"Di bawah lampu panggung, mereka adalah bintang. Di bawah cahaya bulan, mereka adalah pemburu."
Seoul, 2025. Industri K-Pop telah berubah menjadi lebih dari sekadar hiburan. Di balik gemerlap konser megah yang memenuhi stadion, sebuah dimensi kegelapan bernama The Void mulai merayap keluar, mengincar energi dari jutaan mimpi manusia.
Wonyoung (IVE), yang dikenal dunia sebagai Nation’s It-Girl, menyimpan beban berat di pundaknya. Sebagai pewaris klan Star Enchanter, setiap senyum dan gerakannya di atas panggung adalah segel sihir untuk melindungi penggemarnya. Namun, kekuatan cahayanya mulai tidak stabil sejak ancaman The Void menguat.
Di sisi lain, Sunghoon (ENHYPEN), sang Ice Prince yang dingin dan perfeksionis, bergerak dalam senyap sebagai Shadow Vanguard. Bersama timnya, ia membasmi monster dari balik bayangan panggung, memastikan tidak ada satu pun nyawa yang hilang saat musik berkumandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : The Clockwork City
Tokyo menyambut rombongan IVE dan ENHYPEN dengan pemandangan yang ganjil. Saat mereka mendarat di Haneda, tidak ada suara bising pesawat lain. Seluruh bandara tampak seperti foto yang membeku. Ketika mereka berkendara menuju pusat kota, Wonyoung menyadari hal yang mengerikan: burung-burung di langit terbang mundur, dan hujan rintik-rintik yang turun bukannya jatuh ke bumi, melainkan naik kembali ke awan.
"Waktu di sini sudah rusak," ucap Sunghoon, suaranya terdengar sedikit terdistorsi. Ia menatap jam tangannya, jarum jamnya berputar liar berlawanan arah jarum jam.
Mereka turun di Shibuya Crossing. Tempat yang biasanya menjadi persimpangan teramai di dunia itu kini sunyi senyap. Orang-orang di sana mematung dalam berbagai pose, seolah-olah seseorang telah menekan tombol pause pada dunia.
Jake mencoba menyalakan alat pemindainya, namun layar perangkat itu terus menunjukkan tanggal yang berubah-ubah 2026, 1990, 1850... lalu kembali ke masa depan. "Anomali ini bersumber dari Tokyo Skytree. Seseorang di sana sedang memutar poros waktu kota ini."
Wonyoung menggenggam Silver Vinyl yang kini berdetak sangat cepat, seirama dengan detak jantungnya yang gelisah. "Piringan ini menunjukkan ukiran baru yang samar... 'CHRONOS'. Kita harus sampai ke Skytree sebelum waktu di sini berputar terlalu jauh ke belakang dan kita terhapus dari keberadaan."
Saat mereka berjalan menuju distrik Shinjuku, kabut waktu mulai menyelimuti mereka. Ini bukan kabut fisik, melainkan gelombang nostalgia yang mematikan.
Tiba-tiba, Ni-ki berhenti melangkah. Tubuhnya perlahan mengecil, dan pakaian idolanya terasa terlalu besar. Dalam hitungan detik, Ni-ki kembali ke wujud dirinya saat berusia lima tahun, mengenakan baju latihan menari pertamanya di Okayama.
"Ni-ki!" teriak Jay, namun saat ia mencoba meraih tangan Ni-ki, Jay sendiri merasakan tubuhnya melemah. Ingatan Jay tentang New York mulai memudar, digantikan oleh bayangan masa kecilnya sebelum ia mengenal musik.
"Jangan biarkan kabut ini menyentuh kulit kalian!" teriak Han sambil mengeluarkan payung khusus dari klan Bumi yang bisa membiaskan partikel waktu. "Ini adalah serangan The Timekeeper. Dia ingin mengembalikan kalian ke titik sebelum kalian menjadi Hunter, agar kalian kehilangan tekad untuk melawan!"
Wonyoung menatap tangannya yang mulai terlihat lebih kecil. Ia merasa memori tentang Sunghoon mulai kabur. Ia lupa kapan pertama kali mereka bertemu di jembatan Incheon. "Sunghoon-ssi... namamu... siapa namamu?"
Sunghoon yang juga sedang berjuang melawan regresi usia, segera memeluk Wonyoung. Ia menempelkan kalung perak yang ia berikan pada Wonyoung tepat ke piringan Silver Vinyl. "Ingat suaraku, Wonyoung! Kita adalah manusia dari masa kini! Jangan biarkan masa lalu mencurimu!"
Mereka berhasil mencapai dasar Tokyo Skytree berkat perlindungan piringan perak yang menciptakan zona waktu stabil di sekitar mereka. Namun, menara itu kini telah berubah menjadi sebuah jam mekanis raksasa dengan ribuan roda gigi yang berputar di luarnya.
