cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN ULAR COBRA DI PABRIK BOLA PT. KOREAN INDUSTRIES
BAB 21.
Panggilan yang Tertunda
Hujan turun tipis di Desa Grenjeng. Tanah merah di pinggir sawah berubah lengket, sementara bau obat antiseptik masih menyisakan perih di hidung Sandi. Dua hari terakhir, jumlah warga yang terkena gigitan ular kobra meningkat—anehnya, dengan gejala yang tidak biasa. Racun bekerja lebih lambat, tapi merusak organ secara diam-diam.
Sandi berdiri di teras rumah kepala desa, menatap lampu-lampu rumah yang redup. Ada sesuatu yang tidak beres. Ini bukan sekadar serangan ular liar.
Ia mengeluarkan ponsel, menatap satu nama yang sejak tadi berputar di kepalanya.
Sersan Bima.
Nada sambung terdengar dua kali sebelum suara berat itu menjawab.
“Sand?”
“Bim,” Sandi langsung ke inti. “Aku butuh bantuanmu. Di Sukabumi. Desa Grenjeng.”
Nada Bima berubah waspada. “Ada apa?”
“Serangan ular kobra. Tapi polanya aneh. Korban makin banyak, gejalanya beda dari biasanya. Aku curiga ini bukan alami.”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. Sunyi beberapa detik, seolah Bima sedang menimbang.
“Sand… aku pengin bantu,” ucapnya akhirnya, lebih pelan. “Tapi besok aku berangkat ke Palestina.”
Sandi terdiam. “Palestina?”
“Iya. Penugasan pengamanan PBB. Dua minggu,” lanjut Bima. “Kunjungan Menteri Luar Negeri RI. Situasinya sensitif. Aku nggak bisa ditinggal.”
Hujan terasa makin rapat. Sandi menutup mata sesaat, menahan kecewa yang datang terlalu cepat.
“Jadi… kamu nggak bisa ke sini?” tanya Sandi, suaranya tetap tenang meski dadanya berdenyut.
“Belum,” jawab Bima jujur. “Tapi dengar aku. Begitu aku pulang dari Palestina, aku langsung menyusul ke Sukabumi. Janji.”
Sandi mengangguk, meski tahu itu tak terlihat. “Dua minggu terlalu lama, Bim. Warga di sini tiap hari terancam.”
“Aku tahu,” sahut Bima tegas. “Sementara itu, amankan TKP. Catat waktu serangan, lokasi, dan kondisi korban. Kalau bisa, dapatkan satu spesimen ular—hidup atau mati. Jangan sendirian.”
Sandi melirik ke arah rumah darurat yang dijadikan pos medis. Amelia terlihat keluar membawa kotak P3K, wajahnya letih tapi matanya tetap menyala.
“Aku nggak sendirian,” jawab Sandi pelan. “Tapi risikonya besar.”
“Seperti biasa,” kata Bima dengan senyum yang bisa terasa dari jarak ribuan kilometer. “Sand… jaga diri. Dan jaga mereka.”
Panggilan berakhir. Layar ponsel meredup.
Sandi menurunkan tangannya. Di kejauhan, suara sirene motor warga memecah hujan—satu korban lagi, mungkin. Ia menarik napas panjang. Bantuan tertunda, tapi ancaman tak menunggu.
Ia melangkah menuju pos medis.
Di tengah krisis kemanusiaan yang senyap, Sandi tahu satu hal pasti:
misi ini tak bisa ditunda—meski bala bantuan baru akan datang setelah tanah lain yang terluka memanggil lebih dulu.
Malam itu, Desa Grenjeng tidak tidur.
Sirene darurat meraung dari arah barat, memecah sunyi yang selama ini hanya diisi suara jangkrik dan hujan sisa senja. Sandi baru saja menutup map catatan korban ketika ponselnya bergetar keras.
“Pabrik bola!” suara petugas desa di ujung sana terengah. “PT. Korean Industries! Banyak yang kena—ular kobra!”
Sandi tak menunggu penjelasan. Ia meraih jaket, menyambar senter, dan berlari. Mang Dedi sudah menyalakan mobil bak, sementara dua petugas desa melompat naik dengan perlengkapan seadanya.
