Arabela, terpaksa harus berlapang hati menerima kenyataan pahit. Perempuan cantik itu harus rela meninggalkan sang kekasih demi menuruti perintah keluarga untuk menikah dengan kakak ipar nya sendiri.
Adila, kakak kandung Arabela meninggal karena melahirkan seorang putri, hingga keluarga memutuskan untuk menikahkan arabela dengan Vano Herlambang,
bagaimana kisah Arabela dengan Vano? apakah mereka menemukan kebahagiaan atau sebaliknya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retmiduski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Misi Andra
" papa besok siang akan kembali ke bandung, karena ada pekerjaan urgent yang harus papa tangani sendiri" ujar Roy setelah Ara turun sedangkan Vano masih di lantai atas
" Hmm kok cepat banget pah " ujar Ara yang bergelayut di lengan papa nya
" Iya Ra,.karena lusa kita panen" ujar Roy , karena memang mereka memiliki kebun teh yang cukup luas di bandung.
" Tenang saja mama tinggal di sini kok, capek bolak balik , lagi pula kurang dari dua Minggu lagi kamu dan Vano akan resepsi" ujar mama Astrid kepada Ara yang sedang memonyongkan bibirnya
" Hmmm oke deh pah " ujar Ara setelah menarik nafas panjang
****
" Ahhhh kenapa harus Ara , kenapa masih dari keluarga Dila " pekik Tika di dalam kamar nya
" Tidak, Vano harus menjadi milik ku , bagaimana pun caranya " sambung nya kembali dengan menatap kaca di cermin
" Jika secara baik baik tidak bisa memiliki mu maka aku akan menggunakan cara kasar sayang meskipun aku harus menyingkirkan Ara , hal yang tidak aku lakukan kepada Dila dulu" Tika berbicara dengan dada naik turun
***
" Malam ini alana tidur bareng mama dan papa ya . Kalian pasti capek kan" ucap Astrid kepada Ara dan Vano yang baru saja turun
" Ehh ngak usah mah , Alana sama aku aja . Kasihan nanti mama papa sering kebangun malam " tentu saja Ara tidak ingin membuat kedua orang tuanya capek dan lelah
" Iya ngak apa nak, mama papa bisa bernostalgia lagi dong pada saat kalian berdua masih bayi" ujar Roy mengenang Dila dan Ara kecil
" Mama papa masuk kamar ya, kasihan Alana di pangku mulu" Tanpa mendengar balasan dari Ara , Astrid yang menggendong Alana berjalan menuju kamar yang di ikuti oleh Roy
Karena kedua orang tuanya meninggalkan mereka berdua saja di ruangan keluarga, ara juga berdiri dan meninggalkan Vano sendirian di sana. Namun sebelum Ara melangkah dua pasang mata tersebut sempat bertemu dan secepatnya mereka mengalihkan pandanganya tersebut ke tempat lain
Sesampainya di kamar ponsel milik Ara berdering seperti nya ada yang menelfon.
" Bara " ujar Ara membaca nama yang tertera pada ponsel tersebut. Ara menggeser ke ponsel ke warna hijau tersebut dan melangkahkan kaki ke balkon
" Halo " ujar Ara
[ Gimana Ra? Apa ada kemajuan] tanya bara yang ada di seberang sana
" Nggak, ngak lagi maju soalnya" ujar Ara ngelawak
[Hahah kamu ngak lucu kalau lagi ngelawak Ra] ujar bara yang di sebrang sana
" Aku juga ngak mintak pengakuan lucu dari kamu kok wkwkkw" ujar Ara tertawa yang masih di balkon
Di saat yang bersamaan Vano masuk namun tidak menemukan Ara di dalam kamar tapi mendengar suara tawa dari balkon. Vano menoleh ke balkon dan menemukan Ara yang lagi telfonan sambil tertawa cekikikan
" Hahaha iya iya oke" ujar Ara yang di dengar oleh Vano namun lelaki itu tidak mendengar jawaban orang yang ada di panggilan telfon tesebut.
