NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memburu Rivaldo - 5

Alexander mengajak Riko untuk ikut bersamanya.

“Ayo ,ikut aku..” ucapnya singkat."Aku akan membuat hidup mu enak." Nada suaranya terdengar datar, tetapi sikapnya memberi kesan memaksa, membuat suasana di antara mereka terasa menekan.

Riko yang diliputi kebingungan perlahan melangkah mundur, berusaha menjaga jarak. Ia menatap Alexander dengan wajah pucat dan napas yang mulai tidak teratur.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanyanya. Ketakutan jelas terpancar dari sorot matanya.

Alexander tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru melangkah maju dan secara tiba-tiba menarik tangan Riko dengan kasar. Riko tersentak, tubuhnya menegang, lalu ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tersebut. "Untuk anak seumuran mu,kau terlalu banyak bicara."

Dalam keadaan terdesak, Riko memukul tangan Alexander sekuat tenaga. Alexander mengerang pelan karena rasa sakit yang tak terduga. Namun, rasa kesal segera menggantikan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Itu Cukup menyakitkan."

ucap Alexander dengan nada dingin. Tanpa ragu, ia melayangkan pukulan ke kepala Riko dari arah kiri. Riko kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah.

Riko menangis tertahan, tubuhnya tak mampu lagi bergerak. Pandangannya mengabur hingga akhirnya ia pingsan. Alexander kemudian menarik kaki Riko dan menyeretnya pergi, meninggalkan tempat itu.

......................

“Di mana aku??”

Riko terbangun di sebuah ruangan kosong. Di dalamnya hanya terdapat satu kasur dan satu meja. Ia terbaring di atas kasur berwarna putih dengan rangka besi yang terasa dingin.

Riko menggaruk kepalanya, kebingungan, lalu berusaha mengingat kejadian sebelumnya.

 “Ah aku pingsan saat di pukul oleh orang itu, Dan di mana aku sekarang?” gumamnya dengan napas yang belum teratur.

Ia berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu sambil mengamati ruangan itu sekali lagi. Langkahnya ragu, seakan khawatir sesuatu akan terjadi jika ia bergerak terlalu jauh.

“Huh...ini tidak terkunci..”

Riko memegang gagang pintu dan menyadari pintu tersebut tidak terkunci. Ia pun membukanya. Saat pintu terbuka, yang terlihat hanyalah lorong sunyi dengan beberapa ruangan lain yang sama persis seperti ruangan tempat ia terbangun tadi.

“kosong sekali.”

Riko menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukan apa pun di tempat itu. “Aku harus keluar dari sini.”

Riko berjalan lurus menyusuri lorong hingga akhirnya ia mendengar banyak suara teriakan anak seusianya.

“Seperti Suara kegaduhan.” katanya pelan, langkahnya melambat karena rasa waspada.

Ia mendekati sumber suara itu dan melihat sebuah ruangan besar dengan tiga lantai. Tempat itu ramai oleh orang-orang yang berdiri menonton sesuatu. Di tengah ruangan tersebut terdapat sebuah arena pertarungan. Riko terdiam ketika menyadari bahwa anak-anak seusianya dipaksa untuk bertarung.

“Ini pasti adalah alasan Alexander membawa ku ke sini.” Riko diliputi ketakutan. Ia segera berbalik dan berlari menjauh karena tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya.

“Ini pasti hanya lah mimpi..!!!” ketakutan Riko semakin menjadi-jadi, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bercampur. “Ini pasti mimpi..!!”

pada saat itu juga ,Riko menghentikan ingatan nya dan kembali ke masa sekarang, tidak tidak ingin melanjutkan ingatan yang dia dia sukai.

...----------------...

Kembali ke saat ini.

Di lantai dua, Riko terkapar di lantai, dikepung tujuh orang yang bergantian menghantam tubuhnya. Tinju, tendangan, dan dorongan datang dari segala arah tanpa jeda.

"Aku malah jadi teringat masa kecil ku begini...."

