“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 5 - CH 27 : Pulang Kampung
Mesin Daihatsu Espass berwarna putih pudar itu menggerung kasar, suaranya nyaris memekakkan telinga, seolah sedang memprotes keras aspal jalanan kabupaten yang berlubang di sana-sini.
Bara Mahendra mencengkeram kemudi bundar yang kulit pelapisnya sudah mengelupas itu dengan sebelah tangan. Tangan kirinya sesekali memindahkan tuas persneling yang terasa keras dan berbunyi berderak. Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis menuruni rahangnya yang tegas.
AC mobil legendaris andalan Bara's Kitchen yang selalu dipanggil 'Si Putih' oleh Lintang dan Mang Ojak ini memang sudah mati total sejak zaman Majapahit. Hembusan angin yang keluar dari kisi-kisi AC hanya berupa udara panas yang bercampur debu jalanan. Bara terpaksa membuka kaca jendela pengemudi separuh, membiarkan angin siang yang terik menerpa wajahnya.
Perjalanan dari Kota X menuju kampung halamannya di pinggiran kabupaten memakan waktu nyaris empat jam jika lalu lintas sedang tidak bersahabat. Bagi seorang Bara yang selalu mengagungkan efisiensi waktu dan sangat benci membuang bensin tanpa hasil yang profitable, perjalanan ini seharusnya menjadi hal yang paling dia hindari.
Namun, semua prinsip kapitalis dan perhitungan pelitnya itu hancur lebur hanya karena sebuah panggilan telepon singkat yang dia terima kemarin lusa.
"Bar... Ibu badannya lagi pada pegel, agak meriang. Kena angin malam kayaknya, batuknya juga lumayan bikin dada sesek kalau tiduran,"
Suara ibunya di seberang telepon kala itu tidak terdengar seperti orang yang sedang kritis di ambang maut. Itu murni keluhan sakit khas orang tua yang staminanya mulai menurun karena usia dan kelelahan. Tapi bagi Bara, suara parau ibunya adalah alarm darurat tingkat tertinggi. Lebih darurat daripada preman pasar yang memalak Mang Ojak, atau mixer industri di rukonya yang tiba-tiba konslet.
Mobil Espass itu akhirnya berbelok patah ke kiri, meninggalkan jalan raya utama dan memasuki jalanan cor semen yang membelah area persawahan. Beberapa menit kemudian, Si Putih perlahan memasuki sebuah pekarangan kecil yang ditumbuhi pohon mangga rimbun, lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana bercat krem.
Warna krem di dinding luar rumah itu sudah banyak yang memudar dan mengelupas, menampilkan plesteran semen abu-abu di baliknya. Genteng tanah liatnya mulai menghitam karena lumut. Rumah ini adalah saksi bisu masa kecil Bara, sekaligus tempat penyimpanan luka yang paling ingin dia lupakan.
Bara mematikan mesin mobil. Suara bising Si Putih seketika tergantikan oleh heningnya suasana pedesaan. Hanya terdengar kicauan burung gereja dan gesekan daun mangga yang tertiup angin.
Bara menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah akibat menyetir dan udara panas. Dia membuka pintu mobil, melangkah turun, lalu berjalan menuju pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati tua. Pintunya tidak terkunci, hanya tertutup rapat.
"Bu? Bara nyampe, Bu," panggil Bara pelan, mendorong pintu itu hingga berderit terbuka.
Dia melangkah masuk ke ruang TV yang pencahayaannya agak remang-remang karena gorden jendela hanya dibuka setengah. Aroma khas rumah tua campuran antara wangi kapur barus, minyak kayu putih, dan uap rebusan air daun sirih langsung menyapa indra penciumannya.
Di sudut ruangan, di atas sebuah kasur lipat tipis yang digelar di depan TV tabung yang menyala tanpa suara, ibunya sedang berbaring. Wanita paruh baya itu berselimut kain jarik bermotif parang. Wajahnya terlihat pucat, dan napasnya terdengar sedikit berat.
Mendengar suara anak laki-laki kebanggaannya, wanita itu perlahan membuka mata. Sebuah senyuman hangat dan penuh kelegaan langsung mengembang di wajahnya yang mulai keriput.
"Eh, Le... Bara..." ibunya berusaha bangun untuk duduk, menyingkap selimut jariknya. "Kok masih siang nyampe? Katanya sore baru mau berangkat dari ruko?"
Bara buru-buru meletakkan kunci mobil di atas meja kayu, lalu berlutut di samping kasur ibunya. Dia menahan bahu ibunya dengan lembut, mengisyaratkan agar wanita itu tetap berbaring. Bara meraih tangan kanan ibunya, menempelkannya ke dahi, dan menciumnya dengan takzim.
