Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Di kantin.
"Hey, apa kalian dengar?" mereka semua heboh saat ada berita besar yang tersebar di forum.
"Apa?" tanya yang lain, yang kebetulan belum melihat forum sebab mereka sibuk.
"Ada murid baru, entah pindahan dari mana dia? Tapi wajahnya benar-benar cantik hanya terlalu tirus saja!" yang satu memuji sekaligus mengatakan pendapat tentang sang murid baru.
"Benarkah? Apa di forum sudah ramai?"
"Sudah, kalian tidak melihat forum?"
"Belum, kau tahu kami tadi malah sibuk cuci mata saat melihat Arion dan Teman-temannya di lapangan basket," katanya semangat.
"Aku takut gadis baru itu malah di goda oleh Arion," yang lain berceletuk hingga membuat yang lain terkekeh dan setuju juga.
Gosip panas tentang kedatangan Aurora meledak seperti petasan yang di nyalakan lalu menghasilkan bunyi keras.
Dan gosip yang tak pernah hilang adalah ketampanan para inti dari geng Sang Putra Mahkota Draco, Arion Draco, pria tampan pewaris kekayaan Draco itu terkenal playboy dan suka merayu para gadis cantik.
Mereka menunggu momen sang pewaris merayu murid baru yang nampak polos itu.
Kedatangan Aurora membuat keadaan yang semula riuh seketika langsung diam dan hening. Mereka menatap Aurora yang datang bersama Seina.
"Itu murid barunya?" seseorang berbisik saat melihat Aurora duduk tenang di kursi.
"Iya."
"Kenapa cantik sekali?"
Pujian demi pujian Aurora dapatkan, dia memang cantik aura darah bangsawan yang ia bawa tak bisa di tutupi.
Gadis itu berasal dari desa. Namun, jelas ia keturunan asli konglomerat Harvey.
Bisik-bisik terus terdengar, mendapatkan pujian demi pujian membuat Aurora tak peduli, ia memilih menikmati makanan yng di sediakan sekolah.
"Kau terkenal dalam satu hari, kau cukup hebat!" Seina berujar, dia melirik Aurora yang nampak tenang.
"Apa aku peduli? Terkenal di lingkungan orang-orang munafik bukan hal yang aku harapkan," kejujuran Aurora membuat Seina menggeleng kecil.
Menikmati makan siang tanpa drama adalah hal yang paling Aurora inginkan. Namun, apakah itu selamanya? Tentu ia tahu ketenangan kali ini akan menciptakan badai besar dari sosok yang mungkin sebentar lagi datang.
...****************...
Suara langkah kaki terdengar memasuki kantin yang nampak ramai, Anjani masuk bersama dengan teman-temannya.
"Ada keributan apa?" Anjani bertanya pada salah satu teman dekatnya.
Kali ini tak ada Aruna sebab gadis cantik bernetra sama dengan Aurora itu memiliki kelas musik dan ia tak bisa istirahat menemani Anjani kali ini.
"Gosip murid baru itu, siapa lagi memang?" sang teman berbisik pada Anjani.
Anjani melirik, dia melihat pada Aurora yang tetap tenang bersama sang kutu buku, dia tersenyum sinis dan langkanya membawa dia ke meja Aurora.
Anjani menyambar gelas salah seorang murid, dia berjalan mendekat pada Aurora dan tanpa aba-aba Anjani menyiram jus itu pada Aurora.
BYUR!
Aurora hanya tersenyum sinis, sementara yang lain terkejut. Apalagi Seina yang duduk di dekat Aurora langsung bangun karena air jus itu mengenai dirinya.
"Ini sambutan untukmu, Aurora! Kau kan dari desa dan jelas kalau kau tidak akan tahu sambutan seperti ini, iya kan?" tanya Anjani, dia menyindir dan membuat Aurora malu kali ini.
Namun, gadis cantik keturunan asli dari Harvey itu tetap tenang, ia tak akan membuat masalah kali ini sebab tangan bersihnya tidak akan cocok.
"Kenapa? Kau marah?" bisik Anjani dengan senyum mengejek.
Aurora hanya melirik, dia mendongak dan menatap Anjani dengan wajah datar tanpa ekspresi. Gadis itu menarik tissue di depannya untuk mengelap wajahnya yang basah dan lengket.
