NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Terima Kasih yang Terucap

Kadang cinta tak perlu hadir dalam pelukan. Cukup dalam diam, tapi tetap peduli.

...Happy Reading!...

...*****...

Kita memang tidak pernah tahu apakah kedatangan kita ke suatu tempat terjadi di waktu yang tepat atau justru sebaliknya.

Seperti yang baru saja dilakukan Saka. Pria itu tidak menyadari bahwa kedatangannya ke rumah tetangga yang berada tepat di depan rumah barunya ternyata terjadi di waktu yang salah.

Niat awal Saka hanya ingin mengembalikan rantang milik Cayra. Beberapa hari lalu, perempuan itu memberinya rantang berisi masakan buatan ibunya sebagai sambutan hangat dari tetangga baru.

Lupakan soal rantang itu. Yang lebih penting sekarang adalah Saka, yang sedang berdiri diam di dekat pagar rumah Cayra.

Saka terkejut ketika hendak masuk. Suara Cayra dan ibunya terdengar cukup keras dari dalam rumah. Dua perempuan itu seperti sedang berdebat. Ia menggenggam rantang yang dibawanya dengan erat.

Pintu rumah yang sedikit terbuka membuat Saka masih bisa mendengar percakapan di antara mereka.

Awalnya suara mereka tidak terlalu keras, tapi semakin lama suasananya memanas dan suara pun meninggi.

"Mimpi kamu itu tidak ada hubungannya dengan perjodohan ini. Anak teman Mama itu baik. Mama yakin dia bisa buat kamu bahagia."

Saka awalnya tidak berniat menguping. Ia bahkan sempat ingin pergi. Namun saat mendengar soal perjodohan, ada rasa penasaran yang tiba-tiba menyentak dadanya.

"Justru ada hubungannya. Caca cuma ingin sekali saja bahagia dari pilihan Caca sendiri."

"Ca, kamu anak Mama. Kami ikut campur karena kami ingin yang terbaik untuk kamu. Buktinya, walaupun impian kamu pupus, kamu tetap dapat pekerjaan yang layak."

"Mama bilangnya 'pupus'? Mama gak tahu rasanya melihat impian yang sudah kita inginkan sejak lama hancur begitu saja."

Apa? Jadi impian Cayra tidak pernah terwujud? Pantas saja waktu melihat banner foto Cayra di kantor dengan jabatannya di Nebula Creatives, Saka merasa ada sesuatu yang ganjil.

Ia merasa posisi itu bukanlah impian yang dulu pernah diceritakan Cayra kepadanya. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sampai Cayra harus merelakan impiannya?

"Kamu terlalu dramatis. Lagipula, impian itu kamu kejar untuk dapat gaji besar, kan? Sekarang kamu dapat itu juga."

"Ma, impianku bukan soal gaji. Tapi soal perasaan. Tentang keinginan yang begitu aku dambakan. Bayangkan kalau impian Mama sendiri harus dikubur karena alasan yang bukan kesalahan Mama. Sakit, kan?"

"Mama tahu rasanya. Tapi apa gunanya terus mengingat masa lalu?"

"Karena itu terlalu sakit untuk dilupakan!"

Saka tahu betul makna dari ucapan Cayra barusan. Ia juga pernah merasakan hal yang sama. Sangat sama.

"Terus Mama harus apa? Itu memang takdir kamu!"

"Gak perlu apa-apa, Ma. Cukup jangan ikut campur. Jangan menjodohkan aku dengan orang yang bahkan tidak aku kenal!"

"Apa salahnya mencoba dulu? Siapa tahu dia jodoh kamu."

"Enggak, Ma. Caca ingin menemukan takdir cinta Caca sendiri. Tanpa bantuan siapa-siapa."

Setelah suara mereka tak lagi terdengar, barulah Saka melangkahkan kaki pergi ke rumahnya yang berada tepat di seberang, masih dengan rantang yang belum sempat ia berikan.

