Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
“Ingat ya, ini terakhir kali gue bantuin Lo. Gue gak mau kena masalah lagi.” tegas Dikta pada gadis di hadapannya.
“Iyaa.. Kali ini gue jamin.” balas Nayla dengan percaya diri.
“Oke, kalo bukan karena Lo sepupu gue, gak akan sudi gue bantuin lo.” Pemuda itu kemudian melangkah pergi dari cafe tersebut, meninggalkan Nayla.
Nayla tersenyum puas, dia bergumam penuh kebencian. “Lihat aja. Gue gak akan biarin Lo rebut Sagara dari gue, kayak Lo rebut Tristan dulu.”
****************
“Ibu lihat progres kalian sudah sangat maksimal, silahkan persiapkan diri dengan matang. Dan mengingat waktu osn sudah h-7, tolong jaga kesehatan ya.” pesan Bu Ningsih yang baru saja memeriksa latihan soal yang mereka kerjakan.
“Baik bu.” balas Alleta dan Tristan hampir bersamaan.
Keduanya kemudian melangkah keluar dari ruang perpustakaan. Tristan berjalan di sisi Alleta.
“Tuh denger.. Jaga kesehatan!” kata Tristan seperti menekankan.
“Apa sih..” Alleta mengeluh pelan.
“Ya kan biasanya lo suka mandi hujan. Terus sakit lagi, mandi hujan lagi, sakit lagi.” lanjut Tristan seperti bergumam.
“Enggak. Gue juga tau keadaan kali.”
Keduanya tertawa pelan, di lorong kelas suasana terlihat tenang. Sebagian besar siswa yang tidak memiliki kegiatan tambahan sudah pulang tadi, setelah jam pelajaran usai.
“All..” Suara seorang gadis terdengar dari belakang, membuat keduanya seketika menoleh.
“Pulang sama gue yuk.” Aru langsung menggandeng tangan Alleta.
“Loh, Lo belum pulang?” tanya Alleta menyadari seharusnya Aru sudah pulang sejak tadi.
“Belum, gue nungguin lo.” jawab gadis berkuncir kuda itu, santai.
“Ngapain nungguin gue?” Alleta mengerutkan kening.
“Hehe, temenin nyari kado yok.” cicit Aru.
“Kado? Buat siapa.”
“Ya buat pacarnya lah, siapa lagi.” sambung Tristan tiba-tiba, pemuda itu melangkah pelan di belakang mereka.
“Ikut campur banget.” Aru berdengus pelan.
“Tapi bener kan?” tanya Tristan lagi.
Alleta menatap gadis itu penasaran, “Hehe, iya.” Aru tersenyum lebar.
Alleta menghela napas pelan, “Yaudah, gue temenin.” katanya akhirnya.
“Yeay!” Aru langsung berseru riang, menggenggam tangan Alleta makin erat.“Ke mall deket sekolah aja, gak jauh.”
Tristan berhenti melangkah.
“Lah, terus gue?”
Aru menoleh sekilas.
“Lo pulang aja. Kan bawa motor.”
“Iya Tris, kita kalo udah belanja bakal lama.” sambung Alleta, menoleh ke belakang.
“Oke, gue duluan.”
“Hati-hati.” Alleta mengingatkan.
Tristan mengangguk singkat kemudian melangkah terlebih dahulu ke arah parkiran.
Sementara kedua gadis itu pergi menuju gerbang, tempat sopir Aru sudah menunggu.
Di dalam mall, suasana ramai. Aru langsung menyeret Alleta masuk ke toko aksesori.
“Gue mau nyari sesuatu yang simple tapi bermakna,” gumam Aru sambil memandangi deretan gantungan kunci.
“Kasih jam tangan aja.” Alleta memberi saran.
“Gak boleh.” balas Aru cepat.
“Kenapa?”
“Katanya kalo kita ngasih jam tangan ke pasangan, sama aja kayak ngasih waktu buat hubungan kita, nanti cepet putus.” tutur Aru, gadis itu masih saja percaya pada tahayul.
Alleta terkekeh mendengarnya.
“Lo masih aja percaya mitos kayak gitu.”
Aru mendengus.“Ya siapa tau bener. Gue gak mau ambil risiko.”
Alleta menggeleng kecil sambil ikut memperhatikan deretan gantungan kunci, kalung, dan gelang yang tertata rapi di etalase.“Terus lo maunya apa?”
Aru mengambil sebuah gelang kulit cokelat tua dengan liontin kecil berbentuk huruf AD.“Ini… gimana menurut lo?”
