Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Tidak bisa!" Ratna mendelik gusar mendengar penuturan mbah Ambar bahwa Dini mencintai Aksa. Dia tidak akan membiarkan Dini berhubungan dengan anak pria hidung belang yang sudah menyengsarakan keluarganya.
"Hahaha..." mbah Ambar justru tertawa menatap reaksi spontan Ratna yang meluapkan emosi.
"Kenapa tertawa, Bu? Jangan-jangan Ibu mendukung Dini" Ratna melirik mbah Ambar curiga.
"Sekarang tahu kan Ratna, bagaimana rasanya anak yang kamu besarkan berhubungan dengan pria yang tidak sesuai dengan pilihan kita," Mbah Ambar lagi-lagi membalikkan kisah masa lalu Ratna.
"Jelas beda bu" Ratna dulu menerima Ringgo karena awalnya pria yang menjadi suaminya itu baik. Tetapi keburukan Burhan itu sudah jelas-jelas nyata.
"Tapi Aksa bukan Burhan, Ratna..." mbah Ambar yakin jika Aksa anak baik.
"Jadi benar Ibu mendukung kisah cinta mereka?" Ratna kecewa dengan ibunya sendiri.
"Awalnya Ibu juga sependapat dengan kamu Ratna" mbah Ambar menjelaskan. Sejak awal ia memang tidak setuju jika Dini berhubungan dengan Aksa, tapi melihat ketulusan hati Aksa, mbah Ambar tidak ada alasan untuk melarang.
"Saya tetap tidak sependapat dengan Ibu" Ratna meyakini bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Itu yang tidak Ibu suka dari kamu, Ratna" mbah Ambar jengkel, Ratna sebenarnya baik tapi selalu keras kepala. Jika kata hatinya mengatakan tidak, maka tidak akan pernah lagi mendengar nasehat orang lain termasuk ibu kandungnya sendiri.
"Tolong mengertilah Bu, bantu aku untuk menjauhkan Dini dari anak pria yang kemaruk istri itu," Ratna kali ini berbicara dengan kata lembut.
"Sekarang Ibu tidak mau ikut campur Ratna, jika kamu bisa melarang anak kamu, silakan saja" Mbah berpaling dari Ratna, menatap ke arah daun pintu kamar Dini.
Ratna mendengus meninggalkan ruang tamu ke kamar Dini. Ia ketuk pintu kamar, beberapa detik kemudian Dini pun muncul. Ratna terpaku di luar pintu menatap wajah putrinya yang masih merah khas sedang menangis.
"Ibu..." Dini seketika merangkul ibunya, mengobati rasa rindu yang sudah setahun setengah tidak bertemu.
"Anak gadis Ibu kenapa? Kok sedih gitu..." Ratna merenggangkan pelukan menatap wajah putrinya yang sedang tidak baik-baik saja rasa kesalnya pun hilang.
Dini menggeleng, lalu mengait tangan Ratna ke dalam kamar. Anak dan ibu itu saling melepas kangen tanya kabar ini itu, tapi tidak saling jujur jika keduanya sama-sama bersedih karena pria. Satu jam sudah mereka ngobrol, jangankan menyinggung hubungan Dini dengan Aksa, mengorek cerita apa penyebab Dini menangis pun Ratna tidak sanggup.
"Bagaimana kalau kita sekarang jalan-jalan saja sayang..." Ratna bermaksud menghibur Dini, dan juga mencari kesempatan untuk berbicara masalah hubungan Dini dengan Aksa.
"Kemana Bu?" Dini tentu menerima tawaran Ratna, dengan jalan-jalan mungkin hatinya terhibur dan melupakan masalahnya dengan Aksa.
"Kemana pun yang kamu mau," Ratna siap menemani Dini, dengan catatan bukan ke kota yang kemungkinan besar bertemu dengan dua pria yang seharusnya mereka hindari.
"Aku mau renang ke pantai Bu..." Dini memutuskan.
"Oke..."
**************
Pagi harinya Dini ke sekolah diantar Ratna dengan mobilnya. Walau sejak kemarin siang Ratna selalu bersama Dini bahkan tidur berdua, tapi belum menyinggung hubungan putrinya dengan Aksa. Ia tidak mau merusak momen kebersamaan yang jarang mereka rasakan. Ratna masih punya waktu beberapa hari di desa, mencari waktu yang tepat untuk bicara.
