NovelToon NovelToon
Silent Crack

Silent Crack

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Obsesi / Beda Usia / Romantis / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penulismalam4

Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap

Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.

Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.

Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32_Melihat langsung

Lift terbuka dengan bunyi ding pelan di lantai 16—ruang pemasaran.

Deretan meja rapi, kaca bening, dan aroma kopi pagi menyambut Lauren Hermansyah seperti rutinitas yang sudah ia kenal bertahun-tahun lalu. Beberapa kepala terangkat serempak. Sapaan terdengar berlapis—penuh hormat, sedikit tegang.

“Pagi, Bu Lauren.”

“Selamat pagi.”

Lauren hanya mengangguk singkat. Wajahnya tenang, langkahnya terukur. Tidak ada senyum, tidak juga dingin—sekadar profesional. Ia melewati lorong kaca menuju ruangannya sendiri, membuka pintu, dan baru saja hendak meletakkan tas di meja kerja ketika—

Pintu terbuka kasar.

Maya masuk tanpa mengetuk.

Lauren menoleh. Belum sempat bertanya, tangan Maya sudah mencengkeram pergelangan tangannya. Kuat. Tegas. Tidak gemetar.

“Maya?” suara Lauren rendah, terkendali.

Tidak ada jawaban.

Maya menariknya keluar ruang, menyusuri lorong lantai 16 dengan langkah cepat. Hak Lauren berdetak keras di lantai, kontras dengan sunyi yang tiba-tiba menyelimuti area itu. Beberapa karyawan melirik, lalu cepat-cepat menunduk. Tak satu pun berani bertanya.

Lauren tidak melawan. Ia hanya mengikuti—dan itu mungkin yang paling menakutkan.

Di ujung lorong, Maya berhenti di depan pintu bertanda Tangga Darurat. Tangannya bergetar saat memegang gagang pintu. Tatapannya—marah, terluka, dan penuh sesuatu yang nyaris pecah.

Klik.

Pintu terbuka.

Bau semen dingin dan gema ruang sempit menyergap.

Dan di sana—

Arga dan Nadira.

Terlalu dekat. Terlalu jelas. Tidak ada ruang untuk salah tafsir.

Nadira berdiri setengah menjinjit, satu tangan mencengkeram kerah jas Arga. Arga membungkuk sedikit, satu tangannya di pinggang Nadira. Bibir mereka bertaut—bukan ciuman yang ragu, bukan pula yang terkejut. Ini ciuman yang sudah diulang. Terlatih. Terbiasa.

Waktu seolah berhenti.

Maya melepaskan tangan Lauren.

Lauren tidak bergerak.

Suara pintu yang tertutup pelan di belakang mereka membuat Arga tersentak. Nadira menoleh lebih dulu. Senyumnya belum sepenuhnya hilang saat matanya bertemu dengan mata Lauren.

Lalu semuanya runtuh dalam satu detik.

Arga membeku.

Wajahnya memucat, bibirnya terpisah, langkahnya mundur setengah—seolah baru menyadari di mana ia berdiri, dan dengan siapa. Tangannya terlepas dari Nadira seperti refleks yang terlambat.

“Lauren…” suaranya serak. Bukan kaget—lebih seperti ketahuan.

Lauren menatap mereka berdua.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangis.

Tidak ada pertanyaan.

Hanya tatapan yang tenang—terlalu tenang—seperti permukaan air sebelum badai.

Nadira merapikan rambutnya lebih dulu. Selalu begitu. Rapi. Terkontrol. Tatapannya mengarah pada Lauren tanpa rasa bersalah yang nyata—lebih seperti tantangan yang dibungkus sopan.

“Ini tidak seperti yang terlihat,” ucap Arga cepat, terlalu cepat.

Maya tertawa kecil. Pendek. Tajam.

“Jangan,” katanya. “Jangan hina kecerdasan kami.”

Lauren akhirnya melangkah maju satu langkah. Hak sepatunya bergema di tangga darurat, pelan tapi tegas. Ia berdiri tepat di depan mereka—jarak yang cukup dekat untuk melihat bekas lipstik di sudut bibir Arga. Warna yang sudah sangat ia kenal.

Ia menghela napas pelan.

“Jam kerja,” ucapnya datar. “Dan kalian memilih tempat ini.”

Arga membuka mulut, menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehabisan kata.

Nadira menyilangkan tangan, dagunya sedikit terangkat. “Aku bisa jelaskan secara profesional jika diperlukan.”

Lauren menoleh padanya. Tatapan itu singkat—cukup untuk membuat senyum Nadira menegang.

“Tidak perlu,” jawab Lauren. “Aku tidak tertarik pada penjelasan pribadi.”

Ia menoleh kembali pada Arga. Kali ini, matanya dingin.

“Ruang rapat jam sepuluh,” katanya. “Jangan terlambat.”

Bukan sebagai istri.

Sebagai atasan.

Lauren berbalik lebih dulu. Langkahnya mantap saat melewati Maya. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada suara yang pecah. Pintu tangga darurat tertutup di belakang mereka dengan bunyi pelan—seperti palu terakhir yang mengunci kebenaran.

Maya menyusul di sampingnya, napasnya masih berat.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya lirih.

Lauren tidak menjawab. Ia berjalan kembali ke ruangannya, menutup pintu, dan berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Baru ketika sendirian, ia menutup mata.

Bukan karena hancur.

Melainkan karena akhirnya—tidak ada lagi yang perlu ia pura-pura tidak lihat.