Alleta menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum.“Bagus. Simpel, cowok banget. Terus inisialnya juga.”
Aru tersenyum puas.“Kan? Gue juga ngerasa gitu. Pas banget lagi, Aru–Dirga.”
Mereka melangkah ke kasir. Setelah membayar, Aru memasukkan kotak kecil itu ke dalam tasnya dengan hati-hati, seolah benda itu sangat berharga.
Keluar dari toko, mereka berjalan pelan menyusuri lorong mall.
“Eh, lo laper ga?” Aru bertanya tiba-tiba.
“Enggak sih.”
“Yahh.. Padahal gue laper.” Aru terlihat memanyunkan bibirnya.
“Yaudah yuk beli makan.” ajak Alleta seketika membuat senyum Aru melebar.
Alleta tersenyum melihat perubahan ekspresi sahabatnya.
Mereka pun masuk ke sebuah kafe kecil di sudut mall. Aroma kopi dan roti panggang menyambut begitu mereka membuka pintu.
“Lo mau pesen apa?” Aru menoleh ke arah Alleta di belakangnya.
“Samain sama punya Lo aja.”
Setelah memesan keduanya duduk di kursi dekat jendela.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang.
Dua gelas minuman dingin dan dua piring kentang goreng tersaji di tengah meja.
“Akhirnya.., cacing-cacing di perut gue udah teriak minta makan.” Aru langsung menyambar satu kentang.
Alleta terlihat tertawa kecil, sebelum akhirnya juga menikmati kentangnya dengan tenang.
“Ru, Lo inget soal surat yang dikasih Sagara waktu itu gak?” ujar Alleta di tengah makan mereka.
“Inget.” Aru mengalihkan fokus pada Alleta. “Ada apa?”
Alleta menghela napas sebelum berbicara,“Kemarin dia nanyain soal itu, tapi gue sendiri masih bingung sama perasaan gue.” tuturnya.
“Bingung kenapa?” Aru menatap sahabatnya heran.
“Gue masih belum yakin kalo gue itu ada perasaan sama Sagara, gue takut kalo ternyata gue cuma kagum sama dia.” jelas Alleta lagi.
Aru terdiam sejenak, menatap Alleta dengan serius.
“Gini ya, All.” katanya pelan. “Perasaan itu gak selalu datang kayak petir, gak selalu jelas dari awal. Kadang dia tumbuh pelan, kadang kita baru sadar setelah lama bareng seseorang.”
“Tapi gimana kalo setelah bersama, gue malah nyakitin dia. Atau nyakitin diri gue sendiri.” gumam Alleta, gadis itu benar-benar terlihat bimbang.
“Yaudah gini, coba Lo rasain apa yang ada di perasaan Lo. Saat lo lagi bareng Sagara, dan saat Lo lagi bareng orang lain. Dan coba cari perbedaannya.” Aru berusaha memberi saran.
Alleta terdiam, pandangannya turun ke sisa kentang di piringnya yang masih sisa setengah.
“Kadang gue ngerasa jahat karena bingung,” lirihnya. “Dia baik banget, Ru. Terlalu baik malah. Dan gue takut… gue cuma nyaman, bukan jatuh cinta.”
Aru menatapnya lembut.
“Nyaman itu bukan hal kecil, All. Tapi cinta juga gak bisa dipaksa. Makanya jangan buru-buru ngasih jawaban ke siapa pun — termasuk diri lo sendiri.”
Alleta mengangguk pelan.
“Iya… Makasih sarannya”
Ponsel Aru tiba-tiba bergetar di atas meja. Ia melirik layarnya, lalu tersenyum kecil.
“Siapa?” tanya Alleta.
“Dirga,” gumamnya. “Nanyain udah pulang apa belum.”
Alleta ikut tersenyum melihat ekspresi Aru yang langsung berubah lebih cerah.“Tuh, kalo lo sendiri? Lo yakin sama perasaan lo ke dia?”
Aru terkekeh kecil.“Gak pake mikir.”
Jawaban itu membuat Alleta tertawa kecil, ternyata Aru yang dalam mode bucin memang sangat kecintaan.
****************
H-2 sebelum OSN.
Alleta masuk sekolah seperti biasa, Tristan berjalan beriringan di sebelahnya. Udara pagi terasa sejuk, beberapa siswa mulai ramai berdatangan.
Jika biasanya ada saja yang menyapa mereka berdua saat lewat, kali ini tatapan para siswa sedikit berbeda.
Mereka menatap sekilas ke arah mereka berdua sebelum akhirnya bisik-bisik juga terdengar meskipun tidak jelas.