Sikap dingin, galak, dan perhitungan yang selalu menjadi setelan pabrik Bara di ruko, menguap tak berbekas. Di ruangan ini, dia bukanlah bos tiran Bara's Kitchen. Dia hanyalah seorang anak laki-laki yang sangat ketakutan kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa.
"Si Putih lagi nurut, Bu. Mesinnya nggak rewel, radiatornya aman, makanya Bara gas aja biar cepet nyampe," jawab Bara, suaranya terdengar sangat lembut, sebuah kontras yang luar biasa jika Lintang mendengarnya. "Ibu udah mendingan badannya? Tadi pagi udah makan bubur belum?"
"Udah, Le. Tadi dibuatin bubur sama Bude Sumi sebelah rumah," ibunya membelai rambut Bara dengan penuh kasih sayang. Tatapan matanya menyiratkan rasa bersalah. "Ibu tuh cuma masuk angin biasa lho, Bar. Kamu ini lebay banget sampai ninggalin ruko segala. Karyawanmu, si Neng Lintang sama Mang Ojak gimana? Nanti orderan rotimu keteteran."
Bara tersenyum tipis. "Ruko aman, Bu. Lintang cerewet tapi kerjanya cekatan. Mang Ojak juga udah hafal takaran. Bara udah kasih SOP jelas ke mereka. Berani ngaco gramasi terigu, apalagi bikin gosong kue, langsung Bara potong gajinya. Jadi Ibu nggak usah mikirin kerjaan Bara."
Ibunya terkekeh pelan mendengar ancaman potong gaji yang sudah menjadi ciri khas anaknya itu. Batuk kecil menyela tawanya, membuat Bara refleks memijat pelan tengkuk ibunya.
"Nanti abis ashar, kita langsung berangkat aja ya, Bu," ucap Bara setelah batuk ibunya reda. "Bara mau bawa Ibu ke ruko. Biar gampang ngerawatnya. Ibu tidurnya di kamar Bara aja nanti."
"Iya, Le. Ibu nurut aja sama kamu," ibunya mengangguk pasrah. "Baju Ibu tolong diberesin ya, masukin ke tas kain yang di dalam lemari."
"Siap, Bos," Bara berdiri. "Ibu istirahat lagi aja, tidur dulu ga apa. Nanti kalau udah mau berangkat Bara bangunin."
Bara melangkah meninggalkan ruang TV, berjalan menyusuri lorong sempit yang menghubungkan area depan dengan dapur dan kamar mandi. Di lorong itu, terdapat dua pintu yang saling berhadapan. Kamar ibunya berada di sisi kanan.
Namun, sebelum tangan Bara menyentuh kenop pintu kamar ibunya, langkahnya terhenti. Pandangannya terpaku pada pintu kayu di sisi kiri lorong.
Pintu itu tertutup rapat. Cat putihnya sudah banyak yang terkelupas dan menguning. Di permukaannya, masih menempel sisa-sisa stiker boyband Korea dan karakter anime yang sudut-sudutnya sudah melengkung dan memudar dimakan usia.
Itu adalah kamar Dinda. Adik perempuan satu-satunya.
Jantung Bara mendadak berdetak satu ketukan lebih lambat. Sudah hampir tiga tahun ruangan itu dibiarkan kosong, dipertahankan persis seperti hari terakhir adiknya meninggalkannya untuk berangkat ke sekolah.
Tanpa sadar, seolah digerakkan oleh magnet dari masa lalu, tangan Bara terulur. Jari-jarinya yang kasar karena sering terkena panas oven, perlahan memutar kenop pintu yang terasa dingin itu.
Cklek.
Pintu berderit panjang, memecah keheningan lorong. Bara melangkah masuk ke dalam kamar yang sedikit pengap tersebut. Aroma debu dan kapur barus langsung menyergapnya.
Ruangan itu sangat rapi, persis seperti watak adiknya yang selalu perfeksionis. Kasur single bed di sudut ruangan tertutup seprai motif bunga matahari yang warnanya mulai pudar. Di atas meja belajar berbahan serbuk kayu yang lapisannya mulai mengelupas, tersusun rapi beberapa buku paket pelajaran SMA, tumpukan binder catatan, dan sebuah tempat pensil berbentuk kelinci.
Bara berjalan mendekati meja belajar tersebut. Matanya tertuju pada sebuah pigura foto kecil berbingkai plastik merah yang diletakkan tepat di sebelah lampu belajar.
