Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Kanara (2)
“AYAH! AYAH ELANG!” teriakan Kanara yang bercampur dengan tangisan menggema ke seluruh rumah.
Elang berlari secepat mungkin ke arah koridor belakang.
“AYAH! AYAH ELANG!”
Nura, yang masih berusaha memutar knop pintu menoleh ke arah yang sudah berada di sampingnya. Ia bisa melihat betapa hancurnya ekspresi pria itu. Elang tidak terlihat seperti seorang pengusaha tangguh yang sedang mengalami kebangkrutan, tapi ia terlihat seperti seorang ayah yang hatinya tercabik sekaligus disatukan kembali dalam waktu yang sama.
“Ra… itu Kanara?” suara Elang serak, nyaris tidak terdengar di antara Isak tangis di balik pintu.
“Iya, Pak! Dia memanggil Bapak! Cepat, pintunya macet!” seru Nura.
Kesadaran Elang kembali. Ia menerjang maju, mengesampingkan Bu Yati yang masih gemetar memegang seikat kunci. Elang menempelkan tangannya di pintu kayu itu, seolah ingin menyentuh putrinya.
“Kanara? Ayah di sini, Sayang. Ayah di sini!” Elang berteriak, suaranya bergetar hebat karena emosi yang meluap. “Jangan takut! Ayah nggak akan biarkan siapapun masuk.”
“Ayah… gelap… pintunya… nggak bisa…,” suara Kanara mulai tersendat, diselingi suara batuk, karena ia mulai sulit bernapas karena panik (hyperventilating).
Elang menatap Nura sesaat, ada harapan sekaligus ketakutan di dalam matanya. “Dia bicara, Nura! Dia memanggil saya!”
“Buka pintunya, Pak! Sekarang! Jangan sampai dia shutdown...,” Nura mendesak.
“Kanara, mundur! Jangan di belakang pintu!” perintah Elang.
Tanpa membuang waktu lagi, Elang mundur satu langkah. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya dan menghantamkan bahunya ke pintu besar itu.
Brak.
Satu kali hantaman tidak cukup.
Brak.
Pada hantaman ketiga, kayu di sekitar kunci retak dan pintu itu terbuka kasar.
Di sudut ruangan, Kanara meringkuk kecil. Begitu lampu koridor menerobos masuk, ia mendongkak dengan wajah yang penuh air mata.
Elang langsung berlutut di lantai, tidak peduli bahunya terasa nyeri. Ia merentangkan tangannya.
“Kemari, Kanara. Ini Ayah.”
Kanara tidak ragu lagi. Ia menghambur ke pelukan Elang, terisak di dadanya. Elang mendekapnya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di rambut Kanara, bahunya berguncang hebat.
Untuk pertama kalinya, Nura melihat pria itu menangis tanpa suara. Ia berdiri di ambang pintu menghapus air matanya sendiri.
**********
Brak!
Elang membuka pintu utama dengan sentakan kasar.
Wartawan yang tadinya berisik mendadak terdiam sesaat. Namun, detik berikutnya, mereka meringsek maju, menyodorkan mikrofon dan kamera tepat di wajah Elang.
“Pak Elang, bagaimana tanggapan Anda tentang penggelapan dana?”
“Apa betul perusahaan Anda sudah bangkrut sehingga mempengaruhi Kesehatan mental anak Anda?”
“Pak, lihat kamera di sini! Betulkah putri Anda menjadi alasan Anda kehilangan fokus di perusahaan?”
Pertanyaan-pertanyaan wartawan dilemparkan berbarengan.
Tadi rasa bahagia yang membuncah di dada Elang seketika menguap, digantikan dengan amarah yang mendidih, saat merasakan tubuh Kanara kembali gemetar di dekapannya ketika mendengar ada salah satu kaca yang pecah. “Bawa Kanara ke kamar, kunci pintunya dan jangan buka kalau bukan saya,” perintahnya pada Nura.
“Cukup,” satu kata itu keluar dari mulutnya, tidak keras tapi sanggup membungkam setiap orang yang berdiri di sana.
“Kalian boleh menghancurkan nama saya. Kalian boleh membakar perusahaan saya menjadi abu. Saya tidak peduli,” Elang maju satu langkah, membuat wartawan terdepan refleks mundur karena aura intimidasi yang kuat.
