"Mbak, aku mau beli mainan, boleeeh?"
Seorang pria dewasa yang ditemukannya terbangun dan tiba-tiba merengek sepeti seorang anak kecil. Luaticia atau Lulu sungguh bingung dibuatnya.
Selama sebulan merawat pria itu, akhirnya dia mendapat informasi bahwa sebuah keluarga mencari keberadaan putra mereka yang ciri-ciri nya sama persis dengan pria yang dia temukan.
"Ngaak mau, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang sama Mbak aja!" pekik pria itu lantang sambil menggenggam erat baju Lulu.
"Nak, maafkan kami. Tapi Nak, kami mohon, jadilah pengasuhnya."
Jeeeeng
Sampai kapan Lulu akan mengasuh tuan muda tersebut?
Akankah sang Tuan Muda segera kembali normal dan apa misteri dibalik hilang ingatan sang Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegas 33
"Permisi, Pak Oland."
"Ya?"
Oland sedikit kaget saat melihat seorang wanita muncul di ruangannya. Setelah diingat-ingat ternyata wanita itu adalah orang yang dikatakan Ditrian sebagai orang kepercayaannya.
Ia mencoba mengingat, mungkin wanita tersebut pernah ditemui sebelumnya. Namun sekuat apapun Oland mencoba mengingat, wajah dari wanita cantik tersebut tak pernah sekalipun dilihatnya. Hal tersebut menandakan bahwa wanita itu benar-benar hanya Ditrian yang tahu tentangnya.
"Ada apa, Non?" tanya Oland. Meski awalnya bingung bagaimana harus memanggil Luaticia, akhirnya dia memilih memanggilnya begitu.
"Pak Oland diminta untuk datang menemui Pak Ditrian di ruang rapat. Pak Ditrian juga berkata bahwa untuk memanggil serta Bu Reneta," ucap Luaticia dengan runut. Meski sedikit deg-degan tapi dia bisa melakukannya dengan baik.
"Begitu, baiklah. Terimakasih ya Non," sahut Oland.
Luaticia langsung melenggang pergi dan kembali menuju ke ruang rapat. Sedangkan Oland, dia bergegas memanggil Reneta. Mereka berdua berjalan beriringan ke ruang rapat tanpa sepatah katapun.
"Ada apa, Bos?" Oland bertanya tanpa basa-basi. Melihat wajah Ditrian yang tampak tidak baik, dia sudah menerka pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan Oland, Ditrian malah mengajukan pertanyaan kepada Reneta.
"Ren, kamu tahu tentang ulah Stevan yang mengganti bahan produksi dan menyamarkan keuangan?"
"Apa? Kamu bicara apa sih, Dit? Aku sama sekali nggak paham," sahut Reneta, wajahnya sangat bingung sekarang ini mendengar ucapan dari Ditrian.
Slap!
Ditrian memberikan dua laporan dari Roy dan Sholeh. Dengan cepat Reneta mengambil laporan itu dan membacanya.
Tadi dia juga tidak ikut rapat karena datang terlambat. Tentunya keterlambatan Reneta ada alasannya. Ayahnya sedang di rawat di rumah sakit, jadi dia harus bolak balik antara rumah, rumah sakit, dan perusahaan. Terlebih Reneta juga tidak pernah ikut campur soal produksi. Fokusnya adalah dibidang pemasaran produk.
"A-aku sungguh nggak tahu, Dit. Aku nggak tahu kalau Stevan ngelakuin ini," ucap Reneta dengan wajah tak percaya. Sepanjang dia membaca laporan itu, matanya membelalak dengan begitu lebar.
"Sorry Dit, aku nggak pernah meriksa hal itu. Ku pikir karena emang itu bukan fokus kerjaan aku. Dan yang ku tahu Stevan emang kompeten di bidangnya. Jadi aku nganggep semua pasti beres dikerjain sama dia. Tapi sungguh aku bener-bener nggak tahu tentang ini semua," imbuhnya.
Wajah Reneta tidak berbohong, sorot mata wanita itu nampak kebingungan dan pastinya terkejut. Bisa dibilang Reneta juga syok.
Sedangkan Oland, dengan sopan meminta laporan yang dibaca Reneta. Dia lalu membacanya dan ikut terkejut dengan hasil yang dituliskan oleh Roy dan Sholeh.
"Aku juga tidak tahu, Bos. Selama ini semua tentang pengadaan barang dilakukan oleh Pak Steven. Setelah Bos tidak masuk, Pak Steven langsung meminta data tentang produksi dan biayanya. Saya juga tidak ada kecurigaan apapun, karena yang saya tahu Pak Bos dan beliau sudah membangun usaha ini bersama-sama. Saya benar-benar minta maaf karena lalai."
Pun dengan Oland, agaknya dia juga tidak tahu menahu apa yang dilakukan oleh Steven. Dengan begitu, Ditrian yakin bahwa Steven bergerak sendiri. Otaknya berpikir sendiri tentang penggantian bahan baku dan juga biaya produksinya.