Lampu-lampu pabrik menyala liar ketika mereka tiba. Bangunan besar bertuliskan PT. Korean Industries—pabrik bola milik investor asing—terlihat kacau. Pekerja berlarian, beberapa terjatuh sambil memegangi betis dan lengan. Di lantai beton, darah membentuk garis-garis tipis bercampur cairan bening.
“Jangan panik! Jauhkan yang tergigit!” teriak Sandi, suaranya menembus riuh.
Di sudut gudang, desisan panjang terdengar—kering, mengancam. Dari balik tumpukan kardus, seekor kobra besar mengangkat kepalanya, tudungnya mengembang, matanya hitam berkilat memantulkan cahaya lampu.
“Yang lain mundur!” Sandi memberi aba-aba.
Mang Dedi bergerak cepat, tongkat pengait siap. Satu petugas menyorotkan senter tepat ke kepala ular, membuatnya ragu sepersekian detik. Detik itu cukup. Dengan gerakan terukur, Mang Dedi mengait leher kobra, menekan ke lantai. Sandi sigap menutup kepala ular dengan karung tebal, mengikatnya rapat.
Desisan mereda. Ketegangan runtuh menjadi napas berat.
“Amankan!” kata Sandi singkat.
Beberapa karyawan ditangani darurat. Dr. Farhan tiba tak lama kemudian, wajahnya tegang. Ia memeriksa bekas gigitan—lalu berhenti. Alisnya mengerut.
“Ini… tidak normal,” gumamnya.
Ia membuka sarung tangan baru, mendekat ke karung. Dengan hati-hati, Farhan memeriksa tubuh kobra dari luar. Ada bau menyengat, bukan bau alami reptil.
“Lihat ini,” katanya, menunjuk residu lengket di sisik dekat kelenjar racun. “Ada lapisan asing. Seperti… campuran.”
Sandi menahan napas. “Campuran apa?”
“Belum tahu pasti,” jawab Farhan. “Tapi ini bukan murni. Racunnya dimodifikasi—lebih lambat bereaksi, tapi merusak dari dalam. Persis pola korban di desa.”
Sunyi menekan ruangan. Kata itu menggantung berat: dimodifikasi.
“Artinya… ini disengaja?” tanya Mang Dedi pelan.
Farhan mengangguk. “Aku akan jadikan ini spesimen. Kita buktikan di lab lapangan. Kalau benar, ini bukan wabah alam—ini kejahatan.”
Sandi menatap pabrik yang kembali sunyi. Kamera keamanan berputar pelan, lampu-lampu gudang berdengung. Di balik tembok industri dan angka produksi, seseorang telah menyentuh batas yang tak boleh disentuh.
Ia mengepalkan tangan. Bantuan Bima memang tertunda, tapi bukti sudah di depan mata.
Malam itu, di pabrik bola yang berkilau palsu, tanah Grenjeng mengungkap racun yang tidak lahir dari alam—melainkan dari niat manusia.
Ruang darurat di balai desa berubah menjadi lab lapangan. Lampu putih menyala tajam, menyingkap meja stainless yang kini dipenuhi tabung reaksi, sarung tangan lateks, dan alat uji cepat. Di tengahnya, karung tebal berisi kobra yang telah diamankan.
Dr. Farhan berdiri kaku, menatap layar alat analisis portabel. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Ini hasil awal,” katanya pelan, namun tegas. “Ada senyawa α-KX17.”
Sandi mengangkat kepala. “Itu apa?”
“Modulator enzim neurotoksik,” jawab Farhan. “Sederhananya—zat ini memperlambat efek racun, tapi memperparah kerusakan organ. Itu sebabnya korban tidak langsung kolaps, tapi kondisinya memburuk berjam-jam kemudian.”
Ia menggulir data. “Dan ini yang bikin aku yakin—α-KX17 bukan senyawa alami. Ia turunan sintetis. Biasanya dipakai dalam riset militer dan pengendalian biologis.”
Ruangan mendadak senyap.
“Jejak industrinya?” tanya Sandi.
Farhan menarik napas. “Kemasan mikronya meninggalkan residu polimer PX-9. Itu material industri—dipakai di pabrik kimia tertentu. Aku menemukan pola distribusi bahan ini… terkait dengan jalur logistik PT. Korean Industries.”
Nama itu jatuh seperti palu.
“Jadi pabrik bola itu—” Sandi memulai.