Di depan pintu masuk, berdiri seorang pria tua mungil dengan pakaian tradisional Jepang, namun wajahnya terus berubah dari bayi, pemuda, hingga kakek-kakek dalam hitungan detik. Ia memegang sebuah jam kantong emas yang rantainya terbuat dari cahaya murni. Inilah The Timekeeper.
"Kalian datang dari masa depan yang tidak pasti," suara The Timekeeper terdengar berlapis-lapis, seperti ribuan orang bicara bersamaan. "Kenapa berjuang untuk hari esok yang penuh penderitaan? Di sini, di Tokyo, aku bisa memberikan kalian masa kecil yang abadi. Kalian bisa bermain selamanya tanpa beban menyelamatkan dunia."
"Masa kecil yang abadi hanyalah penjara tanpa pertumbuhan!" balas Wonyoung, suaranya kembali menguat seiring dengan cahaya emas yang keluar dari piringannya.
"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat langkah kalian melawan arus waktu yang deras," The Timekeeper menjentikkan jarinya.
Seketika, gravitasi di sekitar Skytree berbalik. Pintu menara terbuka, dan mereka tersedot masuk ke dalam labirin roda gigi yang berputar. Mereka harus mendaki menara itu sementara waktu di sekitar mereka berjalan semakin cepat menuju masa lalu. Setiap detik yang mereka lewatkan di sana berarti kehilangan satu tahun dari usia mereka.
"Kita harus sampai ke puncak!" teriak Sunghoon. "Jika kita tidak menghentikan jam utamanya, kita akan lenyap bahkan sebelum matahari terbit!"
Di dalam Tokyo Skytree, hukum fisika sudah tidak berlaku. Ruangan luas di dalam menara itu kini dipenuhi oleh roda gigi raksasa yang saling bertautan, berputar dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. Setiap langkah yang diambil para member terasa seperti berjalan di atas ban berjalan yang bergerak ke arah yang salah.
"Pegangan pada kabel baja!" teriak Sunghoon sambil menarik Wonyoung agar tidak terjatuh ke dalam celah mesin yang bisa menghancurkan tubuh manusia dalam sekejap.
Ni-ki, yang masih dalam wujud bocah berusia lima tahun, digendong oleh Jay. Meskipun tubuhnya mengecil, insting menarinya tetap ada. "Jay-hyung! Roda gigi di depan akan berputar cepat setiap tiga detik! Kita harus melompat di detik kedua!" seru Ni-ki dengan suara kekanak-kanakan yang cempreng namun penuh keyakinan.
Jake mencoba menstabilkan frekuensi waktu di sekitar mereka menggunakan Silver Vinyl. "Wonyoung, piringannya mulai panas! Dia menyerap energi kronos yang dilepaskan The Timekeeper. Jika kita tidak segera sampai ke puncak, piringan ini bisa meledak dan menghapus kita dari garis waktu secara permanen!"
Tiba-tiba, dari bayang-bayang roda gigi, muncul Clockwork Sentinels prajurit mekanis yang tubuhnya terdiri dari bagian-bagian jam kuno. Mereka bergerak dengan gerakan patah-patah, menyerang menggunakan pedang yang berdetak seperti jarum jam.
"Heeseung, Sunoo! Lindungi barisan belakang!" perintah Yujin sambil menghantam salah satu sentinel dengan tongkat listriknya. Pertempuran di tengah mesin yang berputar ini menjadi ujian koordinasi yang luar biasa. Mereka harus bertarung sambil menjaga keseimbangan di atas platform yang terus bergerak mundur.
Semakin tinggi mereka mendaki, serangan psikologis The Timekeeper semakin kuat. Di sela-sela roda gigi, muncul layar-layar cahaya yang menampilkan fragmen masa lalu para member yang paling menyakitkan.
Wonyoung melihat bayangan dirinya saat pertama kali terbangun sebagai vampir berabad-abad lalu—rasa haus yang tak tertahankan dan ketakutan akan sinar matahari. Sementara itu, Sunghoon dipaksa melihat kembali saat-saat ia harus mengisolasi diri di dalam peti es, meratapi klan Shadow yang hancur.
"Lihatlah penderitaan kalian!" suara The Timekeeper bergema. "Masa depan hanya akan membawa luka baru. Tetaplah di sini, di masa lalu yang aman, di mana rasa sakit ini belum terjadi."
Langkah Wonyoung terhenti. Air mata mulai mengalir di pipinya. Beban sejarah selama 300 tahun terasa sangat berat, dan keinginan untuk menyerah pada tarikan waktu sangatlah kuat. Namun, piringan perak di tangannya mendadak mengeluarkan suara musik bukan lagu idola, melainkan melodi tawa para member saat mereka makan malam bersama di Seoul minggu lalu.
