”Elden, jangan cium!” bentak Moza.
”Suruh sapa bantah aku, Sayang, mm?” sahut Elden dingin.
"ELDENNN!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felina Qwix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngamuk
Moza hendak berdiri. Tapi, Elden menahan tubuhnya. "Biar aku yang buka." Tegasnya. Pria itu menghapus air matanya. Merapikan rambutnya dengan waktu sepersekian detik.
Lalu, dia membuka pintu kamarnya.
Cklek.
"Mama?"
Rupanya Susi, mamanya Moza. "Elden, kamu dipanggil papa kamu. Dia mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Susi. Elden menoleh ke arah Moza. Lalu, pergi meninggalkan kamarnya. Pria itu pergi menemui papanya. Sementara Susi, duduk di samping Moza.
"Sayang, gimana perkembangan kamu dengan anak sultan itu?" tanya Susi. Moza terdiam sejenak lalu menjawab. "Aku suka sama Elden, Mah." Tegasnya.
Seketika Susi heboh dan euforia. "Kamu serius?"
"Mama kenapa sih? Jadi heboh gitu?" sinis Moza kesal. Susi pun tertawa. "Jadi, udah ngik nguk ngik nguk?" godanya.
Moza menggelengkan kepalanya. "Mah, apaan sih! Udah mama keluar aja, aku mau belajar. Boro-boro mikirin gitu, aku lagi sibuk belajar!" protes Moza yang lantas mendorong mamanya agar keluar dari kamarnya. Jujur, kesal dengan ulah mamanya. Tapi, wanita paruh baya itu tersenyum. "Nanti malam, mama antarkan makanan buat kamu, mama masakin nasi rames ya?"
"Udahlah mah, nanti aja. Mama keluar aja dulu." Protes Moza. Dia tahu, mamanya pasti hendak meroasting dirinya.
Wanita itu lantas keluar dari kamarnya Moza dan tertawa sendiri, bersamaan dengan itu, Elden hendak masuk ke dalam kamar. Susi pun menggoda dan iseng. "Nak Elden, sini." Panggilnya. Elden pun mendekat.
"Apa, Mah?"
"Tadi, Moza bilang dia suka sama kamu, pengen kamu ngik nguk gitu," bisik Susi. Elden pun tersipu-sipu. Tapi, dia berusaha sok cool. "Mah-"
"Udah, di gass aja. Mumpung mau tuh," bisik Susi yang membuat Elden tersedak. "Uhuk."
Dengan tanpa rasa bersalah Susi meninggalkan Elden. Sementara pria itu jadi gagal masuk ke kamar, entah kenapa dia jadi gugup sendiri. Tapi, dia tersenyum. Ada kepuasan yang tak biasa setelah mendengar ucapan mama mertuanya barusan. Yang jelas, Elden jadi lebih percaya diri.
****
Setelah momen kedatangan mamanya. Elden keesokan harinya jam 5 pagi datang ke apartemennya bersama Jagur, menjenguk Redo.
Dia duduk di kursi, menyesap rokok di bibirnya. Redo hanya menundukkan kepalanya. Pria itu menatap sinis ke arah Redo.
"Kalo lo mau hidup, cerita ke gue, siapa lo buat Moza." Remeh Elden.
Alredo Bastian hanya bisa terdiam, dia tampak lebih kurus dan lemah. Sudah dua hari dia disekap, dan lucunya anggota Genk Moppo tak ada yang mau menolongnya, mengingat berurusan dengan Elden.
"Jawab!" bentak Elden sekali lagi, tangannya mengambil sebilah pecut. Lalu, dipukulkan ke lantai sekali saja. Redo pun akhirnya mau berterus terang.
"Gue cuma temen kecilnya Moza dari TK sampai SMP." Tegasnya.
"Terus?" tanya Elden lagi, pria itu masih duduk di kursi, asap rokok membumbung mengenai wajah sosok Redo. Pria yang menantang Elden balapan itu.
"Gue suka sama Moza," sahut Redo. Seketika itu, Elden melirik Redo, lalu berdiri, menggulung lengannya. "Alasannya apa? Lo tau dia siapa gue, mm?" Tanyanya dingin.
"T-tunangan."
BUUUGH.
Elden seketika memukul rahang Redo. Dia menatap tak suka ke arah pria itu. "Kenapa lo hobi cari mati?"
Redo mengusap rahangnya. Nyaris terasa perih. Dia memohon ampun. "G-gue gak tau, soalnya lo sampe sewa cewek buat se-"
Elden mencengkeram dagu Redo seketika. "Yang nidurin cewek sewaan itu Devano, bukan gue." Tegasnya.
Redo pun terbelalak. "Gue minta maaf, gue gak tau, karena setelah itu, Moza blokir nomor gue," ucapnya dengan ketakutan. Elden pun tersenyum sinis. Dia melempar kayu di tangannya, lalu menendangnya ke pojok ruangan. "Dia bini gue, salah kalo gue protektif ke dia?" tanyanya kepada Redo.
