Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Di ruang rapat yang sunyi dan penuh ketegangan, mereka duduk berhadapan, di depan masing-masing terbentang berkas perjanjian yang penuh makna.
Investasi properti asing dengan janji keuntungan menggiurkan mengintai di hadapan mereka, namun Darian memilih langkah hati-hati.
Dengan hati penuh waspada, ia menyusun perjanjian hukum yang ketat agar tak terseret oleh manisnya janji-janji palsu itu.
"Bagaimana, Tuan Muda Darian? Apakah Anda setuju mengucurkan 50 miliar untuk proyek pembangunan properti di Italia?" suara itu menghantam ruangan, penuh tekanan dan harap.
Darian menunduk sejenak, matanya berkilat pertimbangan. 50 miliar, hampir 80% harta Parker jumlah yang tidak bisa dianggap enteng.
Dalam diam, pikirannya bergejolak, menimbang antara peluang dan risiko yang bisa menghancurkan segalanya.
Dunia di sekelilingnya terasa berat, seolah keputusan ini mampu mengubah nasibnya dalam sekejap.
"Bagaimana menurutmu, Rio?" tanya Darian, matanya menatap tajam ke arah asisten yang berdiri di sampingnya.
Rio menghela napas panjang, mencoba menimbang-nimbang kata-kata. "Kalau menurut saya, tuan muda, sebaiknya bicarakan dulu dengan tuan besar. Jumlahnya sangat besar, ini bukan perkara biasa."
Darian mengerutkan dahi, wajahnya memerah antara bingung dan gelisah. "Tapi, Rio... kalau aku memberitahu ayah dulu, bukankah itu akan menghilangkan kejutan yang ingin kuberikan?"
Rio menggaruk kepalanya, wajahnya menampakkan kebingungan yang tulus. Di dalam hatinya, dia sendiri enggan mengeluarkan uang sebanyak itu, apalagi hanya untuk sebuah properti.
'Kalau aku sih, enggak akan berani' bisiknya, seolah berkata pada dirinya sendiri, 'Terlalu berisiko... terlalu besar.'
Darian menatap kosong ke depan, hati berdebar keras. Antara dorongan hati untuk membuat kejutan sempurna dan suara logika yang menentang, ia terjebak dalam badai keragu-raguan yang mencekam.
“Kalau masih bingung, pikirkan dulu dengan tenang. Ambil berkas ini, pelajari baik-baik. Saya beri waktu dua hari. Setelah itu, hubungi asisten saya kapan saja,” suara bos perusahaan asing itu mengalir tenang tapi penuh ketegasan, seolah menguji keseriusan Darian.
Darian menghela napas dalam, dadanya yang sempat sesak perlahan mereda. “Baik, terima kasih sudah memberi saya waktu. Maaf membuat Anda menunggu lebih lama,” ucapnya dengan nada penuh rasa penyesalan dan harap.
“Sama sekali tak apa-apa, saya mengerti,” balas bos itu singkat, namun nada itu membawa pengertian yang berat, seolah memberi isyarat bahwa keputusan ini jauh dari mudah.
“Berikan berkas itu pada Tuan Muda Darian,” perintahnya kepada asisten dengan suara tegas yang tak terbantahkan.
Asisten segera menyerahkan tumpukan berkas pada Darian, yang menerimanya dengan tangan sedikit gemetar campuran antara kegelisahan dan harapan yang menggantung tipis di udara.
Tak menunggu lama, Darian membalikkan posisi. “Rio, serahkan berkas perjanjian hukum itu ke mereka sekarang juga,” perintahnya singkat, disusul langkah cepat Rio yang langsung menunaikan tugas tanpa ragu.
Detik-detik itu terasa seperti napas terakhir sebelum badai. Semua mata tertuju pada berkas-berkas itu, yang kini menjadi kunci masa depan yang penuh teka-teki.
...****************...
Nafisha di paksa untuk ikut ke rumah sakit dimana sosok Amelia terbaring sakit sejak jatuh dari tangga hari itu.
"Tegakah kalian?" tanya Nafisha, suaranya serak seperti tak memiliki kembali semangat.
"Ini perjanjian Nafisha, kau jelas ingat bahwa tanda tangan mu ada di berkas sah secara hukum!" Liam menjawab, dia menjelaskan agar Nafisha sadar, dialah yang sejak awal mau menerima perjanjian itu.
"Tapi Kak, jelas aku adalah adik kandung dan putri asli keluarga Smith, bagaimana mungkin kau tega?" kata Nafisha, dia menggeram kecil dengan apa yang Liam jelaskan.
Liam tak menjawab, dia tak peduli dengan apa yang Nafisha katakan, sebab jelas dia lebih mementingkan Amelia dari pada Nafisha walaupun secara hukum Nafisha lah putri asli Smith.
Mobil itu meraung di jalanan yang tampak lenggang memecah kesunyian dan dinginnya angin hari ini.
Berbelok dan berhenti di sebuah rumah sakit besar London, di mana sosok Nafisha terbaring tak berdaya.
"Turun!" kata Liam tegas, dia membuka pintu mobil dengan kasar.
"Tidak mau! Aku tidak sudi mendonorkan darah lagi untuk Amelia," tegas Nafisha, dia memalingkan wajahnya seolah enggan menatap Liam.
Liam mendengus kesal, tanpa basa-basi lagi ia menarik tangan Nafisha kasar untuk keluar dari mobil.
"Kak, aku tidak mau!" tolak Nafisha, dia berontak dalam cengkraman Liam yang kasar.
Liam tak peduli, dia marah karena Nafisha membuat dia kehilangan kesabaran dalam hal membujuk Nafisha yang keras kepala.
Liam terus menarik Nafisha tanpa kesabaran yang selalu ia tunjukkan pada Amelia.
"Liam, berhenti! Jangan kasar Nak!" seruan itu datang dari Olivia yang khawatir melihat Liam terus saja menarik Nafisha.
Liam tak peduli, dia tidak menggubris seruan Olivia yang terdengar khawatir dari belakang.
Sedangkan Lucas, dia tetap mengikuti Olivia yang jelas khawatir melihat bagaimana Liam berbuat kasar pada Nafisha.
BRAK!
Ruangan dokter di buka kasar, sang Dokter sampai terkejut melihat kedatangan Liam yang menarik kasar tangan seorang gadis.
"Liam?" panggil sang Dokter yang selama ini menangani Nafisha.
"Dok, ambil darahnya! Dia adalah orang yng akan mendonorkan darah pada Amelia!" kata Liam.
"Liam, kau yakin dia?" tanya dokter itu, dia lupa jika beberapa waktu lalu dia orang yang sama.
"Iya, jangan basa-basi, Dok!" minta Liam kesal.
"Dok, jangan mau! Saya tidak sudi menjadi pendonor!" teriak Nafisha tegas.
Liam meradang, dia menatap Nafisha tanpa ampun seperti mata itu menusuk Nafisha dengan kejam.
"Kau harus terus menjadi pendonor sampai adikku sembuh, Nafisha! Sebab jika tidak," suara Liam dingin seperti udara dingin di gunung Himalaya,
"Jangan harap kau hidup tenang sebagai adik dari Smith!" itu bukan hanya sekedar ancaman tapi sesuatu yang bisa membuat Nafisha tegang dan cemas.
selalu d berikan kesehatan 😃