NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Aksi Bastian

Hanya dengan penerangan seadanya dari lampu emergency yang mereka punya, dua ruangan tampak lebih terang dibanding ruangan lainnya. Ruang tengah dan kamar si kembar.

Bibi berada di atas, menemani Kayla dan Kaivan yang tidak terganggu sedikitpun dari tidurnya.

Sedangkan Keisya dan Bastian masih berada di tempat yang sama, dengan pria itu yang tengah membantu mengobati luka pada tubuhnya.

"Masih sakit?"

Keisya tak menjawab, hanya kepalanya saja yang menggeleng sangat pelan.

Sejak Bastian menggendongnya, dia belum benar-benar sadar akan keterpakuannya.

Bagaimana menjelaskannya yah?

Nyeri pada tubuhnya tidak lagi ia hiraukan. Perasaannya sekarang diliputi oleh perasaan tidak biasa.

Berdebar, gemetar dan takut?

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Kalau kamu masih diam, kita ke rumah sakit sekarang" Bastian memberikan ancaman. Sungguh tidak nyaman berada dalam posisi seperti sekarang.

"Eh, jangan! Aw.." Keisya terlampau cepat saat merespon, sampai tidak sengaja menghentakkan kakinya hingga terbentur lutut Bastian.

Posisi mereka sekarang, dia duduk di sofa, dan Bastian berlutut di depannya dengan menumpukan sebelah lututnya ke lantai. Kakinya yang terkilir terjulur ke depan, sedang menerima kompresan dari pria tersebut.

"Dasar ceroboh"

Keisya meringis. "Om, udah. Aku bisa sendiri" dia mencoba menarik kakinya, namun Bastian tidak melepaskannya.

"Akhirnya kamu sadar juga" ucapnya menyindir. Sudah sejauh ini dan Keisya baru memintanya berhenti? Bisa dibayangkan selama apa gadis itu melamun?

Bagimana dia tidak kesal coba?

"Sebentar lagi selesai, jangan banyak bergerak"

Sebagai sentuhan akhir, Bastian melilitkan perban pada pergelangan kaki Keisya dengan perlahan. Setiap gerakannya sangat hati-hati, memastikan jika tindakannya tidak menyakiti si pemilik kaki.

Sampai Bastian berpindah tempat, dan kakinya sudah nyaman beralaskan bantal sofa, Keisya kembali tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Situasinya berubah canggung, dengan segala keheningan di antara mereka.

Keisya bergelut dengan pikirannya sendiri, mempertanyakan apakah dia terlalu berlebihan menyikapi kehadiran dan sikap Bastian padanya? Padahal pria itu juga sangat baik kepada adik adiknya, bahkan memprioritaskan keduanya sebelum benar-benar membantunya.

"Kamu sudah mengantuk?" Bastian kembali berinisiatif memulai pembicaraan.

"Belum. Om mau pulang sekarang?"

"Situasi seperti ini kamu minta saya pulang? Kamu tidak takut kalau ada orang jahat masuk saat kamu tidur?"

Keisya menelan ludahnya. Benar juga. Bagaimana jika hal itu terjadi?

Tapi, membiarkan Bastian menginap, apa tidak apa-apa?

Bastian bisa melihat jelas kekhawatiran itu. Kemudian dia kembali berbicara, "Saya akan meminta persetujuan dari Papa kamu dulu. Jika dia mengizinkan, saya menginap. Tapi jika tidak, saya tidak akan memaksa. Atau setidaknya sampai listrik kembali menyala. Bagaimana?"

Keisya menjawab "Sejujurnya aku lumayan takut Om, apalagi ada Kaivan sama Kayla. Aku khawatir sama keselamatan mereka" Membayangkan hanya ada dirinya, Bibi yang sudah lansia, dan dua anak kecil tinggal di dalam satu rumah gelap, tanpa ada laki-laki dewasa, tanpa sadar membuat Keisya memikirkan hal-hal mengerikan.

Seperti perampokan, atau kejahatan lainnya.

"Tapi soal menginap, aku ga berani ngambil keputusan apa-apa. Aku harus bicara dulu sama Papa. Terus aku juga takut ngerepotin Om Bastian juga"

Bastian hanya sekedar mampu saja dia sudah merasa terlalu menganggu waktunya, apalagi sampai menginap.

"Situasi seperti ini tidak baik, sangat rawan jadi incaran kejahatan. Apalagi tidak ada laki-laki dewasa di rumah ini" Jika mendengar lebih teliti, kalimat yang Bastian ucapkan seperti sengaja menakut nakuti dengan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. "Dan saya yakin, Papa kamu juga akan cemas kalau kalian tidak ada yang menjaga"

Sedangkan disaat yang bersamaan Bastian memposisikan dirinya sendiri sebagai pria dewasa yang sangat bIsa diandalkan.

"Dan untuk waktu saya, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Jam kerja saya sangat fleksibel."

Sampai akhir, Keisya sama sekali tidak memberikan keputusan. Dia memilih menyerahkan semuanya pada Papa-nya yang sedang dihubungi Bastian.

Saat Bastian menelpon, dia beranjak ke ruangan lain, memastikan agar perbincangannya tidak di dengar oleh Keisya. Tujuannya adalah untuk 'sedikit' melebihkan situasi, agar Gunawan tidak memiliki pilihan lain untuk mengizinkannya menetap.

Dan benar saja.

Rencananya berhasil.

"Tolong jaga anak-anak ya, Bas. Maaf merepotkan kamu lagi"

Bastian tersenyum puas, "Tidak masalah. Kita berteman, tentu harus saling membantu. kan?"

