Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Kematian di Himalaya
Kael muncul dari balik layar monitornya di bagian belakang pesawat. Wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya. "Dengarkan, kawan-kawan. 'Sky-Wall' bukan sekadar laboratorium. Ini adalah bunker yang dipahat langsung di dalam puncak Gunung Annapurna pada ketinggian 7.000 meter. Oksigen di sana sangat tipis sehingga tentara biasa akan pingsan dalam sepuluh menit tanpa tabung. Namun, pengawal di sana bukan tentara biasa. Mereka adalah hasil eksperimen ibumu sendiri—Proyek Chimera."
"Prajurit yang tidak butuh oksigen?" tanya Elara.
"Lebih buruk. Paru-paru mereka telah dimodifikasi secara mekanis. Mereka lebih kuat, lebih cepat, dan tidak mengenal rasa lelah di ketinggian ini," Kael menunjukkan denah bangunan. "Satu-satunya cara masuk adalah melalui 'Pintu Langit', sebuah hangar kecil yang hanya terbuka saat badai salju mereda. Namun, kita akan masuk lewat cara yang berbeda."
Zian berdiri, mengenakan helm taktisnya. "Kita akan terjun dari ketinggian 35.000 kaki. HALO Jump (High Altitude Low Opening). Kita masuk di tengah badai agar radar mereka tertutup oleh gangguan cuaca."
"Itu gila," gumam Kael. "Kecepatan angin di sana bisa mencapai 200 km/jam."
"Itulah satu-satunya cara kita punya elemen kejutan," balas Zian dingin. Tekadnya kini telah kembali sepenuhnya.
Lampu kabin berubah menjadi merah. Pintu belakang pesawat terbuka, dan seketika itu juga, raungan angin badai Himalaya menerjang masuk, seolah-olah ribuan setan sedang menjerit. Elara dan Zian berdiri di tepi jurang udara. Di bawah mereka, hanya ada kegelapan dan kilatan petir yang menyambar puncak-puncak gunung.
"Sampai jumpa di titik pendaratan!" teriak Zian sebelum menjatuhkan diri ke dalam kegelapan.
Elara menyusul tanpa ragu. Jatuh bebas di ketinggian Himalaya adalah pengalaman yang menyiksa. Tekanan udara membuat tulang terasa seperti akan remuk, dan masker oksigen mereka membeku seketika. Elara menggunakan pelacak GPS di pergelangan tangannya untuk tetap berada di jalur Zian. Mereka meluncur seperti dua meteor hitam di tengah putihnya badai.
Pada ketinggian kritis, mereka membuka parasut mikro yang dirancang untuk menahan angin kencang. Dengan presisi yang luar biasa, mereka mendarat di teras berbatu yang sempit, tepat di bawah struktur baja raksasa yang menjorok keluar dari tebing es. Itulah 'Sky-Wall'.
"Kael, kami masuk," bisik Elara sambil menggunakan bor laser untuk melubangi pintu ventilasi darurat.
Mereka menyelinap masuk ke dalam koridor yang dilapisi baja putih mengkilap. Suasananya sangat sunyi, hanya ada suara dengung rendah dari mesin pendukung kehidupan. Namun, ketenangan itu segera pecah.
Di ujung koridor, tiga sosok raksasa muncul. Mereka mengenakan zirah hitam legam dengan mata merah bercahaya dari balik helm mereka. Gerakan mereka kaku namun sangat cepat. Inilah Prajurit Chimera.
"Jangan gunakan peluru biasa, Zian! Zirah mereka dilapisi keramik antipeluru!" Elara memperingatkan sambil mencabut dua bilah pedang pendek bergetar (vibro-blades).
Zian melepaskan tembakan dengan senapan yang berisi peluru nitrogen cair. Saat peluru itu menghantam zirah lawan, permukaannya membeku seketika, dan Elara langsung menerjang, menghantamkan pedangnya yang bergetar frekuensi tinggi hingga zirah itu hancur berkeping-keping.
Pertarungan itu brutal. Salah satu prajurit Chimera berhasil mencengkeram leher Zian dengan kekuatan hidrolik. Elara melakukan salto di atas punggung lawan, menghujamkan pedangnya tepat ke celah helm prajurit tersebut. Cairan hijau kental menyembur keluar—darah yang telah dimodifikasi.
"Mereka bukan lagi manusia," gumam Zian sambil terengah-engah setelah berhasil lepas.