“—bisa jadi fasilitator, sadar atau tidak,” potong Farhan. “Minimal, ada akses.”
Malam semakin larut ketika Sandi, Mang Dedi, dan dua petugas desa kembali ke pabrik. Izin darurat sudah dikantongi. Mereka menuju ruang kontrol CCTV—sebuah bilik sempit berbau oli dan debu.
Operator malam tampak gugup. Sandi menenangkan, lalu menunjuk monitor. “Putar rekaman jam 22.10.”
Layar berganti. Lorong belakang gudang terlihat lengang. Detik berlalu—lalu sebuah bayangan muncul.
“Stop,” kata Sandi.
Gambar diperbesar. Seseorang bertopeng hitam, berpakaian gelap, memanggul karung besar. Gerakannya tenang, terlatih. Ia menurunkan karung di dekat pintu samping gudang, membuka sebentar—kilatan sisik terlihat—lalu menendangnya ke arah tumpukan kardus.
“Putar lambat,” ujar Mang Dedi.
Dalam slow motion, terlihat jelas: karung bergerak. Desisan tipis terdengar bahkan dari rekaman. Pelaku menoleh ke kamera—sepersekian detik—lalu menutup lensa dengan stiker hitam.
Sandi mengepalkan rahang. “Dia tahu titik buta.”
“Orang dalam,” gumam Mang Dedi.
Rekaman berlanjut. Pelaku keluar melalui pintu logistik, menuju area parkir belakang. Kamera luar menangkap siluet truk tanpa plat depan—logo di pintu samping sengaja dicat ulang.
“Jejaknya rapi,” kata Sandi. “Terlalu rapi untuk kriminal amatir.”
Ponsel Sandi bergetar. Pesan dari Farhan masuk: Senyawa α-KX17 konsisten di dua spesimen lain. Ini pola.
Sandi menatap layar CCTV yang kini hitam. Pabrik itu bukan sekadar tempat produksi—ia persimpangan. Antara industri dan kejahatan, antara bisnis dan senjata sunyi.
Di luar, hujan kembali turun. Dan di balik topeng hitam itu, seseorang sedang menguji batas kemanusiaan—dengan ular sebagai kurir dan desa kecil sebagai laboratorium.
Pagi belum sempurna ketika Dr. Farhan meletakkan peta jalur logistik di atas meja. Garis-garis merah menghubungkan pelabuhan kecil, gudang transit, hingga satu nama yang kini disorot tebal.
“Ini bukan kebetulan,” katanya. “Ada permintaan rutin—suplai ekstrak ular kobra dalam jumlah besar. Tujuannya… Jepang.”
Sandi menegakkan badan. “Obat?”
“Secara resmi, iya,” jawab Farhan. “Dokumennya menyebut riset farmasi. Tapi volumenya tidak masuk akal. Terlalu besar untuk penelitian biasa. Dan senyawa α-KX17—aku temukan jejaknya di dokumen permintaan stabilizer.”
Mang Dedi mengusap rahang. “Artinya, racun ini bukan produk sampingan. Ini diproduksi sesuai pesanan.”
Farhan mengangguk. “Ada broker. Perusahaan cangkang. Pengiriman dipisah—ular hidup dari satu jalur, bahan sintetis dari jalur lain. Disatukan di titik-titik ‘netral’ seperti pabrik.”
Sandi menatap peta, lalu berhenti di satu simpul. “Grenjeng.”
“Laboratorium sunyi,” kata Farhan lirih. “Tanpa disadari.”
Ponsel Sandi bergetar—panggilan masuk dari nomor rumah sakit.
RS Dumai sibuk seperti sarang lebah. Di ruang IGD, Amelia bergerak cepat, didampingi Santi dan Sinta. Tiga pasien baru masuk dengan keluhan serupa—bukan gigitan segar, bukan pula demam biasa.
“Tekanan turun perlahan,” kata Santi sambil membaca monitor. “Tapi nyerinya… menjalar.”
Sinta menunjuk hasil lab cepat. “Fungsi ginjal terganggu, tapi toksinnya tidak terdeteksi standar.”
Amelia mendekat ke salah satu pasien. Di pergelangan kakinya, ada bekas luka kecil—nyaris sembuh—namun kulit di sekitarnya tampak keabu-abuan.
“Ini fase lanjut,” gumam Amelia. “Efek tertunda.”