Tubuhnya terguncang, bergeser di atas lantai dingin, sementara suara benturan daging dan napas berat memenuhi ruangan.

Setiap pukulan yang mendarat terasa seperti membuka kembali luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.

“Karena saat aku kecil aku sering di pukuli begini,aku jadi teringat dengan masa lalu itu.”

Suara Riko terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh kekerasan yang terus menghantamnya. Pandangannya berkunang, namun di balik itu, ingatan lama bermunculan satu per satu. Rasa sakit yang dulu ia telan sendirian kini kembali, menyatu dengan rasa sakit yang ia terima sekarang.

Perlahan, Riko menanamkan telapak tangannya ke lantai dan mulai bangkit. Tubuhnya yang besar terangkat, punggungnya kembali tegak. Ketujuh orang di hadapannya secara refleks mundur setengah langkah.

"Apa ini,dia terlihat berbeda!!."

"Apa nya yang berbeda bodoh?, menurut ku ,dia tetap sebuah samsak tinju..!."

Reaksi orang-orang berbeda beda.

 “Aku mengingat semuanya,masa kecil itu..,aku kabur dari masa lalu ku sampai lupa Denga tujuan ku..”

Sorot mata Riko berubah, bukan lagi mata orang yang bertahan, melainkan mata seseorang yang akhirnya sadar akan arah hidupnya.

Tanpa aba-aba, Riko mengayunkan tangan kanannya ke depan. Hantaman itu tidak terlihat berlebihan, namun dampaknya brutal.

Ketujuh orang itu terpental beberapa meter ke belakang, tubuh mereka menghantam lantai dengan suara keras dan berat. Ruangan mendadak sunyi, dipenuhi keterkejutan yang menggantung di udara.

Riko menggerakkan lehernya perlahan hingga terdengar bunyi keretek yang jelas.

“Jika mengingat nya ,masa kecil ku itu sangat menjijikan, sampai aku bertemu dengannya (Rio), Aku akan melanjutkan tujuan ku.”

Napasnya berat, dada naik turun, tapi kakinya menapak lantai dengan mantap, seolah kini tidak ada yang bisa menggoyahkannya.Riko memegang dadanya,ada yang berbeda dengan nya.

"Tubuhku ...panas ..."

Riko menjadi semangat lagi.

Namun mereka belum menyerah. Ketujuh orang itu kembali bangkit dan menerjang bersama, pukulan kembali menghujani tubuh Riko tanpa henti.

Riko menahan semuanya, dan di saat itulah dia menyadari ada yang berbeda. Pukulan-pukulan itu terasa tumpul, seperti menghantam dinding tebal. Kulit dan ototnya terasa jauh lebih padat, hampir tak tergoyahkan.

“Apa ini!!.”

Riko terkejut di tengah hujan serangan. Di sisi lain, wajah para penyerangnya mulai dipenuhi kepanikan.

 “Kenapa dia kuat sekali.” ucap salah satu dari mereka, suaranya gemetar.

...----------------...

Di atap gedung sekolah, angin sore berembus pelan menyapu permukaan beton yang luas dan terbuka. Arya berdiri tenang, berhadapan langsung dengan Kariel dan Fariel yang berdiri sejajar di depannya.

 Jarak mereka tidak terlalu jauh, cukup dekat untuk saling membaca gerak napas. Matahari yang mulai condong membuat bayangan mereka memanjang, menciptakan suasana tegang yang terasa berat.

“Kenapa kalian hanya diam?, kapan ini akan di mulai.”

kata Arya sambil menantang Mereka berdua. Kedua tangannya terangkat ke depan dada, siku sedikit menekuk, telapak terbuka menghadap lawan. Posisi itu tampak santai, namun justru terasa berbahaya, seperti air yang tenang sebelum menghanyutkan.

“Kau berisik sekali.”

kata Kariel. Suaranya datar, tanpa emosi. Kariel dan Fariel saling melirik sepersekian detik, lalu melangkah maju bersamaan, langkah mereka selaras seperti sudah dilatih ratusan kali.

