NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPATI TEKNIS

Pikiran Scarlett melayang jauh. Ia tahu di balik pesona Edric Lutarsa yang hangat, tersimpan sisi dingin yang tajam—sebuah insting predator yang wajib dimiliki oleh siapa pun yang lahir di pusat kekuasaan keluarga investor terbesar di negeri ini.

"Sayang sekali, urusan keluarga benar-benar menyita waktuku," suara Edric kembali terdengar di telepon, penuh penyesalan yang dramatis. "Kalau saja aku bisa membelah diri, aku pasti sudah terbang ke sana untuk menjagamu secara pribadi. Melihatmu terbaring di rumah sakit adalah pemandangan yang menyakitkan bagi hatiku."

Scarlett mendengarkan ocehan itu tanpa minat, hanya senyum samar yang tersungging di bibirnya. Namun, tepat saat ia hendak membalas dengan basa-basi, sebuah kata yang diucapkan Edric memicu sirkuit di otaknya. Menjaga.

"Ada hadiah yang kamu inginkan? Nanti aku bawakan saat pulang sebagai permintaan maaf karena tidak ada di sisimu," tanya Edric lagi.

Pikiran Scarlett sudah melesat jauh ke barisan kode dan sirkuit. Ia menemukan celah yang selama ini tertutup oleh obsesinya menyaingi robot asisten rumah tangga milik Grup Laksmana.

"Jaga dirimu saja di sana, Edric. Aku ada urusan mendesak, kututup dulu," jawabnya cepat tanpa menunggu balasan.

Begitu sambungan terputus, ide itu meledak di kepalanya seperti kembang api. Selama ini ia terlalu terpaku pada fungsi robot secara umum untuk pasar massal—seperti yang dicuri oleh Vivian. Namun ucapan Edric tentang "menjaga" memberinya pencerahan. Kenapa tidak mempersempit fokusnya? Menciptakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh algoritma curian Vivian: Empati Teknis. Robot yang bukan sekadar asisten, melainkan pengasuh medis profesional.

Dengan jemari yang menari cepat di atas keyboard, Scarlett menyusun rancangan awal algoritma Human-Care. Ia segera mengirimkannya kepada Henry.

Beberapa menit kemudian, Henry membalas dengan nada skeptis: Ide ini luar biasa, Scarlett. Tapi robot pengasuh butuh presisi kekuatan yang gila. Membantu orang sakit berjalan atau memberikan pijatan medis butuh data biomekanik yang sangat detail. Riset ini butuh berbulan-bulan. Waktu kita hanya tersisa lima hari!

[Aku punya datanya,] balas Scarlett singkat dan penuh keyakinan.

Pengakuan yang Pahit

Henry tidak tahu bahwa selama lima tahun menjadi istri Devan yang diabaikan, Scarlett telah menghabiskan waktunya mempelajari teknik perawatan medis secara mandiri demi melayani suaminya yang gila kerja dan sering menderita kelelahan kronis. Ia tahu persis takaran kekuatan otot, titik saraf untuk pijatan, dan ketelitian yang dibutuhkan untuk merawat manusia tanpa menyakiti. Kini, ia berada di rumah sakit—sebuah laboratorium hidup dengan sampel data yang melimpah di sekelilingnya.

Lama tak ada balasan dari Henry. Scarlett menduga pria itu sudah menyerah. Namun, kurang dari satu jam kemudian, pintu kamar rawatnya terbuka kasar. Henry muncul dengan keranjang buah besar dan wajah yang tampak sangat canggung.

"Masih sakit tapi tetap nekat bekerja. Kamu sedang mencoba pamer kalau kamu ini pahlawan perusahaan?" gerutu Henry sambil meletakkan buah di meja dengan suara berdebum.

Ia menghela napas kasar, lalu melanjutkan dengan nada kesal yang dipaksakan untuk menutupi rasa bersalahnya. "Mavin sudah bicara padaku. Soal taruhan kita... anggap saja aku kalah. Kamu boleh tetap di UME tanpa syarat. Jadi, berhenti membuat masalah baru dengan proyek mustahil ini dan istirahatlah."

Scarlett tertegun sejenak sebelum tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kedewasaan yang menyakitkan. "Aku melakukan ini bukan karena taruhan bodoh itu lagi, Henry."

"Lalu apa? Jangan bilang kamu mendadak jadi martir untuk UME," ejek Henry, meski suaranya mulai melunak. "Kalau kamu memang peduli pada perusahaan, kamu tidak akan pernah meninggalkan kami lima tahun lalu hanya demi mengejar pria dan pernikahan sia-sia itu. Bakatmu terbuang percuma hanya untuk menjadi pelayan di rumah Laksmana."

Kalimat Henry menghantam tepat di ulu hati. Mavin rupanya sudah menceritakan sebagian masa lalu Scarlett pada Henry. Scarlett menggigit bibir bawahnya; ia tidak punya pembelaan. Kenyataan bahwa ia pernah menelantarkan jeniusitasnya demi cinta pada Devan adalah luka yang tak bisa ia sangkal.

Henry masih berdiri di sana, menatapnya tajam, menuntut sebuah alasan yang jujur atas kegilaan yang ia kerjakan sekarang.

"Anggap saja..." Scarlett akhirnya bersuara, nadanya rendah namun bergetar penuh tekad, "aku melakukannya untuk diriku sendiri. Untuk membuktikan bahwa Scarlett yang hancur lima tahun lalu bisa berdiri kembali di puncak. Aku ingin melihat pemandangan yang sempat aku lewatkan demi orang yang salah... dan aku ingin memastikan mereka melihatku saat aku berada di sana."

Henry terdiam. Ia melihat api di mata Scarlett—sebuah ambisi yang jauh lebih murni sekaligus berbahaya daripada sekadar persaingan bisnis.

"Lima hari," gumam Henry akhirnya. "Aku akan membawa tim pengembang terbaik ke apartemenmu setelah kamu keluar dari sini. Jika kita gagal, kita hancur bersama."

Misi mustahil dimulai! Akankah Scarlett berhasil merampungkan robot "Care-Bot" yang memiliki sentuhan manusia dalam 5 hari di tengah kondisinya yang kritis, ataukah rahasia Vivian akan lebih dulu menghancurkan reputasinya?

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!