seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK MISTERIUS
Ketakutan yang dipicu oleh simbol di pohon itu mengubah gubuk kecil Kayla menjadi benteng pertahanan yang mencekam. Setiap detak jantungnya kini berpacu dengan paranoid yang kian mengental. Ia tidak lagi berani pergi ke sungai; ia hanya mengambil air dari penampungan hujan dan memakan persediaan bahan pangan kering yang tersisa.
Bulan Kedelapan: Masa Penantian yang Menyakitkan
Memasuki bulan kedelapan, tubuh Kayla terasa semakin berat. Beban di perutnya bukan hanya sekadar janin, melainkan beban sejarah kelam yang terus menendang-nendang dari dalam. Kakinya mulai membengkak, dan setiap gerakan kecil membuatnya terengah-engah. Namun, ia tidak mengizinkan dirinya untuk beristirahat total.
Setiap malam, Kayla duduk di kursi kayu dekat jendela, mematikan lampu minyak agar keberadaannya tidak terdeteksi dari luar. Di pangkuannya, sebuah pisau dapur yang tajam selalu siaga. Matanya terus menyisir kegelapan hutan, mencari siluet manusia atau cahaya senter yang mungkin muncul.
"Kenapa mereka tidak datang saja jika memang sudah menemukanku?" bisiknya pada kegelapan.
Ketidakpastian ini jauh lebih menyiksa daripada siksaan fisik Aris. Ia mulai merasa bahwa simbol di pohon itu adalah cara organisasi "bermain" dengannya—membiarkannya membusuk dalam ketakutan sebelum akhirnya mereka mengambil apa yang mereka inginkan: sang bayi.
Suatu pagi yang berkabut, saat ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengambil beberapa sayur di halaman belakang, ia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar simbol. Di depan pintu gubuknya, tergeletak sebuah kotak kayu kecil yang rapi.
Dengan tangan gemetar, Kayla membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah botol vitamin kehamilan premium dan sepasang sepatu bayi berwarna putih bersih. Tidak ada pesan, tidak ada nama pengirim.
Kayla menjerit pelan dan melempar kotak itu sejauh mungkin. Vitamin itu adalah merek yang sama yang pernah diberikan Aris padanya di rumah mewah dulu.
"Dia masih hidup..." tangis Kayla pecah. "Aris, kau masih hidup?!"
Pikiran itu menghujamnya seperti belati. Jika Aris selamat dari ledakan itu, maka pelariannya selama ini hanyalah sebuah lelucon bagi pria itu. Aris mungkin sengaja membiarkannya tinggal di sini, membiarkannya merawat janin itu di lingkungan yang tenang, hanya untuk mengambil mereka kembali saat waktunya sudah tepat. Sifat posesif Aris melampaui kematian dan api.
Selama sisa bulan kedelapan, kesehatan mental Kayla berada di titik nadir. Ia mulai mengalami halusinasi. Ia sering mendengar suara langkah kaki Aris di atas lantai kayu gubuknya, atau mencium aroma parfum Aris yang bercampur dengan bau pinus.
Ia mulai merasa bahwa janin di perutnya adalah "mata-mata" Aris. Ia merasa setiap tendangan bayi itu adalah cara Aris berkomunikasi dengannya dari jauh.
"Kau bukan dia... kau bukan dia," Kayla memohon pada perutnya sendiri, sambil menangis tersedu-sedu.
Namun, di sisi lain, naluri keibuannya mulai muncul secara paradoks. Meskipun ia membenci asal-usul bayi ini, ia merasa harus melindunginya dari siapa pun—termasuk dari Aris jika pria itu benar-benar kembali. Ia mulai menyiapkan sebuah tas darurat kecil yang berisi kain-kain bersih, obat-obatan herbal, dan sedikit sisa uangnya. Jika terjadi sesuatu, ia bertekad untuk lari lebih jauh lagi ke dalam pegunungan, meski harus merangkak dengan perut besar.
Satu minggu sebelum ia memasuki bulan kesembilan, saat badai petir melanda Lembah Sunyi, sebuah ketukan terdengar di pintunya. Ketukan itu tidak keras, namun sangat berirama. Tiga ketukan pelan, jeda, lalu satu ketukan kuat.
Itu adalah kode rahasia yang pernah digunakan Aris saat mereka masih bermain sandiwara di awal pertemuan mereka.
Kayla mematung di tengah ruangan, pisaunya terangkat tinggi. Petir menyambar di luar, menerangi sesosok bayangan manusia yang berdiri di balik kaca jendela yang buram. Sosok itu tinggi, bahunya lebar, dan meski wajahnya tidak terlihat jelas, aura posesif yang memancar dari sana sangatlah akrab.
"Kayla... bukakan pintunya," suara itu terdengar samar di antara deru angin dan hujan. Suara yang dalam, dingin, dan penuh otoritas.
Kayla memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kencang. Kontraksi palsu mulai menyerangnya akibat stres yang luar biasa. Ia terjepit antara rasa sakit fisik dan horor yang berdiri di depan pintunya.
Sosok misterius itu kini berdiri di depan pintu gubuk Kayla di tengah badai.
Pintu kayu itu berderit, menahan beban badai dan misteri yang berdiri di baliknya. Kayla terengah, berdiri di perbatasan antara kewarasan dan kegilaan, memeluk perutnya yang menjadi saksi bisu dari setiap luka yang ia bawa. Dunia di luar mungkin luas, namun bagi Kayla, pelarian hanyalah lingkaran yang selalu membawanya kembali ke titik nol.
HALO SEMUANYA😆
Terima kasih telah mengikuti perjalanan kelam Kayla sejauh ini. Kisah ini bukan sekadar tentang pelarian, melainkan tentang ketangguhan jiwa yang dihancurkan berkali-kali namun menolak untuk mati. Dunia penuh dengan bayang-bayang, namun keberanian Kayla untuk bertahan di tengah kegelapan adalah pengingat bahwa cahaya sekecil apa pun tetap berharga. Persiapkan diri kalian, UNTUK MENANTI BAB SELANJUTNYA.