"Aku turun ya, Bu..." Dini mencium punggung tangan Ratna ketika tiba di halaman sekolah.
"Iya sayang... jangan banyak pikiran, belajar yang rajin" pesan Ratna mencium pipi putrinya lembut.
"Dini... waah... kamu di antar mobil?" Lestari segera berlari mendekati Dini yang masih berbicara dengan Ratna.
"Eh, Tari. Kenalkan, ini ibu aku" Dini mengenalkan Ratna.
"Tante..." Lestari pun salim tangan Ratna.
"Kamu Lestari kan, Dini sering cerita tentang kamu loh" Ratna tersenyum, belum berkenalan pun Ratna sudah paham jika nama gadis itu bernama Lestari.
"Pasti Dini cerita kalau saya selalu membonceng motornya ya Tan" Lestari menoleh Dini di sebelahnya.
"Oh, tidak, kalau gitu saya pulang duluan ya" Ratna pamit lalu masuk ke dalam mobil. Menjalankan roda empat di jalanan sempit itu dengan hati-hati.
Di koridor sekolah, banyak mata membelalak melihat Dini diantar dengan mobil.
"Waah... ternyata Dini anak orang kaya" ucap murid wanita beda kelas.
"Dari dulu kan kita tahu kalau Dini itu anak orang kaya" teman satu lagi sudah bisa menilai, walau Dini sederhana tapi dari wajahnya menunjukkan bahwa dia orang kaya.
"Iya sih, tapi aku kira tidak sekaya itu,"
"Pada lihat apa sih?" Tanya Marini yang baru saja tiba, mendengar perdebatan lalu berhenti.
"Lihat tuh, mobil yang sudah jalan itu milik ibunya Dini. Ternyata tajir anak itu" teman sekelas Marini menunjuk kendaraan yang sudah menjauh.
"Biar saja" Marini tidak mau membahas kekayaan Dini lagi. Ia banyak belajar dari Dini, sekarang ini ia hidup pas-pasan tapi rencana Tuhan ke depan tidak ada yang tahu. Yang penting terus berdoa dan bekerja seperti yang pernah Dini ajarkan kepadanya.
"Syukurlah kalau kamu sekarang sadar Mar" pungkas teman-teman kemudian membubarkan diri.
Sementara itu Dini dan Lestari masuk kelas meletakkan buku.
"Aku ke toilet dulu ya, Ri," Dini pun keluar kelas setelah dijawab Lestari. Dia ingin buang air kecil yang sudah ditahan sejak dalam perjalanan.
Begitu selesai Dini segera keluar dari toilet, di tempat itu sudah sepi karena waktu masuk kelas tinggal beberapa menit lagi. Dia melangkah dengan wajah menunduk tapi segera menyeret kakinya mundur, karena kaget ketika sepatu pria tiba-tiba berhenti di hadapannya.
"Emmm..." pria itu berdehem.
Perlahan Dini mengangkat kepala. Tahu jika pria itu adalah Aksa, Dini belok arah melanjutkan perjalanan.
"Tunggu Dini..."
Dini melirik tangan Aksa yang menahan lengannya hingga beberapa detik kemudian, ia lantas menarik cepat tanpa berkata-kata hendak melangkah pergi.
"Sebentar Dini, aku akan jelaskan" ucap Aksa berjalan mendahului lalu berhenti di depan Dini.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Pak. Permisi, saya mau lewat, sebentar lagi masuk," kata Dini memang benar tapi raut wajahnya tidak teduh seperti sebelumnya.
"Sebentar, hanya lima menit" Aksa menunjukkan lima jari.
Dini tidak tertarik justru hendak lewat sebelah kiri Aksa, tapi Aksa bergerak ke arah yang sama lebih cepat menghalangi Dini. Dini tidak menyerah hendak lewat sebelah kanan Aksa, lagi-lagi Aksa ikut ke kanan. Dua orang itu akhirnya ke kanan ke kiri seperti anak kecil.
"Aaagghhh... Pak Aksa!" Dini berteriak tertahan di tenggorokan sembari menghentakkan sepatutnya ke lantai dengan wajah ingin menangis.
Aksa justru terkekeh menatap wajah Dini yang putih kemerahan itu gemas.
Dengan wajah cemberut Dini pun akhirnya berhenti.
"Dini... aku..."
Kriiing... kriiing... kriiing...
...~Bersambung~...