NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: FAJAR DI ATAS RERUNTUHAN & NOTIFIKASI YANG AKHIRNYA DIBACA

Disclaimer: Cerita ini Tentang Bangun Kembali yang Lebih Pelan, Lebih Sadar, dan Tentang Satu Pertanyaan yang Bergema di Antara Puing-Puing

---

Pukul 05.17, di Pinggir Lapangan.

Fajar mulai menampakkan warnanya: oranye pucat yang menyapu biru kelam, seperti lukisan cat air di atas kanvas kota yang terluka. Suara generator dan obrolan pelan sudah menggantikan keheningan malam yang panik.

Kinan dan Ardi masih duduk bersandar di ban mobil polisi, selimut darurat yang sama disampirkan di bahu mereka berdua. Kinan kepalanya bersandar di bahu Ardi, matanya memandang langit yang perlahan berubah.

“Gue masih nggak percaya lo ada di sini,” gumam Kinan, suaranya serak.

“Gue juga,” jawab Ardi. “Tadi di tol gue sempet mikir, gue udah nggak lihat lo lagi.”

Mereka diam. Kata-kata itu menggantung, mengingatkan mereka pada betapa dekatnya bencana dengan kehilangan.

Pukul 07.30, Evakuasi ke Rumah Saudara.

Keluarga Kinan dievakuasi ke rumah tantenya di daerah yang tidak terdampak parah. Ardi ikut. Dalam kondisi chaos, tidak ada ruang untuk formalitas. “Ini Ardi, temen gue,” perkenalan Kinan singkat pada bibinya yang sibuk membagikan air mineral. Sang bibi hanya mengangguk, matanya penuh kelelahan, tidak ada energi untuk bertanya lebih.

Di kamar tamu yang sempit, mereka akhirnya punya sedikit privasi. Listrik sudah hidup, tapi internet masih timbul-tenggelam.

The First Real Conversation After The Quake.

Kinan duduk di lantai, memandang Ardi yang bersandar di pintu.

“Surat lo…” mulai Ardi.

“Gue nulis itu pas… pas gue ngerasa itu mungkin terakhir kali.”

“Jangan bilang gitu.”

“Tapi itu yang gue rasain, Ard. Di gelap, sendirian, nggak bisa ngapa-ngapain… yang kepikiran cuma lo. Dan betapa banyak hal yang belum gue bilang.”

Ardi mendekat, duduk di hadapannya. “Contohnya?”

Kinan menatap tangannya sendiri. “Contohnya… bahwa gue nggak cuma pelan-pelan jatuh cinta sama proses mengenal lo. Gue… udah jatuh cinta. Sama lo. Bukan sama ide lo, bukan sama cerita kita. Tapi sama lo yang nyetir malam-malam ke Jakarta meski gila. Sama lo yang nggak pernah malu sama ringtone HP norak lo. Sama lo yang nungguin gue meski cuma di chat, tanpa minta lebih.”

Pengakuan itu keluar bukan di bawah lampu studio, bukan di warung kopi yang aesthetic. Tapi di kamar yang berantakan, dengan mata bengkak dan bau debu gempa masih di udara. Lebih nyata daripada apapun yang pernah mereka alami.

Ardi tidak langsung menjawab. Dia mengambil napas dalam, seperti menyelam.

“Gue dari Bandung ke sini,” ujarnya pelan, “bukan cuma karena khawatir. Tapi karena… waktu gue baca surat lo, gue ngerasa sesuatu break di dalam dada gue. Kayak ada sistem yang finally… reboot dengan config yang bener. Dan config-nya cuma satu: gue nggak bisa hidup dengan kemungkinan dunia tanpa lo di dalamnya. Meski cuma sebagai temen. Meski cuma sebagai orang yang kadang kirim foto kucing. Nggak bisa.”

Mereka saling memandang, dan untuk pertama kalinya, tidak ada yang menghindar. Tidak ada analogi digital, tidak ada filosofi. Hanya dua orang yang lelah, jujur, dan sangat-sangat takut kehilangan satu sama lain.

Pukul 10.00, The Mundanity Amidst The Chaos.

Di tengah kekacauan, hidup berjalan. Mereka membantu menata ulang rumah yang berantakan, mengantri air bersih, mengisi formulir bantuan. Aktivitas-aktivitas fisik, sederhana, yang justru menenangkan.

Saat sedang membersihkan pecahan kaca, Kinan tiba-tiba tertawa kecil.

“Apa?” tanya Ardi.

“Kita… dari ekspos algoritma dating app, sampe bersihin kaca pecah bareng-bareng gegara gempa. Plot development-nya nggak bisa ditebak ya hidup ini.”

Ardi tersenyum. “Lebih menarik dari series Netflix manapun.”

“Dan nggak ada yang bisa di-skip.”

Pukul 15.00, The Signal That Finally Came Back.

Internet kembali stabil. HP mereka mulai bergetar tak terkendali. Notifikasi WhatsApp, Instagram, email semua menumpuk sejak 24 jam terakhir.