Bara mengambil pigura itu, mengusap debu tipis di atas kacanya. Di dalam foto itu, Bara yang masih terlihat segar, glowing, dan mengenakan kemeja flanel rapi ala anak agensi Jakarta, sedang merangkul Dinda yang memakai seragam putih abu-abu. Adiknya itu tersenyum sangat lebar ke arah kamera, menampilkan gigi gingsulnya, sambil memegang sebuah piala lomba cerdas cermat.
Tangan Bara mulai bergetar. Dia menunduk, mencengkeram erat pinggiran meja belajar Dinda dengan tangan kirinya. Saking kuatnya cengkeraman itu, buku-buku jarinya memutih dan urat di punggung tangannya menonjol.
Tembok pertahanan mental yang dia bangun bertahun-tahun menggunakan semen kapitalisme, perhitungan uang yang kaku, dan amarah meledak-ledak di dapur ruko, mendadak runtuh tak bersisa hanya dalam hitungan detik di ruangan berukuran tiga kali tiga meter ini.
Keheningan rumah ini, wangi debu ini, dan senyuman adiknya di foto itu... semuanya menjadi pelatuk yang menarik paksa Bara kembali ke satu-satunya memori masa lalu yang paling ingin dia hapus dari sejarah hidupnya.
Ingatan tentang hari tergelap dalam hidupnya, tiga tahun lalu, kembali berputar dengan resolusi 4K di dalam kepalanya. Sesuatu yang bahkan jauh lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa isi rekeningnya yang berjumlah ratusan juta rupiah telah dikuras habis oleh pacar dan sahabatnya sendiri.
[TIGA TAHUN LALU]
Langit kampung halamannya seolah ikut mengamuk. Hujan badai mengguyur tanpa ampun sejak siang hari, disertai kilat dan petir yang menyambar-nyambar dengan buas.
Bara berjalan gontai menyusuri jalanan aspal kampung yang mulai tergenang air keruh. Langkahnya terseret-seret, seolah tidak ada lagi sisa tenaga di kakinya. Pakaiannya jas navy mahal dan kemeja flanel kebanggaannya basah kuyup, menempel lengket pada tubuhnya. Kain itu bercampur dengan noda lumpur kotor dan sisa noda darah kering di telapak tangannya; darah akibat dia meremas aspal jalanan di Bandung saat memohon uangnya dikembalikan.
Bara kedinginan hingga bibirnya membiru, tapi dia tidak merasakannya. Pikirannya kosong. Hatinya baru saja dirampok habis-habisan oleh dua manusia bangsat yang paling dia percayai. Dia datang ke Bandung membawa harapan, dan dia pulang hanya membawa kekosongan yang absolut.
Air matanya sudah mengering di bus selama perjalanan panjang dari Bandung menuju kampung. Dia merasa sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditangisi. Cadangan emosinya telah terkuras habis oleh rasa tidak percaya, pengkhianatan, dan amarah.
Namun, sisa-sisa kewarasan yang dia pertahankan mati-matian, akhirnya hancur lebur saat langkah kakinya membawanya tiba di depan pekarangan rumahnya.
Di bawah guyuran hujan lebat yang seolah ingin menenggelamkan dunia, pemandangan di depan matanya mencabik-cabik jiwanya tanpa sisa.
Sebuah bendera kuning yang terbuat dari kertas krep basah terpasang di tiang listrik depan pagarnya. Warna kuningnya mulai luntur terbawa air hujan, meneteskan cairan keruh ke aspal, layaknya air mata penderitaan.
Tenda terpal biru berukuran besar sudah didirikan seadanya di halaman rumah, melindungi puluhan kursi plastik yang basah terciprat air. Di bawah tenda itu, puluhan tetangga yang mengenakan pakaian serba gelap berdiri berkerumun. Mereka menoleh, menatap iba, kasihan, dan berbisik-bisik ke arah Bara yang berdiri mematung di pinggir jalan seperti mayat hidup.
Dari dalam rumah, menembus derasnya suara hujan yang menghantam atap seng, terdengar raungan tangis ibunya. Raungan yang sangat menyayat hati, sarat akan keputusasaan seorang ibu yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. Ibunya memanggil-manggil nama Dinda dengan histeris.
"Dinda... ya Allah... anakku..."
Suara itu menghantam ulu hati Bara layaknya pukulan palu godam.
Bara membeku. Kakinya seolah dipaku ke bumi menggunakan paku berkarat. Napasnya tercekat di tenggorokan, membuatnya tercekik oleh penyesalan yang sangat pekat.