Ia mengingat laporan Farhan. Racun yang diperlambat, kerusakan yang diperdalam.
“Riwayat?” tanya Amelia.
“Bekerja bongkar muat,” jawab perawat. “Dua minggu lalu. Pelabuhan kecil. Katanya, sempat melihat ular—tapi tidak digigit parah.”
Amelia saling pandang dengan Santi dan Sinta. Dua minggu. Waktu yang pas.
Ia menelpon Sandi. “Sand… kami menemukan gejala baru. Bukan gigitan aktif. Paparan lama. Polanya cocok dengan racun termodifikasi.”
Sandi terdiam sejenak di seberang. “Lokasi?”
“RS Dumai. Jalur pelabuhan,” jawab Amelia. “Kalau ini benar, penyebarannya sudah lintas daerah.”
Sandi menarik napas. “Farhan menemukan jejak ke Jepang. Permintaan suplai besar.”
Amelia menutup mata sekejap. “Jadi ini bukan hanya desa. Ini rantai.”
Di ruang IGD, monitor berbunyi pelan. Amelia kembali bekerja, mengatur protokol darurat baru—detoks bertahap, pemantauan organ, dan isolasi ringan. Santi dan Sinta bergerak sigap, mencatat setiap detail.
Di Grenjeng, Sandi menatap peta yang sama—kini terasa lebih sempit. Dari desa kecil, ke pelabuhan, hingga Timur yang jauh. Dari ular, ke obat. Dari bisnis, ke kejahatan.
Dan di antara garis-garis itu, seseorang sedang menimbang keuntungan—dengan nyawa manusia sebagai biaya operasional.
Antidot Sementara
Ruang rapat kecil di RS Dumai berubah menjadi pusat krisis. Diagram toksin menempel di papan, garis panah berkelindan seperti urat nadi yang kusut. Dr. Farhan berbicara melalui sambungan video, wajahnya tegang.
“Ini bukan penawar permanen,” katanya tegas. “Tapi kita bisa menahan progres racun.”
Ia menampilkan formulasi di layar: kombinasi chelator organik, inhibitor enzim PX-9, dan ekstrak protein antibodi kobra yang dimurnikan cepat. Nama sementara itu tertera di sudut layar:
KX-ANT–β
“Dosis rendah dulu,” lanjut Farhan. “Tujuannya memperlambat kerusakan organ dan memberi waktu. Risiko ada—hipotensi, reaksi alergi. Pantau ketat.”
Amelia mengangguk. “Kita tidak punya pilihan.”
Uji pertama dilakukan pada pasien dengan gejala paling stabil. Santi menyiapkan infus, Sinta mencatat menit demi menit. Sepuluh menit berlalu. Dua puluh.
Monitor berbunyi—tekanan darah stabil. Enzim hati berhenti melonjak.
“Respon positif,” bisik Santi, nyaris tak percaya.
Amelia menghembuskan napas yang tertahan. Antidot sementara itu bekerja—setidaknya, cukup untuk menunda kematian.
Malam turun cepat. Lorong RS Dumai lengang. Amelia berjalan sendirian menuju gudang farmasi untuk mengambil stok tambahan KX-ANT–β. Lampu neon berkelip.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
“Dokter… malam-malam masih kerja?”
Amelia berhenti. Mang Zondol muncul dari bayang, senyum miring di wajahnya. Di belakangnya, dua orang lain—cs—berdiri setengah menutup lorong.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Amelia, tenang, meski nadinya naik.
Mang Zondol melangkah mendekat. “Kami cuma mau mengingatkan. Jangan terlalu jauh mencampuri urusan yang bukan bagian rumah sakit.”
Amelia menahan jarak. “Ini urusan nyawa.”
Senyum Zondol menghilang. “Justru itu. Ada banyak nyawa yang bergantung pada kelancaran bisnis. Kalau obatmu menyebar, rantai itu putus.”
Salah satu orang di belakangnya menggeser kaki, memperlihatkan gagang besi di balik jaket.
“Dokter cantik,” lanjut Zondol dingin, “hentikan. Atau… pasienmu akan bertambah—bukan karena racun.”
Amelia menatap mata Zondol tanpa berkedip. “Kalian di tempat yang salah.”
Zondol tertawa pendek. “Kami tahu jadwal jaga. Kami tahu siapa yang kamu lindungi.”
