Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINGGASANA DI ATAS PASIR
Henry menatap Scarlett lama, mencari celah keraguan di mata wanita itu. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang keras kepala dan api yang membara. Ia menghela napas panjang, aura ketegangannya sedikit mengendur.
"Aku cuma mau kasih satu peringatan terakhir," ujar Henry dengan nada datar yang sarat akan beban. "Waktu kita sangat mepet. Kalau kamu mundur sekarang, UME memang akan kalah dari Grup Laksmana, tapi kekalahannya tidak akan memalukan. Namun, jika konferensi ini gagal total di atas panggung, reputasi UME akan hancur selamanya. Kita akan menjadi bahan tertawaan global."
Henry menjeda, suaranya memberat. "Grup Laksmana sudah memegang kartu kemenangan. Mereka punya panggung, punya modal, dan sekarang mereka punya 'data' itu. Jika kita maju dan gagal, perbandingannya akan membuat UME dicaci habis-habisan. Kamu yakin masih mau mempertaruhkan segalanya?"
Scarlett tidak berkedip. Ia mengangguk mantap, meskipun wajahnya sepucat kertas. "Aku yakin. Karena kemenangan yang mereka bangun di atas pencurian tidak akan pernah memiliki fondasi yang kuat."
"Baik." Henry memalingkan wajah, menyembunyikan rasa kagum yang mulai tumbuh. "Soal penelitian data di rumah sakit ini, biar aku yang atur tim khusus. Kamu selesaikan saja rancangan detailnya dan kirim ke aku. Sisanya, biar aku yang kerjakan."
Scarlett tertegun. Henry, pria yang paling keras menentangnya, kini menawarkan bantuan langsung. Menyadari keterkejutan Scarlett, Henry berdeham kecil dengan canggung.
"Jangan salah paham. Aku bukan sedang membantumu secara pribadi. Aku tetap meragukan ide ini," ketusnya untuk menutupi rasa gengsi. "Tapi ini menyangkut nyawa UME. Kita tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun."
Begitu Henry pergi, tim rahasia yang ia bentuk segera bergerak. Belajar dari insiden pengkhianatan di kantor, Henry kali ini bertindak ekstrem. Ia menutup akses departemen teknis dan memilih anggota inti yang belum terkontaminasi untuk mengumpulkan data biomekanik pasien di rumah sakit sebagai database pengasuh robot.
Scarlett bekerja bagai kesurupan. Di sela-sela infus dan rasa nyeri yang menusuk rahimnya, jemarinya terus menari di atas keyboard. Ia hanya tidur dua jam dalam semalam, memeras setiap sel otaknya untuk menciptakan logika empati pada mesin. Pada sore hari ketiga, keajaiban itu terjadi: arsitektur desain "Care-Bot" yang revolusioner telah lahir.
Dua hari tersisa.
Langkah selanjutnya adalah integrasi sistem dan uji coba fisik. Scarlett tidak bisa tenang hanya dengan menunggu di ranjang rumah sakit. Ia merasa tubuhnya sudah cukup kuat untuk bertempur kembali di medan perang yang sesungguhnya: kantor UME. Ia pun memutuskan untuk mengurus administrasi keluar rumah sakit secara sepihak, mengabaikan larangan Mavin.
Saat berdiri di dalam lift menuju lantai dasar, perhatian Scarlett teralih oleh dua pria di sampingnya yang sedang menonton siaran langsung di ponsel dengan volume keras. Suara yang keluar dari ponsel itu membuat jantung Scarlett mencelos. Suara yang sangat ia kenali sebagai sumber penderitaannya. Vivian.
Scarlett melirik layar ponsel pria itu. Di sana, Vivian tampil memukau dengan jas putih profesional yang elegan dan riasan tanpa cela. Di belakangnya, layar LED raksasa bertuliskan: [Teknologi Mengubah Masa Depan - Grup Laksmana]. Di samping Vivian, berdiri robot hasil curian data UME yang telah dipoles dengan logo emas Laksmana.
"Nggak nyangka, desainer utama Grup Laksmana ternyata secantik ini," puji salah satu pria dengan mata berbinar. "Pantas saja saham Laksmana melonjak hari ini."
"Kudengar, dia itu cinta lama Devan Laksmana," timpal pria satunya dengan nada gosip yang kental. "Wajar saja kalau Devan nggak puas dengan istrinya yang sekarang. Kabarnya istrinya cuma wanita rumahan yang nggak tahu apa-apa. Kalau aku punya wanita secantik dan sepintar Vivian, aku juga nggak akan melirik wanita lain."
Pria itu menatap layar dengan penuh damba, seolah-olah Vivian adalah dewi pengetahuan yang turun ke bumi.
"Sudahlah, cukup lihat saja. Wanita secantik itu biasanya cuma untuk pajangan," pria kedua mencibir skeptis. "Kemungkinan hasil rancangannya juga... sulit dikatakan. Paling cuma menang di wajah."
Mendengar itu, Scarlett mengepalkan tangannya di balik saku baju pasiennya yang longgar. Vivian sedang berada di puncak kejayaannya, menggunakan hasil jerih payah Scarlett untuk memikat dunia, mendapatkan sanjungan, sekaligus mempermalukan status Scarlett sebagai istri sah Devan di mata publik.
Pintu lift terbuka. Scarlett melangkah keluar dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. Vivian mungkin telah memenangkan opini publik hari ini dengan topeng jeniusnya, tapi Scarlett akan memastikan bahwa dua hari lagi, dunia akan tahu siapa sebenarnya "pajangan" yang kosong dan siapa "pencipta" yang sesungguhnya.
Konferensi pers Vivian menjadi pusat perhatian dunia! Namun, di balik kemegahan itu, Scarlett baru saja menyelesaikan 'senjata' yang akan membongkar kebohongan tersebut. Akankah Care-Bot milik Scarlett mampu melampaui robot asisten milik Vivian yang hanya menang tampilan?
Ndak ada kesempatan lagi buatmu Devan...
itu barang satu satunya yg mengingatkan Scarlett kepada ibunya.
tukar tambah aja sama robot nya Scarlett.