Kariel mengayunkan Hook dari kiri, sementara Fariel menendang dari kanan pada waktu yang hampir bersamaan. Arya bergerak refleks, kakinya meluncur mundur dengan lompatan kecil, tubuhnya berputar sedikit untuk menghindari dua serangan itu.

Saat kedua saudara kembar itu kehilangan momentum dan kaki mereka kembali menapak, Arya justru melangkah masuk ke jarak mereka.

Dalam satu rangkaian gerakan yang halus, Arya memanfaatkan tenaga mereka sendiri.

Tangannya menempel, menarik, lalu memutar tubuh Kariel dan Fariel secara bersamaan. Tanpa sempat mereka sadari, keseimbangan keduanya terangkat.

Tubuh Kariel dan Fariel melayang di udara, terangkat dalam lintasan yang sama, seolah dilempar oleh arus yang tak terlihat. Itu bukan lemparan kasar, bantingan bersih yang memutus kendali mereka.

“Apa ini.”

kata Fariel bisik nya.

Kata-kata itu keluar saat tubuhnya belum sempat menyentuh tanah, kebingungan jelas tergambar di wajahnya.

Sebelum mereka benar-benar mendarat, Arya melangkah maju. Dengan gerakan pendek dan tepat, ia memukul perut mereka berdua hampir bersamaan.

Hantaman itu menghantam pusat tubuh, membuat Kariel dan Fariel terpental menjauh, tubuh mereka meluncur di udara sebelum akhirnya jatuh keras di atap gedung.

Arya kembali berdiri tegak."Apa.. Hanya segitu??." Matanya menutup dan mulut nya tersenyum.

Arya menghela napas pelan, sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang jelas. Bahunya sedikit turun,pertarungan barusan belum cukup memuaskannya.

Namun sebelum ia benar-benar santai,Fariel sudah bangkit kembali, tubuh nya kembali ke posisi bertarung tanpa banyak basa-basi.

“Apa hanya ini saja, mungkin aku akan mati kebosa---” ucap Arya.

Kalimat itu bahkan belum sepenuhnya selesai,ketika Fariel melompat tinggi, tubuhnya melayang dengan sudut tajam.

Tumitnya meluncur turun dari atas, diarahkan tepat ke kepala Arya. Benturan tertahan ketika tumit Fariel berhenti di pundak kiri Arya, itu tertahan Cukup Kuat.

Arya sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Cepat juga kau.”

Tangannya segera mencengkeram kaki Fariel. Dengan satu putaran pinggul dan tarikan terarah, Arya membanting tubuh Fariel menggunakan teknik yang sama seperti sebelumnya, memanfaatkan putaran di udara untuk menjatuhkannya dengan keras.

Namun kali ini Fariel sudah siap. Di udara, tubuhnya berputar cepat, membalikkan posisi sebelum sepenuhnya terlempar.

Dari sisi samping, kakinya menyapu cepat, menendang kepala Arya dengan sudut mendatar. Arya menahannya tepat di sebelah kiri mukanya, lengan dan bahunya terdorong keras oleh dampak serangan itu.

“mana kesombongan mu yang tadi?.” Kata Fariel sehabis membuat Arya terhempas mundur puluhan langkah.

Arya meluncur ke belakang, sol sepatunya berdecit panjang di atas beton sebelum akhirnya berhenti.

Fariel mendarat dan berdiri tegak. Di belakangnya, Kariel juga bangkit, baru saja berdiri sambil memutar bahunya dan meregangkan otot-ototnya.

“Aku sedikit lama tadi.” Kata Kariel sambil melakukan peregangan, ekspresinya tetap dingin namun siap.

Arya menatap mereka berdua, lalu tertawa kecil, wajahnya justru terlihat lebih hidup dari sebelumnya.