Langkah mendekat. Lampu berkedip lagi.
Suara cepat datang dari ujung lorong. Santi dan Sinta muncul, diikuti petugas keamanan. " Nona Amelia!”
Zondol mundur setengah langkah, menatap Amelia dengan ancaman tak terucap. “Pikirkan baik-baik,” katanya sebelum berbalik. “Ini peringatan.”
Mereka menghilang di tikungan.
Amelia berdiri kaku beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena marah.
Ia mengangkat ponsel, menelpon Sandi. “Sand… mereka tahu. Mang Zondol cs. Mereka mengancam.”
Di seberang, suara Sandi mengeras. “Aku ke Dumai. Sekarang.”
Amelia menatap kembali lorong kosong. Antidot itu memberi waktu—tapi waktu juga memanggil bahaya. Dan kini, misi itu tidak lagi jauh. Ia berdiri tepat di hadapannya.
Subuh menyentuh Dumai dengan cahaya pucat. RS Dumai berubah menjadi benteng kecil. Dua petugas keamanan tambahan berjaga di pintu IGD, kamera lorong diarahkan ulang, dan akses gudang farmasi dibatasi. Nama Amelia tercantum di papan pengamanan—prioritas satu.
Sandi tiba sebelum matahari naik. Jaketnya basah oleh sisa hujan malam, sorot matanya tajam. Ia berbicara singkat dengan kepala keamanan, lalu berdiri di sisi Amelia.
“Aku di sini,” katanya rendah. “Mulai sekarang, kamu tidak bergerak sendiri.”
Amelia mengangguk. “Pasien dulu.”
Di ruang lab sementara, Dr. Farhan menyusun ulang formula di layar. “KX-ANT–β menyelamatkan waktu,” ujarnya, “tapi risikonya tinggi. Kita perlu versi kedua—lebih stabil, lebih selektif.”
Ia mengganti komponen: chelator dipersempit targetnya, inhibitor enzim diturunkan dosisnya, dan antibodi kobra dimurnikan ulang untuk mengurangi reaksi silang. Nama baru muncul:
KX-ANT–γ
“Versi ini tidak mematikan racun,” jelas Farhan, “tapi mengunci jalur aktivasi. Efeknya lebih aman. Onset sedikit lebih lambat, tapi stabil.”
Uji dilakukan hati-hati. Santi menyiapkan protokol alergi, Sinta memantau parameter organ. Menit berjalan. Tidak ada penurunan drastis. Kurva enzim menurun pelan—konsisten.
“Ini dia,” bisik Amelia. “Yang kita butuhkan.”
“Distribusi terbatas,” kata Farhan. “Dokumentasi lengkap. Jangan sampai bocor.”
Pengawalan diperketat. Amelia dipindahkan jalurnya—masuk dan keluar lewat koridor berbeda. Sandi menyusun tim kecil: satu petugas RS, satu keamanan sipil, dan satu relawan desa yang ia percaya. Jadwal jaga diacak. Nama pasien disamarkan di sistem internal.
Sore hari, sebuah paket tanpa pengirim tertahan di pos. Sandi memeriksanya. Kosong. Hanya kertas kecil di dalamnya.
Terlalu jauh.
Sandi meremas kertas itu. “Mereka menguji pagar.”
Malamnya, sebuah motor tanpa plat mondar-mandir di luar pagar RS. Kamera menangkapnya. Sandi menghubungi aparat setempat—patroli diperluas.
Amelia menyelesaikan shift dengan lelah yang terkendali. Di ruang istirahat, Sandi berdiri di dekat pintu.
“Maafkan aku,” katanya tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Karena misi ini menyeretmu ke garis depan.”
Amelia menatapnya tenang. “Aku memilih berada di sini.”
Di luar, hujan turun lagi—tipis, konstan. KX-ANT–γ mulai bekerja di beberapa pasien. Angka stabil meningkat. Waktu yang dibeli bertambah.
Namun Sandi tahu, pagar setinggi apa pun hanya sementara. Di balik ancaman Mang Zondol cs, ada jaringan yang lebih besar—dan mereka tidak suka kehilangan kendali.
Malam itu, Dumai dijaga.
Dan formula kedua lahir—bukan sebagai akhir, melainkan janji bahwa nyawa masih bisa dipertahankan