__

Ruang rapat lantai 16 dipenuhi cahaya putih dan kaca bening. Meja panjang mengilap memantulkan bayangan wajah-wajah yang duduk mengelilinginya—tegang, waspada, dan diam-diam penasaran.

Jam dinding menunjukkan 09.58.

Satu per satu kursi telah terisi. Para kepala tim, manajer, dan staf inti pemasaran duduk dengan punggung tegak. Tidak ada percakapan ringan pagi ini. Tidak ada tawa. Semua orang tahu—udara hari ini berbeda.

Pintu terbuka tepat pukul 10.00.

Lauren Hermansyah masuk.

Langkahnya tenang. Hak heels-nya berdetak pelan namun tegas di lantai. Ia duduk di kursi kepala meja tanpa menunggu siapa pun berdiri menyambut. Laptop dibuka. Tablet diletakkan rapi di sampingnya. Wajahnya datar—terlalu terkendali untuk seseorang yang baru saja melihat pengkhianatan paling telanjang.

Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka.

Arga masuk.

Ruang rapat langsung terasa lebih sempit.

Ia berjalan ke kursinya dengan langkah kaku, rahang mengeras. Nadira masuk menyusul, wajahnya kembali pada versi profesional—rapi, dingin, dan seolah tidak terjadi apa-apa sepuluh menit lalu.

Lauren tidak menoleh.

“Baik,” ucap Lauren akhirnya, suaranya jernih dan stabil. “Kita mulai.”

Ia menyalakan layar presentasi. Grafik, data, dan agenda rapat muncul satu per satu. Tangannya tidak gemetar. Nada bicaranya tidak berubah. Seolah ia hanya sedang memimpin rapat biasa—bukan berdiri di hadapan suaminya yang berselingkuh.

“Kampanye kuartal ini akan kita revisi total,” lanjutnya. “Target pasar kita meleset. Terlalu aman. Terlalu pengecut.”

Beberapa orang menelan ludah.

“GREYFADE bukan perusahaan yang menjual produk,” Lauren menatap seluruh ruangan. “Kita menjual gaya hidup. Rasa. Identitas. Dan saat ini, kita kehilangan semuanya.”

Nadira mengangkat tangan. Senyumnya profesional.

“Dengan segala hormat, konsep tim kami sudah disetujui manajer umum minggu lalu.”

Lauren menoleh perlahan.

Tatapan mereka bertemu.

“Disetujui,” Lauren mengangguk kecil. “Tapi tidak layak dieksekusi.”

Ruangan membeku.

“Alasannya?” tanya Nadira, nada suaranya mulai meninggi tipis.

Lauren menggeser tablet ke tengah meja, memutar layar ke arah semua orang. “Ini alasannya.”

Slide berganti cepat. Data konsumen. Tren pasar. Komentar pengguna. Grafik penurunan minat.

“Rancanganmu cantik,” lanjut Lauren, tenang. “Tapi kosong. Tidak bicara apa pun pada konsumen kita.”

Ia menoleh ke seluruh tim.

“Dan di sini, kita tidak dibayar untuk membuat sesuatu yang cantik saja.”

Arga menunduk. Tangannya terkepal di bawah meja. Ia tidak berani menatap Lauren—bukan karena jabatan, melainkan karena cara perempuan itu berdiri tegak seolah tidak pernah menjadi istrinya.

Rapat berlanjut.

Keputusan diambil. Deadline ditarik lebih dekat. Tim dibagi ulang. Tidak ada ruang untuk protes.

Ketika rapat hampir selesai, Lauren menutup laptopnya.

“Ada pertanyaan?”

Tidak ada.

Lauren berdiri. Semua orang ikut berdiri—refleks, bukan perintah.

“Terima kasih,” ucapnya singkat. “Kita bertemu lagi dua hari ke depan. Pastikan kali ini, yang kalian bawa adalah hasil kerja—bukan ego.”

Ia melangkah menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Dan satu hal lagi,” katanya pelan namun jelas. “GREYFADE tidak mencampur urusan pribadi dengan profesional. Siapa pun.”

Kalimat itu menggantung seperti pisau di udara.

Pintu tertutup di belakangnya.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Arga akhirnya menghembuskan napas berat. Nadira menatap meja, kukunya menekan map terlalu keras. Maya—yang duduk di ujung ruangan—menatap pintu yang baru saja ditutup Lauren dengan mata tajam.

Hari itu, semua orang di lantai 16 memahami satu hal:

Lauren Hermansyah bukan kembali untuk beradaptasi.

Ia kembali untuk mengambil alih.

1
july
kata- katanya indah banget👍
kalea rizuky
lanjut donk. g sabar liat Arga nangis darah
kalea rizuky
karma buat jalang dan Arga mana nih
kalea rizuky
nah gini donk tegas
Lili Inggrid
lanjut
Rynda Atmeilya
bahasamu Thor 😍😍
Agus Tina
Thor kenapa itu ada tulisan end? belum kan?
Agus Tina
Good job Lauren
Agus Tina
Kenapa Aega belum disinggung thor, menyesalkah ia?
Agus Tina
Baguus ....
Agus Tina
Bagus ... suka karakter kuat seperti Lauren
Mao Sama
Apa aku yang nggak terbiasa baca deskripsi panjang ya?🤭. Bagus ini. Cuman—pembaca novel aksi macam aku nggak bisa terlalu menghayati keindahan diksimu.

Anyway, semangat Kak.👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!