Dia gagal. Dia adalah kakak laki-laki yang gagal. Dia membanggakan dirinya sebagai pria sukses di Jakarta, membanggakan saldo ratusan juta hasil lembur tak kenal waktu, hanya untuk menyadari bahwa di saat adiknya meregang nyawa dan membutuhkan uang lima puluh juta untuk operasi, Bara tidak memiliki sepeser pun untuk menyelamatkannya.
Adiknya mati karena kepolosannya. Adiknya mati karena keluguannya mempercayakan hasil keringatnya pada janji manis seorang pengkhianat.
Dada Bara bergemuruh hebat. Rasa sakit di hatinya meledak, menghancurkan seluruh saraf kewarasannya.
Bara jatuh berlutut di atas kubangan lumpur. Air matanya yang dia kira sudah habis, kini kembali tumpah dengan derasnya, jauh lebih deras dari sebelumnya. Dadanya sesak, memaksanya membuka mulut untuk meraung, tapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya yang terkunci rapat.
Hanya jeritan bisu dari jiwa yang hancur berkeping-keping.
Hari itu, tidak ada satu pun orang yang bisa melihat Bara menangis. Tidak ada tetangga yang tahu betapa hancurnya pria berbaju rapi yang kini bersimpuh di lumpur itu. Tangisannya, erangannya, dan penyesalannya yang paling dalam, semuanya tersamarkan dengan sempurna oleh derasnya air hujan badai yang menghantam wajahnya.
Di bawah hujan dan bendera kuning yang luntur itu, Bara Mahendra tahu, bahwa dia telah kehilangan seluruh alasan hidupnya.
[MASA SEKARANG]
"Bar...? Bara? Kamu lagi nyari apa di situ, Le? Kok lama banget?"
Panggilan ibunya dari ruang TV seketika menyentak kesadaran Bara, menariknya kembali ke realita masa kini dengan sangat kasar.
Bara terkesiap, mengambil napas dalam-dalam seolah baru saja muncul dari dalam air. Dadanya bergemuruh. Setetes air mata yang tanpa dia sadari kembali menggenang dan jatuh membasahi pipinya, dengan cepat dia usap menggunakan punggung tangan kanannya.
Bara buru-buru mengatur ritme napasnya, menelan ludah yang terasa sepahit empedu, lalu kembali memasang topeng tebal tanpa ekspresinya.
"Iya, Bu! Bentar! Ini Bara lagi nyari jaket tebel Ibu! Kayaknya dulu ditarok di dalam kamar sini deh biar nggak berdebu!" balas Bara, berteriak dari dalam kamar Dinda. Suaranya sengaja dia buat stabil, normal, dan sedikit terburu-buru.
Dia menatap lekat-lekat ke arah foto Dinda di tangannya untuk yang terakhir kalinya.
“Gue janji, Din,” batin Bara, tatapan matanya yang tadi penuh luka kini menajam, berubah menjadi kilatan es yang sangat dingin. “Nggak bakal ada lagi manusia di dunia ini yang bisa ngambil hak dan uang keluarga kita. Gue bakal pastiin, Ibu aman sama gue. Apapun bayarannya.”
Bara meletakkan kembali pigura itu di atas meja, tepat di posisinya semula. Dia berbalik, melangkah cepat keluar dari ruangan itu, dan menarik pintu kayunya hingga tertutup rapat. Bunyi klik dari kenop pintu seolah mengunci rapat bayangan masa lalunya di dalam sana.
Dia melangkah menuju kamar ibunya. Pemuda yang hancur karena hujan dan bendera kuning itu sudah tidak ada. Yang berjalan saat ini hanyalah sosok koki tiran, bos Bara's Kitchen yang gila uang, yang siap menghancurkan dunia dan menagih utang ke neraka sekalipun demi menjaga brankas dan ibunya.
Beberapa jam kemudian, Bara memapah ibunya dengan sangat perlahan dan hati-hati menaiki kursi penumpang depan Si Putih. Dia merapikan selimut yang menutupi kaki ibunya.
"Udah nyaman, Bu? Senderan kursinya kurang turun nggak?" tanya Bara lembut.
"Udah, Le. Pas. Udah kayak naik pesawat VIP aja ibu mah," canda ibunya lemah.
Bara tersenyum. Dia menutup pintu mobil, berjalan ke sisi kemudi, dan menyalakan mesin. Si Putih kembali menggerung kasar, siap membawa Bara dan ibunya meninggalkan masa lalu, kembali menuju Ruko Bara's Kitchen satu-satunya kerajaan di mana Bara bisa mengendalikan takdirnya sendiri dengan sempurna.