NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKAD PUTRA

Matahari belum sepenuhnya menembus permukaan bumi, sinarnya masih lembut, hangatnya baru mulai merayap. Udara pagi murni, belum tercampur debu dan polusi kota, menyelimuti jalanan dengan kesegaran yang menenangkan. Jalanan pun masih lengang, sepi, hanya terdengar deru motor Putra yang memecah kesunyian pagi buta.

Motornya melaju di kawasan pemukiman yang tenang, melintasi jalan besar dengan bahu kiri dan kanan dipagari deretan rumah-rumah mewah. Bangunan-bangunan megah itu berdiri kokoh, halaman luasnya tertata rapi, seakan menyapa siapa pun yang melintas dengan sunyi elegan.

Sungguh, sepanjang perjalanan, pemandangan itu memberi Putra rasa lega tersendiri—ketenangan yang jarang ia temui di antara hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari.

"Kalau tiap hari kayak gini... Mama gak perlu susah payah buat sewa ojek!" Ucap Ratih di belakang. "Mama bisa andelin kamu kapanpun!"

Ibu kamu pasti mau kamu jadi yang terbaik yang menjadikan kamu paling bisa di andalkan, pastinya.

Pernyataan itu mendadak melintas di benak Putra, muncul begitu saja di tengah perjalanan. Kalimat Salma, yang kini menggema hangat menyelimutinya di antara dingin pagi yang menerpa hari ini.

Putra tertelan. Jakunnya nampak bergoyang naik turun. Tangannya mengerat di setang motor. Perlahan, pikirannya melayang, mencoba memahami bahwa di balik kerasnya sikap Ratih, ternyata apa yang di katakan Salma benar, ada sebuah harapan yang diselipkan dengan cara yang tak selalu ia mengerti.

Salma. Nama itu kembali merayap di pikirannya. Seorang wanita yang tak sekadar cantik—keindahannya bukan hanya soal wajah, tetapi juga aura yang memancar dari dalam dirinya.

Salma selalu menjadi pendamping mimpinya, hadir dalam bayangan dan kenyataan dengan ketenangan yang menenangkan. Sikap dewasanya yang memikat, menyeimbangkan antara kelembutan dan ketegasan, membuat siapa pun yang berada di sekitarnya merasa nyaman sekaligus terhormat.

Tak hanya itu, di balik tatapan Salma yang tegas, menyimpan rasa hangat dengan senyumannya yang ringan hingga mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam. Bahkan, setiap gerakannya dipenuhi kenangan yang menjadikan sosok Salma bukan hanya dilihat, tetapi juga diingat.

Mendadak, Putra menghentikan motornya. Bukan karena kesadarannya terhadap Salma yang kini terngiang-ngiang di kepalanya, melainkan pandangannya tertuju pada satu rumah besar di kejauhan. Sebuah bangunan megah itu tampak tenang, namun sosok yang keluar membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Putra....! Ayo jalan!" Protes Ratih.

Ratih menepuk pundak anaknya dari belakang, bahkan menjitak kepala Putra yang untungnya terlindungi oleh helm. “Kenapa berhenti?!” Serunya kali ini dengan nada meninggi, memecah keheningan yang sempat menggantung di antara mereka, "Ayo cepat jalan, Putraaaaa!"

“Ssssssst!”

Sekejap, Putra menoleh ke belakang, Matanya menatap Ratih dengan ekspresi tegas namun panik. Ia meminta ibunya untuk diam, suaranya hanya nyaris terdengar, seolah takut menarik perhatian orang lain di sekitar, termasuk mereka.

Ya. Napasnya tercekat sebentar, tangannya tetap erat memegang setang motor, ketika mereka nampak keluar dari rumah dengan langkah bersama. Seorang pria bersama wanitanya—pria yang beberapa hari lalu menabraknya, pria yang tak lain adalah suami Salma. Mereka lalu nampak masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan lokasi.

“Putra! Ayo jalan! Kamu kenapa si masih berhenti?!” Desak Ratih lagi, lebih keras sambil menepuk bahu Putra. "Nanti telat, cepaaat!"

"Haaaaish!" Dengus Putra. "Bawel banget bonceng emak-emak!"

"APA KAMU BILANG?!" Pekik Ratih mencubit lengan kokoh anaknya.

"Ma, sakiiiit...!" Ringis Putra.

"Ya udah cepat jalan!"

“Iyaaaa!” Seru Putra akhirnya, suaranya nyaris tertelan oleh deru mesin motor. Ia kembali menarik gas.

Motornya mulai melesat meninggalkan rumah itu—bangunan yang kini seolah menjadi salah satu titik penanda dalam pikirannya yang perlahan membentuk satu tekad jelas dan kuat. Tanpa ragu, tanpa menunda lagi. Salma.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!