Sampai di rumah, Saka duduk di kursi teras. Entah mengapa, ia ikut merasakan sedih setelah mendengar perdebatan Cayra dan ibunya.

Padahal, Saka baru saja pulang dari Nebula Creatives setelah bertemu Mbak Rania. Tujuan awalnya datang ke rumah Cayra bukan untuk berbasa-basi, tapi untuk mengembalikan rantang yang telah ia isi ulang dengan makanan yang dibelinya di perjalanan.

Namun alih-alih menyerahkan rantang itu, ia justru mendengar percakapan keluarga Cayra. Tanpa sengaja. Tanpa direncanakan.

Dan ternyata, hidup Cayra sama beratnya dengan hidupnya. Entah mengapa, rasa empati dalam diri Saka begitu kuat saat melihat perempuan itu terluka.

Saka mengacak rambutnya, frustrasi. Ia tidak mengerti, mengapa ia harus peduli pada Cayra. Perempuan yang dulu sempat memberinya luka begitu dalam, yang bahkan sampai sekarang belum sepenuhnya sembuh.

Tapi yang membuat Saka paling penasaran bukan tentang perjodohan, melainkan apa yang sebenarnya terjadi hingga Cayra gagal mewujudkan impiannya.

Dulu, saat masih sekolah, mereka pernah berjanji untuk saling mewujudkan mimpi masing-masing.

Awalnya Saka bahkan tidak memiliki mimpi. Baru setelah Cayra menyadarkannya bahwa setiap orang butuh mimpi, ia mulai menetapkan tujuan. Kini, mimpi itu telah terwujud. Saka berhasil membangun usahanya sendiri.

Namun mengapa justru Cayra yang begitu bersemangat dulu, kini kehilangan impiannya?

Pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya hingga matanya menangkap pergerakan. Sebuah ojol berhenti tepat di depan rumah Cayra.

Tak lama, Cayra keluar sambil membawa tote bag. Ia berbincang sebentar dengan pengemudi ojol, lalu mengenakan helm dan naik ke motor.

Saka sempat melihat mata Cayra yang sembab. Perasaan tidak tenang langsung menyeruak di dada Saka.

Tanpa berpikir panjang, ia membawa masuk rantang ke dalam rumah, menguncinya, lalu segera menuju mobil.

Ia menyalakan mesin, lalu mengikuti motor ojol yang membawa Cayra. Seperti penguntit, ya. Tapi Saka tidak peduli. Ia hanya ingin memastikan Cayra pergi ke tempat yang aman. Ia tidak ingin menyesal jika ternyata Cayra sedang berada di titik rapuh dan melakukan hal yang membahayakan.

Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti di taman kota.

Saka menghela napas lega. Setidaknya Cayra tidak pergi ke tempat seperti jembatan atau balkon gedung.

Ia memarkirkan mobil, lalu berjalan perlahan. Dari balik pohon besar di sisi kanan taman, ia melihat Cayra duduk sendiri di bangku taman. Bangku yang dulu sering ia gunakan untuk menggambar.

Cayra melihat buku sketsanya. Kemudian termenung.

Saka menatapnya. Perasaannya ikut remuk melihat perempuan itu tenggelam dalam kesedihan. Ia ingin menghampiri, ingin memeluk. Tapi kenyataan hubungan mereka sekarang membuat langkah itu tertahan.

Pandangan Saka lalu tertuju pada lima anak kecil yang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka lusuh. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka tampak bermain dengan sisa energi sore.

Saka menghampiri mereka dan berjongkok.

"Hai, kalian sedang apa? Boleh Kakak minta bantuan?" tanyanya pelan.

Kelima anak itu menoleh. Salah satu anak laki-laki menjawab, "Bantuan apa, Kak? Kami nggak punya uang."

"Bukan soal uang," balas Saka sambil tersenyum. "Kakak ingin kalian menghibur Kakak yang sedang bersedih itu."