“Aku salah.., sepertinya ini akan seru!.”

katanya dengan nada bergembira, tubuhnya kembali ke posisi bertarung, Dia benar - Benar menikmati Pertarungan nya.

Di sisi lain Di dekat dengan pertarungan Arya ,ada Rio yang melawan Rivaldo.

Rio dan Rivaldo bergerak nyaris bersamaan. Keduanya menerjang tanpa aba-aba, langkah kaki menghantam lantai balkon dengan keras.

Dalam satu momen singkat, pukulan mereka saling bertemu, masing-masing mengenai pipi kanan lawan. Benturan itu membuat tubuh mereka sama-sama terhempas mundur, udara bergetar oleh suara bentrokan keras.

Rivaldo lebih dulu menegakkan tubuhnya, senyum tipis terukir di wajahnya seolah menikmati rasa sakit itu.

“Kau menjadi kuat.” katanya santai.

Rio tidak menjawab. Ia langsung melompat ke depan, tubuhnya melayang rendah dan cepat. Dalam sekejap, alas kakinya sudah berada tepat di depan wajah Rivaldo, tendangan lurus yang nyaris tak terlihat datangnya.

Rivaldo menahan serangan itu dengan susah payah, kedua lengannya terdorong keras hingga tubuhnya sedikit goyah.

Dengan tenaga penuh, ia mencengkeram dan melempar Rio menjauh darinya. Rio berputar di udara dan mendarat dengan stabil beberapa meter jauhnya.

Rivaldo menghela napas pendek, ekspresinya berubah serius.

“Kau cepat sekali!.”

ucapnya, nada suaranya kali ini tak lagi santai.

Rio tetap berdiri tegak, bahunya rileks, tatapannya dingin tanpa emosi.

“Kau terlalu banyak bicara.” katanya singkat, tanpa sedikit pun nada meremehkan, justru seperti pernyataan fakta.

Amarah Rivaldo langsung meledak. Matanya melotot, pupilnya mengecil tajam. Ia menerjang lurus ke arah Rio dan melancarkan cross penuh tenaga ke depan wajahnya.

“Ini pasti kena!!.” teriaknya dalam pikirannya. Namun Rio dengan tenang menghindar, melompat ke belakang dengan jarak yang pas. Ia menatap Rivaldo yang kini tampak sedikit kebingungan.

“Dia tidak secepat Peter… bahkan King’s Sense-ku tidak menyala.” gumam Rio pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin sore.

"Sepertinya Ini akan mudah." Pikirnya.

Rio kembali menerjang, kali ini jauh lebih cepat dari sebelumnya. Tubuhnya melompat rendah, wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun keraguan.

Saat tubuhnya miring di udara, dengkul kanannya terangkat dan mengarah lurus ke wajah Rivaldo, serangan yang datang seperti kilatan tanpa peringatan.

Rivaldo terlambat bereaksi. Matanya baru melebar saat serangan itu sudah terlalu dekat. Dengkul Rio menghantam wajahnya dengan keras, membuat tubuh Rivaldo terpental jauh ke belakang hingga menghantam pagar atap sekolah.

Suara benturan logam bergema, tubuhnya sempat terkulai sebelum akhirnya bertahan agar tidak jatuh.

Rivaldo terhuyung-huyung, satu tangannya menahan pagar. Ia menatap Rio dengan napas berat dan mata penuh keterkejutan.

“Apa apaan itu… bagaimana dia bisa sekuat ini dalam satu bulan saja….” gumamnya, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.

Namun kemarahan segera mengambil alih. Rivaldo kembali bangkit, wajahnya mengeras, emosinya meledak tanpa sisa.

Ia menerjang ke arah Rio dengan membabi-buta, langkah kakinya menghantam lantai, lalu melancarkan jab-jab cepat bertubi-tubi ke arah wajah dan tubuh Rio.

Rio terpaksa bertahan. Kedua lengannya terangkat menahan serangan demi serangan, tubuhnya terdorong mundur sedikit demi sedikit. Setiap pukulan Rivaldo datang cepat dan tanpa jeda, membuat Rio sulit mencari celah untuk membalas.

