Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Ketamakan Liu Xiu
Di paviliun megah milik Pangeran Mahkota Wang Han, suasana terasa sangat dingin meski perapian menyala terang. Wang Han duduk di kursi kebesarannya sambil menimang sebuah laporan rahasia. Senyum licik tersungging di bibirnya saat ia membayangkan kehancuran adik tirinya, Zhi Chen.
"Jadi, gadis yang selama ini bersikap sangat sombong di paviliun Zhi Chen hanyalah sebuah barang pengganti?" tanya Wang Han kepada informannya.
"Benar, Pangeran Mahkota. Namanya adalah Xiao Xiao. Dia hanyalah anak angkat yang digunakan Jenderal Liu untuk menutupi keengganan putri kandungnya menikah dengan Pangeran Keempat," jawab sang informan.
Wang Han tertawa rendah. "Luar biasa. Jenderal Liu benar-benar bermain api, dan sekarang gadis itu akan menjadi kayu bakarnya. Panggil Liu Xiu dan ibunya kemari. Katakan pada mereka, sudah saatnya mereka mengambil kembali kemewahan yang seharusnya milik mereka."
***
Di sebuah kediaman tersembunyi yang dijaga ketat, Liu Xiu—putri kandung Jenderal Liu yang asli—sedang merengut bosan. Ia adalah gadis yang terbiasa dengan kemewahan dan sangat angkuh. Dulu, ia menolak mentah-mentah pernikahan dengan Zhi Chen karena rumor tentang wajah buruk rupa sang pangeran dan temperamennya yang kejam.
Pintu kamarnya terbuka kasar. Ibunya, Liu Yu, masuk dengan wajah yang berseri-seri namun penuh ambisi.
"Xiu'er! Berkemaslah. Pangeran Mahkota baru saja mengirim utusan. Kita akan berangkat ke istana sekarang juga!" seru Liu Yu.
Liu Xiu mengernyitkan dahi. "Ke istana? Untuk apa, Ibu? Aku tidak mau bertemu dengan si pangeran buruk rupa itu."
Liu Yu duduk di samping putrinya dan memegang tangannya erat. "Bodoh! Ini bukan soal pangeran itu. Pangeran Mahkota Wang Han akan membantumu menuntut hakmu sebagai putri sah Jenderal Liu. Pangeran Keempat sekarang memegang kekuasaan militer wilayah Barat dan memiliki harta yang melimpah setelah jatuhnya Permaisuri. Kau ingin semua itu dinikmati oleh si anak pungut Xiao Xiao?"
Mata Liu Xiu langsung berbinar mendengar kata 'harta' dan 'kuasa'. "Jadi, aku akan tetap menjadi Nyonya Muda di sana tanpa harus menderita?"
"Tentu saja. Kita akan mengatakan bahwa Xiao Xiao-lah yang merencanakan penipuan ini dan memaksa ayahmu. Dengan begitu, ayahmu bisa sedikit teringankan bebannya, dan kau akan mendapatkan posisi terhormat itu kembali," jelas Liu Yu dengan nada licik.
Tanpa memikirkan risiko yang akan menimpa Xiao Xiao, Liu Xiu segera berdiri. "Baiklah, Ibu. Mari kita tunjukkan pada pelayan rendahan itu siapa pemilik nama Liu Xiu yang sebenarnya."
***
Sementara itu, di Paviliun Utama Pangeran Zhi Chen, suasana pagi terasa tenang namun mencekam. Xiao Xiao sedang duduk di dekat jendela, memperhatikan butiran salju yang turun. Entah mengapa, hatinya merasa tidak tenang sejak perjamuan musim dingin berakhir.
Mao masuk dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat meletakkan baki teh. "Nona... ada sesuatu yang terjadi di gerbang depan."
Xiao Xiao menoleh perlahan. "Apa itu, Mao?"
"Ada sebuah kereta kuda dengan lambang resmi keluarga Liu yang masuk ke arah istana utama. Tapi... pengawalnya bukan orang-orang Jenderal Liu, melainkan pasukan pribadi Pangeran Mahkota," bisik Mao dengan suara ketakutan.
Xiao Xiao meletakkan cangkir tehnya yang belum sempat diminum. Ia segera berdiri, firasat buruknya kini menjadi nyata. Wang Han pasti telah menemukan lubang dalam pertahanannya.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Zhi Chen masuk dengan langkah besar, diikuti oleh Gu Po yang tampak sangat waspada. Wajah Zhi Chen tersembunyi di balik topeng, namun auranya memancarkan kegelisahan yang kuat.
Zhi Chen menatap Xiao Xiao cukup lama. "Mereka sudah sampai di Istana Utama."
Xiao Xiao menarik napas panjang, mencoba menjaga ketenangannya yang selama ini menjadi senjatanya. "Siapa yang sampai, Pangeran?"
"Liu Xiu yang asli dan ibunya, Liu Yu," jawab Zhi Chen dengan suara berat. "Wang Han membawa mereka langsung menghadap Kaisar untuk melaporkan penipuan identitasmu."
Xiao Xiao terdiam. Ia menatap ke arah Gu Po. Sebagai orang yang sejak awal curiga padanya, Xiao Xiao mengira Gu Po akan merasa menang. Namun, pria itu justru menunduk hormat dengan ekspresi penuh kekhawatiran, membuktikan kesetiaannya bukan pada identitas Xiao Xiao, melainkan pada kebaikan yang selama ini Xiao Xiao tunjukkan di paviliun ini.
"Pangeran," ujar Xiao Xiao dengan suara jernih meskipun dadanya sesak. "Jika ini adalah akhir dari peran saya, saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya tidak pernah bermaksud merugikan Anda."
Zhi Chen melangkah maju, tangannya yang besar memegang jemari Xiao Xiao yang dingin. "Siapa bilang ini akhirnya? Di mataku, hanya kaulah Liu Xiu-ku. Tapi kita harus menghadapi mereka dengan kepala tegak. Mari kita lihat drama apa yang sedang dimainkan kakakku."
Xiao Xiao mengangguk pelan. Ia tahu, perjalanan menuju aula sidang kali ini akan menjadi perjalanan hidup dan mati bagi statusnya di kekaisaran ini.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️