"Itu bukan beban, itu adalah bukti kalau aku masih hidup!" teriak Wonyoung. Ia mengangkat piringan perak itu, dan gelombang cahaya putih murni terpancar, menghancurkan layar-layar ilusi masa lalu tersebut.
"Kita tidak mendaki untuk melupakan masa lalu," sahut Sunghoon sambil menebas sentinel terakhir. "Kita mendaki untuk memastikan masa lalu itu punya arti bagi masa depan kita!"
Dengan semangat baru, mereka berhasil mencapai dek observasi utama, tepat di bawah mesin jam raksasa yang menjadi jantung anomali Tokyo.
The Timekeeper berdiri di tengah ruangan, tangannya terangkat tinggi, memutar sebuah bola cahaya yang berisi pasir waktu yang berputar terbalik. Di bawah kakinya, kota Tokyo mulai terlihat transparan, seolah-olah siap untuk menghilang ke dalam sejarah.
"Kalian terlambat," ucap The Timekeeper. "Detik terakhir sudah hampir tiba."
"Tidak ada kata terlambat bagi kami!" balas Wonyoung.
Atas perintah Wonyoung, seluruh member membentuk formasi lingkaran di dek observasi yang kini berputar. Mereka memulai Sinkronisasi Jantung tahap akhir. Kali ini, mereka tidak menyanyikan lagu untuk penonton, melainkan menyanyikan "Lagu Kehidupan" untuk melawan keheningan waktu.
Suara mereka bergema, menciptakan frekuensi tandingan yang membuat roda gigi Skytree mulai melambat. Ni-ki perlahan kembali ke wujud remajanya saat energi waktu di ruangan itu mulai stabil.
"Sekarang, Sunghoon-ssi! Berikan nada terakhirnya!"
Sunghoon dan Wonyoung menggenggam Silver Vinylbersama-sama. Mereka menyalurkan seluruh sisa energi Humanity, Memoria, dan Veritas ke dalam piringan tersebut. Piringan itu memancarkan sinar emas yang menembus jantung mesin jam The Timekeeper.
KRAAAAAKKK!
Bola cahaya di tangan The Timekeeper pecah. Pasir waktu yang tadinya naik ke atas, kini jatuh kembali ke bumi sesuai hukum alam. Seluruh roda gigi di Skytree berhenti berputar mundur dan mulai berdetak maju dengan normal.
The Timekeeper menjerit saat tubuhnya mulai memudar menjadi butiran debu emas. "Kalian... kalian telah memilih jalan yang penuh air mata..."
"Tapi itu adalah jalan milik kami," jawab Wonyoung tenang.
Tokyo seketika kembali normal. Burung-burung terbang maju, hujan jatuh ke tanah, dan Shibuya kembali ramai dengan suara manusia. Di permukaan piringan perak, ukiran baru muncul dengan sangat jelas di bawah "VERITAS", "CHRONOS" (Waktu).
Wonyoung jatuh terduduk, kelelahan, namun ia tersenyum melihat matahari pagi Tokyo yang mulai terbit—kali ini di waktu yang tepat.
Puncak Tokyo Skytree yang tadinya menjadi medan tempur mekanis, kini berubah menjadi balkon yang tenang di atas hamparan lampu kota yang mulai menyala normal. The Timekeeper telah lenyap, meninggalkan hanya butiran debu emas yang perlahan memudar ditiup angin malam.
Ni-ki berdiri di tepi dek observasi, menatap tangannya yang sudah kembali ke ukuran remaja. Ia menghela napas panjang, sebuah perasaan lega yang bercampur dengan sedikit sisa trauma. "Rasanya aneh... aku masih ingat rasanya menjadi anak kecil, ketakutan di tengah roda gigi itu. Tapi sekarang, aku merasa jauh lebih tua dari umurku yang sebenarnya."
Sunghoon mendekat dan menepuk bahu Ni-ki. "Itu karena kau baru saja memenangkan pertempuran melawan waktu sendiri, Ni-ki. Tidak banyak manusia yang bisa melakukan itu."
Di tengah ruangan, Wonyoung masih terduduk sambil memangku Silver Vinyl. Piringan itu kini memancarkan suhu hangat. Ukiran "CHRONOS" bersinar dengan warna biru elektrik, menunjukkan bahwa kekuatan waktu kini telah tersegel di dalamnya.
"Wonyoung-ah, lihat ini," Jake menunjukkan tabletnya. "Sinyal Void di seluruh Jepang merosot drastis. Tapi, ada satu lonjakan energi yang aneh muncul di belahan dunia lain. Piringan itu bukan hanya menyegel waktu, dia juga baru saja membuka koordinat terakhir."
Wonyoung menyentuh permukaan piringan perak itu. Sebuah proyeksi hologram muncul, memperlihatkan sebuah tempat yang sangat asing: sebuah pulau terapung yang diselimuti badai abadi di tengah Samudra Atlantik. Itulah The Great Void’s Cradle.