Ia menunjuk ke arah Cayra yang masih termenung.

"Kenapa dia bersedih?" tanya seorang anak perempuan.

"Dia seorang penggambar hebat. Mungkin sekarang dia sedih karena belum menemukan sesuatu yang ingin digambar. Bagaimana kalau kalian menawarkan diri untuk digambar olehnya? Supaya dia tidak sedih lagi?"

Anak-anak itu terdiam, lalu saling berpandangan. Kemudian mengangguk serempak.

"Baiklah. Kita akan temui Kakak penggambar hebat itu."

"Terima kasih, ya. Pasti nanti gambar kalian akan luar biasa karena dia memang hebat."

"Beneran, Kak? Ayo, kita ke sana sekarang."

Kelima anak itu segera berlari mendekati Cayra. Melihat itu, Saka tersenyum kecil. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membuat Cayra tersenyum, meskipun tidak secara langsung.

Cayra kini terlihat tengah mengobrol dengan kelima anak tersebut. Tapi beberapa saat kemudian, Saka segera bersembunyi di balik pohon besar saat melihat Cayra menatap sekeliling taman seperti mencari sesuatu.

Saka langsung memegang dadanya seakan takut jantungnya copot. Ia benar-benar panik. Seperti seorang mata-mata yang takut ketahuan.

Setelah merasa keadaan aman, Saka baru memberanikan diri mengintip kembali. Senyum terbit di bibir pria itu saat melihat Cayra kini tersenyum, bahkan tertawa, ketika sedang menggambar kelima anak itu.

Hal itu membuat Saka merasa seperti dejavu. Beberapa tahun lalu, Cayra pernah melakukan hal serupa. Perasaan yang ia rasakan pun masih sama seperti dulu.

Entah kenapa Saka merasa seperti orang bodoh. Untuk apa ia peduli pada orang yang sudah membuat luka di hatinya? Mungkin sebagian orang akan mengatakan begitu. Namun bagi Saka, Cayra sangat berarti.

Meskipun perempuan itu kini terlihat tidak peduli kepadanya, jauh di lubuk hati, Saka masih menyayanginya. Bahkan, mencintainya seperti dulu.

Cayra adalah satu-satunya orang yang mengajarkan Saka arti cinta, kebahagiaan, dan impian. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.

Belum ada orang yang mampu menggantikan posisi Cayra di hatinya, meskipun mungkin Cayra pernah melakukan kesalahan besar yang membuat Saka terluka sangat dalam.

Luka itu tidak membuat Saka melupakan Cayra, apalagi membencinya. Justru, rasa itu tumbuh semakin dalam. Hanya saja, kali ini ia mencintai dengan lebih hati-hati. Agar tidak terluka di tempat yang sama.

Seperti saat ini, ketika melihat Cayra kembali bahagia setelah bersedih, hal itu mampu membuat Saka ikut merasakan kebahagiaan yang sama.

Melihat kelima anak itu yang sudah pergi meninggalkan Cayra dan Cayra yang kini tampak lebih ceria, Saka juga ikut merasa lega.

Entah kenapa, Saka kembali bersembunyi di balik pohon besar saat melihat Cayra seolah menatap ke arahnya.

Beberapa saat kemudian, Saka mendengar teriakan lembut dari Cayra yang tak pernah ia duga.

"Terima kasih."

Saka langsung terdiam. Ia merasa, apakah Cayra tahu bahwa dirinya yang menyuruh anak-anak itu?

Di satu sisi, ia merasa senang. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak enak.

Namun terlepas dari itu semua, yang terpenting bagi Saka adalah, ia sudah berhasil membuat Cayra kembali bahagia setelah sebelumnya terlihat begitu rapuh.

Mungkin cinta memang sesederhana itu, cukup tahu dia baik-baik saja, lalu ikut bahagia dalam diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!