamu terlalu sering memberi segalanya. Kadang, menahan diri itu lebih dewasa.”
Mei yang masih membereskan kabel mendengar kalimat itu dengan jelas. Tangannya berhenti bergerak.
Menahan diri.
Dewasa.
Kata-kata itu bukan sekadar nasihat. Ia terdengar seperti aturan hidup yang diselipkan pelan-pelan, tanpa pernah meminta persetujuan.
Di luar studio, angin musim dingin menyapu halaman kampus. Lampu-lampu menyala lebih cepat dari biasanya, menandai sore yang jatuh terlalu cepat. Mei berjalan berdampingan dengan Hinami menuju mesin minuman otomatis, meninggalkan yang lain di belakang.
“Kamu ngerasa enggak?” tanya Mei tiba-tiba, memecah langkah mereka yang sunyi.
Hinami mengangkat alis. “Ngerasa apa?”
“Sensei Takahashi.” Mei menekan tombol minuman kaleng. “Cara dia ngomong ke Airi.”
Hinami diam sejenak, memperhatikan kaleng yang jatuh ke tempat pengambilan. “Aku kira dia cuma serius.”
“Serius itu beda sama mengatur,” jawab Mei pelan. “Dia enggak cuma ngarahin lagu. Dia ngarahin perasaan.”
Hinami memegang kaleng hangat di tangannya, berpikir. “Kamu mikir terlalu jauh enggak, Mei?”
Mei menggeleng perlahan. “Justru aku takut mikir terlalu dekat. Semuanya terasa… terlalu rapi. Seperti lagu yang kehilangan napas.”
Malam itu, Airi pulang bersama Ren.
Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang mulai sepi. Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di aspal basah sisa hujan siang tadi. Airi melangkah, tapi pikirannya tertinggal jauh di belakang. Tatapannya kosong.
Ren melirik ke arahnya. Ia sudah mengenal Airi cukup lama untuk tahu ketika ada sesuatu yang tidak ia ucapkan.
“Hei, Airi,” katanya pelan. “Kamu enggak apa-apa?”
Airi sedikit tersentak, seolah baru kembali ke tubuhnya sendiri. “Ah… aku enggak apa-apa, Ren. Cuma sedikit lelah.”
Ren tidak langsung percaya. “Kamu enggak seperti biasanya,” lanjutnya. “Sekarang kamu lebih sering bengong, hilang fokus. Kalau ada apa-apa, bilang sama aku.”
Airi hanya mengangguk.
Kebiasaan itu terulang lagi.
Ia tidak sadar bahwa sedikit demi sedikit, ia berhenti bertanya pada dirinya sendiri apa yang ia inginkan. Ia mulai bertanya, apa yang diharapkan darinya.
Di kamarnya, Airi duduk di tepi ranjang. Cermin kecil di depannya memantulkan wajah yang tampak sama seperti biasanya. Rambutnya masih terikat rapi. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.
Namun ada sesuatu di matanya.
Lebih tenang, mungkin. Atau lebih kosong.
Sementara itu, di tempat lain, Mei membuka laptopnya. Ia memutar rekaman latihan hari itu. Mendengarkan ulang suara Airi. Nada demi nada. Ia memejamkan mata, membiarkan suaranya memenuhi ruangan kecil itu.
“Ini bukan dia,” gumamnya.
Musim dingin terus berjalan.
Dan tanpa disadari Airi, ada orang-orang di sekitarnya yang mulai mengencangkan genggaman, bersiap menariknya keluar sebelum melodi yang terlalu rapi itu benar-benar menghapus suara aslinya.