Aurora bangun, dia meremat pelan tissue itu dan senyum sinisnya terpancar jelas, gadis itu melemparkan tissue pada Anjani dan tepat mengenai wajahnya.
"Oh, maaf aku kira tempat sampah," itu perkataan paling sarkastik yang pernah Aurora ucapkan semenjak kedatangannya hari ini.
"Kau-" tunjuk Anjani.
"Kenapa? Aku hanya menyambut dan membalas kebaikan mu, Anjani, apa kau tak senang?" tanya Aurora senyumnya polos. Namun, ada nada sindiran jelas dari setiap kata yang ia lontarkan.
Anjani maju, dia melayangkan tamparan pada Aurora dan suara itu menggema di kantin itu hingga membuat mereka semua saling berbisik. Berita itu akan masuk portal forum sekolah yang di kelola oleh ketua OSIS.
Sudut bibir Aurora langsung berdarah, dia mengusap pelan tidak akan membalas sebab serangan yang sebenarnya akan membuat Anjani malu hingga kedasar jurang.
"Itulah akibatnya kamu melawan putri Harvey," salah satu teman Anjani berujar sinis dan itu di dengar oleh semua orang.
"Putri Harvey? Apa kau tidak cerita pada temanmu Anjani tentang kenyataan dirimu?" Aurora bertanya sinis, ada luka di sudut bibirnya dan dia tetap tenang.
"Apa maksud mu? Kau jangan membuat masalah, Aurora!" bentak Anjani murka.
"Membuat masalah? Oh, aku lupa kalau berita itu belum rilis sejak kedatangan ku," jelas Aurora.
Anjani mengepalkan tangannya, dia menatap nyalang Aurora dengan benci dan penuh permusuhan.
"Apa perlu aku beritahu?" tanyanya dengan senyum mengejek.
"Apa? Memperjelas bahwa kau anak pembantu dan dari desa?" serang Anjani lebih dulu wajahnya penuh ejekkan pada sosok Aurora.
"Kau membongkar identitas mu sendiri? Bodoh ya sama seperti darah yang mengalir di nadi mu itu, hanya sebuah kebodohan," ungkapnya dengan nada sinis.
"Kau ... Dasar jalang sialan!" teriak Anjani.
Dia akan kembali maju, menampar Aurora. Namun, kali ini ia melawan, cukup sekali dan terakhir Anjani menyentuh wajahnya yang berharga.
PLAK!
Justru suara tamparan jelas terdengar keras di sana, Aurora tak main-main memberikan pelajaran hingga membuat Anjani tersungkur ke lantai.
"Kau hanya anak desa dan berani menampar putri asli dari Harvey? Apa kau bisa mengembalikan wajah cantik keturunan Harvey ini jika rusak?" hardiknya marah, dia menekan nama Harvey hingga membuat bisik-bisik panas kembali terdengar, Aurora sebenarnya tak marah, ia hanya ingin mencari kesenangan.
"Apa? Dia putri Asli Harvey? Ini berita besar, kan?" salah satu siswi berbisik pada temannya dan berita itu langsung menyebar layaknya jerami yang di bakar di musim panas.
"Kau jangan asal bicara, Aurora! Kaulah anak desa itu," telunjuk Anjani mengarah benci pada Aurora.
"Mau bukti?" tanyanya polos dengan senyum mengejek pada Anjani yang berwajah merah padam.
Aurora bangun, dia membenarkan letak rambutnya yang basah karena air jus itu, seragamnya yang putih langsung kuning dan jelas ia harus beli yang baru.
"Kalian semua dengar!" suara Aurora menggelegar.
Bahkan inti Black Code pun melihat keributan itu. Tak ada yng bicara ataupun bertaruh sebab pertarungan ini benar-benar seru.
"Aurora itu cukup menarik?" Galaksi memberi pendapat yang tak tahu tempat.
"Kau suka?" justru Arion bertanya dengan nada dingin.
Galaksi yang mendengar pertanyaan itu tentu kaget, dia jarang sekali mendengar nada dingin dari Arion. Namun, apa sekarang?
"Kau kenapa?" tanya Galaksi aneh.
"Diam dan lihat saja!" tegasnya tanpa melihat pada Galaksi yang berwajah bingung.
'Dia kenapa? Apa aku membuat kesalahan?' pikir Galaksi aneh.
selalu d berikan kesehatan😄