“Cih….” Rio mendecak pelan.

menahan satu jab yang nyaris menembus pertahanannya."ini Jadi menyulitkan."

Rio terus mundur, kakinya bergerak cepat ke kanan, ke kiri, lalu ke belakang. Setiap pukulan Rivaldo nyaris menyentuh wajahnya, angin dari tinjuan itu saja sudah cukup membuat rambutnya tersibak.

 Ia hanya bertahan, menyingkir sepersekian detik sebelum serangan mendarat, tanpa ruang sedikit pun untuk membalas.

“Aku harus menang!!” teriak Rivaldo keras, wajahnya memerah, urat di lehernya menonjol.

“Aku harus menang!!!” teriaknya lagi, langkahnya semakin agresif, serangannya semakin liar namun penuh tekad. Tekanan itu perlahan memaksa Rio ke batas pagar balkon.

Rio masih menghindar, tetapi napasnya mulai berat. Konsentrasinya terpecah oleh intensitas Rivaldo yang tidak turun sedikit pun.

Dan di satu momen singkat, sepersekian detik kelengahan terjadi.

Duk!

Tinju Rivaldo menghantam wajah Rio. Tubuhnya terhempas ke samping dan berguling di lantai atap sekolah. Pandangannya bergetar sesaat sebelum ia berhenti dengan satu lutut menyentuh tanah.

“Apa ini…?”

 gumam Rio sambil memegang pipinya yang perih.

 “King’s Sense-ku… tidak mendeteksinya?!”

Matanya menyipit, pikirannya berputar cepat mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Ia menatap kembali ke arah Rivaldo, jantungnya berdetak lebih cepat.

 “Kenapa rasanya seperti terkena dua kali… padahal aku jelas melihat hanya satu pukulan?”

Suaranya rendah, penuh kebingungan.

Mata Rio tiba-tiba membelalak. Sebuah kemungkinan menghantam pikirannya seperti petir.

“Jangan-jangan… dia juga membangkitkan sesuatu… sesuatu yang mirip dengan King’s Sense?”

 sejak pertarungan dimulai, ekspresi Rio menunjukkan kepanikan tipis.

Setelah tinjunya mendarat, Rivaldo menurunkan tangan dan menatap kepalan tangannya sendiri dan menggerakkan jarinya. Jemarinya masih sedikit bergetar, sensasi aneh merambat dari jari ke lengannya.

“Ini aneh… seperti ada yang berbeda.”

Ia lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar ke arah Rio, giginya terlihat jelas, senyum orang yang baru menemukan mainan baru.

“Hah… apapun itu, itu akan membuatku menang…”

ucap Rivaldo, nada suaranya merendahkan, seolah hasil pertarungan sudah ditentukan. Ia melangkah santai, percaya diri yang hampir berlebihan.

Rio bangkit perlahan. Ia tidak langsung menyerang, hanya berjalan ke samping, menjaga jarak sambil mengamati gerak Rivaldo.

“Kau telah melewati tembok itu ya…?”

katanya pelan. matanya tajam mengikuti setiap pergeseran lawan.

Rivaldo ikut bergerak menyamping, keduanya berputar membentuk lingkaran tak terlihat.

“Kau berkata seakan tahu sesuatu.”

Tanpa peringatan, Rivaldo menerjang. Ia melompat lebih dulu, tubuhnya menukik dari atas, lalu tinjunya meluncur ke wajah Rio.

Rio mengangkat kedua tangan untuk bertahan.

Buk!

Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah. Rasa itu kembali muncul, tekanan ganda yang membuat lengannya mati rasa sesaat.

“Ah benar saja… itu seperti dipukul dua kali,”

gumamnya, napasnya sedikit tertahan.Rio berpikir dengan cepat.

“Jadi biar aku tebak, kemampuannya aktif ketika dia meninju ya..., Kalau begitu… aku hanya harus menghindarinya.”