Sahabat kecilnya Moza itu terkejut. "Lo udah nikah sama Moza? Bukannya Devano bilang, Moza hamil anak dia?"
BUUUGH!
Kesal dengan ucapan spontan dari Redo, lagi-lagi Elden melayangkan pukulannya. "Sejak kapan, gue suka bagi-bagi apa yang jadi punya gue?"
Redo meringis, tubuhnya gemetar. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
“G-gue… gue minta maaf, Den. Gue sumpah nggak bakal deketin Moza lagi. Demi apa pun—” suaranya pecah. “Tapi gue perlu bilang satu hal.”
Elden berhenti melangkah. Punggungnya membelakangi Redo. Bahunya terlihat naik turun, menahan amarahnya menggila.
“Devano,” lanjut Redo dengan suara lirih, “dia yang nyebarin isu itu. Ke anak-anak Liston. Ke circle balap. Katanya Moza hamil anak dia… pas kejadian di apartemen ini.”
Detik itu juga, udara di ruangan seakan membeku.
Elden berbalik perlahan.
Tatapannya bukan lagi marah—
Keruh, gelap.
Sunyi.
Dan mematikan.
“Apa?” tanyanya datar.
Redo mengangguk cepat. “Gue denger langsung. Dia bangga. Ketawa-ketawa. Bahkan, dengan dia dikick dari Liston, dia gak jera, dia bilang lo takut sama dia, karena lo sama dia gak sepadan, makanya lo nge-kick dia, dia bilang lo pengecut."
BRAK!
Kursi yang tadi diduduki Elden ditendang keras hingga membentur dinding dan terbelah menjadi dua.
Jagur yang sejak tadi diam, refleks berdiri tegap.
“Jagur,” ucap Elden pelan. Terlalu pelan untuk ukuran orang yang waras.
“Bawa Devano ke sini. Sekarang.”
Jagur menelan ludah. “Siap, Tuan Muda."
Tanpa menunggu detik berikutnya, Jagur pergi. Elden mengeluarkan ponselnya, mengetik satu pesan pendek kepada Moza di tengah pagi genting itu.
“Bentar lagi aku pulang, Sayang. Masih belikan kamu nasi rames mahal di resto andalan keluarga aku."
Pesan itu dikirim ke nomor Moza.
Satu jam kemudian.
Pintu apartemen terbuka dengan kasar.
Devano diseret masuk oleh dua anak buah Jagur. Mulutnya ditutup lakban, wajahnya babak belur—tapi masih sempat nyengir sok jago.
Elden berdiri di tengah ruangan. Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi.
Lakban pun dilepas.
“Den—” Devano terkekeh, “santai aja kali. Kenapa lo semakin pengec-”
BUUUGH!
Tinju Elden mendarat tepat di perut Devano. Tubuhnya terlipat, muntah seketika.
“Pengecut?” suara Elden rendah. "Gak Devano, gue bahkan bisa bunuh lo sekarang!”
Devano tersedak, batuk keras. Belum sempat bangkit—
BUGH!
Kali ini rahangnya.
Devano terjerembab ke lantai.
Elden jongkok di depannya, mencengkeram rambut Devano tanpa belas kasihan, memaksa wajah itu menengadah.
“Dengerin gue baik-baik,” bisiknya tajam. “Moza itu istri gue. Nama dia, tubuh dia, masa depan dia—punya gue. Kenapa lo lancang?"
Elden menghantamkan kepala Devano ke lantai.
DUAAAK!
“Tiap kata kotor yang lo sebar—”
DUAAAK!
“—bakal gue balikin ke badan lo—”
DUAAAK!
“—satu per satu.”
Devano menjerit. Darah mengalir dari pelipisnya.
Jagur sampai berpaling. Bahkan anak buah lain memilih mundur selangkah.
Elden berdiri, napasnya berat. Dadanya naik turun.
“Jagur,” katanya dingin.
“Ikat dia, jangan kasih makan sampai gue pulang dari sekolah nanti.”
Devano terisak ketakutan. Elden menunduk, menatapnya dengan senyum kejam.
“Bawa Cindy ke sini juga bersama Hero. Nanti, gue mau ke sini sama anak anak Jehuda."
Jagur mengangguk paham.
Elden mengambil jaketnya, berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Dia kesal bukan main, tapi dia harus segera ke restoran terbaik dan membawakan nasi rames kesukaan Moza. Hanya itu yang ada di kepalanya. Saat ia turun dari unit, seorang perempuan berambut panjang, memakai kacamata datang menyapanya. "Elden, masih ingat? Gue Dasyah. Long time no see!"
untung joinan 😁
baru juga dorr
burungnya habis minum nitro kali 🤣🤣🤣