Ditrian mencoba mengingat. Apa yang salah dengan Steven atau lebih tepatnya apa yang salah dengan hubungan mereka tentang usaha mereka.
"Ughhh," keluh Ditrian merasakan sakit pada kepalanya. Dia baru menyadari bahwa kepalanya akan berdenyut ketika dia berusaha mengingat sesuatu.
"Dit!"pekik Luaticia ketika melihat Ditrian mengernyitkan keningnya. Ekspresi Ditrian yang tengah menahan sakit jelas bisa diketahui oleh Luaticia.
"Maaf Pak Oland dan Bu Reneta, sepertinya pembicaraan ini harus selesai di sini dulu. Pak Ditrian sepertinya sedang tidak enak badan,"ucap Luaticia dengan tegas. Dia bahkan langsung membawa Ditrian keluar dari ruang rapat dan kembali menuju ke ruangan CEO.
"Didit duduk dulu, dimana yang sakit hmmm?" tanya Luaticia lembut. Dia mencoba memijit kepala pria itu.
"Apa gara-gara kejedot pintu kemarin? Apa perlu ke rumah sakit.Tunggu bentar, Mbak panggil Kak Vindra,"imbuh Luaticia. Dia membalikkan tubuhnya dan siap untuk melangkah keluar.
Namun itu tidak jadi karena Ditrian menarik tangan Luaticia dan meletakkannya di kepala.
"Di sini yang sakit Mbak. Mbak Lulu pijitin kepala Didit ya. Iya kayaknya gara-gara kemarin itu deh jadi masih berasa. Nggak usah panggil Vindra,nanti abis dipijet Mbak Lulu juga sembuh,"ucap Ditrian.
Luaticia pun mengangguk, menyetujui keinginan Ditrian. Awalnya Lulu berdiri sambil memijit kepala Ditrian. Tapi tak lama kemudian Ditrian meminta Lulu untuk duduk dan meletakkan kepalanya di pangkuan gadis itu.
"Capek ya?" tanya Luaticia kepada Ditrian. Dia tahu hari ini sudah banyak yang dilakukan oleh Ditrian. Tindakan yang menurut Luaticia itu masih akting, tentu menurutnya nampak begitu keras dan melelahkan.
"He em, Didit capek Mbak. Pengen pulang kayaknya,"ucapnya lirih. Matanya terpejam menikmati pijatan lembut tangan Luaticia.
Melepaskan Luaticia untuk kembali ke kampung halamannya, sebenarnya sekarang Ditrian sudah harus melakukannya. Soal dirinya yang berakting, itu bukan urusan Luaticia. Tapi entah mengapa Ditrian tidak ingin melakukan itu.
"Nggak bisa. Kalau aku biarin Lulu pulang, itu akan jadi hal yang merepotkan. Kalau orang-orang tahu gimana?"
Ditrian bicara sendiri dalam hatinya. Matanya yang terpejam itu ternyata tengah memikirkan banyak hal. Selain tentang Steven tentunya juga tentang Luaticia.
Padahal jika dipikirkan lagi, tidak ada hubungannya antara dia yang sudah kembali mengingat dengan Luaticia. Karena di luaran, yang orang-orang ketahui adalah Ditrian Jananta Adiwitama tidak mengalami masalah kesehatan apapun.
Tak terasa Ditrian hanyut dalam pijatan tangan Luaticia. Dia tidak sadar bahwa dirinya tertidur pulas.
Luaticia tak bisa memindahkan kepala Ditrian pada bantal. Gadis itu tidak tega membuat Ditrian terbangun.
"Ya ampun, aku baru sadar Didit ganteng maksimal. Haah, Dit, Dit. Berapa cewek coba yang terpikat sama wajahmu ini. Apapun itu, kamu harus segera sembuh ya. Agar aku bisa kembali ke rumah ku. Karena kalau ngelihat wajahmu dalam mode Ditrian terus menerus, entah apa aku bisa buat nggak tertarik ke kamu. Ini gila sih, kalau aku beneran tertarik sama Didit. Gimanapun nggak boleh. Didit kan mentalnya anak-anak, jadi nggak mungkin aku bisa tertarik sama dia,"ucap Luaticia panjang lebar. Dia mengamati wajah Ditrian yang sempurna itu.
Namun siapa yang tidak tertarik dengan wajah sempurna milik Ditrian tersebut. Setiap wanita yang melihatnya akan setuju bahwa Ditrian merupakan pria yang sempurna dan ingin didapatkan.
"Bukan, ini adalah Didit bukan Ditrian. Jadi aku nggak akan mungkin bisa tertarik sama Didit,"tegas Luaticia terhadap hatinya sendiri.
TBC
mual aku dgn ucapan manis Steven ke Daria 🤢
masakan calon menantu enakan Mama Dhea dan Papa Drake 😁