Mereka terus bergerak menuju Sektor Delta, tempat laboratorium genetika berada. Elara meretas pintu utama menggunakan perangkat yang diberikan Kael. Di dalamnya, mereka menemukan deretan tabung inkubasi berisi janin-janin buatan. Di tengah ruangan, seorang wanita berambut putih duduk di depan layar hologram besar, jemarinya bergerak cepat mengolah data genom.
Zian membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Ibu?"
Wanita itu berbalik. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari foto yang dipegang Zian, namun matanya yang jernih tetap sama. Dr. Arisya Arkana menatap Zian dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara ketakutan, pengenalan, dan kesedihan yang mendalam.
"Zian?" suaranya gemetar, seolah-olah ia sudah lupa bagaimana cara mengucapkan nama itu. "Kau tidak seharusnya ada di sini. Kau harus lari... sekarang!"
"Aku datang untuk membawamu pulang, Ibu," Zian melangkah maju, namun Arisya mundur, menunjuk ke arah kepalanya sendiri.
"Mereka memasang neural-link di otakku, Zian! Jika aku meninggalkan fasilitas ini lebih dari seratus meter, mereka akan meledakkan mikrobom di dalam kepalaku!" Arisya menangis. "Aku terperangkap. Aku dipaksa menciptakan monster-monster ini untuk menghancurkan dunia."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari pengeras suara di laboratorium.
"Pertemuan keluarga yang sangat menyentuh," suara itu bukan Madame X, melainkan suara pria yang lebih tajam dan dingin. "Aku adalah Dr. Vektor, kepala Proyek Chimera. Dan aku ingin berterima kasih, Kolonel Arkana. Dengan kehadiranmu di sini, kami memiliki subjek baru untuk menyempurnakan garis keturunan Chimera menggunakan DNA-mu yang murni."
Pintu-pintu laboratorium tertutup rapat secara otomatis. Gas saraf berwarna ungu mulai keluar dari langit-langit.
"Zian, maskermu!" Elara berteriak sambil segera memasang kembali masker taktisnya ke wajah Zian yang sedang terpaku.
Elara menarik Zian ke arah konsol utama. "Dr. Arisya, bisakah kau mematikan sistem keamanan dari sini?"
"Aku bisa mematikannya, tapi itu akan memicu protokol pembersihan total! Laboratorium ini akan meledak dalam tiga menit!" Arisya mulai mengetik dengan kecepatan gila. "Ambil disk data ini, Zian! Ini berisi penawar untuk virus Chimera yang akan mereka lepaskan di kota-kota besar!"
"Aku tidak akan pergi tanpamu, Ibu!" Zian mencoba menarik ibunya.
"Dengarkan aku!" Arisya memegang wajah Zian dengan tangan yang gemetar. "Kematianku adalah harga kecil untuk menyelamatkan miliaran nyawa. Jika data ini jatuh ke tangan mereka, dunia akan berakhir. Pergilah dengan Mayor Vanya. Dia mencintaimu, aku bisa melihatnya dari caranya menjagamu."
Elara menatap Arisya, sebuah rasa hormat yang mendalam muncul di hatinya. "Dokter, ada cara lain. Kael! Bisakah kau melakukan rintisan frekuensi untuk mengacak sinyal bom di otaknya?"
"Aku butuh waktu sepuluh menit, Elara! Dan laboratorium itu akan meledak dalam dua menit!" teriak Kael melalui radio.
"Lakukan dalam satu menit, atau kita semua mati di sini!" Elara berteriak balik.
Elara kemudian melihat ke arah tangki nitrogen cair di sudut ruangan. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. "Dokter, jika kita membekukan neural-link itu untuk sementara, sinyalnya akan terputus! Kita harus melakukan prosedur pembekuan lokal pada dasar tengkorakmu!"
"Itu bisa membunuhnya!" sela Zian.
"Atau menyelamatkannya!" balas Elara.
Di tengah kabut gas ungu dan sirene yang meraung, Elara dan Zian harus mengambil keputusan mustahil. Sementara itu, dari luar pintu, suara hantaman keras menunjukkan bahwa pasukan Chimera sedang berusaha mendobrak masuk.
"Lakukan, Elara," Arisya berkata dengan tenang. "Aku lebih baik mati di tangan anakku sendiri daripada hidup sebagai budak selamanya."
Elara mengangkat tabung nitrogen cair, tangannya stabil meskipun adrenalin memompa jantungnya. Ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidup mereka. Di puncak tertinggi dunia, nasib masa depan manusia dan nyawa seorang ibu bergantung pada satu detik yang menentukan.