Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33 rasa bersyukur keluarga Yasir
Dengan bantuan sang ibu , pekerjaan menjadi sedikit lebih cepat , Yasir menimbang bumbu dan mulai menyalakan api di bawah tungku.
" tari , aku akan keluar dulu , memberi tahu kepala kampung, bahwa kita akan melakukan acara syukuran, "
" iya mas , hati hati cepat pulang...!"
" umhh .!"
Yasir keluar membawa pisau kecil , dan juga tali bambu, berencana setelah memberi tahu kepala kampung akan mengambil kayu kayu yang kecil di sepanjang jalan.
Karena tujuannya untuk memberi tahu kepala kampung , ia dengan cepat sampai di rumah besar kepala kampung.
" assalamualaikum.. pak Hasyim... !"
Tok Tok Tok
" waalaikum salam...!"
Krakk
Dari dalam rumah muncul seorang wanita paruh baya yang memiliki penampilan rapi , saat ia melihat siapa yang datang itu , senyumnya mulai datang .
" jang ada apa ?"
" kepala kampung ada bi ?"
" sedang urusan , ada perlu apa?"
" begini, kami sekeluarga akan mengadakan syukuran untuk menyambut adanya rumah baru , saya berencana untuk mengundang satu desa datang ke rumah , " Yasir menjelaskan dengan nada tidak terburu buru dan tampak sangat santai .
" ouh begitu ya , sebaiknya ujang jangan mengundang penduduk desa untuk datang , takut ada masalah, banyak kejadian yang serupa, tentara putih menangkap orang yang berinsiatif melaksanakan acara syukuran, kemungkinan mereka takut kita semua akan melawan mereka " kata istri kepala kampung dengan nada serius .
Wajah Yasir tampak sedikit jelek, namun menghilang tatkala ia memikirkan ide yang lebih realistis dan aman .
" bibi , bagaimana kalau saya membagikannya kepada semua warga , dan tidak perlu ada perkumpulan, hanya saja saya minta kepala kampung dan lainnya mendoakan rumah saya itu !"
" nah itu yang paling aman , iya , jang nanti bibi ceritakan " kata istri kepala kampung mengangguk.
" kalau begitu saya pamit bi , maaf mengganggu istirahat siang...!"..
" tidak apa apa , jangan khawatir...!"
" assalamualaikum bi !"
" waalaikum salam...!"
Yasir berjalan meninggalkan halaman rumah kepala kampung, ia berjalan menuju perkebunan pemerintah daerah yang biasa ia lewati , matanya menatap ke atas langit, di mana cuaca sangat cerah , dan angin segar menerpa wajahnya.
Sampai di sana, ia melihat beberapa orang sedang mencari durian jatuh, atau kelapa yang banyak berserakan.
Karena tujuannya hanya mengumpulkan kayu bakar , ia tidak memikirkan untuk mencari durian atau kelapa , dan dalam waktu hanya dua belas menit , dua ikat kayu bakar kering siap untuk di bawa .
Setelah itu , ia berjalan menuju ke arah jalan bukit , dan sampai di bawah jalan bukit dengan cepat.
Keringat mulai bercucuran di wajahnya, membasahi kaos hitam polos yang lusuh , namun begitu, tidak ada rasa lelah atau menyerah, ia tahu bahwa sore sudah mulai datang.
Sampai di rumah, ia menyusun kayu bakar di tempat yang sudah di sediakan, yaitu dapur yang di mana itu adalah bekas rumah bambu lama .
" bagaimana mas , apakah sudah selesai..?" Halimah datang membawa kain untuk menghapus keringat, lalu dengan hati hati mengeringkan wajah serta badan atas pemuda yang sudah selesai menata kayu bakar itu .
" acara syukurannya tidak jadi , tapi kita tetap masak yang banyak, karena nanti jam enam , mas akan turun membawa nasi dan lauk yang sudah di masak untuk di bagikan ke semua warga "
" kenapa mas ?"