Alleta mengerutkan kening bingung.
“Aneh banget, orang-orang pada kenapa sih?”
“Iya nih, tumben.” balas Tristan yang juga menyadari keanehan yang terjadi.
Namun daripada ambil pusing keduanya melanjutkan langkah menuju kelas.
Mereka baru saja hendak masuk kelas, ketika seseorang tiba-tiba menyenggol bahu Alleta cukup keras.
“Eh, sorry.”
Alleta menoleh. Seorang siswi dari kelas sebelah buru-buru pergi, tapi dari raut wajahnya jelas bukan minta maaf sungguhan.
Alleta belum sempat menjawab, saat Aru tiba-tiba menariknya dan Tristan masuk ke kelas.
“All.. Tris”
“Ada apa?” tanya Alleta.
Aru menarik napas dalam-dalam, tatapannya terlihat serius. “Kalian berdua harus lihat ini.”
Gadis itu menunjukan sesuatu di ponselnya–sebuah akun Instagram yang dengan nickname..
@Queen_OfSpanca
Keduanya nampak masih bingung, hingga isi dalam postingan akun tersebut terlihat. Alleta menatap layar ponsel Aru dengan mata membesar.
Beberapa foto buram terpampang di sana—sudut koridor sekolah, halaman belakang gedung lab, di semua tempat dimana Alleta terlihat saling menyapa dengan beberapa pemuda yang berbeda, namun dalam foto tersebut dibuat seolah-olah sangat dekat dan ada beberapa foto yang sepertinya adalah hasil editan.
Caption besar memenuhi layar:
“KATANYA SETIA, TAPI DEKAT SANA-SINI.”
“TRISTAN SUDAH LAMA PACARAN SAMA ALLETA, TAPI ALLETA MASIH AJA GATEL SANA-SINI, SAMPE ANAK BARU PUN GAK LEPAS.”
Komentar di bawahnya sudah ratusan, karena hampir semua anak Spanca difollow oleh akun tersebut.
“Serius nih?”
“Kok tega banget…”
“Tristan kelihatan tulus.”
“Sagara jadi orang ketiga?”
“Apa… apa maksudnya ini?” Alleta benar-benar bingung.
Tristan berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. Matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat di layar, tiap komentar, tiap tuduhan. Ujung jarinya mengepal.
“Ini fitnah,” ucapnya pendek.
Aru menelan ludah. “Udah hampir satu jam ini naik, All. Share-nya udah kemana-mana.”
Belum sempat Alleta menjawab, suasana kelas tiba-tiba berubah hening.
Seseorang berdiri di depan pintu.
Sagara melangkah masuk dengan raut wajah sulit dibaca. Matanya langsung menemukan Alleta.
“Kalian pada kenapa?” tanya pemuda bermata elang itu, melihat ekspresi aneh semua orang.
Sagara sepertinya belum melihat akun itu.
Alleta menatap Sagara, lalu melirik ponsel Aru di tangannya. Tangannya bergetar sedikit sebelum akhirnya ia menyodorkan layar itu ke arah Sagara.
“Sa… lo harus lihat ini.”
Sagara menerima ponsel itu.
Tatapan matanya berubah pelan saat membaca. Alisnya mengerut.
“Apa-apaan nih?” gumamnya.
“Ada yang mau jatuhin nama Alleta.” sahut Tristan serius.
“Berita beginian, ada aja yang percaya.” kata Sagara, menyerahkan kembali ponsel Alleta. “Siapa yang nyebar?”
“Gak tau, akunnya anonim.” balas Alleta sembari mengehela napas.
“Udah, Lo fokus aja sama belajar Lo. Kan bentar lagi mau OSN, soal ini gak usah diribetin, biar gue yang urus.” Sagara terlihat menenangkan Alleta.
Alleta menatap Sagara ragu.“Sa… tapi semua orang baca itu.”
Sagara menatapnya yakin.“Justru itu. Kalo lo terpancing, mereka yang menang.”
Tristan melangkah mendekat.
“Gue juga gak bakal tinggal diam.”
Sagara menoleh ke arah Tristan.
Tatapan mereka bertemu, tidak ada permusuhan, hanya satu kesamaan: mereka sama-sama marah karena Alleta diserang.
“Gue cari siapa admin akun itu,” ucap Sagara pelan tapi tegas.
Bel masuk berbunyi memecah ketegangan.
Bersambung...
–Dalam perjalanan yang panjang ini, semoga selalu dipertemukan dengan hal-hal yang menyenangkan–