Mereka duduk di teras, membuka ponsel masing-masing. Dunia online mereka yang tertunda, kini membanjiri mereka.

Chat Ardi:

· Bowo: LO GILA BENERAN KE JAKARTA?! UPDATE DONG!

· Pak Suryo: Anak-anak, kabarnya gimana? Bapak di Puncak aman. Butuh bantuan?

· Group Kampus: 47 pesan tentang gempa dan penggalangan dana.

· Kinan (Kemarin, 14.22): Ard, gempa! (Terdelayed, baru terbaca sekarang)

Chat Kinan:

· Manda (teman reunion): Kin, kamu aman? Jakarta pada heboh!

· Klien: Kinan, deadline moodboard bisa dimundurin, prioritize your safety ya.

· Ardi (Kemarin, 14.25 - 22.17): Ratusan pesan, dari "Kin? LO AMAN?" sampai "Please jawab, satu kata aja." (Semua terbaca sekaligus)

Melihat rentetan pesan panik Ardi, Kinan merasa dadanya sesak. Dia melihat Ardi, yang sedang membaca pesan "Ard, gempa!"-nya yang terlambat tadi, dengan ekspresi campur aduk.

“Lo kirim semua ini?” bisik Kinan.

“Iya. Karena gue nggak tau lagi harus ngapain.”

Kinan memegang tangannya. “Maafin gue bikin lo khawatir.”

“Bukan salah lo. Salah… segalanya.”

Pukul 18.00, The Decision in The Twilight.

Matahari mulai terbenam. Ibu Kinan memanggil mereka untuk makan malam sederhana. Suasana sudah lebih tenang.

Setelah makan, mereka kembali ke teras. Udara sore masih berdebu, tapi lebih tenang.

“Gue harus balik ke Bandung besok,” kata Ardi. “Magang lo kan udah selesai, lo mau balik ke Bandung juga atau stay di sini?”

Kinan berpikir. “Gue… pengin balik ke Bandung. Tapi…”

“Tapi?”

“Tapi gue nggak mau kita balik ke ‘Low-Intensity’ kayak kemarin. Setelah ini… setelah nyaris kehilangan, rasanya… intensity itu perlu. Bukan intensity drama. Tapi intensity… kehadiran.”

Ardi mengangguk. “Gue setuju. Mungkin kita selama ini takut sama intensitas karena takut dibebani. Tapi… hidup ini singkat dan nggak terduga. Gue mau intensitas dengan lo. Mau ribetnya, mau bahagianya, mau boring-nya. Semua.”

Pukul 21.00, The Unspoken Label & The New Frequency.

Mereka tidak mendeklarasikan “kita pacaran sekarang”. Tapi mereka menemukan frekuensi baru. Frekuensi yang lahir dari kegelapan dan kepanikan. Frekuensi yang lebih dalam dari sekadar sinyal WiFi, lebih kuat dari sekadar algoritma.

Sebelum tidur, Kinan membuka aplikasi notes-nya. Dia membuat note baru:

“Patch Notes: Post-Quake Update (Version 1.0 - ‘Grounded’)

· Bug Fixed: Ketakutan akan intensitas emosi.

· New Feature: Keberanian untuk mengatakan ‘ini penting’ tanpa malu.

· System Upgrade: Prioritas dialihkan dari ‘maintaining aesthetic distance’ ke ‘ensuring physical & emotional presence’.

· Known Issue: Masih ada trauma dari gempa. Butuh waktu untuk heal.

· Compatibility: Hanya kompatibel dengan satu user: @ardinightowl.

End of Notes.”

Dia screenshot dan kirim ke Ardi.

Beberapa menit kemudian, balasan dari Ardi datang: sebuah file audio pendek. Kinan memutarnya dengan earphone.

Isinya hanya suara napas Ardi yang tenang, dan satu kalimat yang diucapkan pelan: “Welcome to Version 1.0. I’m here. Always.”

---

LAST LINE: Di kamar yang asing, di kota yang masih berduka, Kinan memutar audio itu berulang kali. Dia melihat ke jendela, langit malam Jakarta sudah mulai menunjukkan bintang-bintang, bersih dari polusi cahaya karena listrik yang masih banyak padam. Dia ingat tulisan Ardi di tanah waktu di Camp Grounded dulu: “Ayo coba aja.” Mungkin, hidup memang cuma soal itu: mencoba. Mencoba bertahan, mencoba mencintai, mencoba bangun lagi setelah segala sesuatu runtuh. Dan malam ini, di antara reruntuhan yang belum seluruhnya dibersihkan, dia menemukan satu kebenaran yang utuh: bahwa dia punya seorang lelaki yang akan menyetir 150 km di malam buta hanya untuk memastikan dia masih bernapas. Dan itu, jauh lebih berarti daripada semua like, semua view, dan semua konten yang pernah dia buat. Karena yang terbaik dalam hidup, seringkali, adalah hal-hal yang tidak pernah diposting. 🌃✨📱➡️❤️‍🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!