" Iya Bara , iya terimakasih" ucap Ara setelah itu dengan tangan mengepal dan mata yang menyipit vano melihat pemandangan tersebut namun ara tidak menyadari Vano yang sudah ada di dalam kamar
"Sungguh lucu , dia tidak pernah lagi tertawa seperti itu jika bersama saya namun ketika bersama Bara bahkan dia tidak sadar jika saya sudah ada di kamar saking senang menelfon" gumam Vano melihat Ara dari jauh.
" Apa kamu masih ingin memandang dan berbicara kepada bintang" ujar Vano yang akhirnya ke balkon setelah memastikan Ara tidak lagi berbicara kepada Bara lewat telfon genggam tersebut.
" Hmmm paling tidak bintang tidak pernah menyakiti hati seseorang" ujar Ara ,"meskipun mata selalau memandang nya , berbicara kepadanya pun tidak ada larangan" ujar Ara yang masih melihat ke atas langit
" Hmm saya meminta maaf atas kejadian siang tadi , saya keterlaluan dan melampaui batas " Vano akhirnya mengumpulkan kekuatan dan energi untuk meminta maaf secara langsung kepada Ara.
" Hmm tenang saja , aku pemaaf dan kesalahan mas Vano sudah aku maafkan " namun Ara tetap tidak melirik atau pun melihat Vano
" Apa kamu yakin telah memaafkan saya ? Bahkan kamu tidak melirik saya sedikit pun " ujar Vano yang kini menatap perempuan yang ada di samping nya dengan rambut terurai panjang dan melihat ke atas langit membuat wajah nya bersinar terkena pantulan bulan membuat Ara terlihat sangat cantik sempurna alami dan itu di akui oleh Vano.
' kenapa dia berubah menjadi cantik bersinar seperti ini' ujar Vano di dalam hati karena terpana
" Iya saya yakin mas, sudah malam aku mau tidur dulu" Ara melirik sesaat kepada vano lalu masuk ke dalam untuk berbaring di atas ranjang tersebut
Ara memaksa mata nya terpejam tidur selagi vano yang masih ada di balkon kamar mereka
"Mata kenapa kau tidak mau terlelap? Aku nggak mau terjebak lagi dengan obrolan nya mas Vano, jadi tidur lah wahai mata" Ara masih berupaya memejamkan matanya
Tidak lama kemudian , Vano pun menyusul Ara ke kamar . Awalnya Vano akan tidur di sofa kamar ini , namun matanya memutari kamarnya mencari sesuatu yang hilang
" Kemana sofa yang ada di kamar ini" gumam Vano sendiri. Tentu saja tanpa sepengatahuan Vano dan Ara mama Ajeng yang di bantu oleh bik Sumi berhasil mengeluarkan sofa tersebut dari kamar utama.
" CK sepertinya ini ulah nya mama ' Vano menghirup nafas kasar dan menduduki pantat nya di ranjang tersebut
Malam ini adalah malam pertama kali Meraka tidur satu ranjang berdua. Namun sayang tidak ada satu hal apa pun yang terjadi malam ini selain mereka menidurkan mata dengan paksaan
***
" Kamu tenang saja, Vano dan istri nya saya pastikan akan datang ke acara pembukaan otomotif baru kamu sekaligus pameran mobil mewah" ujar beni di dalam panggilan telfon dengan Andra
[Baik pak, Saya siap dan mengerti] ujar Andra di seberang sana
" Hmm aku akan menggunakan laki laki bodoh ini sebagai alat penghancur keluarga mereka " ucap Beni setelah memastikan panggilan tersebut terputus
" Aku yakin papa pasti bisa merebut hak milik kita pah" ujar perempuan paro baya yang berada di samping beni
" Tentu mah, aku tidak rela jika hanya mendapatkan satu cabang kecil sedang kan Bram ia mendapatkan kantor pusat dan beberapa cabang lain nya, apa bedanya aku dengan Bram " Beni yang mengingat jika dirinya mendapat secuil dari harta ayah mereka
" Bedanya Bram di lahirkan dari seorang istri yang sah mas sedang kan kamu dilahirkan dari istri kedua , istri sirih apa itu belum cukup mas? Perbedaan yang sangat nyata dengan mas Bram yang jelas jelas ...."
" Diamlah " ujar beni berteriak