Ia mengatur napas, King’s Sense nya aktif dan dia semakin fokus dan tenang. lalu Rivaldo kembali melompat ke depan.

“Kali ini pasti kena!!”

Cross dilayangkan lurus ke wajah Rio. Rio sempat berniat menahannya menggunakan kedua tangannya lagi tapi ia melihat tangannya sendiri bergetar.

“Aku hanya harus menghindarinya.”

Dengan satu gerakan halus, ia memiringkan kepala ,lalu membungkukkan badannya dan melakukan Hook pada Rahang kanan Rivaldo.

"Kena!."

katanya tenang. Dan Rio langsung melompat mundur cepat untuk menciptakan jarak aman.

tanpa basa basi Rivaldo bergerak cepat menutup jarak, langkah kakinya menghantam lantai atap dengan keras.

Tangan kirinya melesat, tinju mengarah lurus ke wajah Rio, namun Rio hanya menggeser kepalanya dengan tenang sederhana karena dia telah Melihat, pukulan itu hanya menyapu udara.

Rio langsung membalikkan tubuhnya, kedua tangannya menyentuh lantai, kakinya terangkat ke atas.

Dalam satu putaran cepat, kakinya terbuka lalu berayun, membentuk lingkaran mematikan.

“Teknik apa ini!!??”

gumam Rivaldo, matanya membesar sesaat sebelum tendangan itu menghantam wajah kirinya.

Buk!

Tubuhnya terlempar setengah putaran, langkahnya oleng, keseimbangannya goyah.

Rio sudah berdiri tegak sebelum Rivaldo sempat memulihkan diri. Tanpa ragu, ia berlari lalu melompat tinggi, tubuhnya melayang tepat di atas Rivaldo.

Dari udara, punggung kakinya menusuk lurus ke bawah, mengincar kepala lawannya. Tendangan itu mendarat keras.

Gedam!

Rivaldo tersungkur, lantai atap retak halus di bawah mereka.

Namun Rio belum berhenti. Tubuhnya belum sepenuhnya mendarat, kakinya kembali terangkat, bersiap menginjak kepala Rivaldo yang tergeletak.

Wajah Rio gelap, napasnya kasar, pikirannya dipenuhi satu hal saja. Balas dendam. Tidak ada ruang untuk ragu.

“Mati lah!!” Gumamnya.

kakinya turun dengan niat mengakhiri segalanya.

Tapi Tanpa sadar, sebuah kepalan tangan sudah berada tepat di samping wajah Rio. Jaraknya terlalu dekat, sudutnya mustahil.

Tubuh Rio masih dalam posisi tidak seimbang, kakinya belum sepenuhnya menapak, pikirannya masih tertinggal pada Rivaldo di hadapannya.

Mata Rio melotot. Napasnya tercekat.

“Huh!?… siapa—”

Kalimat itu terputus.

Buk!!

Pukulan keras menghantam sisi wajahnya. Tubuh Rio terlempar ke samping seperti boneka yang talinya diputus, melayang sesaat sebelum menghantam pagar atap sekolah dengan suara logam berderit keras.

Pagar itu miring, bengkok ke luar, hampir copot dari dudukannya.

Rio jatuh berlutut, satu tangannya menahan lantai, kepalanya berdengung hebat. Pandangannya bergetar, dunia terasa berputar.

Darah menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke lantai yang retak

Saat ia mendongak, sosok itu sudah berdiri di hadapannya.

Kariel.

Tatapannya dingin, napasnya sedikit terengah, namun tubuhnya masih tegak sempurna.

“Kau terlalu fokus pada Rivaldo,”

katanya datar.

“Itu kesalahan fatal.”

Baru saat itu Rio menyadari sesuatu. Kariel telah meninggalkan pertarungannya dengan Arya. Bukan karena kalah, melainkan karena melihat Rivaldo terdesak. Naluri seorang pengawal bergerak lebih cepat.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!