“Tapi saat kalian berani mengusik ketenangan putri saya, saat kalian membuat dia ketakutan di rumahnya sendiri…,” Elang menjeda kalimatnya, matanya memandang satu per satu wajah di depannya dengan tatapan predator. “...saya pastikan kalian tidak akan punya karir lagi setelah menulis berita sampah ini.”
“Pergi dari rumah saya sekarang, atau saya akan menyeret kalian ke jalur hukum dengan pasal berlapis, perusakan privasi, perbuatan tidak menyenangkan, dan pelanggaran wilayah pribadi. SAYA TIDAK MAIN-MAIN!”
Suara Elang yang terakhir itu terdengar menggelegar, membuat beberapa orang menjatuhkan mikrofon dan kamera mereka.
“Rian! Panggil tim keamanan pusat. Siapa pun yang masih ada di depan pagar, sikat tanpa ampun,” seru Elang.
Suasana menjadi riuh rendah, namun kali ini kerumunan itu mulai mundur teratur. Mereka sadar, macan yang terluka juga tetap predator yang berbahaya.
Elang menutup pintu dengan dentuman keras, lalu bersandar di sana sambil memejamkan mata. Napasnya memburu. Tangannya yang terkepal kuat mulai gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia menahan diri untuk tidak mengejar mereka dan menghancurkan kamera mereka satu per satu.
Dengan langkah pelan, Elang menaiki tangga. Di depan pintu kamar Kanara, ia berhenti sejenak, mengatur napasnya memadamkan api amarah yang masih menyala di dadanya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dan memastikan suaranya kembali lembut.
Ia mengetuk pintu dengan pelan. “Nura, ini saya…”
Pintu terbuka sedikit. Nura muncul dengan wajah cemas, namun ekspresinya melunak saat melihat Elang sudah tenang. Nura bergeser, memberi ruang pada Elang untuk masuk.
Di sudut tempat tidur, Kanara meringkuk di bawah selimut, hanya matanya yang sembab yang terlihat.
Elang duduk di sisi tempat tidur. “Kanara,” panggilnya lembut.
Gundukan selimut itu bergerak. Elang tidak langsung memeluknya lagi. Ia membiarkan Kanara yang menentukan jaraknya.
“Ayah sudah usir mereka semua. Tidak akan ada yang berani berisik lagi. Ayah janji,” ucap Elang pelan.
Kanara menatap ayahnya lama, lalu dengan gerakan ragu, ia mengeluarkan tangannya dari selimut, lalu memegang ujung kemeja Elang yang masih berantakan.
“Ayah… marah?” bisik Kanara dengan suara sedikit gemetar.
Hati Elang terasa diremas. Ia segera meraih tangan kecil itu dan menciumi punggung tangannya. “Ayah tidak marah sama Kanara. Ayah hanya… hanya ingin melindungi Kanara. Maafkan Ayah karena membiarkan mereka masuk.”
Kanara merangkak mendekat, lalu menaruh kepalanya di paha Elang. Elang membelai rambut putrinya dengan tangan yang masih gemetar.
“Tadi… waktu Kanara panggil Ayah…,” suara Elang bergetar karena emosi yang kembali meluap. “Itu adalah suara terindah yang Ayah dengar selama setahun ini, Sayang. Terima kasih sudah mau bicara lagi sama Ayah.”
Kanara mendongkak menatap Elang. “Kanara takut… tapi kalau panggil Ayah, Ayah pasti datang.”
Mendengar itu, Elang tidak bisa lagi menahan diri. Ia membungkuk, memeluk putrinya erat-erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kanara.
Nura yang memperhatikan dari dekat jendela memalingkan wajah untuk menghapus air mata yang jatuh. Ia tahu, di balik hancurnya reputasi dan bisnis Elang, sore ini adalah kemenangan terbesar bagi pria itu.
“Ayah akan selalu datang,” bisik Elang di telinga putrinya. “Selalu.”
Khan... aku juga jadi ikutan.. ba...s...ah... 😌
eh ortu Elang, aku karungin aja deh, brisik bgt dah😩