"Aku akan pulang secepatnya"

"Jangan terlalu terburu-buru, apalagi memaksakan diri. Pentingkan juga kesehatanmu."

Secepatnya katanya? Itu tidak akan terjadi.

"Kamu benar" Gunawan menghela napasnya panjang. Dari suaranya saja terdengar sangat kelelahan. "Aku bahkan belum sempat istirahat sampai sekarang."

"Jangan ragu minta bantuan. Kita bukan sekedar teman, tapi sudah seperti keluarga"

Kata keluarga yang dia maksud sangat berbeda dengan anggapan Gunawan.

"Berikan ponselnya sama Keisya, biar aku yang bicara" Kata Gunawan.

Sebelumnya Bastian memintanya untuk meyakinkan Keisya jika dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

Bastian kembali ke ruang tengah dengan panggilan telepon yang masih tersambung. Dia berdiri di depan Keisya dan mengulurkan ponselnya. "Papa kamu ingin bicara"

Keisya menerimanya.

"Halo, Papa"

"Halo sayang. Kamu baik-baik aja?"

"Papa, listriknya mati, terus aku jatuh....."

Bastian memperhatikan semuanya. Bagaimana Keisya mengadu dengan suaranya setengah merengek, terlihat sangat menggemaskan. Dia ingin berada dalam posisi itu.

Suatu hari nanti, dia pastikan akan mendapatkan kesempatan itu.

Membiarkan mereka berbicara, Bastian berlalu menuju dapur. Dia akan menyiapkan minuman untuk Keisya. Tidak lama. dia kembali dengan gelas berisikan air mineral di tangannya. Tanpa mengeluarkan suara, dia meminta Keisya untuk minum disela pembicaraannya.

Keisya menerimanya tanpa ragu. Lalu meneguknya beberapa kali dan kembali menyerahkannya pada Bastian. Tidak lupa dia mengangguk, sebagai ucapan terimakasih.

"Ya sudah, kamu istirahat sana. Pasti capek kan seharian jagain adik-adik kamu. Belum lagi harus kuliah"

Jika harus jujur, Keisya memang cukup kelelahan. Dia bangun sangat pagi, dan belum istirahat sampai sekarang. Wajar sepertinya jika dia sudah mulai mengantuk.

"Papa juga istirahat yah. Jangan terlalu cape. Jangan khawatir sama kita bertiga, kita pasti baik-baik aja" ucapnya sambil menatap Bastian dengan matanya yang setengah sayu.

Tak lama, panggilan berakhir. Keisya naik ke kamarnya dengan Bastian yang membantunya. Dia menolak kembali digendong, memilih berjalan sekalipun sangat pelan.

Sebelah tangan Bastian membawa satu-satunya penerangan yang tersisa, dan berencana akan menyimpannya di kamar Keisya.

"Om gapapa gelap gelapan?"

"Saya ada ponsel, dayanya masih banyak. Lagipula saya tidur memang selalu mematikan lampu, jadi tidak masalah"

Keisya mengangguk. Mereka akhirnya sampai di depan kamar. Pintunya tidak terkunci, memudahkan Keisya untuk membukanya.

"Kamar tamu ga pernah di kunci, Om bisa langsung masuk buat istirahat"

Mereka sudah membahas ini, dimana Bastian akan menempati salah satu kamar kosong di lantai bawah. Biasanya digunakan saat ada kerabat atau keluarga lain yang sedang menginap.

"Saya tahu. Jangan terlalu banyak berpikir, sekarang kamu istirahat"

Bastian masih membantu sampai Keisya terduduk di tepi tempat tidur. Si pemilik kamar pun tidak menunjukan keberatan apapun lagi seperti sebelumnya.

"Saya keluar" Bastian berbalik, berjalan menuju pintu.

"Om Bastian" tapi suara Keisya membuat langkahnya terhenti dan kembali menatap gadis tersebut.

Keisya tersenyum samar, "Terimakasih. Selamat malam"

Untuk kedua kalinya, pada malam yang sama Bastian tersenyum. "Sama-sama. Selamat malam juga, Keisya"

Setelah Bastian meninggalkan kamar, Keisya yang sudah terlalu mengantuk, langsung berbaring dan menutup matanya. Dalam waktu singkat, dia sudah terlelap begitu pulas.

Sampai tidak mengetahui sama sekali jika pintu kamarnya kembali terbuka.

Bastian kembali masuk.

Langkahnya yang tanpa suara membawa dia mendekati tempat tidur. Dia berdiri lama memandangi wajah damai Keisya.

Sangat cantik.

Wajahnya begitu kecil, kulitnya bersih, hidungnya mancung dan bulu mata yang cukup panjang.

Dan bibirnya,

Astaga. Bentuknya sangat sempurna, seperti bentuk hati dengan bagian bawahnya yang jauh lebih bervolume.

Jakun Bastian bergerak naik turun. Dia bergerak duduk di tepi ranjang untuk memperhatikan dengan teliti setiap inci wajah ayu tersebut. Semakin lama posisinya sudah semakin dekat dengan wajah Keisya, dengan pandangan tetap tertuju pada satu titik.

Bibir gadis tersebut.

Bastian sangat ingin menciumnya.

Dan keinginannya itu langsung terwujud, saat dia menempelkan bibir mereka berdua. Tidak hanya menempel, tapi lebih dari itu. Bastian membuka mulutnya, dan melumat seluruh permukaannya.

Dia tidak perlu khawatir aksinya akan ketahuan, karena gadis ini akan tertidur sangat pulas sampai esok pagi.

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!