Sebelum meninggalkan Jepang, rombongan Hunter memutuskan untuk melakukan ritual pembersihan terakhir di Kuil Senso-ji, Asakusa. Mereka tidak datang untuk bertarung, melainkan untuk berterima kasih pada bumi yang telah memberi mereka kekuatan untuk bertahan.
Di bawah gerbang Kaminari-mon yang besar, ribuan penggemar Jepang berkumpul. Berbeda dengan di New York, fans di Tokyo tampak sangat tenang. Mereka merasakan kedamaian yang dibawa oleh para member setelah anomali waktu terhenti.
"Terima kasih telah mengembalikan waktu kami!" teriak seorang nenek tua sambil memberikan jimat keberuntungan (Omamori) kepada Wonyoung.
Wonyoung menerima jimat itu dengan air mata yang mengembang. Ia menyadari bahwa misi mereka bukan lagi sekadar bertahan hidup, tapi menjadi pelindung bagi memori dan masa depan jutaan orang.
Di dalam area kuil yang tenang, Han memanggil Wonyoung dan Sunghoon untuk bicara empat mata. "Kalian telah mengumpulkan empat esensi Humanity, Memoria, Veritas, dan Chronos. Hanya tinggal satu kepingan terakhir yang harus kalian temukan sebelum menghadapi Sang Penguasa di pusat badai."
"Apa itu, Han-ssi?" tanya Sunghoon.
"Aeternitas. Keabadian yang sesungguhnya," jawab Han misterius. "Tapi bukan keabadian vampir yang dingin. Melainkan keabadian dari warisan yang kalian tinggalkan."
Wonyoung menatap teman-temannya yang sedang bercanda di dekat air pancuran pensucian. Ia menyadari bahwa jika mereka gagal di pertempuran terakhir nanti, nama IVE dan ENHYPEN akan dihapus dari sejarah dunia oleh Sang Penguasa.
Pesawat jet pribadi mereka lepas landas dari Haneda menuju lokasi rahasia di Atlantik. Suasana di dalam kabin sangat hening, namun bukan hening yang mencekam. Ini adalah keheningan para prajurit yang sudah siap menghadapi takdir terakhir mereka.
Jay dan Heeseung sibuk memeriksa perlengkapan taktis terakhir, sementara Yujin dan Gaeul berdiskusi dengan Jake mengenai strategi sinkronisasi 16 orang yang akan mereka lakukan di tengah badai.
Wonyoung duduk di kursi paling belakang, menatap piringan perak yang kini diletakkan di dalam kotak kaca pelindung. Sunghoon datang membawa dua gelas cokelat panas dan duduk di sampingnya.
"Kita akan sampai dalam enam jam," ucap Sunghoon pelan.
"Aku memikirkan tentang 'Aeternitas'," bisik Wonyoung. "Sunghoon-ssi, jika setelah semua ini kita berhasil... apa yang ingin kau lakukan sebagai manusia biasa? Tanpa konser, tanpa monster, tanpa takdir dunia di bahu kita?"
Sunghoon terdiam sejenak, lalu ia menggenggam tangan Wonyoung. "Aku ingin melihatmu menua. Aku ingin melihat kerutan di matamu saat kau tertawa, dan aku ingin kita duduk di bawah pohon yang sama yang kita lihat 300 tahun lalu, tapi kali ini tanpa rasa haus akan darah. Hanya dua orang manusia yang menonton matahari terbenam."
Wonyoung menyandarkan kepalanya di bahu Sunghoon. Air mata jatuh ke pipinya, namun itu adalah air mata kebahagiaan. "Itu adalah keabadian yang paling indah."
Tiba-tiba, lampu kabin berkedip. Guncangan hebat menghantam pesawat. Dari jendela, mereka melihat kilatan petir hitam yang menyambar-nyambar di luar. Mereka telah memasuki wilayah The Great Void.
Piringan perak di depan mereka tiba-tiba berputar sendiri dengan kecepatan luar biasa, mengeluarkan suara nyanyian yang sangat jernih. Ukiran terakhir mulai muncul secara perlahan, berdenyut dengan cahaya putih yang menyilaukan.
Pesan dari Penulis:
Waktu sudah berjalan normal, tapi sekarang tantangan paling gila ada di depan mata 'The Great Void' Ini bukan lagi soal konser di stadion, tapi soal eksistensi seluruh dunia!
Yuk, kasih dukungan terakhir buat para pahlawan kita :
LIKE kalau kalian baper sama keinginan Sunghoon buat menua bareng Wonyoung!
KOMEN "AETERNITAS" sebagai doa supaya mereka semua selamat di pertempuran akhir!
SHARE ke semua temen kalian, bilang kalau babak final sudah di depan mata!