Yasir dengan pelan menceritakan sebab akibat bilamana acara kenduri tetap dilakukan dan konsekuensinya cukup berat .
" kalau begitu , cari jalan aman saja mas , seperti yang mas katakan tadi " Halimah seperti melihat masa depan akan suram bilamana acara kenduri dilaksanakan.
" iya... setelah mas hitung , ada dua ratus rumah di desa , dan kita harus membungkus dengan dua ratus daun jati yang cukup besar " kata Yasir menatap ke arah pohon jati muda , di mana banyak daun daun yang cukup lebar untuk di jadikan sebagai wadah nasi dan lauk .
" iya mas ..!"
" bagaimana dengan nasi dan lauknya , apa sudah matang ?"
" tinggal lauknya mas , membutuhkan waktu dua jam untuk di goreng, karena ada sepuluh kilo daging ayam negeri yang dibeli tadi " kata Halimah menatap ke arah tungku yang tampak menyala dengan lidah api yang membara .
" ya tidak apa apa , masih jam tiga , mas akan ambil daun jati terlebih dahulu " Yasir berjalan menuju kebun yang ada di belakang rumah, walaupun bukan kebun budidaya, tapi ia sudah menganggap itu sudah menjadi bagian dari tanahnya sendiri.
Karena ada tiga pohon jati yang cukup banyak daunnya, dengan cepat , di atas tanah sudah penuh dengan daun jati hijau yang segar dan bisa digunakan untuk membungkus nasi dan lauknya.
Merasa sudah cukup , ia turun dari atas pohon jati , mulai menghitung dan mengumpulkan daun daun jati yang berserakan.
Tak membutuhkan waktu lama , ia selesai menghitung daun daun jati itu , hingga ada sekitar dua ratus lima puluh tujuh daun jati yang layak pakai , sedangkan yang sudah tua , di buang atau dijadikan sebagai bahan untuk menyalakan api .
Karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di kerjakannya, ia bergegas ke kamar mandi , guna untuk mandi , dan bersiap menyebarkan berkah ke seluruh desa .
Di atas lantai rumah panggung, sudah penuh dengan hamparan daun jati yang sudah diisi dengan nasi dan lauknya.
Yasir merapikan dan melipat daun jati sedemikian rupa , setelah itu meletakan di dalam keranjang bambu yang cukup besar .
" mas kalau tempatnya tidak muat , bagaimana?"
" kalau hanya lima belas atau dua puluh yang tidak bisa masuk, kalian berdua bisa membawanya bersamaku !"
" kalau begitu, kami juga harus mandi ...!"
" ya ...!"
Yasir hanya tersenyum, ia terus melipat dan merapikan daun daun jati yang sudah diisi dengan nasi dan lauk .
Tepat waktu lima kali suara kentongan di desa. Ketiganya turun dengan hati hati , walaupun jalannya tidak licin , tapi ketiganya ekstra hati hati saat berjalan.
Sampai di bawah , Yasir dan kedua istrinya berjalan menuju rumah kepala kampung terlebih dahulu , lalu ke rumah rumah sesepuh desa , setelah itu ke rumah guru desa , para janda tua , nenek nenek yang sudah ditinggalkan oleh anak atau cucunya, dan hidup terbengkalai , terakhir warga biasa yang menjadi mayoritas desa .
Semua orang mengucapkan terimakasih dan masing masing orang memberikan doa , bahkan janda tua yang serba kekurangan terus berkata dengan doa doa yang sangat banyak.
Yasir juga secara sembunyi sembunyi, menyelipkan dua puluh atau dua ikat uang koin sen untuk para nenek tua atau janda tua yang sudah tidak memiliki keluarga lagi .
Ia merasa bahwa hidup para janda tua dan nenek tua terasa sangat menyedihkan, hingga ia memikirkan untuk mendirikan panti jompo, di mana itu tujuannya untuk mengurus orang tua yang tidak memiliki apa apa .
" mas , akhirnya selesai, aku merasa senang bisa berbagi dan mereka semua terlihat tulus saat menerima berkah ...!"